Filosofi Jenang Procot sebagai Makanan Khas Upacara Tingkeban Masyarakat Suku Jawa
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora)
https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora
DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i2.3529
e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359
Vol. 3 No. 2 (Juni 2024) 256-261
Submitted: June 11, 2024 | Accepted: June 20, 2024 | Published: June 28, 2024
Filosofi Jenang Procot sebagai Makanan Khas Upacara Tingkeban
Masyarakat Suku Jawa
Sekar Kirana Wulandari1, Asti Lestari2, Nadila Putri Budi Sugiarti3, Siti Komariah4, Mirna Nur
Alia Abdullah5
1,2,3,4,5
Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas
Pendikan Indonesia, Kota Bandung, Indonesia
Email: , , ,
4
,
Abstrak
Jenang procot atau bubur procot merupakan salah satu makanan khas upacara tingkeban. Jenang procot
menjadi sajian penting upacara tingkeban sebab makna yang terkandung pada jenang procot
menggambarkan harapan orang tua terhadap calon bayi dalam kandungan agar lahir dengan lancar. Upacara
tingkeban umumnya dilaksanakan ketika kehamilan sang ibu memasuki usia tujuh bulan. Upacara
tingkeban diyakini masyarakat Jawa mampu memberikan kemudahan bagi ibu dan calon anak, mulai dari
kehamilan, melahirkan, hingga anak dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara detail
mengenai filosofi jenang procot dalam upacara tingkeban masyarakat suku Jawa. Penelitian ini
menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif
dan teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah
kata jenang procot berasal dari kamus bahasa Jawa yang berarti bubur sebagai permohonan agar bayi yang
dikandung dapat lahir dengan merosot atau meluncur. Penelitian juga menunjukkan bahwa jenang procot
menjadi sajian penting dalam upacara tingkeban karena dipercaya masyarakat suku Jawa sebagai salah satu
cara untuk menghindari kematian saat persalinan.
Kata Kunci: : Jenang Procot, Upacara Tingkeban, Masyarakat Suku Jawa.
Abstract
Jenang procot or procot porridge is one of the typical foods served during the tingkeban ceremony. Jenang
procot is an important dish in the tingkeban ceremony because it symbolizes the parents' hopes for the
smooth birth of the unborn baby. The tingkeban ceremony is usually held when the mother's pregnancy
reaches seven months. The Javanese community believes that the tingkeban ceremony can provide ease for
both the mother and the unborn child, from pregnancy to childbirth and until the child reaches adulthood.
This research aims to explore the philosophy of jenang procot in the tingkeban ceremony of the Javanese
community. The research employs Symbolic Interactionism Theory. The research method used is
descriptive method, and data collection techniques involve literature study. The results show that the term
'jenang procot' comes from the Javanese language dictionary, meaning porridge as a request for the baby
to be born smoothly. The research also indicates that jenang procot is an essential dish in the tingkeban
ceremony because the Javanese community believes it is one way to prevent death during childbirth.
Keywords: Procot Porridge, Tingkeban Ceremony, Javanese Community.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman, mulai dari suku, ras, agama, dan budaya
yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Menurut Sensus BPS tahun 2010, Indonesia memiliki lebih
dari 300 kelompok etnis, yaitu sekitar 1.340 suku bangsa. Keberagaman suku ini membuat Indonesia
terkenal dengan sebutan negara multikultural. Keberagaman suku juga menjadi salah satu ciri khas
Indonesia. Semboyan negara Indonesia sendiri yaitu ‘Bhinneka Tunggal Ika’ memiliki makna meski
berbeda-beda (suku, ras, agama, budaya), tetapi kita tetap satu yaitu bangsa Indonesia (Kartini, 2021).
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
256
Sekar Kirana Wulandari1, Asti Lestari2, Nadila Putri Budi Sugiarti3, Siti Komariah4,
Mirna Nur Alia Abdullah5
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 2 (2024) 256 – 261
Suku-suku yang terkenal dan dapat disebut sebagai suku mayoritas di Indonesia diantaranya suku Jawa,
suku Sunda, suku Betawi, suku Minangkabau, suku Batak, dan masih banyak lagi. Suku Jawa merupakan
suku dengan populasi terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2010, jumlah masyarakat suku
Jawa mencapai 95.217.022 jiwa. Angka tersebut menunjukkan 40,22 persen dari jumlah penduduk
Indonesia. Masyarakat suku Jawa tidak hanya menghuni pulau Jawa saja (Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa
Barat), tetapi sudah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia (Putri, 2023).
Setiap suku yang ada di Indonesia pasti memiliki budaya dan tradisinya sendiri. Kebudayaan dapat menjadi
wadah untuk mencari pengalaman serta pengetahuan seseorang yang diajarkan dan diturunkan oleh
generasi tua kepada generasi muda dengan tujuan agar kebudayaan tersebut tetap eksis. Sebagaimana
budaya, tradisi juga mampu berlaku sebagai identitas dari suatu suku. Tradisi umumnya dijadikan simbol
dari suatu budaya. Tradisi dapat diartikan sebagai kebiasaan atau adat turun temurun yang masih terus
dijalankan dalam kehidupan masyarakat saat ini dengan menggunakan model paling baik dan benar sesuai
dengan tradisi generasi terdahulu (Ritonga, 2020).
Suku Jawa dikenal sebagai suku yang memiliki sifat atau perilaku sopan dan halus, tetapi suku Jawa juga
terkenal dengan suku bangsa yang tertutup dan tidak mau mengungkapkan sesuatu secara terus terang. Sifat
tersebut dianggap masyarakat suku Jawa dapat menjadi upaya untuk memelihara keharmonian dan
menghindari pertikaian. Masyarakat suku Jawa khususnya generasi terdahulu cenderung memiliki sifat
membeda-bedakan masyarakat lain berdasarkan asal dan kasta. Sifat seperti di atas adalah sifat turuntemurun yang berasal dari ajaran kebudayaan Hindu dan Jawa Kuno (Alfian, 2014).
Suku Jawa mempunyai berbagai tradisi ketika seseorang mengalami peristiwa perkawinan, kelahiran, dan
kematian. Tradisi seperti di atas umumnya dikenal sebagai upacara daur hidup. Salah satu upacara daur
hidup masyarakat suku Jawa khususnya saat sebelum kelahiran adalah upacara Tingkeban atau sering
dikenal dengan upacara Mitoni. Tingkeban merupakan upacara yang dilangsungkan oleh wanita Jawa yang
sedang hamil ketika kandungannya memasuki usia tujuh bulan. Upacara ini dilakukan oleh sepasang suami
istri dengan tujuan memberikan kebaikan untuk calon anak yang masih berada dikandungan (Sutarti dkk,
2023).
Upacara tingkeban terdiri dari beberapa rangkaian proses sakral. Dalam upacara tingkeban juga terdapat
makanan atau kudapan khas yang akan disajikan. Setiap makanan yang disajikan memiliki makna atau
filosofinya tersendiri. Salah satu makanan khas yang unik di upacara tingkeban yaitu jenang procot. Jenang
procot dapat dimaknai sebagai harapan orang tua agar bayi yang ada di dalam kandungan dapat lahir dengan
lancar atau meluncur.
Penelitian ini dikaitkan dengan teori interaksionisme simbolik. Jenang procot menjadi simbol untuk
harapan calon ibu agar bayi yang dika (...truncated)