Tradisi Tingkeban di Desa Sambigede Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang
TRADISI TINGKEBAN DI DESA SAMBIGEDE KECAMATAN SUMBERPUCUNG
KABUPATEN MALANG
Siti Faricha Nursyifa’
Fakultas Bahasa dan Seni,Universitas Negeri Surabaya
ABSTRACT
One of the Javanese traditions that is still carried out in Sambigede Village,
Sumberpucung District, Malang Regency is Tingkeban. Tingkeban in Sambigede Village has a
characteristic in the part of the implementation procession and the ubarampe used. Tingkeban
is carried out as a form of gratitude for the mother's pregnancy which is seven months old and
prayers are said so that the baby is always given safety until the time of birth arrives. The purpose
of this study was to determine (1) the procession of the implementation of tingkeban (2) the
meaning of ubarampe in tingkeban (3) the form of change in tingkeban. This study was analyzed
using the theory of semi-oral folklore by Danandjaja. The research approach uses descriptive
qualitative methods. The research instrument is the researcher, a list of questions, as well as
several tools such as gadgets, paper, and ballpoint pens. Data collection techniques using
observation, interviews, and documentation. To analyze the data, open coding, axial coding, and
selective coding were used. The results of this study are the complete tingkeban procession,
namely determining the day, preparing ubarampe, inviting neighbors, macapatan, arak arakan,
siraman, and genduren. There is meaning in the procession and in the ubarampe which reflects
the expectations of the citizens. And the form of level change can be observed internally and
externally.
Keywords: Tradition, Tingkeban, Folklore
ABSTRAK
Salah satu tradisi Jawa yang masih dilaksanakan di Desa Sambigede, Kecamatan
Sumberpucung, Kabupaten Malang adalah Tingkeban. Tingkeban di Desa Sambigede memiliki
ciri khas pada bagian prosesi pelaksanaan dan ubarampe yang digunakan. Tingkeban dilakukan
sebagai wujud rasa syukur atas kehamilan ibu yang menginjak usia tujuh bulan serta doa yang
dipanjatkan supaya bayi selalu diberi keselamatan hingga waktu kelahiran tiba. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui (1) Prosesi pelaksanaan tingkeban (2) Makna ubarampe dalam
tingkeban (3) Wujud perubahan dalam tingkeban. Penelitian ini dianalisis dengan teori folklor
setengah lisan oleh Danandjaja. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif
deskriptif. Instrumen penelitian ini adalah peneliti, daftar pertanyaan, serta beberapa alat bantu
seperti gawai, kertas, dan bolpoin. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Untuk menganalisis data digunakan open coding, axial coding,
lan selective coding. Hasil penelitian ini yakni pada prosesi pelaksanaan tingkeban secara
lengkap yakni menentukan hari, menyiapkan ubarampe, mengundang tetangga, macapatan, arak
arakan, siraman, dan genduren. Terdapat makna pada prosesi dan pada ubarampe yang
mencerminkan harapan warga. Dan wujud perubahan tingkeban dapat diamati secara internal
maupun eksternal.
Kata Kunci :Tradisi, Tingkeban, Folklor
penting bagi warga. Maka dari itu, sebisa
PENDAHULUAN
Tradisi jawa merupakan bagian
budaya
yang
dijadikan
sebagai
pola
kebiasaan oleh masyarakat jawa. Menurut
Poerwadarminta (1976:1088) tradisi adalah
keseluruhan adat kebiasaan, kepercayaan,
dan sebagainya yang diwariskan dari nenek
moyang atau leluhur. Tradisi tergolong
budaya lokal yang masih dilestarikan oleh
masyarakat, terutama bagi masyarakat Desa
Sambigede.
Masyarakat
menganggap
mungkin
tradisi
ini
dibuat
sakral.
Contohnya di dalam prosesi pelaksanaan
terdapat arak arakan dengan lantunan
sholawat nabi. Ciri khas lain dalam
tingkeban di Sambigede yakni ubarampe
yang tidak ada pada daerah lain. Di
Sambigede saat genduren terdapat kue yang
dinamakan golekan ripih. Kue ini berupa
boneka yang menyimbolkan anak laki laki
dan perempuan.
bahwa tradisi merupakan warisan para
Tingkeban juga sering disebut juga
sesepuh yang mengandung nilai nilai
dengan mitoni. Tingkeban dilaksanakan saat
kebaikan jika terus dilaksanakan. Namun
usia kandungan ibu menginjak tujuh bulan.
tradisi dapat mengalami perubahan seiring
Tingkeban
berjalannya
sudah
dilaksanakan dengan tujuan untuk berdoa
mengalami perubahan, baik dalam tata
supaya ibu dan bayi yang ada di dalam
pelaksanaan
kelengkapan
kandungan selalu diberikan kesehatan,
ubarampe namun warga tetap melakukan
keselamatan, dan kesempurnaan. Selain
upaya pelestarian. Supaya tradisi tetap
sebagai doa, tingkeban juga merupakan
lestari warga terus melakukan proses
wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang
pewarisan baik secara lisan dan tulisan.
Maha Esa atas putra yang telah ada dalam
waktu.
Meskipun
maupun
Tingkeban
di
Desa
Sambigede
Kecamatan Sumberpucung hingga kini
masih eksis dikalangan masyarakat. Hal
yang menarik dan patut untuk diulas pada
tradisi tingkeban di Desa Sambigede yakni
merupakan
tradisi
yang
rahim ibu. Anak merupakan anugerah
berharga yang telah diberikan Tuhan maka
dari itu sudah sepatutnya jika seseorang
melaksanakan syukuran atas apa yang telah
diperoleh.
dalam prosesi pelaksanaan dan ubarampe
Saat ini meskipun tingkeban masih
khas yang membedakan dengan daerah lain.
sering dilakukan namun ada beberapa
Tingkeban dianggap sebagai tradisi yang
perubahan yang terjadi baik dalam tata
pelaksanaan laksana maupun ketersediaan
dan bukan lisan. Ketiga wujud folklor
ubarampe. Ditambah dengan kondisi negara
tersebut memiliki jenis yang beragam di
yang saat ini masih dikatakan pandemi.
dalam pelaksanaanya. Folklor sebagian
Terdapat batasan batasan yang harus
lisan
dipatuhi demi menjaga keselamatan. Hal ini
merupakan gabungan dari unsur lisan dan
tentunya berpengaruh terhadap pelaksanaan
bukan lisan. Yang termasuk kedalam
sebuah
dalam
golongan folklor sebagian lisan yakni
tingkeban ada prosesi yang mengharuskan
kepercayaan rakyat, permainan rakyat,
mengumpulkan
karena
teater rakyat, tarian rakyat, adat istiadat,
kondisi tidak menentukan, harus ada
upacara, dan pesta rakyat. Dalam hal ini
pengurangan dalam aspek tata pelaksanaan
kajian folklor dengan wujud setengah lisan
maupun ubarampe di dalamnya. Meskipun
ini menjadi dasar utama dalam mengulas
adanya
tidak
tradisi tingkeban karena tingkeban termasuk
mengurangi esensi dari tradisi tingkeban,
kedalam upacara adat yang merupakan
namun akan dapat mengurangi sisi makna
tradisi yang berkembang di pulau Jawa.
tradisi.
Pada
dasarnya
masa,
perubahan
namun
tersebut
pada setiap tata pelaksanaan maupun
ubarampe. Maka dari itu, Peneliti ingin
meneliti lebih dalam mengenai perubahan
yang terjadi di dalam tingkeban di Desa
Sambigede, baik dari perubahan secara
internal maupun eksternal.
yakni
folklor
yang
unsurnya
Penelitian lain yang relevan dengan
penelitian ini antara lain, “Kearifan Lokal
Bahasa Jawa Dalam Tradisi Tingkeban Di
Kelurahan Laweyan Kotamadya Surakarta
(Sebuah Kajian Etnolinguistik)”. Penelitian
ini
ditulis
oleh
Nuraningsih
yang
Teori folklor sebagian lisan menjadi
dipublikasikan di (...truncated)