Muatan Dakwah dalam Adat Tingkeban di Desa Damarwulan Keling Jepara
Jurnal An-Nida, Vol. 7, No. 2, Juli-Desember 2015
MUATAN DAKWAH DALAM ADAT TINGKEBAN
DI DESA DAMARWULAN KELING JEPARA
Laila Nur Sa'adah
Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara
Jl. Taman Siswa (Pekeng) Tahunan Jepara
Abstract
This article describes the contents of religious proselytizing in tingkeban tradition in
Damarwulan Keling Jepara. Processions and the meaning of the tradition in tingkeban
Damarwulan Keling Jepara also described. The type of this research is a case study and
field research with descriptive research that would make systematic, factual, and accurate
about facts and properties of a given population. In analyzing the data, researchers used
qualitative data analysis, the data can not be judged by the numbers directly. In this case,
reseacher try to describe the opinion of the traditional leaders and contens of religious
proselytizing in tingkeban Damarwulan Keling Jepara. The results showed that the
contents of religious proselytizing in the tradition tingkeban that is the right media of
religious proselytizing for the multiculture community, expression of gratitude, prayer,
strengthen Ukhuwah Islamiyah, and sadaqah.
Keywords: Content, Mission, Custom, Tingkeban.
Laila Nur Sa'adah
Abstrak
Tulisan ini bermaksud untuk mendeskripsikan muatan dakwah dalam tradisi
tingkeban di desa Damarwulan Keling Jepara sekaligus prosesi pelaksanaan
serta makna tradisi tingkeban di desa Damarwulan Keling Jepara. Jenis
penelitian yang digunakan yaitu case study and field research dengan metode
penelitian deskriptif atau penelitian yang bermaksud membuat penyandraan
secara sistematis, faktual, dan akurat mengenahi fakta-fakta dan sifat-sifat
populasi tertentu. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan analisis data
kualitatif, yaitu data yang tidak bisa dinilai dengan angka secara langsung, dalam
hal ini hendak diuraikan pendapat para tokoh adat ataupun agama tentang
muatan dakwah dalam adat tingkeban di Desa Damarwulan Keling Jepara. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa muatan dakwah yang terkandung dalam
tradisi tingkeban diantaranya sebagai salah satu media dakwah yang tepat untuk
kalangan masyarakat yang kaya akan kebudayaan, ungkapan rasa syukur,
doa, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan sadaqah.
Kata Kunci : Muatan, Dakwah, Adat, Tingkeban.
A. PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk di dunia
semakin tahun semakin bertambah. Pada
zaman moderen sampai kira-kira tahun
1650 saja jumlahnya sekitar 500 juta jiwa
(Abu Ahmadi, 2003:20). Sejak zaman itulah
pertumbuhan penduduk dunia semakin
cepat. Begitu juga di Indonesia khususnya
penduduk Jawa. Terlepas dari masalah
kepadatan penduduk pulau Jawa, orang
Jawa memiliki sebuah kebudayaan yang
sangat luar biasa yang tidak dimiliki oleh
penduduk pulau lain.
Menurut
pandangan
orang
Jawa
sendiri, kebudayaan yang dimiliki orang
Jawa bukanlah sebuah kebudayaan yang
homogen, melainkan sebuah kebudayaan
yang memiliki keaneka ragaman yang
bersifat regional. Keaneka ragaman itu
bisa terlihat dari logat bahasa, sajian
makanan dalam sebuah acara, upacaraupacara sepanjang lingkaran hidup
manusia, kesenian rakyat dan masih
banyak lagi. Secara sederhana orang Jawa
dapat didefinisikan sebagai orang yang
cenderung menekankan bagian Jawa dari
124
Jurnal An-Nida, Vol. 7, No. 2, Juli-Desember 2015
warisan kultural mereka dan menganggap
afiliasi Muslim mereka sebagai hal sekunder
(Andrew Beatty, 2001:219). Menurut
Andrew Beatty orang-orang Jawa tidak
membentuk kelas atau kelompok khusus
di dalam masyarakat pedesaan tetapi di
daerah perkotaan ada tingkatan kelas sosial
dimana tingkatan tertinggi dihuni oleh
kelas Priyayi, baru dibawahnya ada kelas
Santri dan kelas yang paling bawah adalah
kelas Abangan. Ketiga kelas sosial tersebut
memiliki kebudayaan dan gaya hidup yang
berbeda-beda, walaupun secara umum
memiliki kesamaan jenis budaya, yaitu
budaya Jawa.
Salah satu kebudayaan yang tetap
dipertahankan oleh orang Jawa adalah
selametan. Selametan merupakan salah
satu upacara makan yang terdiri atas
sesajian, makanan simbolik, sambutan
resmi dan do’a. Biasanya acara selametan
ini dilaksakan setelah terbenamnya
matahari. Acara selametan dilaksanakan
dalam berbagai upacara siklus kehidupan
manusia.
Misalnya
saja
tingkeban,
melahirkan, pemberian nama dan lain
Muatan Dakwah dalam Adat Tingkeban di Desa Damarwulan Keling Jepara
sebagainya. Selain itu acara selametan juga
dilaksanakan dalam rangka menempati
rumah baru, menjaga kendaraan baru, dan
juga memenuhi nazar.
Secara umum selametan dilaksanakan
untuk menciptakan keadaan sejahtera, aman,
dan bebas dari gangguan baik makhluk
nyata ataupun halus. Secara khusus acara
ini dilaksakan untuk mendoakan nenek
moyang tuan rumah, roh-roh halus yang
ada didalam rumah, para nabi Muslim, para
tokoh Hindu Jawa, serta Adam dan Hawa
dalam nuansa politeistik yang tampaknya
melanggar garis muslim murni.
Melihat fenomena yang seperti itu
timbullah sebuah pertanyaan. Apakah
upacara selametan itu muncul dari budaya
Islam ? Atau justru berasal dari agama
Hindu? Meski selametan mengandung
unsur-unsur Islam, kebanyakan orang
menggangap selametan sangat berciri Jawa
dan pra Islam bahkan diilhami dari Hindu
(Andrew Beatty, 2001:67). Jika demikian,
apa yang harus dilakukan sebagai
seorang Muslim yang memiliki kewajiban
berdakwah?
Berbicara tentang dakwah Islam
di Jawa mengingatkan pada sosok
revolusioner yang merubah cerita wayang
kulit yang bersifat Hinduistis menjadi Islam.
Siapa lagi kalau bukan Sunan Kalijaga. Lalu
apakah budaya selametan yang berlaku di
masyarakat sekarang merupakan warisan
Hindu yang sudah diubah oleh Sunan
Kalijaga menjadi budaya Islami?
Melihat fenomena tersebut diperlukan
pemikiran secara menyeluruh ataupun
terperinci untuk menentukan bagaimana
sikap dakwah terhadap fenomena tersebut.
Hal ini tidak cukup hanya dengan
menciptakan muslim yang tahan dengan
benturan-benturan tetapi dakwah juga
harus sanggup menciptakan sebuah dunia
yang sesuai dengan gambaran Islam (M.
Shulton, 2003:38).
Sebagaimana masyarakat Jawa pada
umumnya, masyarakat desa Damarwulan
Keling Jepara juga masih melestarikan
budaya selametan untuk memperingati
hari-hari penting dalam siklus kehidupan
manusia. Selametan yang dilaksanakan
oleh masyarakat Damarwulan diantaranya
adalah tradisi tingkeban yang dilaksanakan
ketika
usia
kehamilan
seseorang
memasuki bulan ke 4 atau ke 7 sebagai
bentuk pengharapan do’a agar janin lahir
dalam keadaan selamat dan menjadi anak
yang baik.
Tradisi tingkeban di desa Damarwulan
Keling Jepara biasanya dilaksanakan pada
hari pasaran legi. Adapun makanan yang
disajikan dalam acara tersebut adalah rujak
(dibuat dari tebu rejuno, cengkir gading,
jambu, mentimun, dan atau buah-buah
lainnya), bubur abang putih, dawet, nasi
kuning, kolak pisang byar, dan nasi uduk.
Cara penyajiannya yaitu makanan yang
terdiri dari rujak, nasi kuning, bubur
abang putih dan nasi uduk. Dari berbagai
permasalahan tersebut, tulisan ini hendak
mengupas tentang muatan dakwah dalam
adat tingkeban di desa damarwulan keling
jep (...truncated)