Analisis Perbandingan Pengaruh Sistem Lingkungan terhadap Residen di IPWL BUKIT DOA melalui Perspektif Teori Sistem
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora)
https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora
DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i3.3721
e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359
Vol. 3 No. 3 (September 2024) 314-321
Submitted: July 18, 2024 | Accepted: July 20, 2024 | Published: September 27, 2024
Analisis Perbandingan Pengaruh Sistem Lingkungan terhadap
Residen di IPWL BUKIT DOA melalui
Perspektif Teori Sistem
Anita Maisaroh1, Yolanda Oktari Br Bangun2, Rachel Yohana Vatreciya Purba3, Rizky Akbar4,
Muhammad Aqsha Rangkuti5
1,2,3,4,5
Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera
Utara, Medan, Indonesia
Email: , ,
3
, ,
5
Abstrak
Rehabilitasi merupakan hal yang penting dalam membantu pemulihan para pecandu narkoba, dengan
menekankan bahwa sistem rehabilitasi memengaruhi perilaku individu. Dampak sistem lingkungan yang
baik, termasuk dukungan keluarga terhadap pemulihan korban penyalahgunaan NAPZA sangat penting.
Penelitian ini juga mengeksplorasi hubungan antara sistem rehabilitasi dan perilaku residen, dengan tujuan
meningkatkan efektivitas program rehabilitasi dan kesejahteraan residen. Program pemulihan selama 9
bulan di IPWL Bukit Doa bertujuan melakukan pemulihan residen dari narkoba. Penelitian menegaskan
pentingnya sistem lingkungan yang positif dalam pemulihan individu dari penyalahgunaan NAPZA.
Dukungan keluarga dan lingkungan yang baik sangat diperlukan agar pemulihan berhasil. Penelitian ini
juga menyoroti pengaruh sistem rehabilitasi terhadap perilaku residen, dengan tujuan meningkatkan
efektivitas program rehabilitasi. Penelitian menunjukkan bahwa program pemulihan 9 bulan tidak selalu
berhasil karena lingkungan buruk dan dukungan keluarga yang kurang. Lingkungan berperan besar dalam
perilaku individu, dengan 74% dipengaruhi oleh lingkungan. Meskipun program pemulihan dilakukan
selama 9 bulan di IPWL Bukit Doa bertujuan mencegah terjadinya relapse, tetapi keberhasilan pencegahan
relapse belum tentu berhasil karena dipengaruh oleh beberapa faktor lingkungan, seperti kurangnya
dukungan keluarga dan lingkungan yang tidak mendukung pemeliharaan sering menjadi pemicu terjadinya
relapse.
Kata Kunci: Rehabilitasi, Lingkungan, Relapse.
Abstract
Rehabilitation is crucial in aiding the recovery of drug addicts, emphasizing that the rehabilitation system
influences individual behavior. The impact of a positive environmental system, including family support for
the recovery of drug abuse victims, is very important. This research also explores the relationship between
the rehabilitation system and resident behavior, aiming to enhance the effectiveness of rehabilitation
programs and the well-being of residents. The 9-month recovery program at IPWL Bukit Doa aims to
rehabilitate residents from drug addiction. The study emphasizes the importance of a positive
environmental system in the recovery of individuals from drug abuse. Family support and a good
environment are essential for successful recovery. This research also highlights the influence of the
rehabilitation system on resident behavior, with the goal of improving the effectiveness of rehabilitation
programs. The research shows that the 9-month recovery program is not always successful due to poor
environments and lack of family support. The environment plays a significant role in individual behavior,
with 74% being influenced by the environment. Although the 9-month recovery program at IPWL Bukit
Doa aims to prevent relapse, the success of relapse prevention is not guaranteed due to environmental
factors such as lack of family support and unsupportive environments often triggering relapse.
Keywords: Rehabilitation, Environment, Relapse.
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
314
Anita Maisaroh1, Yolanda Oktari Br Bangun2, Rachel Yohana Vatreciya Purba3, Rizky Akbar4, Muhammad
Aqsha Rangkuti5
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 3 (2024) 314 - 321
PENDAHULUAN
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah kasus narkoba di Indonesia sebanyak
1.184 kasus, dengan jumlah tersangka sebanyak 1.483 orang pada tahun 2021. Jumlah tersebut meningkat
pada tahun 2022 menjadi 1.350 kasus, dengan jumlah tersangka sebanyak 1.748 orang dan barang bukti
sebanyak 12,4 ton. Rehabilitasi merupakan suatu proses yang penting dalam memfasilitasi pemulihan
individu yang mengalami masalah perilaku atau ketergantungan. Dengan rehabilitasi, diharapkan para
penyalahguna narkoba dapat kembali pulih dan berhenti menyalahgunakan narkoba. Sistem rehabilitasi
tidak hanya terbatas pada intervensi individual, tetapi juga mencakup lingkungan di sekitarnya. Upaya ini
merupakan upaya atau tindakan alternatif,karena pelaku penyalahgunaan narkotika juga merupakan korban
kecanduan narkotika yang memerlukan pengobatan atau perawatan (Hidayataun & Widowaty, 2020).
Berdasarkan peraturan BNN nomor 6 tahun 2022 tentang penyelenggaraan rehabilitasi berkelanjutan
rehabilitasi adalah serangkaian upaya pemulihan terpadu terhadap Pecandu Narkotika, Penyalahguna
Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang mencakup penerimaan awal, rehabilitasi medis
dan/atau rehabilitasi sosial, serta pascarehabilitasi.
Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA), sekitar 40% hingga 60% orang yang pernah menjalani
rehabilitasi atau terapi untuk kecanduan napza akan mengalami relapse. Dilihat data atau persenan tersebut
dapat disimpulkan bahwasanya 9 bulan pun pemulihan masih saja belum efektif karena banyak yang relaps
akibat ada faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti faktor dari keluarga yang kooperatif, diri sendiri
yang kurang untuk berniat dalam pemulihan dan lain sebagainya. Peran lingkungan dalam proses
rehabilitasi dapat menjadi faktor pendorong dan faktor penghambat. Adapun fokus utama dalam penelitian
ini adalah untuk menegaskan bahwasanya sebuah sistem itu berpengaruh terhadap diri sendiri atau perilaku
dan tindakan setiap individu. Hal tersebut ditegaskan oleh Parson (1951), masyarakat adalah sistem yang
terdiri dari sub-sistem yang saling terkait, dan perubahan dalam satu sub-sistem dapat mempengaruhi
keseluruhan sistem sosial. Dia mengemukakan bahwa tindakan sosial diatur oleh norma dan nilai yang
membentuk struktur masyarakat. Maka dari itu penting bagi setiap individu yang sudah menjadi korban
penyalahgunaan NAPZA untuk memfokuskan dirinya kepada sistem yang lebih baik agar sistem di dalam
tubuh mulai dari fisik dan pikiran menjadi lebih baik serta positif, karena jika seorang individu berada di
sistem yang kurang baik, otomatis individu tersebut akan melakukan hal-hal yang lebih negatif lagi hingga
untuk memulihkannya bisa saja sangat lama dan memerlukan waktu yang lama juga. Dampak-dampak yang
dapat dilatarbelakangi dari sistem-sistem yang buruk terhadap para korban penyalahgunaan NAPZA di sini
sangat mengkhawatirkan karena hal itu dapat memicu kegilaan, depresi hingga rasa ketergantungan
terhadap hal-hal yang negatif.
Tentunya untuk membantu damp (...truncated)