Perbedaan Konsumsi Pangan dan Asupan Gizi pada Balita Stunting dan Normal di Lima Provinsi di Indonesia
DOI: 10.29244/jmpi.2020.7.2.73
Jurnal Mutu Pangan Vol. 7(2): 73-79, 2020
ISSN 2355-5017
Perbedaan Konsumsi Pangan dan Asupan Gizi pada Balita
Stunting dan Normal di Lima Provinsi di Indonesia
Differences in Food Consumption and Nutrient Intake of Stunting and
Normal Toddlers in Five Provinces in Indonesia
Mariana Prijono1)*, Nuri Andarwulan2,3), dan Nurheni Sri Palupi2,3)
1)
2)
3)
Program Studi Magister Teknologi Pangan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor
South East Asian Food and Agricultural Science and Technology Center, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Abstract. Stunting is an important sign of chronic malnutrition that exists in early life with greater
infection risk and with many long-term effects, including the need for physical work. Stunting is a
problem for the Indonesian people to produce a generation that has global competitiveness. In general,
this study aims to determine the effect of food consumption on the adequacy and balance of nutrition
between stunted and normal children in 5 provinces in Indonesia. Specifically, this study aims to (1)
lassify toddlers based on height according to age in the stunting and normal categories, (2) get a profile
of stunting and normal toddler food consumption, (3) analyze data on nutrient intake and food
contribution in the stunting group and normal, (4) analyze data on the adequacy and balance of
nutrition from food intake in stunting and normal children under five in 5 provinces in Indonesia. This
study used secondary data of food consumption data from SKMI 2014 and anthropometric data from
Riskesdas 2013 of West Java, Central Java, East Java, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara
provinces. There were 2,039 samples from 5 provinces, 38.4% of them were stunting toddlers. Food
consumption of toddlers with normal height was higher than stunting toddlers for eggs and egg products
and lower for sugars. Intake of calcium and vitamin A in normal toddlers was significantly higher than
stunting toddlers and lower for vitamin C. Both stunting and normal children groups showed deficiency,
sufficiency and excess in nutrient intake. Imbalance nutrient intake for both stunting and normal
children reached 100%.
Keywords: consumption, food, nutritional intake stunting, toddler
Abstrak. Stunting adalah tanda penting dari malnutrisi kronis yang ada pada awal kehidupan dengan
risiko infeksi yang lebih besar dan dengan banyak efek jangka panjang, termasuk kebutuhan akan
pekerjaan fisik. Pengerdilan adalah masalah bagi masyarakat Indonesia untuk menghasilkan generasi
yang memiliki daya saing global. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
konsumsi pangan terhadap kecukupan dan keseimbangan gizi antara balita stunting dan normal di 5
provinsi di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengelompokkan balita
berdasarkan tinggi badan menurut usia dalam kategori stunting dan normal, (2) mendapatkan profil
konsumsi pangan balita stunting dan normal, (3) menganalisis data asupan zat gizi dan kontribusi pangan
pada kelompok stunting dan normal, (4) menganalisis data kecukupan dan keseimbangan gizi dari
pangan pada balita stunting dan normal di 5 provinsi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data
sekunder data konsumsi makanan dari SKMI 2014 dan data antropometrik dari Riskesdas 2013 provinsi
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ada 2.039
contoh dari 5 provinsi, 38.4% di antaranya adalah balita stunting. Konsumsi balita dengan tinggi normal
lebih tinggi daripada stunting balita untuk telur dan produk telur dan lebih rendah untuk gula. Asupan
kalsium, vitamin A pada balita normal secara signifikan lebih tinggi daripada stunting balita dan lebih
rendah untuk vitamin C. Status gizi kurang, cukup, dan berlebih terdapat pada balita stunting dan
normal. Asupan gizi yang tidak seimbang pada balita stunting dan normal mencapai 100%.
Kata Kunci: asupan gizi, balita, konsumsi, pangan, stunting
1
Aplikasi Praktis. Penelitian ini memberikan gambaran status gizi balita berkaitan dengan stunting,
konsumsi pangan, asupan zat gizi, kontribusi pangan terhadap pemenuhan zat gizi, dan kecukupan
pangan dan keseimbangan pangan di Indonesia guna merumuskan kebijakan penanggulangan masalah
stunting di Indonesia.
Korespondensi:
©JMP2020
73
Jurnal Mutu Pangan Vol. 7(2): 73-79, 2020
PENDAHULUAN
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita
balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan
gizi kronis sehingga balita terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan,
dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi
kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2
tahun. Menurut Kemenkes 2020, balita dikategorikan
stunting jika nilai simpangan panjang badan (PB/U) atau
tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan
dengan standar baku antropometri balita (z score) antara
-2SD/standar deviasi dan -3SD (pendek) dan kurang dari
-3SD (sangat pendek). Hasil kegiatan riset kesehatan
dasar pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi
stunting menurun dari 37.3% menjadi 30.8% pada tahun
2018 (Kemenkes 2013a, 2018). Meskipun demikian
prevalensi stunting masih tergolong tinggi yang
menunjukkan adanya pertumbuhan yang kurang
maksimal pada sekitar satu dari tiga balita di Indonesia.
Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan
tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang
dialami oleh ibu hamil maupun balita balita. Intervensi
yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada
1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari balita balita.
Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting (WHO
2014) adalah praktek pengasuhan yang kurang baik,
termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai
kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan,
serta setelah ibu melahirkan; masih terbatasnya layanan
kesehatan termasuk layanan Ante Natal Care, Post Natal
Care dan pembelajaran dini yang berkualitas; masih
kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan
bergizi; dan kurangnya akses ke air bersih serta sanitasi.
Penelitian pada balita di Mozambique menunjukkan
bahwa berat lahir, status pendidikan ibu, pekerjaan ibu,
tinggal di daerah pedesaan, jumlah balita balita, jumlah
orang dalam satu keluarga, memasak dengan arang,
menghuni perumahan kayu atau jerami atau perumahan
tanpa lantai yang layak, durasi menyusui secara
keseluruhan serta durasi menyusui eksklusif, dan waktu
dimulainya pemberian makanan pelengkap secara
signifikan terkait dengan stunting (Cruz et al. 2017).
Penelitian stunting di Etiopia oleh Motbainor et al.
(2015) menyimpulkan strategi intervensi malnutrisi
balita harus difokuskan tidak hanya pada program
ketahanan pangan tetapi juga pada keanekaragaman
produk pertanian yang merupakan elemen dasar keanekaragaman makanan dan bahan makanan untuk
menyediakan maka (...truncated)