Perbedaan Konsumsi Pangan dan Asupan Gizi pada Balita Stunting dan Normal di Lima Provinsi di Indonesia

Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal of Food Quality, Oct 2020

Stunting is an important sign of chronic malnutrition that exists in early life with greater infection risk and with many long-term effects, including the need for physical work. Stunting is a problem for the Indonesian people to produce a generation that has global competitiveness. In general, this study aims to determine the effect of food consumption on the adequacy and balance of nutrition between stunted and normal children in 5 provinces in Indonesia. Specifically, this study aims to (1) lassify toddlers based on height according to age in the stunting and normal categories, (2) get a profile of stunting and normal toddler food consumption, (3) analyze data on nutrient intake and food contribution in the stunting group and normal, (4) analyze data on the adequacy and balance of nutrition from food intake in stunting and normal children under five in 5 provinces in Indonesia. This study used secondary data of food consumption data from SKMI 2014 and anthropometric data from Riskesdas 2013 of West Java, Central Java, East Java, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara provinces. There were 2,039 samples from 5 provinces, 38.4% of them were stunting toddlers. Food consumption of toddlers with normal height was higher than stunting toddlers for eggs and egg products and lower for sugars. Intake of calcium and vitamin A in normal toddlers was significantly higher than stunting toddlers and lower for vitamin C. Both stunting and normal children groups showed deficiency, sufficiency and excess in nutrient intake. Imbalance nutrient intake for both stunting and normal children reached 100%.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.ipb.ac.id/index.php/jmpi/article/download/32009/22090

Perbedaan Konsumsi Pangan dan Asupan Gizi pada Balita Stunting dan Normal di Lima Provinsi di Indonesia

DOI: 10.29244/jmpi.2020.7.2.73 Jurnal Mutu Pangan Vol. 7(2): 73-79, 2020 ISSN 2355-5017 Perbedaan Konsumsi Pangan dan Asupan Gizi pada Balita Stunting dan Normal di Lima Provinsi di Indonesia Differences in Food Consumption and Nutrient Intake of Stunting and Normal Toddlers in Five Provinces in Indonesia Mariana Prijono1)*, Nuri Andarwulan2,3), dan Nurheni Sri Palupi2,3) 1) 2) 3) Program Studi Magister Teknologi Pangan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor South East Asian Food and Agricultural Science and Technology Center, Institut Pertanian Bogor, Bogor Abstract. Stunting is an important sign of chronic malnutrition that exists in early life with greater infection risk and with many long-term effects, including the need for physical work. Stunting is a problem for the Indonesian people to produce a generation that has global competitiveness. In general, this study aims to determine the effect of food consumption on the adequacy and balance of nutrition between stunted and normal children in 5 provinces in Indonesia. Specifically, this study aims to (1) lassify toddlers based on height according to age in the stunting and normal categories, (2) get a profile of stunting and normal toddler food consumption, (3) analyze data on nutrient intake and food contribution in the stunting group and normal, (4) analyze data on the adequacy and balance of nutrition from food intake in stunting and normal children under five in 5 provinces in Indonesia. This study used secondary data of food consumption data from SKMI 2014 and anthropometric data from Riskesdas 2013 of West Java, Central Java, East Java, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara provinces. There were 2,039 samples from 5 provinces, 38.4% of them were stunting toddlers. Food consumption of toddlers with normal height was higher than stunting toddlers for eggs and egg products and lower for sugars. Intake of calcium and vitamin A in normal toddlers was significantly higher than stunting toddlers and lower for vitamin C. Both stunting and normal children groups showed deficiency, sufficiency and excess in nutrient intake. Imbalance nutrient intake for both stunting and normal children reached 100%. Keywords: consumption, food, nutritional intake stunting, toddler Abstrak. Stunting adalah tanda penting dari malnutrisi kronis yang ada pada awal kehidupan dengan risiko infeksi yang lebih besar dan dengan banyak efek jangka panjang, termasuk kebutuhan akan pekerjaan fisik. Pengerdilan adalah masalah bagi masyarakat Indonesia untuk menghasilkan generasi yang memiliki daya saing global. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi pangan terhadap kecukupan dan keseimbangan gizi antara balita stunting dan normal di 5 provinsi di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengelompokkan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dalam kategori stunting dan normal, (2) mendapatkan profil konsumsi pangan balita stunting dan normal, (3) menganalisis data asupan zat gizi dan kontribusi pangan pada kelompok stunting dan normal, (4) menganalisis data kecukupan dan keseimbangan gizi dari pangan pada balita stunting dan normal di 5 provinsi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder data konsumsi makanan dari SKMI 2014 dan data antropometrik dari Riskesdas 2013 provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ada 2.039 contoh dari 5 provinsi, 38.4% di antaranya adalah balita stunting. Konsumsi balita dengan tinggi normal lebih tinggi daripada stunting balita untuk telur dan produk telur dan lebih rendah untuk gula. Asupan kalsium, vitamin A pada balita normal secara signifikan lebih tinggi daripada stunting balita dan lebih rendah untuk vitamin C. Status gizi kurang, cukup, dan berlebih terdapat pada balita stunting dan normal. Asupan gizi yang tidak seimbang pada balita stunting dan normal mencapai 100%. Kata Kunci: asupan gizi, balita, konsumsi, pangan, stunting 1 Aplikasi Praktis. Penelitian ini memberikan gambaran status gizi balita berkaitan dengan stunting, konsumsi pangan, asupan zat gizi, kontribusi pangan terhadap pemenuhan zat gizi, dan kecukupan pangan dan keseimbangan pangan di Indonesia guna merumuskan kebijakan penanggulangan masalah stunting di Indonesia. Korespondensi: ©JMP2020 73 Jurnal Mutu Pangan Vol. 7(2): 73-79, 2020 PENDAHULUAN Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga balita terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan, dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Menurut Kemenkes 2020, balita dikategorikan stunting jika nilai simpangan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku antropometri balita (z score) antara -2SD/standar deviasi dan -3SD (pendek) dan kurang dari -3SD (sangat pendek). Hasil kegiatan riset kesehatan dasar pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi stunting menurun dari 37.3% menjadi 30.8% pada tahun 2018 (Kemenkes 2013a, 2018). Meskipun demikian prevalensi stunting masih tergolong tinggi yang menunjukkan adanya pertumbuhan yang kurang maksimal pada sekitar satu dari tiga balita di Indonesia. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun balita balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari balita balita. Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting (WHO 2014) adalah praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan; masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan Ante Natal Care, Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas; masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi; dan kurangnya akses ke air bersih serta sanitasi. Penelitian pada balita di Mozambique menunjukkan bahwa berat lahir, status pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tinggal di daerah pedesaan, jumlah balita balita, jumlah orang dalam satu keluarga, memasak dengan arang, menghuni perumahan kayu atau jerami atau perumahan tanpa lantai yang layak, durasi menyusui secara keseluruhan serta durasi menyusui eksklusif, dan waktu dimulainya pemberian makanan pelengkap secara signifikan terkait dengan stunting (Cruz et al. 2017). Penelitian stunting di Etiopia oleh Motbainor et al. (2015) menyimpulkan strategi intervensi malnutrisi balita harus difokuskan tidak hanya pada program ketahanan pangan tetapi juga pada keanekaragaman produk pertanian yang merupakan elemen dasar keanekaragaman makanan dan bahan makanan untuk menyediakan maka (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.ipb.ac.id/index.php/jmpi/article/download/32009/22090
Article home page: https://journal.ipb.ac.id/index.php/jmpi/article/view/32009/22090

Prijono Mariana, Nuri Andarwulan, Palupi Nurheni Sri. Perbedaan Konsumsi Pangan dan Asupan Gizi pada Balita Stunting dan Normal di Lima Provinsi di Indonesia, Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal of Food Quality, 2020, pp. 73-79, Volume 7, Issue 2,