Pengaruh Seduhan Kopi Robusta Sebagai Antioksidan Terhadap Kadar Malondialdehyde (MDA) pada Tikus Wistar Jantan
©2022. Pratiwi, Wirjatmadi dan sumarmi. Published by Universitas Airlangga.
This is an open access article under CC-BY-SA license
Received: 04-03-2022, Revised: 14-04-2022, Accepted:12-06-2022, Published:01-12-2022
RESEARCH STUDY
Open Access
Pengaruh Seduhan Kopi Robusta sebagai Antioksidan terhadap Kadar
Malondialdehyde (MDA) pada Tikus Wistar Jantan
Effect of Robusta Coffee Steeping as an Antioxidant on Malondialdehyde (MDA)
Levels in Male Wistar Rats
Endah Pratiwi1* , Bambang Wirjatmadi1, Sri Sumarmi1
ABSTRAK
Latar Belakang: Pola tidur jaga terbalik merupakan perilaku dimana pelaku tidak melakukan istirahat malam
sebagai mana mestinya yang dilakukan oleh banyak orang, namun justru siang hari digunakan untuk istirahat
malam/tidur.
Jika kondisi ini berlangsung lama, akan mempengaruhi system Hipothalamus Piutari Adrenal (HPA) Axis pada
tubuh. Stimulus pada hiphotalamus akan memicu adanya peningkatan sekresi hormon adrenalin dan hormon
kortisol. Ketika hormon adrenalin disekresikan, akan terjadi peningkatan denyut jantung dan penyempitan
pembuluh darah (vasokontriksi) sehingga dapat merusak jaringan endotel. akibatnya akan membawa seseorang
mengalami hipoksia. Hipoksia memicu pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang mengakibatkan stress
oksidatif.
Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan kadar Malondialdehyde (MDA) terhadap tikus wistar jantan yang dipapar
stress psikologis setelah pemberian seduhan kopi robusta
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan pendekatan Randomized Post Test Only
Control Group Design dimana pengambilan sampel secara acak didalam keberagaman kelompok perlakuan.
Hasil : Rerata kadar MDA yang paling tinggi adalah pada kelompok (K2) dengan nilai 20,10 ± 4,17 nmol/ml.
Pada kelompok (P1) rerata kadar MDA dengan nilai 15,49 ± 2,60 nmol/ml lebih rendah jika dibandingkan dengan
kelompok (K2). Pada kelompok (P2) rerata kadar MDA dengan nilai 11.84 ± 3.09 nmol/ml lebih rendah jika
dibandingkan dengan kelompok (P1). Pada kelompok (P3) rerata kadar MDA dengan nilai 11.69 ± 1.03 nmol/ml
lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok (P2). Sedangkan pada kelompok kontrol (K1) menunjukkan
rerata kadar MDA dengan nilai 12.83 ± 2.22 nmol/ml lebih rendah daripada kelompok (K2).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar Malondialdehyde MDA antara kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan terhadap tikus wistar jantan yang dipapar stress psikologis setelah pemberian seduhan kopi robusta.
Kata kunci : Pola tidur terbalik, Antioksidan, Stress oksidatif, Kopi Robusta
ABSTRACT
Backgroud: Backgroud: Reverse sleep pattern is a behavior where the perpetrator does not do night rest as it
should be done by many people, but instead the day is used for night rest / sleep. To prevent all that, antioxidants
are needed that can prevent oxidative stress. It turns out that a study proves that there is a flavonoid antioxidant
content in robusta coffee (Coffea robusta) of 10.90 μg / g, caffeine content of 2.4%, protein by 7.5%, and
chlorogenic acid (CGA) content of 6.4% as an antioxidant.
Purpose: To find out the difference in Malondialdehyde (MDA) levels in male wistar rats exposed to psychological
stress after giving a steeping of robusta coffee.
Methods : This study is an experimental study with the Randomized Post Test Only Control Group Design
approach where random sampling in the diversity of treatment groups.
Results: The highest average MDA level is in the group (K2) with a value of 20.10 ± 4.17 nmol / ml. In the group
(P1) the average MDA level with a value of 15.49 ± 2.60 nmol / ml is lower when compared to the group (K2). In
the group (P2) the average MDA level with a value of 11.84 ± 3.09 nmol / ml is lower when compared to the group
(P1). In the group (P3) the average MDA level with a value of 11.69 ± 1.03 nmol / ml is lower when compared to
the group (P2). While in the control group (K1) showed an average MDA level with a value of 12.83 ± 2.22 nmol
/ ml lower than the group (K2).
Conclusion: There was a difference in Malondialdehyde MDA levels between the control group and the treatment
group of male wistar rats who were exposed to psychological stress after administering robusta coffee brew.
[Type text]
395. Media Gizi Kesmas, Vol 11 No 02 December 2022: Halaman:394-398
Keywords: Reverse sleep patterns, Antioxidants, Oxidative Stress, Robusta Coffee.
*Koresponden:
Endah Pratiwi
1
Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Kampus C Mulyorejo, 60115,
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
PENDAHULUAN
Pola tidur jaga terbalik merupakan perilaku dimana pelaku tidak melakukan istirahat malam sebagai mana
mestinya yang dilakukan oleh banyak orang, namun justru siang hari digunakan untuk istirahat malam/tidur. Hal
ini diakibatkan karena malam hari digunakan untuk aktivitas tuntutan pekerjaan seperti shift malam, atau karena
adanya gangguan tidur. Pada orang normal, jika hal ini terjadi secara terus menerus, maka siklus tidur biologisnya
akan mengalami perubahan. Tidak hanya itu, juga akan berdampak pada penurunan daya tahan tubuh serta dapat
merubah mood menjadi swing atau gampang berubah-rubah, menjadi mudah tersinggung, kurang konsentrasi,
mudah lelah, depresi, hingga bisa menimbulkan stress psikologis. (Japardi I, 2002). Jika kondisi ini berlangsung
lama, akan mempengaruhi system Hipothalamus Piutari Adrenal (HPA) Axis pada tubuh. Stimulus pada
hiphotalamus akan memicu adanya peningkatan sekresi hormon adrenalin dan hormon kortisol. Ketika hormon
adrenalin disekresikan, akan terjadi peningkatan denyut jantung dan penyempitan pembuluh darah (vasokontriksi)
(Rosyidah N.H., 2021) sehingga dapat merusak jaringan endotel. akibatnya akan membawa seseorang mengalami
hipoksia. Respon yang menandakan terjadi hipoksia didalam tubuh dengan adanya peningkatan HIF. Hipoksia
memicu pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang mengakibatkan stress oksidatif ditandai dengan kadar
malondialdehyde (MDA) dan akan memberi konsekuensi bagi tubuh sebagai salah satu penyebab timbulnya
penyakit degenerative (Barton JR, 2007). Hal yang sama juga didukung dengan penelitian (Kala M, 2016) yang
menyebutkan bahwa akan terjadi peningkatan hormon kortisol akibat dari keadaan tikus yang mengalami stress
secara psikologis. Peningkatan hormon kortisol berkolerasi terhadap peningkatan aktivitas SOD pada tikus dalam
kondisi stress. Pada puncaknya, stress oksidatif akan terjadi akibat dari keadaan tekanan darah yang meningkat,
sehingga menyebabkan dinding endotel tidak dapat mengkompensasi dan mengalami oscillatory shear-stress
kemudian menyebabkan disfungsi endotel bagian dalam (Deanfield, Dkk, 2007).
Untuk mencegah semua itu, diperlukan antioksidan yang mampu mencegah stress oksidatif. seduhan kopi
yang selama ini digunakan sebagai “teman nongkrong” bagi sebagian orang ketika hendak bergadang ternyata
dalam kandungannya membawa manfaat sebagai antioksidan . Hal ini telah banyak dibuktikan dari berbagai
penelitian yang membuktikan bahwa terdapat kandungan a (...truncated)