Perancangan Buku Ilustrasi Sebagai Sarana Edukasi dan Dukungan Sosial Terhadap Penderita Skizofrenia
PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI SEBAGAI SARANA
EDUKASI DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP
PENDERITA SKIZOFRENIA
Swesti Anjampiana Bentri1, Benny Rahmawan Noviadji2, Samuel Indra
Kristiawan3.
Institut Informatika Indonesia, Surabaya1
Abstrak
Gangguan kejiwaan dapat dapat dialami setiap orang dan
mengakibatkan gangguan cara berpikir, merasa, perilaku dan interaksi.
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang bersifat kronis. dimana
penderita mengalami kesulitan untuk membedakan antara realita dan
delusi atau waham maupun halusinasi yang dialami. Saat ini masih
banyak yang belum memahami tentang skizofrenia, sehingga
memerlukan media untuk mengenalkan atau mengedukasi tentang
skizofrenia. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan
perancangan media edukasi akan pentingnya dukungan sosial terhadap
penderita skizofrenia berupa buku ilustrasi yang ditujukan kepada
kalangan remaja hingga dewasa. Tujuan karya ini adalah agar mereka
sebagai orang terdekat dapat memahami apa itu skizofrenia dan
bagaimana menanganinya. Proses perancangan dimulai dari riset data
melalui wawancara dengan seorang psikiater. Selain itu juga melalui
observasi terhadap salah satu penderita. Pengumpulan data sekunder
didapatkan dari beberapa sumber seperti buku, jurnal dan artikel. Proses
pembuatan karya dimulai dari penyusunan materi buku, desain
karakter, sketsa, layout. Hingga dihasilkan karya berupa buku ilustrasi
berisi 60 halaman sebagai media utama. Melalui perancangan buku
ilustrasi ini diharapkan kalangan remaja dan dewasa dapat lebih
memahami skizofrenia dan penangannanya, sehingga memberikan
dampak positif bagi penderita untuk bisa berfungsi dengan baik dalam
kehidupan.
Kata kunci: Buku Ilustrasi, Edukasi, Gangguan Kejiwaan, Skizofrenia.
Abstract
Mental disorder can happen to anyone and affects the mind, emotion,
behaviour and social interaction. Schizophrenia is a chronic and severe
mental disorder, the patient has difficulty to differentiate between
delusion and reality. Some people does not have the right
understanding of schizophrenia so there is a needs to create a media
for educational purpose. It is concluded to make an illustrated book to
inform the importance of social support for them through illustrated
54
ARTIKA Vol.8,No.1, Juli (2024)
ISSN 2355-8121, EISSN 2549-7251
book, aimed at teenager to adult. To make people especially that close
to them have the right understanding about skizofrenia and how to treat
them. Conduct data research through interviews with psychiatrist and
observation of schizophrenia patient. The secondary data obtained
from literacy sources. Started with writing the materials and divide it
into different chapters, character design, sketch, layout process which
resulted with a 60 pages illustrated book as primary media. We hope
through this illustrated book people can get the right understanding of
schizophrenia and how to treat it especialy for teenager and adult so
they can participate to give the positive environtment that patient needs
for their better life.
Key words: Illustrated
Schizophrenia
Book,
Education,
Mental
Disorder,
PENDAHULUAN
Kesehatan jiwa adalah dasar dari emosi, pikiran, komunikasi, pembelajaran,
ketahanan dan harga diri seseorang. Kesehatan jiwa menjadi kunci bagi seseorang
dalam menjalin suatu hubungan secara personal maupun lingkungan sosial. Setiap
orang perlu memahami kondisi kejiwaan baik diri mereka sendiri maupun orang lain.
Ganguan Jiwa merupakan sebuah kondisi dimana terdapat gangguan salah satu atau
lebih fungsi jiwa yang ditandai dengan terganggunya emosi, proses berfikir,persepsi
dan tingkah laku yang menimbulkan stres. (Ika Subekti Wulandari., 2022).
Gangguan kejiwaan dapat mengganggu hubungan antara individu dengan individu
lain maupun dengan masyarakat. Gangguan kejiwaan tidak memandang jenis
kelamin, usia, lokasi geografis dan status sosial. Setiap orang dapat mengalaminya
dan kondisi ini mengganggu cara berpikir, merasa, perilaku dan interaksi.
Skizofrenia merupakan suatu ganguan jiwa berat yang bersifat kronis yang
ditandai dengan ganguan komunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau waham),
efek tidak wajar atau tumpul, ganguan fungsi koknitif serta mengalami kesulitan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Windy Freska, 2022). Skizofrenia dapat
dialami oleh siapapun tidak memandang ras maupun negara. Gejala yang dialami
oleh penderita skizofrenia membuat mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi
dengan orang lain. Seperti kerbanyakan gangguan lainnya, gangguan ini juga dapat
bertambah baik maupun buruk, sehingga dapat memperngaruhi penderitanya untuk
bersosialisasi.
Swesti Anjampiana Bentri, Institut Informatika Indonesia, Surabaya
55
Menurut data Riskesdas (2018) menunjukan bahwa terdapat peningkatan
angka kejadian jumlah penderita skizorenia sebanyak 7 per mil. Sedangkan untuk
wilayah Jawa Timur menduduki angka 6 per mil. (Yunita et al., 2020). Banyaknya
angka kenaikan ini menjadi penting untuk diperhatikan agar dapat menunjang
kesembuhan dan menekan angka kenaikan dari penderita skizofrenia. Kekurangan
pada aspek-aspek yang dialami oleh penderita memunculkan stigma negatif baik
pada keluarga maupun lingkungan sosial. Stigma sikap negatif yang memberi label
pada sekelompok orang dan berujung pada perilaku diskriminasi terhadap golongan
tertentu. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh pengalaman yang kurang,
pemahaman yang keliru, serta prasangka buruk. Stigma terhadap skizofrenia
menyebabkan penderita dijauhi, kurang dipahami atau dimengerti, kurang mendapat
dukungan oleh keluarga dan lingkungan sosial terdekat sehingga penderita
mengalami kesulitan dalam mendapat kesempatan memperoleh pekerjaan,
memperoleh hak dalam bidang pendidikan, menggunakan fasilitas umum, mendapat
pelayanan kesehatan atau medis, mencari tempat tinggal dan melakukan interaksi
dan aktivitas sosial. Sehingga penderita kesulitan untuk mendapatkan perawatan
yang memadai baik secara psikiatris maupun perawatan yang berupa dukungan
sosial terutama dari pihak terdekat.
Faktor lingkungan dapat meningkatkan resiko seseorang rentan menderita
gangguan skizofrenia, yang bisa disebut sebagai stressor psikososial. Stressor
Psikososial adalah keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam
kehidupan seseorang dan cenderung memaksa untuk beradaptasi. (Sitawati et al.,
2022). Tidak semua orang dapat beradaptasi dengan baik dengan perubahan yang
terjadi pada dirinya, dan itu dapat memicu seseorang mengidap skizofrenia. Hal ini
menjelaskan bahwa tindakan menjauhi penderita skizorenia juga akan memperburuk
keadaan mereka. Penderita cenderung memendam perasaan mereka, dan ketidak
adaan orang terdekat untuk mendukungnya akan membuat pasien merasa semakin
tersesat dan terjebak dalam kebingungan yang memperparah gangguan
yang
dideritanya.
Upaya meningkatkan kualitas hidup penderita skizofrenia, pengobatan dan
dukungan sosial sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat, sehingga
diperlukan suatu media yang tepat, yaitu buku ilustrasi sebagai (...truncated)