Variabel-Variabel Kunci dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata (KEK) Berkelanjutan Di Mandalika, Lombok Tengah, Indonesia
Available online at: https://journal.stp-bandung.ac.id/index.php/jk
Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas dan Perjalanan
Volume 6 Nomor 1, 2022:16-30
DOI: 10.34013/jk.v6i1.327
Variabel-Variabel Kunci dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus
Pariwisata (KEK) Berkelanjutan Di Mandalika, Lombok Tengah,
Indonesia
Lalu Suryade*1, Akhmad Fauzi2, Noer Azam Achsani3, Eva Anggraini4
1,2,3,4Institue
Pertanian Bogor
Email:
Abstract
Developing a sustainable region is an integrated feature of collaboration involving multistakeholders and various forms of activities streaming to increase the welfare of local people and to
preserve local culture and the environment. Tourism is perceived to be one of accelerating activities
in achieving the sustainable development of a certain region, especially in coastal areas. This research
was aimed at analyzing the options of factors affecting the sustainable development of the Special
Economic Zone (SEZ) of Mandalika at Central Lombok, Indonesia. Data were collected using
interviews, focus group discussion (FGD) and field observation. MICMAC (matrix of cross impact)
method was used to analyze the affecting factors for sustainable development of the SEZ. The results
of current study indicate the sustainability of the SEZ are affected by 18 factors comprising of three
dimensions like economic, social and, environmental. These factors are classified into four quadrants
according to their influence and dependence of MICMAC such as eight factors in driving quadrant, six
factors in relay quadrant, and three factors as output quadrant as well as two factors as autonomous
quadrant. The factor of investment is potentially going to influence directly and indirectly the
uplifting of local people income in the future. Two potential key factors with environmental
dimension on managing the Mandalika SEZ in the future are the pollution and freshwater availability.
Keywords: Tourism; MICMAC; sustainable development; Tourism Special Economic Zone.
Abstrak
Pengembangan sebuah kawasan merupakan bentuk perpaduan kolaborasi yang melibatkan multipengambil kebijakan, dan berbagai bentuk kegiatan yang mengarah kepada peningkatan
kesejahteraan masyarakat lokal, serta pelestarian budaya dan lingkungan. Pariwisata dipercaya
menjadi salah satu kegiatan yang dapat mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan
dalam sebuah kawasan, khususnya di daerah pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis pilihanpilihan faktor pembangunan berkelanjutan dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di
Lombok Tengah – Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2019 sampai Maret 2020.
Data dikumpulkan dari wawancara dan diskusi berkelompok terfokus (FGD) dan kunjungan
lapangan. MICMAC digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
keberlanjutan KEK bidang pariwisata ini. Hasil penelitian menunjukkan terdapat delapan belas
faktor yang berpengaruh terhadap keberlanjutan KEK Mandalika yang tercakup dalam dimensi
ekonomi, sosial dan ekologi. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan ke dalam empat kuadran
pengaruh dan ketergantungan MICMAC, yaitu tujuh faktor sebagai faktor pendorong, enam faktor
sebagai faktor relay, tiga faktor sebagai output, serta dua faktor sebagai otonom. Faktor investasi
akan sangat memberikan pengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
peningkatan pendapatan masyarakat lokal (income). Dua faktor potensial kunci dengan berdimensi
lingkungan bagi pengelolaan KEK Pariwisata Mandalika di masa yang akan datang adalah
pencemaran (polusi) dan ketersediaan air bersih (water).
Kata Kunci: Pariwisata; Micmac; pembangunan berkelanjutan; Tourism Specific Economic Zone.
A.
PENDAHULUAN
Pembangunan merupakan proses pengembangan kapasitas masyarakat dalam jangka
panjang sehingga memerlukan perencanaan yang tepat dan akurat. Diperlukan partisipasi
masyarakat dalam perencanaan, dalam kegiatan pembangunan, serta dalam menikmati hasil
* Lalu Suryade
Received: May 02, 2022; Revised: June 01, 2022; Accepted: July 07, 2022
Variabel-Variabel Kunci dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata (KEK) Berkelanjutan Di
Mandalika, Lombok Tengah, Indonesia
Lalu Suryade, Akhmad Fauzi, Noer Azam Achsani, Eva Anggraini
pembangunan, khususnya pada tingkat lokal (Ashari, Wahyunadi, & Hailuddin, 2015).
Pembangunan ekonomi lokal telah menjadi isu global. Konsep tersebut melibatkan tema yang
berbeda, aktor yang terlibat, dan tidak adanya defenisi yang membantu memahami sintesis apa
yang dimaksud dengan pembangunan ekonomi lokal. Terdapat empat sumbu di mana
pembangunan ekonomi lokal bisa mulai dengan adanya perusahaan-perusahaan lokal, investasi ke
dalam, infrastruktur, dan keterampilan tenaga kerja. Pariwisata merupakan tingkat pertama dari
semua kegiatan ekonomi yang membantu daerah-daerah lokal untuk berkembang ke arah
pengembangan tujuan wisata. Tujuan wisata mempunyai beberapa bentuk utama dalam
pembangunan daerah (Padrana, 2013). Industri pariwisata memegang peranan besar dalam
strategi pembangunan di banyak negara berkembang. Pariwisata yang dapat berkelanjutan bukan
merupakan suatu bentuk pariwisata khusus atau terpisah; semua bentuk pariwisata harus
berusaha untuk dapat menjadi lebih berkelanjutan. Konsep pembangunan yang dapat
berkelanjutan telah diterima secara luas sebagai cara bagi masa depan yang lebih baik (Brakoj,
2014). Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan harus mengikuti tiga prinsip yaitu keadilan,
keberlanjutan, dan komunitas. Pembangunan berkelanjutan sistem pemerintah daerah untuk
membangun dan meningkatkan kepositifan dan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata
(Chili & Xulu, 2015). Kawasan ekonomi khusus (KEK) diartikan sebagai konsentrasi geografis
terhadap perusahaan-perusahaan pada suatu daerah dengan batas wilayah tertentu. Defenisi
umum mencakup variasi zona komersial tradisional berbeda yang mengandung beberapa
karakteristik dasar penting yaitu wilayah KEK terbatas, mempunyai administrasi tunggal,
menyediakan berbagai insentif fiskal (contohnya manfaat pajak), menawarkan zona khusus
terpisah dengan kebijakan-kebijakan bebas-tugas, dan memberikan peraturan yuridiksi dan
ekonomi liberal dari pada di luar zona tersebut. KEK secara khusus menyediakan infrastruktur
yang lebih baik juga, umumnya dibangun pada basis kebijakan industri strategis untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi kawasan, yang melibatkan penawaran insentif untuk menarik para investor
ke suatu lokasi tertentu (Zeng, 2012). Pada konteks Indonesia, KEK didefenisikan sebagai suatu
zona dengan batasan tertentu dalam wilayah Indonesia yang bertujuan untuk melakukan fungsifungsi ekonomi dan memperoleh fasilitas khusus. Secara mendasar, zona ekonomi dikembangkan
untuk menciptakan lingkungan kondusif untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan investasi,
melakukan ekspor dan perdagangan bagi pertumbuhan ekonomi dan menjadi katalis reformasi
ekonomi (Hazakis, 2014),
Terletak di antara dua tujuan turis paling terkenal di Indonesia dan dunia yaitu (...truncated)