Analisis Stilistik pada Puisi Sajak Tafsir Karya Sapardi Djoko Damono Berdasarkan Pendekatan Objektif
Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume. 3, Nomor. 4, Tahun 2024
e-ISSN: 2963-5527; dan p-ISSN: 2963-5071; Hal. 154-158
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v3i4.1604
Available online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Analisis Stilistik pada Puisi Sajak Tafsir Karya Sapardi Djoko Damono
Berdasarkan Pendekatan Objektif
Rosmawaty Harahap1*, Alda Nafisa2, Anggreiny Damanik3, Atnes Hutagaol4, Dian
Sastra Sinaga5, Gladys Felicia Manik6, Rianggi Manalu7, Mariana Yulistia Sinaga8
1-8
Universitas Negeri Medan, Indonesia
Alamat : Jl. W. Iskandar Psr V Medan Esatate Kab. Deli Serdang
Korespondensi penulis: *
Abstract : The poem Sajak Tafsir by Sapardi Djoko Damono is a literary work that uses simple language but is
full of meaning. In this study, the author adopts an objective approach to explore the meaning of the poem.
Objectively, the approach analyzed views literary works as objects that stand alone, without involving other
elements outside them. This poem reflects an emotional journey filled with natural symbolism, such as the last
leaf, wind, fire, and ash, to depict fear, fragility, and the sacrifice of love. Sapardi is famous for his invitation to
interpret his poetry freely, therefore this analysis explores the meaning of the poetry as reflected in the natural
metaphors and symbolism used.
Keywords: Metaphor, Natural Symbolism, Objective Approach
Abstrak : Puisi Sajak Tafsir karya Sapardi Djoko Damono merupakan karya sastra yang menggunakan bahasa
sederhana namun penuh makna. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan obyektif untuk menggali
makna puisi. Secara obyektif, pendekatan analisis memandang karya sastra sebagai objek yang berdiri sendiri,
tanpa melibatkan unsur lain di luarnya. Puisi ini mencerminkan perjalanan emosional yang penuh dengan
simbolisme alam, seperti daun terakhir, angin, api, dan abu, untuk menggambarkan ketakutan, kerapuhan, dan
pengorbanan cinta. Sapardi terkenal dengan ajakan untuk menafsirkan puisinya secara bebas, oleh karena itu
analisis ini mengeksplorasi makna puisi yang tercermin dalam metafora alam dan simbolisme yang digunakan.
Kata Kunci: Metafora, Simbolisme Alam, Pendekatan Objektif
1. LATAR BELAKANG
Puisi Sajak Tafsir merupakan satu dari banyaknya karya fenomenal dari
masterpiece sastra, Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono dikenal dengan karya
yang menggunakan bahasa sederhana namun memiliki makna yang mendalam dan
menyentuh. Dari segi pragmatik, Sapardi mengajak pembaca puisinya untuk menafsirkan
makna dengan sebebas-bebasnya. Meski banyak membahas mengenai pendekatan
pragmatik, kali ini penulis ingin membedah karya sastra ini dalam pendekatan objektif
atau tidak mempertimbangkan sudut pandang pengarang terhadap suatu karya melainkan
lebih berfokus pada unsur intrinsik suatu karya.
Received: Oktober 18, 2024; Revised: November 13, 2024; Accepted: November 27, 2024; Online Available:
November 29, 2024
Analisis Stilistik pada Puisi Sajak Tafsir Karya Sapardi
Djoko Damono Berdasarkan Pendekatan Objektif
2. KAJIAN TEORITIS
Stilistika adalah cabang ilmu yang mengkaji gaya bahasa dalam karya sastra,
termasuk penggunaan kata, struktur kalimat, citraan, dan elemen estetika lainnya yang
membedakan satu karya dengan karya lainnya. Stilistika berupaya memahami bagaimana
gaya bahasa digunakan untuk menyampaikan makna, membangun suasana, dan
menciptakan efek tertentu dalam sebuah teks sastra. A. Teeuw, seorang pakar sastra
Indonesia, berpendapat bahwa stilistika merupakan alat untuk memahami keindahan karya
sastra melalui analisis struktur bahasanya. Dalam bukunya Sastra dan Ilmu Sastra (1984),
Teeuw menjelaskan bahwa bahasa adalah elemen utama yang membedakan sastra dari
bentuk komunikasi lain, sehingga analisis stilistik menjadi kunci memahami karya sastra.
Terdapat juga pendapat lain yang menyatakan bahwa stilistika tidak hanya membahas
unsur keindahan, tetapi juga makna yang terkandung di dalam bahasa. Ia menyatakan
bahwa gaya bahasa adalah refleksi cara pandang pengarang terhadap dunia, yang dapat
memberikan dimensi simbolik atau filosofis dalam karya sastra, dikemukakan oleh
Sapardi Djoko Damono (1997). Adapun pendekatan objektif dalam kajian sastra adalah
pendekatan yang memandang karya sastra sebagai objek yang berdiri sendiri, tanpa
melibatkan unsur lain di luarnya. Pendekatan ini juga dikenal sebagai pendekatan
struktural, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Dalam pendekatan objektif, karya
sastra dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, tanpa mempertimbangkan latar belakang
sejarah, niat penulis, atau efeknya pada pembaca.
3. METODE PENELITIAN
Metode yang penulis lakukan dalam analisis ini adalah Library Research atau
penelitian kepustakaan yang mana data yang penulis pakai berasal dari buku, jurnal,
artikel, dan liteatur-literatur sejenisnya.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut adalah penggalan dari puisi Sajak Tafsir yang akan dibedah dalam
pembahasan kali ini.
“Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan keindahan kelebat diriku yang memimpikan tanah
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku ke dalam bahasa abu.
155
CONCEPT - VOLUME. 3, NOMOR. 4, TAHUN 2024
e-ISSN: 2963-5527; dan p-ISSN: 2963-5071; Hal. 154-158
Tolong tafsirkan aku sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan ranting itu padam.
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu
Tolong ciptakan makna bagiku apa saja — aku selembar daun terakhir yang ingin
menyaksikanmu Bahagia ketika sore tiba.”
Berdasarkan pandangan stilistik, bait pertama dalam puisi ini memberikan
gambaran tentang kebebasan yang dilambangkan dalam metafora burung. Sungai, ladang,
dan batu dalam hal ini diinterpretasikan sebagai alam yang tidak boleh ditinggalkan. Bait
kedua menggambarkan keadaan seseorang yang berada diujung tanduk. Daun terakhir
yang pada umumnya merupakan daun yang berada pada dahan lemah tinggal menunggu
untuk jatuh. Ranting yang membenci angin merupakan upaya seseorang untuk bertahan
meski tau akan jatuh pada akhirnya. Bait ketiga menggambarkan ketakutan yang tidak
dapat diprediksi kapan datangnya. Kalimat memimpikan tanah menggambarkan
ketidakpercayaan atas ketakutan yang dijelaskan pada kalimat sebelumnya.
Pada kalimat selanjutnya, yaitu “tidak mempercayai janji api yang akan
menerjemahkanku ke dalam bahasa abu” menggambarkan kehampaan dari ketakutan itu
yang mungkin tidak akan kembali kepada wujud semula. Layaknya abu yang membakar
daun hingga menjadi abu, tidak akan dapat kembali menjadi daun. Bait selanjutnya
menggambarkan kerapuhan yang ingin untuk diteguhkan. Kalimat ”agar suara angin yang
meninabobokan ranting itu padam” menggambarkan dambaan tentang hasrat untuk tenang
tanpa dibayang-bayangi ketakutan (digambarkan dalam kalimat meninabobokan, padahal
angin pada ranting sebenarnya adalah anca (...truncated)