Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi
Celebes Journal of Community Services. 1(2): 2022
Volume 4 Issue 1 (2024) Pages 269 - 272
Celebes Journal of Community Services
ISSN 2962-4088 (Online)
Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis
Halusinasi
Ridwan Kustiawan ¹, Iwan Somantri ², Tetet Kartilah ³
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
Abstrak
Berdasarkan hasil studi pendahuluan bahwa jumlah pasien dengan gangguan Jiwa yang terdaftar di
Puskesmas Sambongpari sebanyak 60 orang, sementara data gangguan resiko dan masyarakat sehat
jiwa belum ada. Oleh karena itu perlu dibentuk kader sehat jiwa sebagai upaya untuk
mengidentifikasi dan memelihara kesehatan jiwa masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini
terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan pelatihan kader sehat jiwa sebanyak 46 kader, kegiatan
deteksi dini masalah kesehatan jiwa sebagai uapaya mandiri tanggap bencana. Kegiatan pelatihan
kader dilaksanakan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan role play. Kegiatan deteksi dini
masalah kesehatan jiwa dilaksanakan oleh kader dengan berkoordinasi dengan Puskesmas. Partispasi
kader yang hadir ditargetkan 80 %, dalam kenyataannya hadir 100%. Terdapatnya data kategori
sehat jiwa, risiko sehat jiwa dan gangguan jiwa hasil dari deteksi kader sehat jiwa. Kesimpulannya
setelah dilakukan pelatihan terdapat kader kesehatan jiwa, pengetahuan kader tentang kesehatan
jiwa meningkat dan terdapat data pengkategorian klasifikasi sehat jiwa. Disarankan kepada
Puskesmas untuk melakukan monitoring dan evaluasi serta memberdayakan kader yang sudah dilatih
dalam program kesehatan jiwa.
Kata Kunci: Halusinasi, Pelatihan Kader, Sehat Jiwa
Abstract
Based on the results of a preliminary study, the number of patients with mental disorders registered
at the Kawalu Community Health Center is 60 people, while there is no data on risk disorders and
mentally healthy people. Therefore, it is necessary to form mental health cadres as an effort to
identify and maintain community mental health. This community service activity consists of three
activities, namely training activities for mentally healthy cadres totaling 46 cadres, activities for early
detection of mental health problems as an independent effort to respond to disasters. Cadre training
activities are carried out using lecture, question and answer and role play methods. Early detection
activities for mental health problems were carried out by cadres in coordination with the Community
Health Center. The participation of the cadres who attended was targeted at 80%, in reality the
attendance was 100%. There is data on mental health categories, mental health risks and mental
disorders resulting from the detection of mentally healthy cadres. In conclusion, after the training
there were mental health cadres, the cadres' knowledge about mental health increased and there was
data on the categorization of mental health classifications. It is recommended that Puskesmas carry
out monitoring and evaluation and empower cadres who have been trained in mental health
programs.
Keywords: Hallucinations, Cadre Training, Mental Health
Copyright (c) 2024 Ridwan Kustiawan, Iwan Somantri, Tetet Kartilah
Corresponding author :
Email Address :
PENDAHULUAN
Pemberdayaan kader dalam pengabadian masyarakat yang berfokus pada Pengembangan
Kelurahan Siaga Sehat Jiwa (KSSJ), dimana kader kesehatan jiwa merupakan sumber daya
masyarakat yang perlu dikembangkan di Desa Siaga Sehat Jiwa. Pemberdayaan kader kesehatan
jiwa sebagai tenaga potensial yang ada di masyarakat diharapkan mampu mendukung program
KSSJ.
269
Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi....
Pemberdayaan kader kesehatan jiwa yang sudah diberikan pelatihan mampu melakukan
deteksi awal pada korban bencana terkait dampak psikologis yang dirasakan dan memberikan
tindakan terkait penanganan masalah psikologi. Puskesmas Sambongpari merupakan salah satu
Puskesmas di wilayah Kota Tasikmalaya yang memiliki posyandu 46 dan mempunyai 8-9 orang
kader setiap posyandu. idealnya diperlukan kader yang ikut pelatihan ini 1 kader memegang 20 KK.
Beradasarkan hasil studi pendahuluan didapatkan bahwa jumlah pasien dengan gangguan Jiwa
yang terdaftar di Puskesmas Sambongpari sebanyak 60 orang, sementara data tentang gangguan
resiko dan data tentang masyarakat sehat jiwa belum ada. Oleh karena itu perlu dibentuk kader
sehat jiwa sebagai upaya untuk mengidentifikasi dan memelihara kesehatan jiwa masyarakat
melalui kader. Untuk membekali kader-kader tersebut perlu kiranya dilakukan pelatihan kader
sehat jiwa.
Orang yang diganggu oleh halusinasi lebih rentan untuk melakukan hal-hal yang melukai
diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Penelitian Scott menunjukkan bahwa antara usia 14 dan
21, ada risiko lebih tinggi untuk bunuh diri, psikopatologi psikotik dan non-psikotik, dan kualitas
hidup yang rendah, sehingga lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan (Fajrullah et al., nd). Banyak
upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian halusinasi, seperti menyusun strategi
untuk melakukan tindakan keperawatan yang merupakan teknik menegur (Daniel Manurung, n.d.).
Teguran adalah tindakan menolak halusinasi untuk melindungi diri darinya. Menjelaskan cara
menegur, menyajikan contoh teguran, mendorong pasien untuk mempraktikkan teguran, dan
membuat jadwal sistematis untuk memantau penggunaan teguran adalah bagian dari tahap
teguran (Ma'arif dan Agustin 2017). Berdasarkan penelitian Susilaningsih, Afiana, dan Nurul pada
tahun 2019 membuahkan hasil bahwa pasien dapat melakukan strategi menghardik dengan baik
saat halusinasi muncul maupun tidak muncul. Strategi menghardik digunakan oleh pasien untuk
mengontrol halusinasinya dengan membuat jadwal harian (Susilaningsih et al., 2019).
METODOLOGI
Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi pelatihan kader. Pelatihan dilakukan
dengan memberi materi selama satu hari mengenai Kesehatan jiwa, setelah itu kader melakukan
deteksi dini kepada masyarakat untuk mendapatkan data di masyarakat yang gangguan jiwa,
beresiko serta yang sehat jiwa. Hasil dari deteksi dini ini dilaporkan kepada Puskesmas Sambongpari.
Setelah terdapat hasil deteksi dini, maka akan menggerakkan masyarakat sesuai klasifikasi kesehatan
jiwa untuk hadir dalam penyuluhan yang dilakukan oleh Puskesmas bekerjasama dengan Poltekkes
Tasikmalaya.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi kegiatan pembentukan kader sehat jiwa, identifikasi
kategori kesehatan jiwa masyarakat dan penyuluhan kesehatan jiwa kepada masyarakat. Metode
kegiatan adalah pendidikan kesehatan dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan
identifikasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini terdiri dari tiga kegiatan besar, yaitu kegiatan
pelatihan kader sehat jiwa, kegiatan deteksi dni masalah kesehatan jiwa dan kegiatan penyuluhan
kesehatan jiwa. Kegiatan pelatihan kader dilaksanakan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan
role play. Kegiatan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dilaksanakan oleh kader dengan metode
melakuka (...truncated)