Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi

Celebes Journal of Community Services, Nov 2024

Abstrak Berdasarkan hasil studi pendahuluan bahwa jumlah pasien dengan gangguan Jiwa yang terdaftar di Puskesmas Sambongpari sebanyak 60 orang, sementara data gangguan resiko dan masyarakat sehat jiwa belum ada. Oleh karena itu perlu dibentuk kader sehat jiwa sebagai upaya untuk mengidentifikasi dan memelihara kesehatan jiwa masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan pelatihan kader sehat jiwa sebanyak 46 kader, kegiatan deteksi dini masalah kesehatan jiwa sebagai uapaya mandiri tanggap bencana. Kegiatan pelatihan kader dilaksanakan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan role play. Kegiatan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dilaksanakan oleh kader dengan berkoordinasi dengan Puskesmas. Partispasi kader yang hadir ditargetkan 80 %, dalam kenyataannya hadir 100%. Terdapatnya data kategori sehat jiwa, risiko sehat jiwa dan gangguan jiwa hasil dari deteksi kader sehat jiwa. Kesimpulannya setelah dilakukan pelatihan terdapat kader kesehatan jiwa, pengetahuan kader tentang kesehatan jiwa meningkat dan terdapat data pengkategorian klasifikasi sehat jiwa. Disarankan kepada Puskesmas untuk melakukan monitoring dan evaluasi serta memberdayakan kader yang sudah dilatih dalam program kesehatan jiwa.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/download/1816/1232

Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi

Celebes Journal of Community Services. 1(2): 2022 Volume 4 Issue 1 (2024) Pages 269 - 272 Celebes Journal of Community Services ISSN 2962-4088 (Online) Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi Ridwan Kustiawan  ¹, Iwan Somantri ², Tetet Kartilah ³ Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Abstrak Berdasarkan hasil studi pendahuluan bahwa jumlah pasien dengan gangguan Jiwa yang terdaftar di Puskesmas Sambongpari sebanyak 60 orang, sementara data gangguan resiko dan masyarakat sehat jiwa belum ada. Oleh karena itu perlu dibentuk kader sehat jiwa sebagai upaya untuk mengidentifikasi dan memelihara kesehatan jiwa masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan pelatihan kader sehat jiwa sebanyak 46 kader, kegiatan deteksi dini masalah kesehatan jiwa sebagai uapaya mandiri tanggap bencana. Kegiatan pelatihan kader dilaksanakan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan role play. Kegiatan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dilaksanakan oleh kader dengan berkoordinasi dengan Puskesmas. Partispasi kader yang hadir ditargetkan 80 %, dalam kenyataannya hadir 100%. Terdapatnya data kategori sehat jiwa, risiko sehat jiwa dan gangguan jiwa hasil dari deteksi kader sehat jiwa. Kesimpulannya setelah dilakukan pelatihan terdapat kader kesehatan jiwa, pengetahuan kader tentang kesehatan jiwa meningkat dan terdapat data pengkategorian klasifikasi sehat jiwa. Disarankan kepada Puskesmas untuk melakukan monitoring dan evaluasi serta memberdayakan kader yang sudah dilatih dalam program kesehatan jiwa. Kata Kunci: Halusinasi, Pelatihan Kader, Sehat Jiwa Abstract Based on the results of a preliminary study, the number of patients with mental disorders registered at the Kawalu Community Health Center is 60 people, while there is no data on risk disorders and mentally healthy people. Therefore, it is necessary to form mental health cadres as an effort to identify and maintain community mental health. This community service activity consists of three activities, namely training activities for mentally healthy cadres totaling 46 cadres, activities for early detection of mental health problems as an independent effort to respond to disasters. Cadre training activities are carried out using lecture, question and answer and role play methods. Early detection activities for mental health problems were carried out by cadres in coordination with the Community Health Center. The participation of the cadres who attended was targeted at 80%, in reality the attendance was 100%. There is data on mental health categories, mental health risks and mental disorders resulting from the detection of mentally healthy cadres. In conclusion, after the training there were mental health cadres, the cadres' knowledge about mental health increased and there was data on the categorization of mental health classifications. It is recommended that Puskesmas carry out monitoring and evaluation and empower cadres who have been trained in mental health programs. Keywords: Hallucinations, Cadre Training, Mental Health Copyright (c) 2024 Ridwan Kustiawan, Iwan Somantri, Tetet Kartilah  Corresponding author : Email Address : PENDAHULUAN Pemberdayaan kader dalam pengabadian masyarakat yang berfokus pada Pengembangan Kelurahan Siaga Sehat Jiwa (KSSJ), dimana kader kesehatan jiwa merupakan sumber daya masyarakat yang perlu dikembangkan di Desa Siaga Sehat Jiwa. Pemberdayaan kader kesehatan jiwa sebagai tenaga potensial yang ada di masyarakat diharapkan mampu mendukung program KSSJ. 269 Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi.... Pemberdayaan kader kesehatan jiwa yang sudah diberikan pelatihan mampu melakukan deteksi awal pada korban bencana terkait dampak psikologis yang dirasakan dan memberikan tindakan terkait penanganan masalah psikologi. Puskesmas Sambongpari merupakan salah satu Puskesmas di wilayah Kota Tasikmalaya yang memiliki posyandu 46 dan mempunyai 8-9 orang kader setiap posyandu. idealnya diperlukan kader yang ikut pelatihan ini 1 kader memegang 20 KK. Beradasarkan hasil studi pendahuluan didapatkan bahwa jumlah pasien dengan gangguan Jiwa yang terdaftar di Puskesmas Sambongpari sebanyak 60 orang, sementara data tentang gangguan resiko dan data tentang masyarakat sehat jiwa belum ada. Oleh karena itu perlu dibentuk kader sehat jiwa sebagai upaya untuk mengidentifikasi dan memelihara kesehatan jiwa masyarakat melalui kader. Untuk membekali kader-kader tersebut perlu kiranya dilakukan pelatihan kader sehat jiwa. Orang yang diganggu oleh halusinasi lebih rentan untuk melakukan hal-hal yang melukai diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Penelitian Scott menunjukkan bahwa antara usia 14 dan 21, ada risiko lebih tinggi untuk bunuh diri, psikopatologi psikotik dan non-psikotik, dan kualitas hidup yang rendah, sehingga lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan (Fajrullah et al., nd). Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian halusinasi, seperti menyusun strategi untuk melakukan tindakan keperawatan yang merupakan teknik menegur (Daniel Manurung, n.d.). Teguran adalah tindakan menolak halusinasi untuk melindungi diri darinya. Menjelaskan cara menegur, menyajikan contoh teguran, mendorong pasien untuk mempraktikkan teguran, dan membuat jadwal sistematis untuk memantau penggunaan teguran adalah bagian dari tahap teguran (Ma'arif dan Agustin 2017). Berdasarkan penelitian Susilaningsih, Afiana, dan Nurul pada tahun 2019 membuahkan hasil bahwa pasien dapat melakukan strategi menghardik dengan baik saat halusinasi muncul maupun tidak muncul. Strategi menghardik digunakan oleh pasien untuk mengontrol halusinasinya dengan membuat jadwal harian (Susilaningsih et al., 2019). METODOLOGI Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi pelatihan kader. Pelatihan dilakukan dengan memberi materi selama satu hari mengenai Kesehatan jiwa, setelah itu kader melakukan deteksi dini kepada masyarakat untuk mendapatkan data di masyarakat yang gangguan jiwa, beresiko serta yang sehat jiwa. Hasil dari deteksi dini ini dilaporkan kepada Puskesmas Sambongpari. Setelah terdapat hasil deteksi dini, maka akan menggerakkan masyarakat sesuai klasifikasi kesehatan jiwa untuk hadir dalam penyuluhan yang dilakukan oleh Puskesmas bekerjasama dengan Poltekkes Tasikmalaya. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi kegiatan pembentukan kader sehat jiwa, identifikasi kategori kesehatan jiwa masyarakat dan penyuluhan kesehatan jiwa kepada masyarakat. Metode kegiatan adalah pendidikan kesehatan dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan identifikasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini terdiri dari tiga kegiatan besar, yaitu kegiatan pelatihan kader sehat jiwa, kegiatan deteksi dni masalah kesehatan jiwa dan kegiatan penyuluhan kesehatan jiwa. Kegiatan pelatihan kader dilaksanakan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan role play. Kegiatan deteksi dini masalah kesehatan jiwa dilaksanakan oleh kader dengan metode melakuka (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/download/1816/1232
Article home page: https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/view/1816/1232

Ridwan Kustiawan, Iwan Somantri, Tetet Kartilah. Pelatihan Kader Sehat Jiwa Dengan Pendekatan Terapi Generalis Halusinasi, Celebes Journal of Community Services, 2024, pp. 269 - 272,