Optimalisasi Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian Dm Di Puskesmas Sambongpari Kota Tasikmalaya

Celebes Journal of Community Services, Nov 2024

Abstrak DM merupakan penyakit kronis karena ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau penggunaan insulin yang tidak efektif. Upaya strategis dalam mengendalikan resiko penyakit tidak menular mengacu pada penerapan strategi paradigma sehat dan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan posbindu. Kader posbindu mempunyai peran penting sebagai koordinator dan penggerak masyarakat dalam penyelenggaraan posbindu. Upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan kader menjadi sangat penting, salah satunya melalui pelatihan kader tentang konsep Diabetes Melitus dan pengelolaan posbindu. Metode yang dilakukan berupa pelatihan kader Posbindu kelurahan linggajaya wilayah kerja puskesmas sambongpari Kota Tasikmalaya, pada populasi berjumlah 36 orang. Analisis hasil pre-test dan post-test dilakukan dengan menggunakan teknik analisis uji normalitas data, uji univariat, dan uji bivariat. Uji normalitas data dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai kurtosis dengan Std Error. Hasil uji normalitas diperoleh nilai diperoleh nilai 0,7 dan 0,2. hal ini menunjukkan kedua variable terdistribusi data yang normal. Rerata skor pengetahuan sebelum edukasi adalah 64,83 dengan standar deviasi 7,05 dan setelah intervensi 88,06 dengan standar deviasi 4,91. Kenaikan rata-rata skor pengetahuan setelah dilakukan edukasi Diabetes Melitus sebesar 23,2 poin. Kesimpulan pelatihan kader Posbindu di kelurahan Linggajaya wilayah kerja Puskesmas Sambongpari, secara signifikan telah berhasil meningkatkan pengetahuan kader tentang penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus dan pengelolan Posbindu. Kader posbindu yang sudah dilatih diharapkan menjadi penggerak masyarakat yang efektif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan dapat berperan sebagai fasilitator dalam menyampaikan informasi edukasi kepada masyarakat luas. Abstract DM is a chronic disease due to the body's inability to produce the hormone insulin or ineffective use of insulin. Strategic efforts in controlling the risk of non-communicable diseases refer to the implementation of a healthy paradigm strategy and community empowerment through strengthening posbindu. Posbindu cadres have an important role as coordinators and community mobilizers in the implementation of posbindu. Efforts to improve the knowledge, attitudes and skills of cadres are very important, one of which is through cadre training on the concept of Diabetes Mellitus and posbindu management. The method used was training Posbindu cadres in the linggajaya village of the sambongpari health center working area of Tasikmalaya City, in a population of 36 people. Analysis of pre-test and post-test results was carried out using data normality test analysis techniques, univariate tests, and bivariate tests. Data normality test is done by comparing the kurtosis value with Std Error. The normality test results obtained values obtained values of 0.7 and 0.2. this indicates both variables are normally distributed data. The mean knowledge score before education was 64.83 with a standard deviation of 7.05 and after intervention 88.06 with a standard deviation of 4.91. The average increase in knowledge score after Diabetes Mellitus education was 23.2 points. In conclusion, the training of Posbindu cadres in Linggajaya village, Sambongpari Health Center working area, has significantly improved cadres' knowledge of Diabetes Mellitus disease management and Posbindu management. Posbindu cadres who have been trained are expected to be effective community mobilizers in improving public health and can act as facilitators in delivering educational information to the wider community.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/download/1819/1233

Optimalisasi Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian Dm Di Puskesmas Sambongpari Kota Tasikmalaya

Volume 3 Issue 2 (2024) Pages 286 - 292 Celebes Journal of Community Services ISSN 2962-4088 (Online) Optimalisasi Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian Dm Di Puskesmas Sambongpari Kota Tasikmalaya Dudi Hartono 1, Heri Djamiatul Maulana 2, Peni Cahyati 3 , Yanyan Bachtiar 4 1,2,3,4 Jurusan Keperawatan. Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya Abstrak DM merupakan penyakit kronis karena ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau penggunaan insulin yang tidak efektif. Upaya strategis dalam mengendalikan resiko penyakit tidak menular mengacu pada penerapan strategi paradigma sehat dan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan posbindu. Kader posbindu mempunyai peran penting sebagai koordinator dan penggerak masyarakat dalam penyelenggaraan posbindu. Upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan kader menjadi sangat penting, salah satunya melalui pelatihan kader tentang konsep Diabetes Melitus dan pengelolaan posbindu. Metode yang dilakukan berupa pelatihan kader Posbindu kelurahan linggajaya wilayah kerja puskesmas sambongpari Kota Tasikmalaya, pada populasi berjumlah 36 orang. Analisis hasil pretest dan post-test dilakukan dengan menggunakan teknik analisis uji normalitas data, uji univariat, dan uji bivariat. Uji normalitas data dilakukan dengan cara membandingkan antara nilai kurtosis dengan Std Error. Hasil uji normalitas diperoleh nilai diperoleh nilai 0,7 dan 0,2. hal ini menunjukkan kedua variable terdistribusi data yang normal. Rerata skor pengetahuan sebelum edukasi adalah 64,83 dengan standar deviasi 7,05 dan setelah intervensi 88,06 dengan standar deviasi 4,91. Kenaikan rata-rata skor pengetahuan setelah dilakukan edukasi Diabetes Melitus sebesar 23,2 poin. Kesimpulan pelatihan kader Posbindu di kelurahan Linggajaya wilayah kerja Puskesmas Sambongpari, secara signifikan telah berhasil meningkatkan pengetahuan kader tentang penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus dan pengelolan Posbindu. Kader posbindu yang sudah dilatih diharapkan menjadi penggerak masyarakat yang efektif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan dapat berperan sebagai fasilitator dalam menyampaikan informasi edukasi kepada masyarakat luas. Kata Kunci: Kader; Posbindu; Psikoedukasi; Diabetes Melitus Abstract DM is a chronic disease due to the body's inability to produce the hormone insulin or ineffective use of insulin. Strategic efforts in controlling the risk of non-communicable diseases refer to the implementation of a healthy paradigm strategy and community empowerment through strengthening posbindu. Posbindu cadres have an important role as coordinators and community mobilizers in the implementation of posbindu. Efforts to improve the knowledge, attitudes and skills of cadres are very important, one of which is through cadre training on the concept of Diabetes Mellitus and posbindu management. The method used was training Posbindu cadres in the linggajaya village of the sambongpari health center working area of Tasikmalaya City, in a population of 36 people. Analysis of pre-test and post-test results was carried out using data normality test analysis techniques, univariate tests, and bivariate tests. Data normality test is done by comparing the kurtosis value with Std Error. The normality test 286 Celebes Journal of Community Services. 1(2): 2022 results obtained values obtained values of 0.7 and 0.2. this indicates both variables are normally distributed data. The mean knowledge score before education was 64.83 with a standard deviation of 7.05 and after intervention 88.06 with a standard deviation of 4.91. The average increase in knowledge score after Diabetes Mellitus education was 23.2 points. In conclusion, the training of Posbindu cadres in Linggajaya village, Sambongpari Health Center working area, has significantly improved cadres' knowledge of Diabetes Mellitus disease management and Posbindu management. Posbindu cadres who have been trained are expected to be effective community mobilizers in improving public health and can act as facilitators in delivering educational information to the wider community. Keywords: Cadre; Posbindu; Psychoeducation; Diabetes Mellitus Copyright (c) 2022 Dudi Hartono, Heri Djamiatul Maulana, Peni Cahyati, Yanyan Bachtiar  Corresponding author : Peni Cahyati Email Address : PENDAHULUAN Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang menjadi tantangan di dalam dunia kesehatan. Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menyebabkan 1,6 juta kematian didunia pada tahun 2010.(Istianah et al., 2020). Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi- karena pancreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormone yang mengatur gula darah atau glukosa), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya (Momongan et al., 2021) Menurut Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa pada kelompok usia 20-79 tahun, terdapat 463 juta orang di dunia menderita diabetes mellitus pada tahun 2019 atau sama dengan 9,3% dari jumlah total penduduk pada usia tersebut. Di Asia Tenggara, dimana Indonesia salah satu Negara di dalamnya, menempati peringkat ke-3 dengan jumlah penderita diabetes mellitus sebesar 11,3%. Indonesia meraih peringkat 7 dari 10 jumlah penderita terbanyak dengan jumlah 10,7 juta orang. Prevalensi diabetes mellitus meningkat dari 6,9% menjadi 10,9% pada penduduk usia> 15 tahun.(Widiasari et al., 2021) Angka kejadian DM di Indonesia terjadi peningkatan yang sangat signifikan selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2013 angka prevalensinya 6,9% melonjak pada tahun 2018 hingga 8,5%. Prevalensi di Jawa Barat berdasarkan hasil diagnosis dokter pada penduduk di semua tingkatan usia mencapai 1,3 %, Adapun di Kota Tasikmalaya sebesar 1,0%. (Riskesdas, 2018) Selain gejala yang dialami penderita DM, hal yang harus diwaspadai adalah terjadinya komplikasi pada berbagai organ seperti jantung, ginjal, mata dan syaraf. Hal ini terjadi akibat adanya kerusakan vaskuler baik berupa mikroangiopathy maupun macroangiopathy. Komplikasi ini akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada penderitanya (Siti Badriah, dkk 2022). Diabetes melitus merupakan resiko utama terjadinya stroke mendadak dan dapat berakhir dengan kematian atau kecacatan yang menetap, sehingga produktivitas dan kualitas hidup klien akan menurun, bahkan klien akan menjadi sangat bergantung pada 287 Optimalisasi Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian..... keluarga atau orang- orang di dekatnya, Sudart (2002) oleh karena itu harus dilakukan upaya untuk pengendalian. Upaya strategis dalam mengendalikan resiko penyakit tidak menular mengacu pada penerapan strategi paradigma sehat yang diantaranya penguatan upaya promotif dan preventif, serta pemberdayaan masyarakat. (Permenkes, 39 thn 2016). Pendekatan ini termasuk pada Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Kelarga (PIS-PK), penguatan upaya pemberdayaan masyarakat dengan pe (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/download/1819/1233
Article home page: https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/view/1819/1233

Dudi Hartono, Heri Djamiatul Maulana, Peni Cahyati, Yanyan Bachtiar. Optimalisasi Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian Dm Di Puskesmas Sambongpari Kota Tasikmalaya, Celebes Journal of Community Services, 2024, pp. 286 - 292,