Pemberdayaan Masyarakat Pengelola Sarang Burung Walet Menuju Kemandirian Ekonomi dan Berdaya Saing di Desa Boiya
Volume 4 Issue 1 (2025) Pages 40 - 47
Celebes Journal of Community Services
ISSN : 2962-4088(Online)
Pemberdayaan Masyarakat Pengelola Sarang Burung Walet
Menuju Kemandirian Ekonomi dan Berdaya Saing di Desa Boiya
Wahyuni Saleh1*, Haslindah2, Amal Aqmal3, Ahmad Jumarding4
1,2,
3,4,
Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, Indonesia
Universitas Bosowa, Makassar, Indonesia
Abstrak
Kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam hal ini mitra kami memiliki beberapa permasalahan
yang kami temui setelah berdiskusi dengan mitra yaitu mitra kami yang berlokasi di Desa Boiya
Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan, mitra kami mengaku mengalami
kesulitan dalam bidang produksi sarang burung walet. Mitra kami telah membudidayakan
sarang burung walet sejak tahun 2018 yang sudah berjalan selama 6 tahun, namun
produktivitas sarang burung walet tidak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, tingginya
permintaan pasar terhadap sarang burung walet tentu tidak diimbangi dengan produksi sarang
burung walet yang cenderung stagnan; tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
dilaksanakan dalam upaya peningkatan produktivitas sarang burung walet, pemberdayaan
masyarakat, dan pengelolaan kotoran burung walet yang dapat bermanfaat dalam bidang
pertanian; metode yang digunakan adalah identifikasi masalah, sosialisasi program,
pelaksanaan program, evaluasi dan monitoring kemudian tindak lanjut. Hasil yang telah dicapai
dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah peningkatan keterampilan teknis
pengelola sarang burung walet, peningkatan produksi sarang burung walet sebesar 30% dari
produktivitas awal, kesadaran lingkungan dalam melestarikan burung walet dan pemanfaatan
limbah burung walet menjadi pupuk organik.
Kata Kunci: pemberdayaan, masyarakat, sarang, burung, burung walet
Abstract
Community empowerment activities in this case our partners have several problems that we
encountered after discussing with partners, namely our partner located in Boiya Village, Maiwa
District, Enrekang Regency, South Sulawesi, our partners admitted to experiencing difficulties in
the field of swallow nest production. Our partners have been cultivating swallow nests since 2018
which has been running for 6 years, but the productivity of swallow nests has not increased from
year to year, the high market demand for swallow nests is certainly not covered by swallow nest
production which tends to be flat; the porpose of this community service activity is carried out in
an effort to increase the productivity of swallow nests, community empowerment, and
40
Pemberdayaan Masyarakat Pengelola Sarang Burung Walet Menuju Kemandirian Ekonomi dan Berdaya
Saing di Desa Boiya
management of swallow droppings which can be useful in agriculture; the methods used are
problem identification, program socialiation, program implementation, evaluation and monitoring
and then follow-up. The results that have been achived from community service activities are an
increase in the technical skill of swallow nest managers, an increase in swallow nest production by
30% from initial productivity, environmental awareness in preserving swallows and utilizing
swallow waste into organic fertilizer.
Keywords: empowerement, community, nest, bird, swiftlet
Copyright (c) 2024 Wahyuni Saleh dkk
* Corresponding author :
Email Address :
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu produsen sarang burung walet terbesar di dunia.
Sarang burung walet merupakan komoditas bernilai tinggi yang banyak diburu di pasar
internasional. Dilansir dari CNBC Indonesia per Agustus 2024 ekspor sarang burung walet dari
Indonesia tembus 1.300 Ton dengan rata-rata harga Rp. 7.400.000/kg. sarang burung walet ini
diekspor ke berbagai negara-negara luar seperti Hongkong, Tiongkok, Singapura, Amerika
Serikat, Vietnam, Kanada, Taiwan, Thailand, Jepang, Kamboja dan negara-negara lain.
Habitat burung walet adalah lingkungan banyak pepohonan, persawahan, dan daerah
rawa-rawa yang banyak ditumbuhi tumbuhan rendah (Saepuddin, 2006). Kelembapan juga
termasuk salah satu faktor lingkungan yang sangat penting untuk menciptakan rasa nyaman
yang menjadi tempat tinggal yang disukai burung walet (Wahyuni dkk, 2022). Di berbagai
wilayah Indonesia sendiri banyak masyarakat pengelola sarang burung walet yang
menjadikannya sebagai sumber pendapatan utama. Sarang burung walet yang bernilai ekonomi
tinggi menjadi komoditas yang utama namun limbah dari pengelolaan sarang burung walet juga
jarang untuk dimanfaatkan dan berpotensi menjadi pencemaran dan polusi lingkungan.
Di desa Boiya Kecamatan Maiwa kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, mitra kami
mengaku mengalami kesulitan di bidang produksi sarang burung walet (Ahmad Jumarding dkk,
2021). Mitra kami sudah membudidayakan sarang burung walet mulai dari tahun 2018 itu
artinya usaha pengelolaan sarang burung waletnya sudah berjalan selama 6 tahun,
produktivitas sarang burung walet tidak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun kemudian
tingginya permintaan pasar akan sarang burung walet tentunya tidak tercover dengan produksi
sarang burung walet yang cenderung tetap (Talino & Zulfita, 2013). Permasalahan selanjutnya
adalah limbah kotoran burung walet yang hanya dibuang di tempat sampah terdekat atau
dibuang di hutan karena lokasi budidaya sarang burung walet ini berada di tengah pemukiman
masyarakat sehingga sulit untuk mengolah limbah kotoran burung walet tersebut.
Melihat kendala-kendala yang terjadi di lokasi mitra kami dan berdasarkan dalam
membuat sarang burung walet, perlu beberapa pertimbangan yang dapat memberikan
kenyamanan untuk burung walet bersarang dan berkembang biak. Perlu banyak pertimbangan
dalam membuat sarang burung nyaman untuk hunian walet diantaranya suhu, kelembaban,
41
Celebes Journal of Community Services. 4(1): 2025
tipe umum sarang burung walet dan tingkat pencahayaan yang rendah (Ningsih dkk, 2021).
Melalui pengamatan dan diskusi langsung dengan mitra permasalahan yang ditemui adalah
suhu ruang bangunan sarang burung walet yang tergolong panas di siang hari yang mana suhu
dan kelembaban menjadi kunci utama kenyamanan burung walet untuk bersarang dan
berkembang biak. Bentuk sarang yang sempurna dihasilkan dari rumah walet yang memiliki
kadar kelembaban yang optimal yakni 80-90% dan dipanen tepat waktu (Handoko, 2022). Jika
kelembaban terlalu tinggi sarang akan mudah lembek dan berjamur sedangkan jika terlalu
kering sarang akan mudah rapuh (Ayuti dkk, 2016).
Meninjau permasalahan mitra yang menjadi kendala yakni kurangnya produktivitas dan
tidak dikelolanya limbah kotoran burung walet, maka kami tim pengabdi memiliki solusi untuk
pengadaan teknologi tepat guna untuk mitra berupa pengadaan mesin kabut uap untuk
memberikan kelembaban pada gedung sarang burung walet agar burung walet nyaman
bersarang, pengukur suhu dan kelembaban, aroma pemikat burung walet (Frederick & Gandha,
2022). Untuk menciptakan dan menjaga kondisi dalam ruangan sarang burung walet seperti
habitat ala (...truncated)