Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan Mompreneur Di Kelompok Usaha Bollangi Desa Timbuseng Kab Gowa

Celebes Journal of Community Services, Dec 2024

Nira adalah cairan manis yang diperoleh dari penyadapan batang atau bunga tanaman tertentu, seperti kelapa, aren, dan siwalan. Nira sering diolah menjadi berbagai produk pangan yang bernilai tinggi. Berikut adalah beberapa contoh produk olahan nira yaitu Gula Aren atau Gula Merah, Cuka Nira dan Minuman Tuak. Pengolahan nira di desa Timbuseng sudah sejak lama di lakukan oleh penduduk setempat. Hanya saja produk olahan nira masih memerlukan penerapan teknologi dan inovasi untuk memperoleh hasil yang bisa bersaing di pasaran. Mitra juga masih memerlukan pendampingan pemasaran produk, pelatihan dan pendampingan manajemen usaha. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan adalah sosialisasi, persentasi, pendampingan, monitoring dan evaluasi program. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah nira menjadi gula semut dan gula cetak, meningkattnya pengetahuan dan keterampilan mitra memasarkan produk dengan memanfaatkan media sosial, meningkatnya pengetahuan mitra mengenai manajemen usaha serta meningkatnya keterampilan mitra menggunakan teknologi tepat guna untuk membuat gula semut dan gula cetak.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/download/2037/1345

Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan Mompreneur Di Kelompok Usaha Bollangi Desa Timbuseng Kab Gowa

Volume 4 Issue 1 (2025) Pages 48 - 56 Celebes Journal of Community Services ISSN 2962-4088 (Online) Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan Mompreneur Di Kelompok Usaha Bollangi Desa Timbuseng Kab Gowa St. Hatidja*1, Anny Suryani2, Rosmiati3, Lina Mariana4, Jamaluddin5 1,5 Manajemen/STIE AMKOP Makassar 2 Akuntansi/STIE AMKOP Makassar 3 Teknik Pertanian/Universitas Indonesia Makassar 4 Akuntansi Keuangan Publik/Politeknik LP3I Makassar Abstrak Nira adalah cairan manis yang diperoleh dari penyadapan batang atau bunga tanaman tertentu, seperti kelapa, aren, dan siwalan. Nira sering diolah menjadi berbagai produk pangan yang bernilai tinggi. Berikut adalah beberapa contoh produk olahan nira yaitu Gula Aren atau Gula Merah, Cuka Nira dan Minuman Tuak. Pengolahan nira di desa Timbuseng sudah sejak lama di lakukan oleh penduduk setempat. Hanya saja produk olahan nira masih memerlukan penerapan teknologi dan inovasi untuk memperoleh hasil yang bisa bersaing di pasaran. Mitra juga masih memerlukan pendampingan pemasaran produk, pelatihan dan pendampingan manajemen usaha. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan adalah sosialisasi, persentasi, pendampingan, monitoring dan evaluasi program. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah nira menjadi gula semut dan gula cetak, meningkattnya pengetahuan dan keterampilan mitra memasarkan produk dengan memanfaatkan media sosial, meningkatnya pengetahuan mitra mengenai manajemen usaha serta meningkatnya keterampilan mitra menggunakan teknologi tepat guna untuk membuat gula semut dan gula cetak. Kata kunci: Mompreneur; Pengolahan Nira; Pengabdian Kepada Masyarakat; Manajemen Usaha; Pemasaran Produk Copyright (c) 2025 St. Hatidja  Corresponding author : Email Address : PENDAHULUAN Desa Timbuseng merupakan salah satu Desa dari 8 Desa diwilayah Kecamatan Pattallassang yang terletak ± 3 Km kearah selatan dari Ibukota Kecamatan Pattallassang, ± 15 Km dari Ibukota Kabupaten dan ± 25 km dari ibukota Propinsi. Desa Timbuseng mempunyai luas wilayah seluas ± 2.062.Ha. Dilihat dari tofografinya Desa Timbuseng mempunyai tofografi rata hingga berbukit dengan ketinggian 25 – 300 meter diatas permukaan laut. Kegiatan menyadap nira di desa Timbuseng sudah lama dilakukan oleh masyarakat. Belum banyak pemuda yang tertarik melanjutkan tradisi penyadapan nira, karena membutuhkan keahlian 48 Celebes Journal of Community Services. 4(1): 2025 khusus. Fenomena yang di temui di lapangan bahwa harga jual gula aren yang telah diolah dinilai rendah hingga tidak ada jaminan kesejahteraaan dalam upaya penyadapan dan pengolahan aren. Pembuatan gula merah secara tradisional hanya mampu menghasilkan 5 kilogram gula per hari. Dengan sentuhan teknologi tepat guna, produksi gula bisa meningkat lima kali lipat. Kegiatan mengolah air nira menjadi gula merah dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari para perempuan. Kelompok wanita yang mengolah nira menjadi gula merah adalah sekelompok wanita yang juga Mometrepreneur. Kelompok wanita ini tergabung dalam Kelompok Usaha Bollangi yang terdiri dari kurang lebih 10 orang. Gambar 1 Kelompok Mompreneur Mengolah air nira Proses mengolah nira menjadi gula merah masih menggunakan cara manual, belum menggunakan teknologi tepat guna. Sehingga proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Para mompreneur yang tergabung dalam kelompok usaha Bollangi selain membuat gula merah, mereka juga membuat gula semut (gula aren) Gambar 2 Gula merah dan gula semut hasil olahan air nira (aren) Hasil olahan air nira (aren) kelompok Bollangi hanya gula merah (gula aren). Sehingga dibutuhkan inovasi produk agar produksi kelompok Bollangi bisa menembus dan bersaing di pasar modern. 49 Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan.... Permasalahan Mitra Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan ketua kelompok Mompreneur, secara garis besar diidentifikasi tiga aspek permasalahan utama dari mitra saat ini, yaitu: 1) Produksi  Belum memiliki peralatan yang memadai, sehingga jumlah produksi masih terbatas  Belum adanya inovasi produk baik dari sisi jenis produk, kemasan, desain logo, legalitas produk  Karyawan tidak dilengkapi dengan perlengkapan kerja, seperti penutup kepala dan lainnya, sementara produksi berfokus ke makanan. Gambar 3. Suasana Proses Produksi 2) Pemasaran  Mitra belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara mengemas produk serta desain/ penggunaan merek yang sesuai standar agar layak memasuki pasar modern  Mitra belum memiliki jaringan kerjasama dengan perusahaan yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produk  Mitra belum memiliki kerjasama dengan toko retail lokal  Mitra belum memiliki literasi yang memadai tentang pemasaran online seperti marketplace dan social media marketing. 3) Manajemen Usaha  Mitra sering kekurangan tenaga kerja (SDM)  Mitra belum memiliki SOP proses produksi  Mitra belum memiliki pencatatan transaksi usaha METODE Adapun Pelaksanaan kegiatan PKM di mitra kelompok usaha Bollangi adalah melibatkan tim pengusul berjumlah 1 orang ketua dan 2 orang anggota, dan melibatkan pula mahasiswa sebanyak 2 orang (mono tahun) dan dari mitra melibatkan 6 orang. Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan dalam waktu 8 bulan (sesuai kontrak) di tahun 2024. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Sosialisasi Pada tahap ini, tim PKM melakukan sosialisasi kepada mitra mengenai prosedur kegiatan PKM yang akan dilaksakanakan. Tim PKM juga memperkenalkan diri kepada mitra dan juga kepada para peserta. 50 Celebes Journal of Community Services. 4(1): 2025 a. Pelatihan Pada tahap pertama yaitu pelatihan, maka penyajian materinya ditempuh dengan metode persentasi menggunakan power point dan metode praktik  Mitra diberi pelatihan inovasi membuat gula merah dalam bentuk mini dan gula semut.  Mitra diberi pengetahuan dasar mengenai pemanfaatan media social untuk memasarkan dan memperkenalkan produk.  Mitra diberi pelatihan cara memanfaatkan media social untuk meningkatkan penjualan.  Mitra diberi pelatihan cara menyusun laporan keuangan  Mitra diberikan pelatihan mendesain kemasan menggunakan Canva b. Pelatihan dan bimbingan pemasaran berbasis media sosial, yang mencakup kompetensi penguasaan memanfaatkan medsos dengan luaran dengan target luaran. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra beserta karyawan, membuat inovasi produk dan kemasan. c. Penerapan Teknologi Pada tahap ini, mitra diajarkan cara mengoperasikan alat tepat guna (mesin pembuat gula semut). Alat tepat guna ini sangat membantu agar proses produksi lebih efektif dan efisien. Tahap ini juga mitra dibantu membuat tungku pembakaran nira untuk membantu proses memasak nira 2. Pendampingan dan Evaluasi Pada tahap pendampingan, tim juga menerapkan metode FGD (Focus Group Discussion). Melalui FGD tim PKM membuka kesemp (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/download/2037/1345
Article home page: https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/celeb/article/view/2037/1345

St. Hatidja, Anny Suryani, Rosmiati Rosmiati, Lina Mariana, Jamaluddin Jamaluddin. Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan Mompreneur Di Kelompok Usaha Bollangi Desa Timbuseng Kab Gowa, Celebes Journal of Community Services, 2024, pp. 48 - 56,