Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan Mompreneur Di Kelompok Usaha Bollangi Desa Timbuseng Kab Gowa
Volume 4 Issue 1 (2025) Pages 48 - 56
Celebes Journal of Community Services
ISSN 2962-4088 (Online)
Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira
Melalui Pemberdayaan Mompreneur Di Kelompok Usaha Bollangi
Desa Timbuseng Kab Gowa
St. Hatidja*1, Anny Suryani2, Rosmiati3, Lina Mariana4, Jamaluddin5
1,5
Manajemen/STIE AMKOP Makassar
2
Akuntansi/STIE AMKOP Makassar
3
Teknik Pertanian/Universitas Indonesia Makassar
4
Akuntansi Keuangan Publik/Politeknik LP3I Makassar
Abstrak
Nira adalah cairan manis yang diperoleh dari penyadapan batang atau bunga tanaman tertentu,
seperti kelapa, aren, dan siwalan. Nira sering diolah menjadi berbagai produk pangan yang
bernilai tinggi. Berikut adalah beberapa contoh produk olahan nira yaitu Gula Aren atau Gula
Merah, Cuka Nira dan Minuman Tuak. Pengolahan nira di desa Timbuseng sudah sejak lama di
lakukan oleh penduduk setempat. Hanya saja produk olahan nira masih memerlukan penerapan
teknologi dan inovasi untuk memperoleh hasil yang bisa bersaing di pasaran. Mitra juga masih
memerlukan pendampingan pemasaran produk, pelatihan dan pendampingan manajemen
usaha. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan adalah sosialisasi,
persentasi, pendampingan, monitoring dan evaluasi program. Hasil kegiatan pengabdian kepada
masyarakat adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam mengolah nira
menjadi gula semut dan gula cetak, meningkattnya pengetahuan dan keterampilan mitra
memasarkan produk dengan memanfaatkan media sosial, meningkatnya pengetahuan mitra
mengenai manajemen usaha serta meningkatnya keterampilan mitra menggunakan teknologi
tepat guna untuk membuat gula semut dan gula cetak.
Kata kunci: Mompreneur; Pengolahan Nira; Pengabdian Kepada Masyarakat; Manajemen Usaha;
Pemasaran Produk
Copyright (c) 2025 St. Hatidja
Corresponding author :
Email Address :
PENDAHULUAN
Desa Timbuseng merupakan salah satu Desa dari 8 Desa diwilayah Kecamatan
Pattallassang yang terletak ± 3 Km kearah selatan dari Ibukota Kecamatan Pattallassang, ± 15 Km
dari Ibukota Kabupaten dan ± 25 km dari ibukota Propinsi. Desa Timbuseng mempunyai luas
wilayah seluas ± 2.062.Ha. Dilihat dari tofografinya Desa Timbuseng mempunyai tofografi rata
hingga berbukit dengan ketinggian 25 – 300 meter diatas permukaan laut.
Kegiatan menyadap nira di desa Timbuseng sudah lama dilakukan oleh masyarakat. Belum banyak
pemuda yang tertarik melanjutkan tradisi penyadapan nira, karena membutuhkan keahlian
48
Celebes Journal of Community Services. 4(1): 2025
khusus. Fenomena yang di temui di lapangan bahwa harga jual gula aren yang telah diolah dinilai
rendah hingga tidak ada jaminan kesejahteraaan dalam upaya penyadapan dan pengolahan aren.
Pembuatan gula merah secara tradisional hanya mampu menghasilkan 5 kilogram gula per hari.
Dengan sentuhan teknologi tepat guna, produksi gula bisa meningkat lima kali lipat.
Kegiatan mengolah air nira menjadi gula merah dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari
para perempuan. Kelompok wanita yang mengolah nira menjadi gula merah adalah sekelompok
wanita yang juga Mometrepreneur. Kelompok wanita ini tergabung dalam Kelompok Usaha
Bollangi yang terdiri dari kurang lebih 10 orang.
Gambar 1 Kelompok Mompreneur Mengolah air nira
Proses mengolah nira menjadi gula merah masih menggunakan cara manual, belum
menggunakan teknologi tepat guna. Sehingga proses pembuatannya membutuhkan waktu yang
cukup lama.
Para mompreneur yang tergabung dalam kelompok usaha Bollangi selain membuat gula merah,
mereka juga membuat gula semut (gula aren)
Gambar 2 Gula merah dan gula semut hasil olahan air nira (aren)
Hasil olahan air nira (aren) kelompok Bollangi hanya gula merah (gula aren). Sehingga dibutuhkan
inovasi produk agar produksi kelompok Bollangi bisa menembus dan bersaing di pasar modern.
49
Pkm Inovasi Produk Dan Pengembangan Pasar Produk Olahan Nira Melalui Pemberdayaan....
Permasalahan Mitra
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan ketua kelompok Mompreneur, secara
garis besar diidentifikasi tiga aspek permasalahan utama dari mitra saat ini, yaitu:
1)
Produksi
Belum memiliki peralatan yang memadai, sehingga jumlah produksi masih terbatas
Belum adanya inovasi produk baik dari sisi jenis produk, kemasan, desain logo, legalitas
produk
Karyawan tidak dilengkapi dengan perlengkapan kerja, seperti penutup kepala dan
lainnya, sementara produksi berfokus ke makanan.
Gambar 3. Suasana Proses Produksi
2)
Pemasaran
Mitra belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara mengemas produk serta
desain/ penggunaan merek yang sesuai standar agar layak memasuki pasar modern
Mitra belum memiliki jaringan kerjasama dengan perusahaan yang menggunakan gula
merah sebagai bahan baku produk
Mitra belum memiliki kerjasama dengan toko retail lokal
Mitra belum memiliki literasi yang memadai tentang pemasaran online seperti
marketplace dan social media marketing.
3)
Manajemen Usaha
Mitra sering kekurangan tenaga kerja (SDM)
Mitra belum memiliki SOP proses produksi
Mitra belum memiliki pencatatan transaksi usaha
METODE
Adapun Pelaksanaan kegiatan PKM di mitra kelompok usaha Bollangi adalah melibatkan tim
pengusul berjumlah 1 orang ketua dan 2 orang anggota, dan melibatkan pula mahasiswa
sebanyak 2 orang (mono tahun) dan dari mitra melibatkan 6 orang. Pelaksanaan kegiatan ini
direncanakan dalam waktu 8 bulan (sesuai kontrak) di tahun 2024. Adapun tahapan-tahapan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1.
Sosialisasi
Pada tahap ini, tim PKM melakukan sosialisasi kepada mitra mengenai prosedur kegiatan
PKM yang akan dilaksakanakan. Tim PKM juga memperkenalkan diri kepada mitra dan juga
kepada para peserta.
50
Celebes Journal of Community Services. 4(1): 2025
a.
Pelatihan
Pada tahap pertama yaitu pelatihan, maka penyajian materinya ditempuh dengan
metode persentasi menggunakan power point dan metode praktik
Mitra diberi pelatihan inovasi membuat gula merah dalam bentuk mini dan gula
semut.
Mitra diberi pengetahuan dasar mengenai pemanfaatan media social untuk
memasarkan dan memperkenalkan produk.
Mitra diberi pelatihan cara memanfaatkan media social untuk meningkatkan
penjualan.
Mitra diberi pelatihan cara menyusun laporan keuangan
Mitra diberikan pelatihan mendesain kemasan menggunakan Canva
b. Pelatihan dan bimbingan pemasaran berbasis media sosial, yang mencakup kompetensi
penguasaan memanfaatkan medsos dengan luaran dengan target luaran.
Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra beserta karyawan, membuat
inovasi produk dan kemasan.
c. Penerapan Teknologi
Pada tahap ini, mitra diajarkan cara mengoperasikan alat tepat guna (mesin
pembuat gula semut). Alat tepat guna ini sangat membantu agar proses produksi lebih
efektif dan efisien. Tahap ini juga mitra dibantu membuat tungku pembakaran nira
untuk membantu proses memasak nira
2.
Pendampingan dan Evaluasi
Pada tahap pendampingan, tim juga menerapkan metode FGD (Focus Group
Discussion). Melalui FGD tim PKM membuka kesemp (...truncated)