Hakikat Manusia Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Dalam Perspektif Islam
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 6 Mei – Juni 2025 Hal. 974-978
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Hakikat Manusia Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Dalam Perspektif Islam
Sonia Natalia1, Salwa Husna Zahira2, Gusmaneli3
1
Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang
,2salwa.husnazahira27,
Abstract
Dalam pandangan Islam, hakikat manusia mencakup seluruh sifat, esensi, dan karakter unik yang
menjadikannya berbeda dari makhluk lain. Manusia dipandang sebagai makhluk yang dimuliakan,
dianugerahi akal dan hati, serta diberi tanggung jawab sebagai penyembah Allah (‘abd), pemimpin di bumi
(khalifah), dan makhluk sosial. Al-Qur’an menggambarkan manusia dengan berbagai istilah seperti ‘abd
Allah, al-Nas, al-Insan, dan al-Basyar, yang masing-masing menggambarkan sisi dan fungsi manusia yang
beragam. Pemahaman ini membawa dampak penting bagi pendidikan Islam, yang harus menekankan
keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani. Pendidikan Islam perlu mengarahkan pengembangan potensi
manusia secara menyeluruh melalui pendidikan hati (qalbiyah) dan akal (aqliyah), serta penanaman nilai
keimanan dan akhlak. Tujuannya adalah membentuk manusia paripurna (insan kamil) yang mampu
menjalankan perannya sebagai khalifah dan hamba Allah dengan seimbang dan bertanggung jawab.
Kata Kunci: Hakikat manusia,Pendidikan Islam, Al-qur’an,Implikasinya
Abstract
In Islamic perspective, the essence of human beings encompasses the totality of attributes, essence, and unique
characteristics that distinguish them from other creatures. Humans are regarded as honored beings, endowed with
intellect and heart, and entrusted with responsibilities as worshippers of Allah (‘abd), stewards on Earth (khalifah), and
social beings. The Qur’an describes humans using various terms such as ‘abd Allah, al-Nas, al-Insan, and al-Basyar, each
reflecting different dimensions and roles of humanity. This understanding has significant implications for Islamic
education, which must emphasize the balance between physical and spiritual aspects. Islamic education should aim to
develop human potential holistically through the nurturing of the heart (qalbiyah) and intellect (‘aqliyah), along with the
instillation of faith and moral values. The goal is to form a complete human being (insan kamil) capable of fulfilling their
role as a khalifah and servant of Allah with balance and responsibility.
Keywords: Human Nature, Islamic Education,Al-Qur'an,Its implications
Keywords: Human Nature, Islamic Education,Al-Qur'an,Its implications
PENDAHULUAN
Manusia, sebagai makhluk yang memiliki
keunikan dan kompleksitas, selalu menjadi
fokus perdebatan mengenai hakikatnya. Dalam
konteks Islam, manusia dianggap sebagai ciptaan
Allah yang paling mulia, dianugerahi akal, hati,
dan potensi untuk berkembang. Manusia memiliki
peran ganda, yaitu sebagai hamba Allah dan
sebagai khalifah. Al-Qur'an menjelaskan hakikat
manusia melalui berbagai konsep. Manusia
sebagai 'abd Allah (wajib tunduk dan beribadah
kepada Allah). Sebagai al-nas, adalah makhluk
sosial yang saling berinteraksi. Al-insan
menekankan manusia sebagai makhluk yang
harmonis dan bertanggung jawab, dan al-basyar
menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan
biologis.
Pendidikan Islam bertujuan untuk
mengembangkan seluruh aspek peserta didik,
termasuk intelektual, spiritual, moral, dan sosial.
Pendidikan Islam seharusnya membimbingpeserta
didik untuk memahami peran mereka sebagai
hamba Allah dan khalifah, serta mengembangkan
potensi mereka secara maksimal. Namun,
pendidikan Islam seringkali menghadapi berbagai
masalah, seperti kurikulum yang belum terpadu,
metode pembelajaran yang kurang efektif, dan
pemahaman yang kurang mendalam tentang
hakikat manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan
kajian yang mendalam tentang hakikat manusia
dalam perspektif Islam dan dampaknya pada
pendidikan Islam.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan
(library research). Pendekatan ini dipilih karena
fokus kajiannya adalah mengeksplorasi konsep
hakikat manusia dalam pandangan Islam melalui
penelaahan terhadap berbagai sumber literatur
utama dan pendukung. Sumber primer yang
digunakan meliputi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.03 No. 06 Mei – Juni 2025
974
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 6 Mei – Juni 2025 Hal. 974-978
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
Nabi yang dianalisis secara tematik guna menggali
pemaknaan istilah manusia seperti ‘abd, al-nas, alinsān, dan al-basyar, serta kaitannya dengan
pendidikan Islam. Di samping itu, karya-karya
ilmuwan Muslim klasik dan modern seperti
Fahruddin Ar-Razi dan Quraish Shihab turut
dijadikan rujukan untuk memperkuat kerangka
teori. Data diperoleh dari berbagai literatur seperti
buku, jurnal ilmiah, dan tafsir Al-Qur’an yang
membahas tema serupa.
Teknik analisis yang digunakan adalah
analisis isi (content analysis), yang bertujuan
untuk mengungkap pesan-pesan filosofis dan
teologis yang terkandung dalam teks. Temuan dari
analisis ini diinterpretasikan untuk merumuskan
relevansi dan dampak konsep hakikat manusia
terhadap penyusunan sistem dan teori pendidikan
Islam yang menyeluruh dan terpadu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Manusia mempunyai dua dimensi di
dalam dirinya, yaitu dimensi ruhani dan dimensi
jasmani. Jasad, akal, dan ruh manusia perlu diasah
agar dapat mengalami perkembangan yang
signifikan (Shihab, 2005a). Hakikat manusia
adalah keseluruhan sifat, esensi, dan karakteristik
yang melekat pada manusia sebagai makhluk
hidup. Menurut perspektif Islam, manusia adalah
makhluk yang terhormat dan mulia, yang
diciptakan dengan bentuk terbaik; diberi akal dan
hati sehingga dapat memahami ilmu yang
diturunkan Allah SWT. berupa Al-Qur’an, dan
juga sunnah rasul (Marhaban, 2018:213).
Dalam pandangan ilmuan Muslim seperti
yang dikemukakan oleh Fahruddin Ar-Razi
sebagaimana yang dikutip oleh Adnin Atmas
bahwa, manusia memiliki beberapa krakteristik
yang khas. Manusia berbeda dengan makhluk
yang lain, termasuk dengan malaikat, iblis dan
juga binatang, adalah karena manusia memiliki
akal dan hikmah serta tabiat dan nafsu (Afif, dkk,
2023:3017).
Ada beberapa ungkapan kata yang
menunjukkan arti manusia dengan berbagai makna
dalam Al-qur’an, yaitu:
1. Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib
mengabdi dan taat kepada Allah selaku Pencipta
karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak
disekutukan. Bentuk pengabdian manusia sebagai
hamba Allah tidak terbatas hanya pada ucapan dan
perbuatan saja, melainkan juga harus dengan
keikhlasan hati, seperti yang diperintahkan dalam
surah Bayyinah (QS:98:5).
ISSN : 2963-5802
ۙالديْنَ ە
ِ ُِصيْنَ لَه
ُ ُ َو َما ٓ ا
ِ ّٰللا ُم ْخل
َ مِر ْٓوا ا اَِّل ِليَ ْعبُدُوا ه
ِۗالز ٰكوة َ َو ٰذلِكَ ِد ْي ُن ا ْلقَ ِي َم ِة
ٰ
صلوة َ َويُؤْ تُوا ا
ُحنَف َۤا َء َويُ ِق ْي ُموا ال ا
٥
" Mereka tidak diperintah, kecu (...truncated)