Analisis Cacat Produk Dimensi Diameter Snap Tidak Standar pada Botol 100 ml Berbahan Dasar High-Density Polyethylene (HDPE)
Jurnal Engine:
Energi, Manufaktur, dan Material
Vol. 9 No. 1
Mei 2025
hal: 077 - 090
Analisis Cacat Produk Dimensi Diameter Snap Tidak Standar pada Botol
100 ml Berbahan Dasar High-Density Polyethylene (HDPE)
Achmad Afiq Ananda Putra1
Widia Setiawan2
Braam D. Prihadianto3
Galuh Bahari4
1,2,3,4)
Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, Jln. Yacaranda, Sekip
Unit VI, Catur Tunggal, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
2
Korespondensi penulis:
Article Info: Received: February 18, 2025 Accepted: March 16, 2025 Available online: April 19,
2025
DOI: 10.30588/jeemm.v9i1.2152
Abstract: Extrusion blow molding is a process used to form plastic bottles, with High-Density
Polyethylene (HDPE) being the most commonly used material. A defect in the snap diameter that did
not meet the standard was identified during the production of 100 ml bottles at PT X Jakarta,
potentially reducing product quality and affecting its functionality. This study aims to identify the root
causes of this defect and propose corrective actions and improvements to enhance product quality.
The methodology includes using a Fishbone Diagram to determine the root causes, applying the
5W+1H analysis to develop corrective action proposals, and implementing the Poka-Yoke method as
an improvement strategy. The findings indicate that the defects are caused by three main factors:
human, method, and machine. Human-related factors include a lack of operator understanding of
quality standards, insufficient training, and a limited number of technicians. Method-related factors
involve inadequate maintenance and improper bottle handling, while machine-related factors include
mold dimension changes, dirty die heads, and the need for machining parameter adjustments. The
proposed corrective actions for human factors involve regular training, the provision of Standard
Operating Procedures (SOPs), visual guidelines, and additional technicians. Machine-related
improvements include periodic inspections, die head cleaning, and machining parameter testing,
while method-related improvements focus on scheduled preventive maintenance and proper bottle
runner arrangement. Further improvements involve implementing the Poka-Yoke method by installing
an alarm siren that activates when air compressor pressure falls below the standard and adding
markings to help operators better understand machine parameters during production.
Keywords: Extrusion Blow Molding, Product Defects, Fishbone Diagram, 5W+1H, Poka-Yoke
Abstrak: Extrusion blow molding adalah proses pembentukan plastik menjadi botol dengan HighDensity Polyethylene (HDPE) sebagai bahan yang paling umum digunakan. Cacat pada dimensi
diameter snap yang tidak sesuai standar ditermukan dalam produksi botol 100 ml di PT X Jakarta,
yang berpotensi menurunkan kualitas produk dan memengaruhi fungsinya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi penyebab utama cacat tersebut serta mengusulkan perbaikan dan improvement
guna meningkatkan kualitas produk. Metode yang digunakan mencakup Fishbone Diagram untuk
menentukan akar masalah, analisis 5W+1H untuk menyusun usulan perbaikan, serta penerapan
metode Poka-Yoke sebagai bentuk improvement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacat produk
disebabkan oleh faktor manusia, metode, dan mesin. Faktor manusia meliputi kurangnya pemahaman
operator terhadap standar kualitas, minimnya pelatihan, serta keterbatasan jumlah teknisi. Faktor
metode berkaitan dengan kurangnya pemeliharaan berkala dan proses perapihan botol yang tidak
tepat, sedangkan faktor mesin meliputi perubahan dimensi mold, kondisi die head yang kotor, serta
perlunya pengujian variasi parameter pemesinan. Usulan perbaikan pada faktor manusia mencakup
pelatihan rutin, penyediaan SOP, panduan visual, dan penambahan teknisi. Perbaikan pada faktor
mesin meliputi inspeksi berkala, pembersihan die head, dan pengujian parameter pemesinan,
sedangkan faktor metode ditingkatkan melalui preventive maintenance dan perapihan runner botol.
Jurnal Engine
ISSN (online) 2579-7433
77
Jurnal Engine:
Energi, Manufaktur, dan Material
Vol. 9 No. 1
Mei 2025
hal: 077 - 090
Improvement dilakukan dengan menerapkan Poka-Yoke, seperti pemasangan alarm sirine saat tekanan
air compressor di bawah standar serta penanda (marking) untuk membantu operator memahami
parameter mesin selama produksi.
Kata Kunci: Extrusion Blow Molding, Cacat Produk, Fishbone Diagram, 5W+1H, Poka-Yoke
I. Pendahuluan
Pengendalian kualitas merupakan langkah penting yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk
mengontrol segala hal yang dapat merugikan. Tujuan dari pengendalian kualitas adalah untuk
menghasilkan produk yang sesuai dengan standar, memiliki kualitas maksimal dan dapat diproduksi
dalam waktu yang efisien (Faritsy & Syaifuddin, 2023). Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut
dilakukan upaya peningkatan kualitas secara berkala sehingga produk menjadi lebih baik dan
berkualitas. Upaya peningkatan kualitas secara berkala dilakukan dengan memperbaiki kerusakan
pada peralatan produksi dan menerapkan pemeriksaan kualitas produk. Produk yang akan dipasarkan
kepada konsumen harus melewati tahapan pengecekan secara mendetail agar dapat dipastikan sebagai
produk yang berkualitas (Wicaksono & Yuamita, 2022). Kualitas produk menjadi salah satu ciri khas
yang dapat memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan konsumen. Hal ini menunjukkan
bahwa kualitas produk secara langsung memengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan
pembelian. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu menjaga kualitas produknya untuk tetap
memenuhi kebutuhan dan ekspektasi konsumen (Basjir & Suhartini, 2022).
PT X Jakarta adalah perusahaan kosmetik yang memproduksi sendiri botol plastik untuk kemasan
produk kosmetiknya yang terbuat dari material High-Density Polyethylene (HDPE). Perusahaan
mengembangkan produknya dengan memproduksi berbagai jenis botol, seperti botol berkapasitas 35
ml, 100 ml, 150 ml, dan lainnya. Proses pembuatan botol menggunakan mesin Extrusion Blow
Molding (EBM). Pada EBM, metode pembuatan produk plastik berongga dengan cara mengekstrusi
plastik cair dalam bentuk tabung (parison), kemudian meniupnya ke dalam cetakan untuk membentuk
produk akhir (Xiao et al., 2023). Produk akhir yang sudah membentuk dan mendingin akan keluar
kemudian dilakukan pengecekan kualitas dari botol tersebut oleh operator produksi dan tim Quality
Control (QC) sebelum dikirim ke proses selanjutnya.
Pada bulan Juni 2024, PT X Jakarta mendapat lot size (jumlah yang dipesan) untuk botol 100 ml
sebanyak 30.000 pcs botol. Tetapi total botol yang jadi hanya sebanyak 29.260 pcs produk, karena
terdapat 100 pcs botol untuk sampel tim QC dan sisa nya merupakan produk yang tidak memenuhi
spesifikasi sehingga diolah kembali menjadi crumbs (remah-remah) yang nantinya akan digunakan
sebagai material campuran untuk memproduksi botol baru. Produk yang tidak memenuhi spesifikasi
tersebut diantaranya mengalami cacat produk seperti bintik hitam, mata i (...truncated)