Bioetanol dari Limbah Sekam Padi sebagai Sumber Energi Terbarukan
Jurnal Engine:
Energi, Manufaktur, dan Material
Vol. 9 No. 1
Mei 2025
hal: 009 - 016
Bioetanol dari Limbah Sekam Padi sebagai Sumber Energi Terbarukan
Intan Farhani 1
Indah Sawitri2
Pramita Desi Hariningsih3
Ida Farida4
Omay Sumarna5
1,2,3,4,5
Program Studi Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Setiabudhi No.229, Bandung
Korespodensi penulis:
1
Article Info: Received: December 04, 2024 Accepted: March 05, 2025 Available online: April 12, 2025
DOI: 10.30588/jeemm.v9i1.2052
Abstract: The purpose of this research is to make laboratory-scale bioethanol from agroindustrial
waste, namely rice husk through hydrolysis, fermentation, and distillation methods, determine %yield,
and characterize bioethanol. The method used was experimental. The results and conclusions obtained
are bioethanol that smells like tape, colorless with %yield as much as 3,32%, density of 0.8818 g/mL,
viscosity of 0.7408 cP, and blue flame formed during the flame test. Based on the characterization
results, the bioethanol obtained has not met the SNI standards, which is suspected because it still
contains water content caused by less pure ethanol from the distillation process.
Keywords: biofuels, bioethanol, lignocellulosa, rice husk, energy
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah membuat bioetanol skala laboratorium dari limbah
agroindustri, yaitu sekam padi melalui metode hidrolisis, fermentasi, dan destilasi, menentukan
%yield, dan mengkarakterisasi bioetanol. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan
melibatkan proses hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Hasil dan kesimpulan yang didapatkan yaitu
bioetanol berupa cairan tidak berwarna yang berbau seperti tape dengan %yield sebanyak 3,32%, massa
jenis sebesar 0.8818 g/mL, viskositas sebesar 0.7408 cP, dan terbentuk api berwarna biru pada saat uji
nyala. Berdasarkan hasil karakterisasi, bioetanol yang didapatkan belum memenuhi standar SNI
7390:2008 yang diduga karena masih mengandung kadar air yang disebabkan oleh kurang
murninya etanol hasil proses destilasi.
Kata Kunci: bahan bakar nabati, bioetanol, lignoselulosa, sekam padi, energi
I.
Pendahuluan
Bioetanol merupakan bahan bakar nabati organik yang digunakan sebagai alternatif untuk
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Proses produksi bioetanol melibatkan
berbagai tahapan operasi yang bertujuan menghasilkan etanol berkualitas tinggi dari biomassa
lignoselulosa, sebuah sumber daya terbarukan yang dapat mendukung keberlanjutan
lingkungan. Biomassa ini biasanya berasal dari limbah pertanian yang memiliki biaya rendah,
ketersediaan melimpah, dan terdiri dari komponen utama seperti selulosa, hemiselulosa, serta
lignin [1]. Salah satunya adalah bioetanol dari limbah agroindustri, yaitu sekam padi.
Sekam padi (RH) menyumbang sekitar 20% dari berat total gabah dan merupakan limbah
agroindustri yang murah dan melimpah. Namun, pemanfaatan kembali limbah ini, terutama RH,
masih sangat terbatas, sehingga berpotensi menyebabkan polusi yang signifikan. Oleh karena
itu, mengolah RH secara efisien menjadi produk bernilai tambah akan memberikan manfaat
Jurnal Engine
ISSN (online) 2579-7433
9
Jurnal Engine:
Energi, Manufaktur, dan Material
Vol. 9 No. 1
Mei 2025
hal: 009 - 016
ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan [2]. Pada penelitian ini sekam padi
digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.
Bahan bakar nabati menawarkan sejumlah manfaat penting. Pertama, bahan ini mudah
diperoleh karena berasal dari biomassa yang melimpah dan tersedia secara luas [3]. Kedua,
pembakarannya menghasilkan siklus karbon dioksida (CO2) yang seimbang, sehingga tidak
meningkatkan akumulasi CO2 di atmosfer [6]. Ketiga, bahan bakar nabati memiliki potensi
besar untuk mendukung aplikasi ramah lingkungan. Keempat, penggunaannya memberikan
manfaat yang signifikan dalam aspek lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan konsumen.
Terakhir, sifatnya yang dapat terurai secara hayati (biodegradable) mendukung keberlanjutan
dengan mengurangi dampak lingkungan, memperbaiki kualitas udara, membantu mitigasi
perubahan iklim, dan mendorong ekonomi sirkular [4,5,6,7]. Bioetanol memiliki potensi untuk
mengurangi ketergantungan pada impor minyak bumi, meningkatkan neraca pembayaran dan
ketahanan energi suatu negara [8]. Produksi bioetanol yang hemat biaya tidak hanya memenuhi
permintaan bahan bakar fosil tetapi juga mengurangi kenaikan harga, meningkatkan permintaan
bahan baku [9].
Sebuah studi membahas siklus hidup produksi bioetanol dari limbah biomassa seperti
tongkol jagung, jerami jagung, dan jerami gandum. Proses melibatkan perlakuan awal,
hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Hasilnya menunjukkan bahwa tongkol jagung memiliki
manfaat energi bersih tertinggi dan dampak lingkungan terendah dibandingkan bahan baku
lainnya. Penelitian ini memberikan dasar teoritis untuk pengolahan hijau bioetanol dan
pemanfaatan produk sampingan bernilai tinggi seperti xilosa dan lignin [10]. Dengan demikian,
diperlukan studi lanjutan mengenai pembuatan bioetanol dari sumber lain. Tujuan penelitian ini
adalah membuat bioetanol skala laboratorium dari limbah agroindustri, yaitu sekam padi
melalui metode hidrolisis, fermentasi, dan destilasi, menentukan %yield, dan mengkarakterisasi
bioetanol.
II. Bahan dan Metode
2.1 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah limbah sekam padi yang berasal dari Kabupaten Bandung,
NaOH 5%, ragi Saccharomyces cerevisiae. Alat yang digunakan adalah peralatan kaca, grinder,
mesh 60, oven, neraca analitik, pH meter, kertas saring, hot plate, set alat destilasi, termometer,
magnetic stirrer, krus, piknometer, viskometer.
2.2 Tahapan Riset
Gambar 1. Sistematika Kegiatan
Jurnal Engine
ISSN (online) 2579-7433
10
Jurnal Engine:
Energi, Manufaktur, dan Material
Vol. 9 No. 1
Mei 2025
hal: 009 - 016
2.2.1 Pengumpulan limbah Sekam Padi dan perlakuan awal
Merujuk pada penelitian Tulashie (2021) dengan beberapa modifikasi, bahan baku dicuci
menggunakan air mengalir selanjutnya dikeringkan menggunakan oven selama 2 hari pada suhu
50°C. Sekam padi selanjutnya dihaluskan menggunakan grinder dan diayak menggunakan mesh
60. Limbah serbuk sekam padi yang telah diolah sebelumnya ditimbang sebanyak 100 g dan
dimasukkan ke dalam kantong plastik agar aman dari pengaruh kelembaban [11].
2.2.2 Perlakuan Alkali Awal
Tahap pertama pretreatment alkali dari sampel serbuk sekam padi dilakukan dengan
menggunakan larutan NaOH 5% (b/b) pada suhu 60°C selama 2 jam dengan rasio padatan dan
cairan sebesar 1: 10 b/b. Setelah pretreatment, sampel campuran serbuk sekam padi dibilas
hingga mencapai pH netral 7-8 dan kemudian disaring secara vakum dan disimpan pada suhu
4°C untuk digunakan di kemudian hari [12].
2.2.3 Hidrolisis Basa dan Fermentasi
Merujuk pada penelitian Tulashie (2021) dengan beberapa modifikasi, tiga puluh gram
(25 g) ragi diinokulasikan ke setiap hidrolisat untuk fermentasi. Sebelum penambahan ragi,
hidrolisat dipindahkan ke dalam bejana fermentasi untuk menyediakan area permukaan yang
luas (...truncated)