Antibacterial Activity of Amfoang Wild Honey Enriched with Red Ginger (Zingiber officinale var rubrum) Extract against Escherichia coli
Jurnal Kesehatan, Sains, dan Teknologi
Vol. 4, No. 3 Desember 2025
Available online at https://jurnal.undhirabali.ac.id/index.php/jakasakti/index
Research Article
e-ISSN:2963-0940
Antibacterial Activity of Amfoang Wild Honey Enriched with Red
Ginger (Zingiber officinale var rubrum) Extract against Escherichia
coli
Aktivitas Antibakteri Madu Hutan Amfoang yang Diperkaya dengan Ekstrak Jahe
Merah (Zingiber officinale var rubrum) terhadap Escherichia coli
Resky Alexander Pollo1, Winioliski L.O. Rohi Bire2*, Agustinda W. Djuma3
Prodi D3 Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Kupang, NTT,
Indonesia
2
Prodi Sarjana Farmasi, Universitas Citra Bangsa, NTT, Indonesia
1,3
(*) Corresponding Author:
Article info
Keywords:
Escherichia coli, Red
Ginger, Amfoang
Wild Honey, Disc
Diffusion, Inhibition
Test
Kata kunci:
Escherichia coli, jahe
merah, madu hutan
Amfoang, difusi
cakram, uji daya
hambat
Abstract
Escherichia coli is a Gam-negative, short rod-shaped, non-sporeforming bacterium that normally inhabits the human intestine.
However, when its population exceeds the normal limit or when it
relocates from its natural habitat (the large intestine) to other parts of
the body, it can pose a serious health risk. Numerous reports have
indicated increasing antibiotic resistance in E. coli, which has
encouraged the use of natural products for disease prevention and
treatment. Honey and red ginger (Zingiber officinale var. rubrum) are
among the natural ingredients known to contain antibacterial
compounds such as polyphenols, flavonoids, glycosides, and phenolic
derivatives including gingerol and shogaol. This study aimed to
determine the inhibitory activity of Amfoang honey enriched with red
ginger extract (Zingiber officinale var. rubrum) against the growth of
Escherichia coli. Red ginger extracts at concentrations of 25%, 50%,
75%, and 100% were mixed with wild honey in a 1:1 ratio. Antibacterial
testing was conducted using the disc diffusion method. Amoxicillin 30
µg served as the positive control, while a blank disc soaked in sterile
distilled water was used as the negative control. After 24 hours of
incubation, inhibition zone diameters were recorded as 24.1 mm, 25.0
mm, 24.0 mm, and 15.8 mm for concentrations of 25%, 50%, 75%, and
100%, respectively. These results indicate that the 50% concentration
produced the geatest antibacterial activity, with an inhibition zone of
25.0 mm.
Abstrak
Escherichia coli merupakan bakteri Gam negatif berbentuk batang
pendek dan tidak membentuk spora, yang secara normal hidup di dalam
usus. Namun, apabila jumlahnya meningkat melebihi batas normal atau
berpindah dari habitat alaminya (usus besar) ke bagian tubuh lain,
bakteri ini dapat membahayakan kesehatan. Saat ini telah banyak
dilaporkan bahwa Escherichia coli mengalami resistensi terhadap
antibiotik, sehingga mendorong masyarakat untuk kembali
memanfaatkan bahan alami dalam upaya pengobatan dan pencegahan
penyakit. Salah satu contoh bahan alami yang digunakan adalah madu
dan jahe merah (Zingiber officinale var rubrum), yang diketahui
mengandung senyawa antibakteri seperti polifenol, flavonoid,
glikosida, dan senyawa turunan fenol seperti gingerol dan shogaol.
161
Jurnal Kesehatan, Sains, dan Teknologi
Vol. 4, No. 3 Desember 2025
Available online at https://jurnal.undhirabali.ac.id/index.php/jakasakti/index
Research Article
e-ISSN:2963-0940
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya hambat
madu Amfoang dengan penambahan ekstrak jahe merah (Zingiber
officinale var rubrum) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
Ekstrak jahe merah dengan variasi konsentrasi 25%; 50%; 75% dan
100% dicampurkan dengan madu hutan dengan perbandingan 1:1.
Pengujian ini dilakukan dengan metode difusi cakram. Kontrol positif
yang digunakan adalah amoksisilin 30µg dan kontrol negatif berupa
cakram kosong yang direndam dengan aquades steril. Setelah inkubasi
selama 24 jam, diperoleh diameter zona hambat berturut-turut sebesar
24,1 mm, 25,0 mm, 24,0 mm dan 15,8 mm untuk konsentrasi 25%, 50%,
75%, dan 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
konsentrasi 50% menghasilkan zona hambat terbesar, yaitu 25,0 mm.
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme
patogen, salah satunya adalah bakteri Escherichia coli. Bakteri ini merupakan bakteri Gam
negatif berbentuk batang pendek dan tidak membentuk spora, yang secara normal hidup di
dalam usus. Escherichia coli dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK), sepsis,
meningitis dan diare akut (Jagzaap & Yasmeen, 2021; Fahay, dkk., 2022). Saat ini telah
banyak dilaporkan bahwa Escherichia coli mengalami resistensi terhadap pengobatan
antibiotik, di antaranya jenis ampisilin, kotrimiksazol, kloramfenikol, siprofloksasin dan
gentamisin (Sari, dkk., 2022). Belakangan ketika bakteri resisten terhadap obat-obatan
masyarakat kembali memanfaatkan bahan alami dalam pengobatan dan pencegahan
penyakit (Jagzaap & Yasmeen, 2021).
Salah satu bahan alam yang memiliki aktivitas antibakteri adalah madu. Madu
digunakan dalam pengobatan tradisional untuk infeksi bakteri, batuk, pilek dan penyakit
infeksi lainnya. Madu mampu menghambat pertumbuhan bakteri tertentu melalui beberapa
mekanisme, antara lain kandungan gula yang sangat tinggi menciptakan tekanan osmotik
sehingga bakteri tidak dapat bertahan dan berkembang biak. Selain itu, tingkat
keasamannya yang rendah juga berperan dalam menekan pertumbuhan dan kelangsungan
hidup bakteri. Selain itu kandungan fitokimianya, khususnya senyawa fenolik, membuat
madu berpotensi sebagai antibakteri. Aktivitas ini juga dipengaruhi oleh hidrogen
peroksida, yang terbentuk melalui aksi enzim glukosa oksidase, enzim yang secara alami
terdapat di madu (Almasaudi, 2021; Fahay, dkk., 2022; Hossain, dkk., 2022).
Upaya meningkatkan efektivitas antibakteri berbahan alam terus berkembang. Jahe
merah (Zingiber officinale var rubrum) merupakan salah satu tanaman obat yang dikenal
luas karena kandungan bioaktifnya. Kandungan minyak atsiri dan oleoresin pada jahe dapat
menekan pertumbuhan bakteri dengan cara menghancurkan struktur membran plasma,
mengganggu fungsi seluler bakteri dan memicu terjadinya lisis sel (Rahmatika & Oktaria,
2021). Aktivitas antibakteri dari jahe merah ini menjadikannya bahan pendamping yang
menarik untuk dikombinasikan dengan madu. Kombinasi madu dan ekstrak jahe merah ini
berpotensi memberikan efek sinergis dalam menghambat pertumbuhan bakteri, khususnya
Escherichia coli.
Berdasarkan gagasan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan
potensi bahan lokal sebagai sumber antibakteri yang efektif dan mudah diakses masyarakat.
Madu hutan Amfoang, yang merupakan produk khas wilayah Nusa Tenggara Timur dipilih
karena sering digunakan secara tradisional untuk pengobatan. Efektivitas antibakteri dari
madu tersebut diharapkan dapat ditingkatkan dengan penambahan ekstrak jahe merah
162
Jurnal Kesehatan, Sains, dan Teknologi
Vol. 4, No. 3 Desember 2025
Available onli (...truncated)