Dialog Galon
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 99-104
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Kesenian Jurig Sarengseng Sebagai Materi Ajar Seni Budaya Kelas 8A
MTSN 2 Banjar
Agustiana Muhtar1a, Arni Apriani2b
a
Sendratasik, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
b
Sendratasik, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
Abstract
This study aims to examine the art of Jurig Sarengseng as a teaching material in learning arts and culture for class 8A
students at MTsN 2 Banjar City. Jurig Sarengseng art is one of the traditional arts that developed in the Banjar City area,
which contains elements of dance, music, and local cultural values. However, the existence of this art has begun to fade
along with the development of the times and the lack of preservation in the context of formal education. Therefore, this study
was conducted to determine the extent to which the art of Jurig Sarengseng can be preserved in the learning process and its
impact on students' understanding and appreciation of local culture. The method used in this study is a qualitative descriptive
method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The subjects of the study
were class 8A students. The results of the study showed that the use of Jurig Sarengseng art as a teaching material was able
to increase students' enthusiasm and active participation in learning. Students became more interested in learning regional
arts because the material taught was close to their environment and daily lives.
Keywords: Jurig Sarengseng, Traditional Arts, Art and culture, Teaching Materials
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesenian jurig sarengseng sebagai materi ajar dalam pembelajaran seni budaya pada
siswa kelas 8A di MTsN 2 Kota Banjar. Kesenian jurig sarengseng merupakan salah satu kesenian tradisional yang
berkembang di wilayah Kota Banjar, yang mengandung unsur seni tari, musik, dan nilai nilai budaya lokal. Namun,
keberadaan kesenian ini mulai pudar seiring dengan perkembangan zaman dan kurangan pelestarian dalam konteks
pendidikan formal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kesenian jurig sarengseng dapat
di lestarikan kedalam proses pembelajaran serta dampaknya terhadap pemahaman dan apresiasi siswa dalam budaya lokal.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitiannya yaitu siswa kelas 8a. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan
kesenian jurig sarengseng sebagai materi ajar mampu meningkatkan antusiasme dan partisipasi aktif siswa dalam
pembelajaran. Siswa menjadi lebih tertarik untuk mempelajari kesenian daerah karena materi yang diajarkan dekat dengan
lingkungan dan kehidupan sehari-hari mereka.
Kata Kunci: Jurig Sarengseng, Kesenian Tradisional, Seni Budaya, Materi Ajar
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Kota Banjar terletak di wilayah perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, tepatnya berbatasan dengan
Kabupaten Cilacap, dan berperan sebagai pintu gerbang utama jalur lintas selatan Jawa Barat. Tiga kesenian
khas Kota Banjar diakui secara nasional: Reog Dongkol dari Desa Karya Mukti, Manuk Janur dari Desa
Cibeureum, dan Jurig Sarengseng dari Desa Binangun. Dari ketiga kesenian khas Kota Banjar dalam penelitian
ini peneliti akan meneliti Kesenian Jurig Sarengseng sebagai bentuk kesenian ngarumat jagat memelihara alam)
di Desa Binangun Kota Banjar.
Jurig sarengseng merupakan kesenian asli Indonesia yang berasal dari Desa Binangun Kota Banjar dan
diciptakan oleh bapak Tarsono (Alm) pada tahun 2017. Awal mula kesenian jurig sarengseng ada di Desa
Binangun berawal dari adanya pelaku seni yaitu bapak Tarsono (Alm). Jurig sarengseng tercatat dalam Warisan
Budaya Takbenda Indonesia (WBTB) sebagai seni pertunjukan. Yang dimana pertunjukan dalam kesenian jurig
sarengseng berbentuk helaran dan dipertunjukan untuk pawai atau karnaval. Adapun penari dalam jurig
sarengseng ditarikan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Yang menjadi pembeda dari penari laki-laki dan
perempuan, dapat dilihat bahwa penari laki-laki ada yang menggunakan topeng serta mengenakan kostum besar
yang didesain menyeramkan seperti hantu, sedangkan penari perempuan menggunakan riasan hitam legam.
Akan tetapi untuk kostum baik penari laki-laki ataupun perempuan sama-sama menggunakan kostum dari
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus
99
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 99-104
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
bambu. Karena sejatinya arti dari kata sarengseng sendiri adalah ujung bambu. Untuk perawatan pada kostum
menggunakan cairan clear agar terbebas dari hama. Dan penyimpanan pada kostum berada di Kantor Desa
Binangun. Makna dari kesenian jurig sarengseng dapat dimaknai dengan menjaga alam, sebab jurig sarengseng
adalah suatu bentuk kesenian ngarumat jagat. Ngarumat jagat sendiri merupakan salah satu tradisi atas ungkapan
syukur kepada Allah SWT. dengan upaya dalam menjaga serta melestarikan alam (Luthfyah et al., 2023).
Kesenian Jurig Sarengseng menggabungkan unsur tari, musik tradisional, dan seni pertunjukan yang
memiliki makna simbolik dan spiritual. Salah satu cara efektif untuk melestarikannya adalah dengan
memasukkannya ke dalam materi pembelajaran seni budaya di sekolah, agar siswa dapat mengenal, memahami,
dan menghargai warisan budaya daerahnya sendiri (Firdaus, 2019).
Seni dan Budaya merupakan dua unsur yang sangat terikat dan saling melengkapi satu sama lain. Sehingga
ketika berbicara mengenai kesenian orang akan langsung ingat budaya, begitu juga sebaliknya dimana suatu
kebudayaan pasti mengandung nilai kesenian. Pelajaran seni budaya memiliki makna sebagai multikultural
yang artinya dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melakukan demokrasi, saling menghargai, dan
memiliki adab yang baik. Dengan demikian seni budaya dapat membuat seseorang menjadi lebih baik lagi dan
membantu mengembangkan potensi yang ada dalam diri seseorang baik itu dalam bidang seni musik, seni tari,
dan juga seni rupa (Heristian et al., 2022).
Penjelasan mengenai seni budaya diatas merupakan salah satu acuan dari proses pembelajaran yang
dilakukan kepada para siswa melalui pendidikan di sekolah. Berhasilnya pembelajaran tergantung bagaimana
perkembangan yang terlihat dari kemampuan para murid dalam hasil atau mengekspresikan kesenian yang
dipelajarinya. Hal ini dijadikan suatu tolak ukur dalam melakukan suatu perbaikan sebagai pelengkap
pembelajaran yang dilakukan dengan harapan akhir pendidikan seni budaya dapat membentuk karakter yang
baik terhadap para siswa dan menjadikan siswa lebih bertanggung jawab. Dengan seni budaya para sisw (...truncated)