Dialog Galon

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Aug 2025

This article explores the use of water gallon containers as an alternative instrument in contemporary music composition. Inspired by daily experiences, the work 'Dialog Galon' investigates the unique sonic potential of plastic gallons through various playing techniques. The methods used include experimental sound exploration, qualitative observation, and performance practice. The result shows that plastic gallons produce distinctive acoustic textures, offering rich sonic diversity and ecological value in music creation. This work contributes to the expansion of musical vocabulary and supports sustainable creative practices.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/3466/2453

Dialog Galon

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 99-104 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 Kesenian Jurig Sarengseng Sebagai Materi Ajar Seni Budaya Kelas 8A MTSN 2 Banjar Agustiana Muhtar1a, Arni Apriani2b a Sendratasik, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, b Sendratasik, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Abstract This study aims to examine the art of Jurig Sarengseng as a teaching material in learning arts and culture for class 8A students at MTsN 2 Banjar City. Jurig Sarengseng art is one of the traditional arts that developed in the Banjar City area, which contains elements of dance, music, and local cultural values. However, the existence of this art has begun to fade along with the development of the times and the lack of preservation in the context of formal education. Therefore, this study was conducted to determine the extent to which the art of Jurig Sarengseng can be preserved in the learning process and its impact on students' understanding and appreciation of local culture. The method used in this study is a qualitative descriptive method with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The subjects of the study were class 8A students. The results of the study showed that the use of Jurig Sarengseng art as a teaching material was able to increase students' enthusiasm and active participation in learning. Students became more interested in learning regional arts because the material taught was close to their environment and daily lives. Keywords: Jurig Sarengseng, Traditional Arts, Art and culture, Teaching Materials Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesenian jurig sarengseng sebagai materi ajar dalam pembelajaran seni budaya pada siswa kelas 8A di MTsN 2 Kota Banjar. Kesenian jurig sarengseng merupakan salah satu kesenian tradisional yang berkembang di wilayah Kota Banjar, yang mengandung unsur seni tari, musik, dan nilai nilai budaya lokal. Namun, keberadaan kesenian ini mulai pudar seiring dengan perkembangan zaman dan kurangan pelestarian dalam konteks pendidikan formal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kesenian jurig sarengseng dapat di lestarikan kedalam proses pembelajaran serta dampaknya terhadap pemahaman dan apresiasi siswa dalam budaya lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitiannya yaitu siswa kelas 8a. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan kesenian jurig sarengseng sebagai materi ajar mampu meningkatkan antusiasme dan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Siswa menjadi lebih tertarik untuk mempelajari kesenian daerah karena materi yang diajarkan dekat dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari mereka. Kata Kunci: Jurig Sarengseng, Kesenian Tradisional, Seni Budaya, Materi Ajar This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license PENDAHULUAN Kota Banjar terletak di wilayah perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, tepatnya berbatasan dengan Kabupaten Cilacap, dan berperan sebagai pintu gerbang utama jalur lintas selatan Jawa Barat. Tiga kesenian khas Kota Banjar diakui secara nasional: Reog Dongkol dari Desa Karya Mukti, Manuk Janur dari Desa Cibeureum, dan Jurig Sarengseng dari Desa Binangun. Dari ketiga kesenian khas Kota Banjar dalam penelitian ini peneliti akan meneliti Kesenian Jurig Sarengseng sebagai bentuk kesenian ngarumat jagat memelihara alam) di Desa Binangun Kota Banjar. Jurig sarengseng merupakan kesenian asli Indonesia yang berasal dari Desa Binangun Kota Banjar dan diciptakan oleh bapak Tarsono (Alm) pada tahun 2017. Awal mula kesenian jurig sarengseng ada di Desa Binangun berawal dari adanya pelaku seni yaitu bapak Tarsono (Alm). Jurig sarengseng tercatat dalam Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTB) sebagai seni pertunjukan. Yang dimana pertunjukan dalam kesenian jurig sarengseng berbentuk helaran dan dipertunjukan untuk pawai atau karnaval. Adapun penari dalam jurig sarengseng ditarikan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Yang menjadi pembeda dari penari laki-laki dan perempuan, dapat dilihat bahwa penari laki-laki ada yang menggunakan topeng serta mengenakan kostum besar yang didesain menyeramkan seperti hantu, sedangkan penari perempuan menggunakan riasan hitam legam. Akan tetapi untuk kostum baik penari laki-laki ataupun perempuan sama-sama menggunakan kostum dari Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus 99 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 99-104 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 bambu. Karena sejatinya arti dari kata sarengseng sendiri adalah ujung bambu. Untuk perawatan pada kostum menggunakan cairan clear agar terbebas dari hama. Dan penyimpanan pada kostum berada di Kantor Desa Binangun. Makna dari kesenian jurig sarengseng dapat dimaknai dengan menjaga alam, sebab jurig sarengseng adalah suatu bentuk kesenian ngarumat jagat. Ngarumat jagat sendiri merupakan salah satu tradisi atas ungkapan syukur kepada Allah SWT. dengan upaya dalam menjaga serta melestarikan alam (Luthfyah et al., 2023). Kesenian Jurig Sarengseng menggabungkan unsur tari, musik tradisional, dan seni pertunjukan yang memiliki makna simbolik dan spiritual. Salah satu cara efektif untuk melestarikannya adalah dengan memasukkannya ke dalam materi pembelajaran seni budaya di sekolah, agar siswa dapat mengenal, memahami, dan menghargai warisan budaya daerahnya sendiri (Firdaus, 2019). Seni dan Budaya merupakan dua unsur yang sangat terikat dan saling melengkapi satu sama lain. Sehingga ketika berbicara mengenai kesenian orang akan langsung ingat budaya, begitu juga sebaliknya dimana suatu kebudayaan pasti mengandung nilai kesenian. Pelajaran seni budaya memiliki makna sebagai multikultural yang artinya dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melakukan demokrasi, saling menghargai, dan memiliki adab yang baik. Dengan demikian seni budaya dapat membuat seseorang menjadi lebih baik lagi dan membantu mengembangkan potensi yang ada dalam diri seseorang baik itu dalam bidang seni musik, seni tari, dan juga seni rupa (Heristian et al., 2022). Penjelasan mengenai seni budaya diatas merupakan salah satu acuan dari proses pembelajaran yang dilakukan kepada para siswa melalui pendidikan di sekolah. Berhasilnya pembelajaran tergantung bagaimana perkembangan yang terlihat dari kemampuan para murid dalam hasil atau mengekspresikan kesenian yang dipelajarinya. Hal ini dijadikan suatu tolak ukur dalam melakukan suatu perbaikan sebagai pelengkap pembelajaran yang dilakukan dengan harapan akhir pendidikan seni budaya dapat membentuk karakter yang baik terhadap para siswa dan menjadikan siswa lebih bertanggung jawab. Dengan seni budaya para sisw (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/3466/2453
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/3466/2453

Dito Februarto, Arni Apriani, Deden Setiaji. Dialog Galon, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2025, pp. 105-107,