Kointik: Eksplorasi Auditif dan Notasi Grafis dalam Penciptaan Musik Eksperimental Berbasis Bunyi Koin
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 Juli-Agustus 2025 Hal. 52-59
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Kointik: Eksplorasi Auditif dan Notasi Grafis dalam Penciptaan Musik
Eksperimental Berbasis Bunyi Koin
Salas Sulastria, Arni Aprianib, Deden Setiajic
1
Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
2
Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
3
Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
Abstrak
Penelitian ini merupakan bentuk praktik penciptaan musik eksperimental berbasis bunyi dari objek tunggal, yaitu koin logam.
Karya ini berjudul Kointik (Koin Tekstur Intuitif Komposisi) ini mengangkat pendekatan intuit dan auditif murni sebagai
metode utama penciptaan, dengan menekankan pendekatan ekplorasi tekstur, ritme, dan dinamika suara. Seluruh komposisi
dibangun tanpa instrument musik konvensional, melainkan melalui interaksi langsung antara tubuh dan objek koin. Symbol
dan notasi grafis diciptakan secara kontekstual untuk mewakili kualitas suara, diam, gestur, dan struktur dramaturgis. Hasil
dari penciptaan ini menunjukan bahwa benda keseharian seperti koin memiliki potensi musikal dan simbolik yang kuat ketika
diperlakukan sebagai materian artistic. Karya ini tidak hanya menghasilkan pengalaman mendengar yang imersif, tetapi juga
membuka ruang refleksi tentang nilai, tekanan sosial, dan makna dalam diam. Kointik menjadi kontribusi terhadap
pengembangan kompisisi musik eksperimental yang berakar pada pengalaman sensoris dan budaya objek lokal.
Kata kunci: musik, eksperimental, koin, tekstur, auditif, intuitif
Abstract
This study presents an experimental music composition on sound eksploration from a single object: the metal coin. Entitled
Kointik (Koin Tekstur Intuitif Komposisi), the work applies an intuitive and purely auditory approach, focusing on the
exploration of texture, rhythm, and sound dynamics. The composition is constructed entirely between the body and the coin
object. A set of graphic and symbolic notations was developed contextually to represet sound qualities, silences, gestures, and
dramaturgical structures. The result reveal that everyday objects like coins possess strong musical and symbolic potential
when treated as artistic materials. This work produces not only an immersive listening experience but also opens reflective
space in value, social pressure, and the meaning of silence. Kointik contributes to the development of experimental music
rooted in sensory experience and the curtular significance of local object.
Keywords: music, experimental, coin, texture, sound, auditory, intutive
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Perkembangan musik eksperimental kontemporer menunjukan kecenderungan yang semakin kuat
terhadap eksplorasi found sound, yaitu penggunaan bunyi dari objek atau lingkungan sehari-hari sebagai sumber
utama penciptaan musik. Dalam pendekatan ini, seniman tidak lagi terpaku pada instrument konvensional atau
bentuk musik tradisional, melainkan membuka ruang bagi pengalaman auditif yang lebih intuitif, tekstural, dan
personal. Heather Stebbins, misalnya dalam album On Separation (2025), menggunakan bunyi piring berputar
dan gesekan benda domestic sebagai material utama, menghadirkan lanskap bunyi yang intim dan imersif.
Pendekatan ini selaras dengan gagasan deep listening yang diperkenalkan oleh Pauline Oliveros, yaitu
“mendengarkan secara sadar dan mendalam terhadap seluruh spektrum bunyi di lingkungan sekitar (Oliveros,
2020).
Konsep mendengar bunyi sebagai entitas telah lama diperkenalkan oleh Pierre Schaeffer melalui musique
concrete, dimana suara diperlakukan sebagai sound object, yaitu “satuan akustik yang berdiri sendiri, lepas dari
keterkaitan visual sumbernya” (Schaeffer, 1966). Prinsip ini dikuatkan oleh gagasan acousmatic listening yang
mendorong pendengar untuk fokus pada kualitas suara tanpa pengaruh visual. Disisi lain, gerakan soundscape
yang dikembangkan oleh R. Murray Schafer menegaskan bahwa lingkungan akustik sehari-hari juga dapat
disikapi sebagai material estetis (Schafer, 1977).
Di Indonesia, eksplorasi suara lingkungan mulai muncul dalam karya-karya elektroakustik seperti milik
Otto Sidharta sejak akhir 1970-an. Ia memanfaatkan suara hutan, air, dan aktivitas alami dalam komposisinya
yang mengangkat karakter bunyi tropis Indonesia. Namun, kebanyakan karya berbasis soundscape di Indonesia
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 01 Juli-Agustus 2025
52
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 Juli-Agustus 2025 Hal. 52-59
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
masih berfokus pada lingkungan alam atau keramaian kota. Belum banyak ditemukan karya yang secara spesifik
menjadikan satu objek sebagai pusat eksplorasi bunyi. Dalam konteks ini, koin sebagai benda kecil yang sengat
familiar justru menyimpan potensi artistic yang besar. Koin menghasilkan suara dentungan, gesekan logam,
benturan, dan gemerincing ritmis yang khas, sekaligus menyimpan makna sosial dan simbolik sebagai representasi
nilai, transaksi, serta kehidupan ekonomi Masyarakat.
Melihat celah ini, hadir sebuah karya berjudul Kointik, yaitu komposisi musik eksperimental yang secara
utuh menggunakan koin sebagai satu-satunya sumber bunyi. Karya ini dirancang sebagai pengalaman auditif
murni yang tidak mengandalkan elemen visual, instrument musik konvensional, maupun narasi verbal. Seluruh
komposisi dibangaun dengan pendekatan intuitif, melalui teknik permainan seperti layering, call and response,
pengulangan ritmis, serta pengolahan tekstur secara langsung. Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan kebaruan
bentuk, tetapi juga membuka ruang bagi refleksi tentang bagaimana suara benda sehari-hari dapat dijadikan
ekspresi musikal yang utuh.
Masalah yang melatarbelakangi penciptaan karya ini berangkat dari kondisi bahwa dalam praktik
penciptaan musik kontemporer di Indonesia, eksplorasi terhadap objek tunggal masih sangat terbatas. Instrumen
konvensional dan pendekatan visual masih mendominasi ranah penciptaan dan penyajian musik, sehingga objek
kecil seperti koin sering kali di abaikan nilai artistiknya. Selain itu, pendekatan komposisi yang benar-benar
berbasis pengalaman mendengar tanpa dukungan visual juga belum mendapat ruang yang cukup. Karya-karya
yang mengusung pendekatan intuitif dan tekstural berbasis benda tunggal masih jarang dijumpai dalam konteks
pendidikan seni maupun prektik eksperimental. Hal inilah yang menjadi alasan utama penciptaan Kointik, sebagai
upaya untuk menawarkan alternatif pendekatan dalam penciptaan musik eksperimental yang berakar pada realitas
bunyi lokal dan pengalaman mendengar yang reflektif.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian (...truncated)