Integrasi Kearifan Lokal Dalam Naskah Film Untuk Promosi Pariwisata Budaya Lokal
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 5 Maret-April 2026 Hal. 538-548
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/3730
ISSN : 2963-5802
Integrasi Kearifan Lokal Dalam Naskah Film Untuk Promosi
Pariwisata Budaya Lokal
Wahyu Nova Riskia, FX. Yatno Karyadib
a
Program Studi Produksi Media, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Padangpanjang,
b
Program Studi Produksi Media, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Padangpanjang,
Submitted: 11-11-2025, Reviewed: 12-11-2025, Accepted: 13-11-2025
Abstract
The integration of local cultural values into film narratives holds significant potential to promote cultural tourism and
strengthen creative industries in regional contexts. This study aims to explore and develop strategies for integrating local
wisdom into film scriptwriting as a means of promoting culture-based tourism. Using the Art-Based Action Research (ABAR)
approach, this research seeks to formulate a creative, participatory, and reflective model of script development that
represents local cultural identity while supporting sustainable tourism and the growth of the creative industry.The findings
indicate that the integration of local wisdom into film scripts requires an in-depth participatory research approach to ensure
that culture functions not merely as a background element but as an active component shaping characters, conflicts, and
dramatic structures. Furthermore, the study confirms that the use of artificial intelligence (AI) in scriptwriting remains
complementary due to the limited availability of digital data on local cultural content. In this context, AI serves as a tool for
idea exploration and narrative mapping rather than a substitute for human creativity.This research also proposes an action
research model specifically developed for the needs of film scriptwriting based on local wisdom. The findings contribute to
strengthening film studies methodology and offer a new approach to scriptwriting practices that are collaborative,
contextual, and culturally grounded.
Keywords: Film; local wisdom; tourism; artificial intelligence; scriptwriting.
Abstrak
Integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam narasi film memiliki potensi signifikan untuk mempromosikan pariwisata budaya
dan memperkuat industri kreatif dalam konteks regional. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan
strategi untuk mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam penulisan skenario film sebagai sarana untuk mempromosikan
pariwisata berbasis budaya. Dengan menggunakan pendekatan Art-Based Action Research (ABAR), penelitian ini berupaya
merumuskan model pengembangan skenario yang kreatif, partisipatif, dan reflektif yang mewakili identitas budaya lokal
sekaligus mendukung pariwisata berkelanjutan dan pertumbuhan industri kreatif. Temuan menunjukkan bahwa integrasi
kearifan lokal ke dalam skenario film membutuhkan pendekatan penelitian partisipatif yang mendalam untuk memastikan
bahwa budaya berfungsi tidak hanya sebagai elemen latar belakang tetapi sebagai komponen aktif yang membentuk karakter,
konflik, dan struktur dramatis. Lebih lanjut, studi ini menegaskan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam
penulisan skenario tetap bersifat komplementer karena ketersediaan data digital tentang konten budaya lokal yang terbatas.
Dalam konteks ini, AI berfungsi sebagai alat untuk eksplorasi ide dan pemetaan narasi daripada sebagai pengganti kreativitas
manusia.Penelitian ini juga mengusulkan model penelitian tindakan yang secara khusus dikembangkan untuk kebutuhan
penulisan skenario film berdasarkan kearifan lokal. Temuan ini berkontribusi untuk memperkuat metodologi studi film dan
menawarkan pendekatan baru terhadap praktik penulisan skenario yang kolaboratif, kontekstual, dan berakar pada budaya.
Kata kunci: Film; kearifan lokal; pariwisata; kecerdasan buatan; penulisan skenario.
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Film merupakan salah satu media yang memiliki berbagai dampak dalam tatanan kehidupan masyarakat.
Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, film juga berperan sebagai media yang merekam, merepresentasikan,
dan mendistribusikan nilai-nilai budaya tertentu (Dewa Gugat et al., 2025; Eren & Aktan, 2024; Fitrianto &
Sumarlan, 2024; Hidayat & Firmansyah, 2025; Kubrak, 2020). Melalui narasi visual dan audionya, film mampu
menghadirkan gambaran tentang identitas, tradisi, dan kearifan lokal yang mungkin belum dikenal secara luas.
Film juga dinilai memiliki dampak strategis dalam mendorong sektor pariwisata dan industri kreatif.
Representasi lokasi dalam sebuah film seringkali menjadi daya tarik tersendiri yang dapat mempengaruhi minat
masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut (Beeton, 2021a; Cruz & Lacap, 2023; Saad et al., 2022).
Penonton biasanya memberikan interpretasi kritis terhadap film yang ditontonnya dan dapat memahami pesan
pembuat film secara spesifik (Ali et al., 2025). Fenomena ini dikenal dengan istilah film-induced tourism, di
mana lokasi-lokasi yang ditampilkan dalam film dapat mempengaruhi jumlah dan intensitas kunjungan
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 05 Maret-April 2026
538
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 5 Maret-April 2026 Hal. 538-548
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/3730
ISSN : 2963-5802
wisatawan sebagai efek dari eksposur film tersebut (Beeton, 2021a). Contohnya, setelah penayangan film Laskar
Pelangi, Belitung mengalami lonjakan wisatawan yang ingin melihat langsung keindahan latar tempat yang
diangkat dalam cerita tersebut (Boediarto, 2022).
Meskipun film terbukti memiliki dampak positif terhadap perkembangan sektor pariwisata di berbagai
belahan dunia (Beeton, 2021b; Cruz & Lacap, 2023; Kim et al., 2024; Liu et al., 2020a; Mazaya et al., 2024;
Mulyadi & Sunarti, 2019a; Nakayama, 2021a, 2021b; Neves & Almeida, 2022a, 2022b; Pariwisata et al., 2019;
Pracintya et al., 2022a; Saad et al., 2022; Teng & Chen, 2020), ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan.
Pertama, tidak semua film yang menampilkan lokasi tertentu secara otomatis menghasilkan peningkatan
kunjungan wisata. Dampak film terhadap pariwisata sangat bergantung pada berbagai faktor seperti kekuatan
narasi, representasi visual lokasi, distribusi film, serta konteks sosial budaya dari audiens yang menyaksikannya.
Kedua, dalam praktik pengembangan naskah film, integrasi elemen budaya lokal sering kali dilakukan secara
superfisial. Unsur budaya hanya dijadikan latar tanpa benar-benar diolah menjadi bagian integral dari alur cerita,
karakterisasi, atau tema film. Pendekatan semacam ini tidak hanya mengurangi potensi dampak film terhadap
promosi pariwisata budaya, tetapi juga berisiko mengkomodifikasi budaya lokal secara dangkal, memanfaatkan
unsur budaya hanya sebagai "hiasan" untuk menarik minat pasar. Ketiga, terdapat tantangan metodologis dalam
mengkaji hubungan antara film, budaya, dan pariwis (...truncated)