EROSI NILAI PANCASILA DALAM SISTEM DEMOKRASI MODERN: TANTANGAN IDEOLOGI BANGSA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Jurnal GeoCivic
Vol. 8, No. 2, Oktober 2025
E-ISSN: 2722-3698
P-ISSN: 2301-4334
EROSI NILAI PANCASILA DALAM SISTEM DEMOKRASI MODERN:
TANTANGAN IDEOLOGI BANGSA DI TENGAH PERUBAHAN
ZAMAN
1
Adrian Kemhay1
Universitas Khairun, Ternate
E-mail:
Abstrak
Pancasila merupakan dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang menjadi
landasan normatif dalam penyelenggaraan sistem demokrasi. Demokrasi Indonesia secara
konseptual dikenal sebagai demokrasi Pancasila, yaitu demokrasi yang tidak hanya
menekankan kedaulatan rakyat, tetapi juga berlandaskan nilai ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Namun, dalam perkembangan demokrasi
modern, implementasi nilai-nilai Pancasila menghadapi berbagai tantangan yang
kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena erosi nilai Pancasila dalam
sistem demokrasi modern Indonesia serta menganalisis tantangan ideologi bangsa di
tengah perubahan zaman. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif
dengan pendekatan normatif-deskriptif melalui studi kepustakaan. Data diperoleh dari
peraturan perundang-undangan, buku, dan artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan tema
demokrasi dan Pancasila. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik demokrasi Indonesia
cenderung mengalami pergeseran dari demokrasi berbasis nilai menuju demokrasi
prosedural, yang ditandai dengan maraknya politik uang, politik identitas, polarisasi
sosial, serta degradasi etika politik, khususnya di era digital. Studi kasus pemilu
menunjukkan bahwa kemajuan teknologi informasi, meskipun memperluas partisipasi
politik, juga berpotensi memperlemah persatuan dan nilai kebangsaan apabila tidak
dibingkai oleh nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, diperlukan upaya revitalisasi
Pancasila melalui penguatan pendidikan nilai, literasi politik, dan etika demokrasi guna
menjaga keberlanjutan demokrasi Indonesia yang berkeadaban dan berorientasi pada
kepentingan bersama.
Kata Kunci: Demokrasi Pancasila, Nilai Pancasila, Demokrasi Modern, Ideologi Bangsa, Pemilu
Indonesia.
Pendahuluan
Pancasila merupakan dasar negara sekaligus ideologi bangsa Indonesia yang menjadi
pedoman utama dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai landasan filosofis, tetapi juga
sebagai sumber etika dan moral dalam sistem demokrasi Indonesia. Menurut Kaelan,
47
Pancasila memiliki kedudukan sebagai norma dasar negara (grundnorm) yang seharusnya
menjiwai seluruh aspek kehidupan ketatanegaraan, termasuk praktik demokrasi dan
penyelenggaraan kekuasaan politik (Kaelan, 2013).
Dalam kerangka konstitusional, demokrasi Indonesia ditegaskan dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa kedaulatan
berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Prinsip ini
diwujudkan melalui mekanisme demokrasi seperti pemilihan umum, partisipasi politik warga
negara, serta perlindungan hak asasi manusia. Jimly Asshiddiqie menegaskan bahwa
demokrasi konstitusional tidak boleh dipahami semata-mata sebagai prosedur politik,
melainkan harus berlandaskan pada nilai-nilai etika, moral, dan hukum agar tidak kehilangan
substansi keadilan dan kemanusiaan (Asshiddiqie, 2015).
Namun, dalam praktik demokrasi modern di Indonesia, terdapat berbagai fenomena
yang menunjukkan adanya penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila. Politik uang,
pragmatisme elite, polarisasi politik, serta menguatnya politik identitas menjadi tantangan
serius dalam kehidupan demokrasi. Vedi R. Hadiz mengemukakan bahwa demokrasi
Indonesia pascareformasi cenderung mengalami dominasi kepentingan oligarki, sehingga
demokrasi berjalan secara formal-prosedural tetapi miskin nilai dan substansi keadilan sosial
(Hadiz, 2017). Kondisi ini mencerminkan adanya erosi nilai Pancasila dalam sistem
demokrasi yang semakin kompetitif dan transaksional.
Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan media digital turut memengaruhi
dinamika demokrasi modern. Teknologi digital membuka ruang partisipasi politik yang lebih
luas, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru berupa disinformasi, ujaran kebencian,
dan menurunnya etika politik di ruang publik. Yanuar Nugroho menyatakan bahwa
demokrasi digital tanpa fondasi nilai yang kuat berpotensi melemahkan kohesi sosial dan
mengancam persatuan bangsa (Nugroho, 2019). Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila
seharusnya berperan sebagai filter etis dalam praktik demokrasi di era digital.
Berdasarkan uraian tersebut, kajian mengenai erosi nilai Pancasila dalam sistem
demokrasi modern menjadi penting untuk dilakukan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis
faktor-faktor yang menyebabkan melemahnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam
praktik demokrasi Indonesia serta mengkaji tantangan ideologi bangsa di tengah perubahan
zaman. Diharapkan, kajian ini dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam upaya
memperkuat kembali demokrasi Pancasila yang tidak hanya berorientasi pada aspek
prosedural, tetapi juga berakar pada nilai moral, etika, dan keadilan sosial.
48
Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan normatifdeskriptif. Pendekatan normatif digunakan untuk mengkaji demokrasi dan Pancasila
berdasarkan norma, nilai, serta prinsip yang terkandung dalam peraturan perundangundangan dan pemikiran para ahli. Sementara itu, pendekatan deskriptif bertujuan untuk
menggambarkan secara sistematis fenomena erosi nilai-nilai Pancasila dalam praktik
demokrasi modern di Indonesia. Menurut Sugiyono (2019), penelitian kualitatif menekankan
pemahaman terhadap makna, konsep, dan konteks suatu permasalahan sosial secara
mendalam.
2. Populasi dan Sampel/Subjek Penelitian
Karena penelitian ini bersifat normatif-kualitatif, penelitian tidak menggunakan populasi dan
sampel dalam arti statistik. Subjek penelitian berupa bahan kajian yang terdiri atas dokumen
dan sumber tertulis, seperti:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan demokrasi,
buku teks dan karya ilmiah para ahli mengenai Pancasila dan demokrasi,
serta artikel jurnal yang relevan dengan topik erosi nilai Pancasila dalam demokrasi
modern.
Pemilihan sumber dilakukan secara purposif, yaitu berdasarkan relevansi dan
kredibilitas sumber terhadap fokus penelitian.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi
kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui penelusuran dan penelaahan
terhadap berbagai sumber tertulis, baik berupa buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian,
maupun dokumen resmi negara. Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data
konseptual dan teoritis yang berkaitan dengan demokrasi Pancasila, ideologi bangsa, serta
tantangan demokrasi di era modern. Menurut Zed (2014), studi kepustakaan merupakan
teknik pengumpulan data yang efektif dalam penelitian normatif karena memungkinkan
peneliti m (...truncated)