Penyimpangan Etika Berbahasa dalam Interaksi Siswa Berstatus Santri dengan Guru antara di Sekolah dan Pesantren

EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Jun 2022

Penyimpangan bahasa merupakan kesalahan berbahasa secara sistematik dari kaidah yang berlaku ketika pembelajar belum menguasai sesuatu sehingga secara konsisten menggunakannya dengan cara yang salah. Pendidikan di Pondok Pesantren dengan pola-pola komunikasi beranekaragam dan mengutamakan unsur sopan santun menjadi prinsip utama yang diadopsi di MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) Bentuk-bentuk penyimpangan etika berbahasa dalam interaksi siswa berstatus santri di MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren dengan gurunya antara di sekolah dan di pesantren, (2) Penyebab terjadinya penyimpangan bahasa, (3) Dampak dari penyimpangan etika berbahasa, dan (4) Upaya guru dalam mengatasi penyimpangan etika berbahasa. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan metode observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan metode reduksi data, display data, dan kesimpulan/verifikasi. Keabsahan data diperoleh melalui ketekunan pengamatan dan diskusi dengan teman sejawat. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal berikut. Pertama; bentuk penyimpangan etika berbahasa, meliputi; (1) Siswa menggunakan bahasa Jawa Biasa (kasar), (2) Siswa menggunakan bahasa gaul dan singkatan, dan (3) siswa menggunakan penggabungan dengan Bahasa Asing. Kedua, Penyebab penyimpangan etika berbahasa, meliputi; faktor internal dan faktor eksternal. Ketiga; Dampak penyimpangan etika berbahasa, meliputi; (1) Terancamnya eksistensi Bahasa Indonesia, (2) Menurunnya citra baik Instansi/Lembaga dan diri sendiri, (3) Menyebabkan punahnya Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa Kromo. Keempat; Upaya guru dalam mengatasi penyimpangan etika berbahasa adalah dengan pengajaran dan pembiasaan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/ibtikar/article/download/10745-30064-1/pdf_64

Penyimpangan Etika Berbahasa dalam Interaksi Siswa Berstatus Santri dengan Guru antara di Sekolah dan Pesantren

Penyimpangan Etika Berbahasa dalam Interaksi Siswa Berstatus Santri dengan Guru antara di Sekolah dan Pesantren Ilman Nafi’a IAIN Syekh Nurjati Cirebon Email: Masrukhin IAIN Syekh Nurjati Cirebon Email: Septi Gumiandari IAIN Syekh Nurjati Cirebon Email: Abstrak Penyimpangan bahasa merupakan kesalahan berbahasa secara sistematik dari kaidah yang berlaku ketika pembelajar belum menguasai sesuatu sehingga secara konsisten menggunakannya dengan cara yang salah. Pendidikan di Pondok Pesantren dengan pola-pola komunikasi beranekaragam dan mengutamakan unsur sopan santun menjadi prinsip utama yang diadopsi di MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) Bentuk-bentuk penyimpangan etika berbahasa dalam interaksi siswa berstatus santri di MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren dengan gurunya antara di sekolah dan di pesantren, (2) Penyebab terjadinya penyimpangan bahasa, (3) Dampak dari penyimpangan etika berbahasa, dan (4) Upaya guru dalam mengatasi penyimpangan etika berbahasa. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan metode observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan metode reduksi data, display data, dan kesimpulan/verifikasi. Keabsahan data diperoleh melalui ketekunan pengamatan dan diskusi dengan teman sejawat. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal berikut. Pertama; bentuk penyimpangan etika berbahasa, meliputi; (1) Siswa menggunakan bahasa Jawa Biasa (kasar), (2) Siswa menggunakan bahasa gaul dan singkatan, dan (3) siswa menggunakan penggabungan dengan Bahasa Asing. Kedua, Penyebab penyimpangan etika berbahasa, meliputi; faktor internal dan faktor eksternal. Ketiga; Dampak penyimpangan etika berbahasa, meliputi; (1) Terancamnya eksistensi Bahasa Indonesia, (2) Menurunnya citra baik Instansi/Lembaga dan diri sendiri, (3) Menyebabkan punahnya Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa Kromo. Keempat; Upaya guru dalam mengatasi penyimpangan etika berbahasa adalah dengan pengajaran dan pembiasaan. Kata Kunci: Penyimpangan, Etika, Bahasa, Guru, Siswa, Sekolah/Pesantren 102 El-Ibtikar Vol. 11 No. 1, 2022 Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Abstract Language deviation is a systematic language error from the rules that apply when the learner has not mastered something so that it consistently uses it in the wrong way. Education at Pondok Pesantren with various communication patterns and prioritizing elements of manners is the main principle adopted in MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren. This study aims to find out; (1) Forms of language ethics deviations in the interaction of students with the status of students at MTs NU Putra 1 Buntet Pesantren with their teachers between in schools and in Islamic boarding schools, (2) Causes of language deviations, (3) Impacts of language ethics deviations, and (4) Teacher efforts in overcoming language ethics deviations. The method in this study is descriptive qualitative. Data are obtained by observation and interview methods. Data analysis uses data reduction methods, data display, and conclusion/verification. The validity of the data is obtained through persistence of observations and discussions with peers. The results showed the following points. First; forms of perversion of language ethics, including; (1) Students use Ordinary Javanese (rude), (2) Students use slang and abbreviations, and (3) students use merging with Foreign Languages. Second, the causes of language ethics deviations, include; internal factors and external factors. Third; The impact of language ethics deviations, including; (1) The endangerment of the existence of Indonesian, (2) The decline in the image of both agencies / institutions and oneself, (3) Causing the extinction of Indonesian and The Javanese Chromo Language. Fourth; Teachers' efforts in overcoming language ethics deviations are by teaching and habituation. Keywords: Deviation, Ethics, Language, Teacher, Student, School/Pesantren Pendahuluan Bahasa merupakan alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau perasaan. Oleh karena itu, setiap orang dituntut untuk mampu berbahasa. Keterampilan berbahasa meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Musaba, 2012:2-4). Bahasa memegang peran penting di dalam kehidupan manusia. Bahasa merupakan alat untuk berinteraksi dan komunikasi yang paling baik dan sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain (Mulyasa, 2012:34). Salah satu keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam kehidupan dan paling sering digunakan adalah keterampilan berbicara, yang merupakan suatu keterampilan dalam menyampaikan ide atau perasaannya dengan jelas kepada orang lain. Pembicara dan lawan bicara dalam berbicara sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasa, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan bicaranya (Susylowati & Wisudawanto, 2021:157-158). Etika berbahasa di lingkungan masyarakat, salah satunya dapat ditemukan di lingkungan sekolah dan pesantren. Salah satu penyimpangan berbahasa yang ditemukan pada siswa yang juga berstatus santri adalah penggunaan bahasa yang kurang santun dalam interaksinya dengan guru. Tuturan yang diucapkan terkadang berupa bahasa gaul, singkatan, atau dengan menggunakan gabungan 103 El-Ibtikar Vol. 11 No. 1, 2022 Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dengan bahasa asing. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai ketimpangan atau penyimpangan etika berbahasa. Pemakaian bahasa dalam bentuk percakapan, seperti yang tercermin dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah dan pesantren dalam interaksinya dengan guru merupakan interaksi komunikatif berbentuk aktivitas oral. Pemakaian bahasa yang sopan-santun, sistematis, teratur, jelas dan runtut dapat mencerminkan karakter kepribadiannya (Yulianti, 2020:10). Prinsip kesantunan mengajarkan agar interaksi sosial dilakukan dengan sopan santun. Hal ini tentunya sejalan dengan teori pragmatik yang di dalamnya mengkaji bahasa dengan mempertimbangkan juga pemakainya. Dalam teori percakapan terdapat dua prinsip penggunaan bahasa yang alamiah, yaitu sebagai prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan (Yule, dalam Rahayu, 2013). Santri di lingkungan Pondok Buntet Pesantren masih memegang teguh etika berbahasa dalam interaksi sosial sehari-hari baik di sekolah maupun di pesantren. Komunikasi antara guru dengan muridnya dalam keseharian harus berhati-hati, karena terdapat berbagai lapisan tingkatan yang berbeda-beda, seperti ustadz, guru, pengasuh, dan santri, sehingga harus dapat menyesuaikan dengan situasinya, siapa yang diajak berbicara, kapan, di mana, bagaimana, apa sebab, maksud, dan tujuan. Penelitian mengenai kesantunan berbahasa telah banyak dilakukan, tetapi penelitian mengenai etika berbahasa dalam komunikasi formal dan informal dalam ruang lingkup siswa berstatus santri masih terbatas. Di antara penelitian yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa sebagai berikut. Aldila Fajri Nur Rohma (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/ibtikar/article/download/10745-30064-1/pdf_64
Article home page: https://syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/ibtikar/article/view/10745-30064-1/pdf_64

Nafi'a Ilman IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Masrukhin Masrukhin Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati CIrebon, Gumiandari Septi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penyimpangan Etika Berbahasa dalam Interaksi Siswa Berstatus Santri dengan Guru antara di Sekolah dan Pesantren, EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 2022, pp. 102-122,