Perancangan Komik Digital Sebagai Sarana Edukasi Bagi Dewasa Awal Tentang Bagaimana Memberi Dukungan Pada Penderita Depresi

Artika, Nov 2022

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai oleh perasaan sedih secara terus-menerus dan hilangnya minat segala aktivitas yang berlangsung dalam jangka waktu panjang. Penyembuhan penderita depresi dapat melalui psikoterapi dan pengobatan oleh psikiater dan dokter. Disisi lain, dukungan orang terdekat menjadi bagian terpenting untuk memberi dukungan bagi penderita depresi. Namun pemberian dukungan pada penderita depresi bukanlah hal yang mudah bagi orang awam. Terkadang kalimat yang terdengar positif dapat diterjemahkan sebaliknya oleh penderita depresi. Oleh karena itu perlu adanya media yang dapat mengedukasi masyarakat khususnya dewasa awal mengenai bagaimana cara memberi dukungan yang tepat bagi penderita depresi. Komik digital yang berjudul “Maukah kau Mendengar?” merupakan media edukasi yang akan dirancang dan dipublikasikan melalui media Instagram. Komik digital terdiri dari 10 chapter menceritakan seorang penderita depresi yang berusaha untuk mencari pertolongan dari orang-orang disekitarnya. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu wawancara, studi literatur, dan studi komparator. Metode perancangan melalui beberapa tahap diantaranya membuat cerita, sketsa, mendesain karakter, layout dan pewarnaan, dan mempublikasikan ke media sosial Instagram. Perancangan komik digital sebagai media edukasi ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang efektif dalam menyampaikan pesan moral, meluruskan persepsi yang salah terhadap gangguan depresi, dan mengedukasi masyarakat khususnya dewasa awal agar dapat berperan dalam memberi dukungan yang baik dan tepat bagi penderita depresi.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/artika/article/download/570/236

Perancangan Komik Digital Sebagai Sarana Edukasi Bagi Dewasa Awal Tentang Bagaimana Memberi Dukungan Pada Penderita Depresi

PERANCANGAN KOMIK DIGITAL SEBAGAI SARANA EDUKASI BAGI DEWASA AWAL TENTANG BAGAIMANA MEMBERI DUKUNGAN PADA PENDERITA DEPRESI Benny Rahmawan Noviadji, 1 Restu Hendriyani Magh’firoh, 2 Silfi Rachma Fauzia. 3 Institut Informatika Indonesia, Surabaya Abstrak Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai oleh perasaan sedih secara terus-menerus dan hilangnya minat segala aktivitas yang berlangsung dalam jangka waktu panjang. Penyembuhan penderita depresi dapat melalui psikoterapi dan pengobatan oleh psikiater dan dokter. Disisi lain, dukungan orang terdekat menjadi bagian terpenting untuk memberi dukungan bagi penderita depresi. Namun pemberian dukungan pada penderita depresi bukanlah hal yang mudah bagi orang awam. Terkadang kalimat yang terdengar positif dapat diterjemahkan sebaliknya oleh penderita depresi. Oleh karena itu perlu adanya media yang dapat mengedukasi masyarakat khususnya dewasa awal mengenai bagaimana cara memberi dukungan yang tepat bagi penderita depresi. Komik digital yang berjudul “Maukah kau Mendengar?” merupakan media edukasi yang akan dirancang dan dipublikasikan melalui media Instagram. Komik digital terdiri dari 10 chapter menceritakan seorang penderita depresi yang berusaha untuk mencari pertolongan dari orang-orang disekitarnya. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu wawancara, studi literatur, dan studi komparator. Metode perancangan melalui beberapa tahap diantaranya membuat cerita, sketsa, mendesain karakter, layout dan pewarnaan, dan mempublikasikan ke media sosial Instagram. Perancangan komik digital sebagai media edukasi ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang efektif dalam menyampaikan pesan moral, meluruskan persepsi yang salah terhadap gangguan depresi, dan mengedukasi masyarakat khususnya dewasa awal agar dapat berperan dalam memberi dukungan yang baik dan tepat bagi penderita depresi. Kata Kunci: Komik Digital, Depresi, Dewasa Awal, Edukasi, Dukungan Benny Rahmawan Noviadji, Institut Informatika Indonesia, Surabaya. 165 Abstract Depression is a mental health disorder characterized by persistent feelings of sadness and loss of interest in long-term activities. Healing people with depression can be through psychotherapy and medication by psychiatrists and doctors. On the other hand, the support of the closest people becomes the most important part to provide support for people with depression. But providing support to people with depression is not an easy thing for ordinary people. Sometimes sentences that sound positive can be translated otherwise by people with depression. Therefore, there is a need for media that can educate the public, especially early adults, on how to provide appropriate support for people with depression. The digital comic titled “Would You Hear?” is an educational media that will be designed and published through Instagram media. The digital comic consists of 10 chapters about a depressed person who tries to seek help from the people around him. The research method uses qualitative research methods, namely interviews, literature studies, and comparator studies. The design method goes through several stages including making stories, sketching, designing characters, layouts and coloring, and publishing to Instagram social media. The design of digital comics as an educational medium is expected to be an effective source of information in conveying moral messages, correcting wrong perceptions of depressive disorders, and educating the public, especially early adults, so that they can play a role in providing good and appropriate support for people with depression. Keyword : Digital Comic, Depression, Young Adult, Education, Support. PENDAHULUAN Depresi merupakan suatu gangguan mental yang dapat dialami oleh siapa saja baik pria maupun wanita. Menurut Kaplan dan Sadock (2010), depresi juga merupakan suatu masa terjadinya gangguan fungsi manusia yang berhubungan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri. Depresi lebih banyak dialami oleh orang-orang pada usia dewasa. Usia 20 sampai 30 tahun manusia dianggap rentan mengalami depresi karena pada masa tersebut merupakan fase peralihan dari remaja ke dewasa. Menurut penuturan seorang psikolog Samantha Matt dikutip dari Huffington Post, menyebutkan bahwa pada usia 20 hingga 30 tahun merupakan fase pergolakan mental dalam diri. Penyebabnya diduga terkait dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Beberapa faktor yang menjadi 166 ARTIKA Vol.6, No.2 November (2022) ISSN 2355-8121, EISSN 2549-7251 penyebabnya antara lain adalah peristiwa traumatis dan tekanan batin karena beberapa permasalahan seperti masalah pekerjaan, masalah keuangan dan masalah rumah tangga. Depresi juga dapat disebabkan oleh pola pikir yang salah, seperti halnya toxic positivity (Pittara, 2022). Depresi menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Terlebih pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19, masalah kesehatan mental menjadi masalah yang perlu ditangani lebih serius. Menurut penelitian oleh The Lancet menemukan bahwa tekanan psikologis, depresi, dan gangguan kecemasan umum ditemukan selama setengah tahun terjadinya pandemi Covid-19, yakni selama Juli-September 2020. Sebanyak 42 persen orang dalam penelitian tersebut mengalami tekanan psikologis ringan selama pandemi (The Lancet Psychiatry, 2022: 137-150). Selain itu, para ahli psikolog meyebutkan bahwa meningkatnya isu kesehatan mental khususnya pada masa pandemi tersebut disebabkan oleh isolasi, ketakutan akan terinfeksi virus corona, kesepian, kekerasan dalam rumah tangga, kesulitan keuangan, pemutusan hubungan kerja, maupun kesedihan setelah kehilangan orang yang dicintai. Di Indonesia sendiri, peningkatan kasus gangguan jiwa dan depresi ini disebabkan oleh pembatasan sosial serta akibat kehilangan pekerjaan. Apapun yang menjadi penyebab munculnya depresi, layanan konsultasi untuk kondisi mental menjadi sarana penting, hal ini sebagai pencegahan untuk terjadinya serangan depresi yang lebih parah, termasuk untuk mencegah bunuh diri. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam pencegahan dan pengobatan depresi, umumnya dapat melalui psikoterapi atau terapi psikologis oleh psikiater dan ahli psikolog untuk membantu mengatasi masalah akibat depresi. Apabila melalui psikiater dan dokter maka dapat dijalankan dengan proses pengobatan yaitu dengan memberikan obat antidepresan. Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr. Diah Dewi Utami SpKJ, MARS mengatakan bahwa stigma yang melekat pada masyarakat terhadap penderita yang berkonsultasi ke psikiater atau psikolog cenderung dianggapnya gila. Sehingga stigma tersebut menghalangi penderita yang ingin mencari pertolongan profesional untuk dapat berkonsultasi, penderita akhirnya mengurungkan niatnya untuk mencari pertolongan ke psi (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/artika/article/download/570/236
Article home page: https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/artika/article/view/570/236

Noviadji Benny Rahmawan, Magh'firoh Restu Hendriyani, Fauzia Silfi Rachma. Perancangan Komik Digital Sebagai Sarana Edukasi Bagi Dewasa Awal Tentang Bagaimana Memberi Dukungan Pada Penderita Depresi, Artika, 2022, pp. 165-175,