Perancangan Buku Ilustrasi Interaktif Aktivitas Domestik Sebagai Media Edukasi Untuk Anak Usia 4-6 Tahun
PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI INTERAKTIF
AKTIVITAS DOMESTIK SEBAGAI MEDIA EDUKASI
UNTUK ANAK USIA 4-6 TAHUN
Octavia Tungary1, Arjuna Bangsawan2, Kiki Nilasari3
Institut Informatika Indonesia, Surabaya1
Abstrak
Pekerjaan domestik sering kali menjadi beban dan ditujukan hanya
untuk perempuan, namun, baik laki-laki dan perempuan bertanggung
jawab atasnya. Tanggung jawab ini dapat diperkenalkan pada anak usia
dini atau masa usia keemasan sebagai aktivitas yang menyenangkan
sehingga membawa dampak positif di masa depan ketika mereka
dewasa. Metode kualitatif digunakan untuk merancang akhir tiga seri
buku yang didedikasikan untuk anak laki-laki dan perempuan pada usia
4 sampai 6 tahun. Dalam penyampaian konsep buku, mendongeng,
illustrasi, dan aktivitas interaktif digunakan untuk mendapatkan
perhatian mereka terhadap tema dan juga untuk meningkatkan minat
baca serta kemampuan motorik mereka. Penyajian melalui media kreatif
ini membawa pesan-pesan edukatif yang secara tidak sadar akan
membentuk pola pikir dan kemandirian anak. Buku-buku sebagai media
edukasi ini bertujuan untuk membangun kesadaran anak bahwa
pekerjaan domestik sebagai kewajiban yang akan membentuk perilaku
mereka sehari-hari dan melawan stereotip yang salah dalam
menempatkan pekerjaan domestik sebagai ‘pekerjaan khusus
perempuan.
Kata kunci: aktivitas domestik, buku ilustrasi interaktif, anak, usia dini,
masa usia keemasan.
Abstract
Domestic works are often counted as a burden and directed for women
only, however, both men and women are responsible for it. These
responsibilities could be introduced in children’s early childhood of
golden age as fun activities which will have positive impact in the future
when they are adults. Qualitative methods are employed to design the
three books series which are dedicated for boys and girls between aged
4 to 6. In delivering the books’ concepts, storytelling, illustrations and
interactive activities are employed to reach their interest to the themes
and also to increase their reading interest and motor skill. These
creative media presentation convey educative messages which
unconsciously formed children’s mindset and independence about
domestic activities.The books as educational media are intended to
build children’s awareness about domestic works as concerned
Octavia Tungary, Institut Informatika Indonesia, Surabaya.
25
commonplace daily behavior and to counter stereotype of misplacing
domestic works as ‘only women job’.
Keywords: domestic activities, interactive illustration books, children,
early childhood, golden age.
Pendahuluan
Pekerjaan domestik atau pekerjaan reproduktif masih diremehkan oleh
masyarakat dikarenakan hasil pekerjaan tersebut tidak tidak kasat mata, dengan
kata lain, tidak menghasilkan uang (Sudi, 2015). Bahkan, area domestik sering kali
dianggap milik perempuan karena keistimewaan biologis perempuan untuk
mengandung anak membuat mereka secara tidak sadar merasa memiliki tanggung
jawab lebih di ruang domestik. Hal ini dikarenakan rancunya konsep perbedaan
jenis kelamin dengan konsep gender sebagai konstruksi sosial menyebabkan
ketidaktepatan dalam pembagian fungsi, peran, dan tanggung jawab antara laki-laki
dan perempuan (Harun, 2015). Padahal, kegiatan kebersihan seperti mencuci,
memasak, menyetrika, menyapu, dan sebagainya, termasuk mengasuh anak yang
dapat dilakukan siapa saja termasuk laki-laki (Sucahyo, 2021).
Kesadaran dalam berbagi peran domestik dapat dilatih pada anak usia
dini agar membentuk pola pikir mereka yang masih dapat dibentuk. Alih-alih
menjadi sebuah beban, pekerjaan rumah tangga menjadi bagian dari tanggung
jawab yang menggiring anak menjadi mandiri dan akan menjadi kebiasaan yang
baik. Kemandirian anak dalam melakukan aktivitas merupakan bagian yang
teramat penting dalam upaya mendidik anak usia dini. Menurut Muscari (2005)
dalam Puspita (2015), Pada usia pra-sekolah anak akan mengalami bentuk
kemandirian dan perkembangan sosial dimana anak sudah mulai mandiri dalam
tumbuh kembang seperti dalam motorik dan bahasa, anak mampu melompat dan
berlari lebih lancar, mengikat tali sepatu, menggunakan gunting, memegang alat
tulis, menulis, menggambar, menjiplak, mengkoordinasikan mata dan tangan,
memegang sendok, dan mampu mengungkapkan & memahami 900-2100 kata. Di
Indonesia, usia pra-sekolah adalah usia dimana anak memasuki Taman
Kanak-Kanak (TK) yaitu antara 4 sampai 6 tahun. Pada usia inilah anak juga dalam
masa usia keemasan (golden age) dimana anak mampu mengingat apa yang
26
ARTIKA Volume.7, Nomor.1, Juli 2023.
ISSN 2355-8121, EISSN 2549-7251
mereka alami dan yang dilihat di masa lalu (Kukuh, 2021). Oleh sebab itu, akan
tepat jika anak mulai dibentuk pada usia pra-sekolah.
Virginia (2017) percaya bahwa upaya untuk melatih kemandirian anak
memerlukan dukungan dari berbagai pihak, selain guru di sekolah, orang tua
adalah pendidik yang sangat banyak memberikan hubungan terhadap pendidikan
anak usia dini di rumah, karena anak usai dini cenderung meniru setiap yang
dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini membuktikan bahwa
lingkungan keluarga memiliki hubungan penting dalam tumbuh kembang anak.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh Kusuma & Jannah (2013)
dalam perkembangan kemandirian anak usia dini di Taman Kanak-Kanak, sebagian
besar tingkat kemandirian anak dalam melakukan aktivitas belum optimal. Dalam
konteks ini orang tua perlu mendampingi anak untuk melakukan berbagai aktivitas
dalam belajar maupun bermain di rumah sehingga anak dapat mencapai
kemandirian yang diharapkan. Upaya untuk melatih kemandirian anak dapat
dilakukan orang tua saat berada di rumah dengan memberikan kesempatan pada
anak untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri agar mandiri, memberikan
kesempatan untuk membantu tugas-tugas yang dapat mendorong anak agar berani
dalam membuat keputusan. Orang tua dibutuhkan menjadi role model bagi anak
harus bersikap, mendampingi anak untuk memberikan dukungan dan arahan ketika
dibutuhkan, memberikan disiplin yang wajar dan memberikan anak rasa tanggung
jawab agar anak dapat terus termotivasi dalam pengembangan dirinya. Orang tua
juga perlu menyiapkan berbagai strategi, pendekatan, media atau permainan
edukatif untuk menstimulasi perkembangan sesuai kebutuhan anak pada setiap
tahapan usianya Khaironi (2018).
Berdasarkan hal-hal diatas, peluang yang bisa dilakukan untuk melatih
kemandirian anak dalam melakukan aktivitas, dan memiliki perkembangan yang
sempurna adalah dilakukan sebuah perancangan buku interaktif. Buku interaktif ini
diharapkan dapat menyebarkan awareness dan memberikan dampak positif bagi
anak di masa depan.
Octavia Tungary, Institut Informatika Indonesia, Surabaya.
27
KAJIAN TEORI
Media dan Metode Pembelajaran Anak
Media dan metode adalah penciptaan, memvisualisasikan, dan penyajian verbal &
non-verbal (visual, audio, tekstur, dll). Beberapa media dan metode meliputi
ilustrasi dan desain grafis. Menjadikan dan mengeksekusi visual termasuk dalamg
gaya atau cara vi (...truncated)