PENGARUH KOMPOSISI MASERAL BATUBARA MUARA WAHAU TERHADAP PERILAKU TERMAL MENGGUNAKAN PENDEKATAN PIROLISIS DENGAN THERMOGRAVIMETRIC ANALYSIS (TGA)
PENGARUH KOMPOSISI MASERAL BATUBARA MUARA
WAHAU TERHADAP PERILAKU TERMAL
MENGGUNAKAN PENDEKATAN PIROLISIS DENGAN
THERMOGRAVIMETRIC ANALYSIS (TGA)
Agus Haris Widayat1)*, Komang Anggayana1), Basuki Rahmad2) dan Luthfi Hafizh Azhar3)
1)Kelompok
Keahlian Eksplorasi Sumberdaya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan,
Institut Teknologi Bandung
2)Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta
3)Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertamanbangan dan Perminyakan, Institut
Teknologi Bandung
Artikel masuk : 26-03-2021, Artikel diterima : 31-03-2021
Kata kunci:
batubara, maseral, inertinit,
thermogravimetric analysis
Keywords:
coal, maceral, inertinite,
thermogravimetric analysis
ABSTRAK
Empat conto batubara dari daerah Muara Wahau telah diteliti untuk mengetahui
karakteristik termal dengan pendekatan analisis pirolisis dan perangkat
thermogravimetric analysis (TGA). Perilaku termal ini dapat memberikan gambaran
yang dialami oleh batubara selama proses pembatubaraan di alam, pembatubaraan
buatan, salah satu proses yang terjadi pada gasifikasi batubara bawah tanah,
pencairan batubara, dan lain-lain. Analisis proksimat, ultimat, dan petrografi batubara
juga dilakukan untuk mengetahui komposisi bahan organik yang terkandung di
dalamnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa batubara Muara Wahau mempunyai
komposisi maseral inertinit yang cukup bervariasi dari 6% hingga 18% (v/v). Analisis
TGA menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan maseral inertinit, penurunan
massa conto secara umum semakin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa maseral
inertinit cenderung tidak berevolusi selama proses pemanasan. Hasil ini memberikan
implikasi bahwa batubara yang mengandung maseral inertinit kurang
direkomendasikan untuk jenis pemanfaatan yang dipengaruhi oleh reaktivitas
maseral seperti gasifikasi dan pencairan. batuan dacite dan sandstone yaitu 0,07 %
dan 0,38 %. Strain level tersebut masih diperbolehkan menurut diagram strain level
Sakurai, 1983.
*Corresponding author:
Doi : https://doi.org/10.36986/impj.v2i2.33
57
Indonesian Mining Professionals Journal Volume 2, Nomor 2, November 2020 : 57 - 64
ABSTRACT
Meskipun demikian, beberapa perusahaan dan
lembaga sudah mulai merintis proyek gasifikasi
termasuk underground coal gasification di beberapa
lokasi di Indonesia.
Four coal samples from Muara Wahau has been studied to
investigate the thermal characteristics by mean of
thermogravimetric analysis (TGA). The thermal behavior is
important to simulate the coal during coalification in nature,
artificial coalification, and coal beneficiations including
gasification and liquefaction. Proximate, ultimate and
petrographical analyses were performed to identify the
composition of the coal samples. Petrographical analysis
revealed the coal samples contain varying inertinite
maceral from 6% to 18% (v/v). Thermogravimetric analysis
showed that the higher inertinite maceral content, the
lesser coal reactivity. It imply that the maceral does not
undergo significant evolution during heating. The coal with
high inertinitte content might be, therefore, not suitable for
utilization which require high coal reactivity such as
gasification or liquefaction.
Pemanfaatan batubara secara non-konvensional
dapat menjadi salah satu opsi yang menarik untuk
mendukung pasokan energi nasional. Hal ini
disebabkan
pemanfaatan
batubara
termal
konvensional terus mendapatkan ancaman terutama
terkait dengan isu lingkungan, sementara kebutuhan
energi nasional terus meningkat dari tahun ke tahun.
Masih sedikitnya pemanfaatan batubara nonkonvensional yang lebih ramah lingkungan dengan
demikian memberikan tantangan dan peluang untuk
mengembangkannya ke depan.
Pengembangan diversifikasi pemanfaatan batubara
secara non-konvensional memerlukan studi yang
lebih detil. Karakterisasi batubara yang diperlukan
tidak sebatas pada kandungan kalori, komposisi
proksimat, atau analisis umum yang lain, namun juga
memerlukan pendekatan lanjut yang lebih
komprehensif. Pada studi ini dilakukan investigasi
pengaruh komposisi batubara terhadap perilaku
termal selama proses pemanasan. Perilaku termal
dapat memberikan masukan untuk menentukan jenis
pemanfaatan batubara yang paling optimal.
Komposisi batubara ditentukan dengan analisis
proksimat, ultimat, dan petrografi untuk menentukan
kandungan maseral. Perilaku termal diidentifikasi
dengan menggunakan perangkat thermogravimetric
analysis (TGA).
PENDAHULUAN
Batubara umumnya dimanfaatkan karena kandungan
panasnya, baik dengan pembakaran konvensional
secara langsung maupun jenis-jenis pemanfaatan
non-konvensional melalui proses gasifikasi dan
pencairan. Pemanfaatan batubara domestik paling
besar saat ini adalah sebagai batubara termal yang
dibakar secara konvensional, yaitu mencapai sekitar
71% untuk PLTU (99 juta ton) (Ditjen Minerba,
2020). Selain itu batubara juga dimanfaatkan di
pabrik-pabrik semen, tekstil, baja, smelter, dan
sebagainya dengan jumlah yang lebih sedikit.
Pemanfaatan batubara secara non-konvensional
seperti gasifikasi dan pencairan pada saat ini masih
belum dilakukan dalam skala besar di industri.
Gambar 1. Lokasi penelitian dan titik-titik sampel pada seam batubara.
58
Indonesian Mining Professionals Journal Volume 2, Nomor 2, November 2020 : 57 - 64
KONDISI GEOLOGI
standar ASTM D3178, D3179, dan D4239. Analisis
kandungan kalori mengikuti standar ASTM D2015.
Analisis proksimat, ultimat, dan kandungan kalori
dilaksanakan di Puslitbang Tekmira, Bandung.
2. Analisis Maseral
Analisis maseral mengikuti metode yang telah
dideskripsikan oleh Taylor dkk. (1998). Partikel
batubara yang berukuran <1 mm dicetak dalam
resin dan kemudian dipoles. Pengamatan maseral
menggunakan mikroskop Zeiss Axio Imager A2m
di Laboratorium Mineralogi, Mikroskopi, dan
Geokimia, Institut Teknologi Bandung. Identifikasi
maseral menggunakan nomenklatur menurut
sistem ICCP 1994.
3. Analisis Termogravimetri
Thermogravimetric analysis (TGA) merupakan
analisis untuk mengetahui kehilangan massa
sampel selama proses pemanasan. Semakin cepat
dan banyaknya kehilangan massa selama analisis
mengindikasikan material sampel yang lebih reaktif
(Bryers, 1995; Zhao dkk., 2011). Sekitar 25 mg
sampel yang sudah halus dimasukkan ke
perangkat TGA dengan medium nitrogen dan
aliran gas 20 ml/menit. Sampel dikondisikan
terlebih dahulu pada temperatur 40oC selama 1
menit. Kemudian sampel dipanaskan dengan laju
pemanasan 10oC/menit hingga mencapai
temperatur 815oC dan dikondisikan secara
isotermal selama 30 menit. Penurunan massa
selama proses pemanasan dicatat secara otomatis
oleh komputer untuk diolah dan diinterpretasikan
lebih lanjut. Analisis TGA dilakukan di National
Coal Institut, Oviedo, Spanyol.
Lokasi penelitian berada di Kecamatan Muara
Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan
Timur (Gambar 1a). Kecamatan Muara Wahau
termasuk dalam Cekungan Kutai yang merupakan
cekungan penting di Indonesia terkait dengan
potensi hidrokarbon.
Di daerah penelitian umumnya tersingkap Formasi
Muarawah (...truncated)