Analysis of Carbon Monoxide Gas Dilution on Horizontal Tunnel Front using Laboratory Scale Physical Model
Indonesian Mining Professionals Journal
Volume 1, Nomor 1, Bulan November 2019
https://jurnal.perhapi.or.id/impj
ISSN : 2714-8823 (Print); ISSN : -
ANALISIS DILUSI GAS KARBON MONOKSIDA PADA
PERMUKA KERJA TEROWONGAN HORIZONTAL
DENGAN MODEL FISIK SKALA LABORATORIUM
Analysis of Carbon Monoxide Gas Dilution on Horizontal Tunnel Front using
Laboratory Scale Physical Model
Addien Wisnu Harnoko1, Nuhindro Priagung Widodo1*, dan Ahmad Ihsan1
1 Program
Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung,
Bandung 40132, Jawa Barat, Indonesia
Artikel masuk :September 2019 , Artikel diterima : Oktober 2019, Atikel terbit : November 2019
Kata kunci:
ventilasi,
dilusi,
karbon
monoksida,
koefisien
difusi,
turbulen
Keywords:
Ventilation,
dilution,
carbon
monoxide,
diffusion
coefficient,
turbulent
ABSTRAK
Potensi bahaya yang sering terjadi pada terowongan bawah tanah adalah gas berbahaya dan beracun, yaitu
salah satunya karbon monoksida (CO) yang dapat ditemukan pada terowongan bawah tanah misalnya
sebagai hasil dari peledakan tidak sempurna pada permuka kerja. Gas CO sangat beracun sehingga dapat
menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan menentukan persebaran gas CO saat dilakukan
pengenceran dengan ventilasi terowongan di permuka kerja horizontal. Penelitian ini dilakukan pada model
fisik laboratorium dengan perbandingan 1:10 dibandingkan terowongan sebenarnya, yaitu pada ukuran
penampang model di laboratorium 40 cm x 40 cm. Efektifitas pengenceran atau dilusi diindikasikan dengan
nilai koefisien difusi, dimana semakin besar koefisien difusi tersebut maka semakin tersebar konsentrasi gas
CO, sehingga semakin cepat penurunan konsentrasi gas CO tersebut. Parameter kondisi pengujian berupa
perbandingan jarak duct ke face (L/D) dan nilai bilangan Reynolds (Re) yang menunjukkan variasi kecepatan
udara pada permuka kerja terowongan. Hasil pengujian dari persebaran gas CO menunjukkan adanya
pengaruh konfigurasi jarak forcing duct maupun exhausting duct pada front kerja terhadap dilusi gas CO.
Selain itu dalam penelitian ini juga didapatkan pengaruh bilangan Reynolds terhadap nilai koefisien difusi,
yaitu semakin besar nilai Re maka nilai E juga semakin besar.
ABSTRACT
Potential hazards that often occur in underground tunnels are dangerous and toxic gases, one of which is
carbon monoxide (CO) which can be found in underground tunnels for example as a result of imperfect
detonation on work surfaces. CO gas is very poisonous so it can cause death. This study aims to determine
the spread of CO gas when diluting with tunnel ventilation in the horizontal front. This research was conducted
on a physical model of the laboratory with a ratio of 1:10 compared to the actual tunnel, that is at the cross
section of the model in the laboratory 40 cm x 40 cm. The effectiveness of dilution or dilution is indicated by
the value of the diffusion coefficient, where the greater the diffusion coefficient, the more diffused the CO gas
concentration, so the faster the CO gas concentration decreases. The parameters of the test conditions are
the ratio of the duct to face distance (L/D) and the Reynolds number (Re) which shows the variation of air
velocity in the tunnel work surface. Test results from the distribution of CO gas showed the influence of the
configuration of the forcing duct and exhausting duct distances on the working front to the CO gas dilution. In
this study also found the influence of Reynolds numbers on the value of the diffusion coefficient, that the
greater the value of Re, the greater the value of E.
*Penulis Koresponden:
Doi :
36
Indonesian Mining Professionals Journal Volume 1, Nomor 1, Bulan November 2019
PENDAHULUAN
Terowongan bawah tanah memiliki risiko bahaya yang
lebih besar dibandingkan dengan terowongan terbuka,
dikarenakan keterbatasan kondisi maupun lokasi kerja
yang terbatas pada terowongan bawah tanah. Pada
terowonganan bawah tanah, potensi bahaya dari
aktivitas yang dilakukan sangat tinggi, sehingga
keselamatan kerja haruslah menjadi perhatian utama
dalam pelaksanaan kegiatan penerowongan bawah
tanah.
Potensi bahaya yang sering terjadi pada terowongan
bawah tanah adalah gas berbahaya dan beracun, yaitu
salah satunya karbon monoksida (CO) yang sering
ditemukan pada terowongan bawah tanah. Gas ini
sangat beracun. Karbon monoksida memiliki
karakteristik yaitu tidak berwarna, tidak berasa, dan
tidak berbau, Karbon monoksida timbul akibat
pembakaran yang tidak sempurna, ledakan gas dan
debu, swabakar, kebakaran dalam terowongan,
peledakan (blasting), maupun pembakaran internal
pada mesin/peralatan terowongan lainnya.
Keberadaan gas karbon monoksida pasca kegiatan
peledakan pada developing drift selalu menjadi
perhatian penting, hal ini disebabkan gas karbon
monoksida yang belum sepenuhnya terdilusi dapat
menyebabkan keracunan para pekerja terowongan.
Karbon monoksida terbentuk dari pembakaran yang
tidak sempurna karena kurangnya kadar oksigen. Di
terowongan bawah tanah, gas ini timbul akibat emisi
gas buang pada mesin diesel atau gas sisa hasil
peledakan. Untuk bahan peledak Amonium Nitrat dan
Fuel Oil (ANFO), gas berbahaya akan dihasilkan
apabila reaksi kimia yang terjadi tidak pada kondisi zero
oksigen balance. Produk gas CO akan dihasilkan saat
reaksi peledakan pada kondisi bahan bakar berlebih.
Koefisien difusi untuk aliran turbulen oleh Taylor (1954)
diperkirakan dengan persamaan berikut:
πΈπ = 10.1 π
π’β²
(1)
π’β² =
βπ
βπ
= π’
βπ
(2)
β8
Untuk permukaan licin nilai friction factor dapat dicari
menggunakan persamaan Blasius:
π=
0.316
(3)
π
π 1/4
Keterangan: πΈπ = koefisien difusi aliran turbulen
(m2/s); R=jari β jari pipa jalur udara (m); u=kecepatan
rata - rata aliran udara (m/s); Ο=massa jenis (kg/m3); Ο
= tegangan geser (Pa); f=faktor friksi; Re=bilangan
Reynolds.
Dengan menggunakan prinsip pengujian Taylor (1954),
konsentrasi mengikuti kaidah distribusi Gaussian
menggunakan asumsi satu dimensi sesuai persamaan
berikut.
π
β(π₯βπ’π‘)2
πΆ(π₯, π‘) = 2π΄βππΈπ‘ exp(
4πΈπ‘
)
(4)
Keterangan: C(x,t)=konsentrasi tracer gas diposisi x
dan waktu t; V=volume gas awal (ml); A=luas
penampang pipa saluran (m2); E= koefisien difusi
(m2/s); u=kecepatan rata - rata aliran udara (m/s).
Penelitian ini diharapkan dapat memperkirakan nilai
koefisien difusi gas karbon monoksida (CO) pada
beberapa model ventilasi terowongan yang memiliki
bentuk bukaan persegi dengan posisi horisontal.
METODE
Sistem ventilasi yang baik diperlukan agar gas karbon
monoksida dapat terdilusi sepanjang jalur terowongan
bawah tanah dan gas segera dapat dikerluarkan dari
sistem ventilasi bawah tanah. Rancangan sistem
ventilasi yang baik serta mempertimbangkan laju difusi
gas karbon monoksida digambarkan melalui koefisien
difusinya. Koefisien difusi yang efektif diperlukan agar
kondisi aman dapat tercapai pada front kerja.
Sampel gas CO berasal dari pembakaran senyawa
hidrokarbon yang kemudian ditampung ke dalam wadah
kedap udara berukuran 1 liter. Selanjutnya (...truncated)