IDENTIFIKASI ZONA KAYA KOBALT PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DI INDONESIA

INDONESIAN MINING PROFESSIONALS JOURNAL, Apr 2021

Kebutuhan kobalt dunia meningkat secara signifikan dan diproyeksikan tahun 2030 akan mencapai 430 ribu ton seiring dengan peningkatan permintaan industri mobil listrik dan penerbangan. Saat ini, lebih dari 60% kebutuhan kobalt berasal dari tambang tembaga-kobalt di Afrika Tengah. Indonesia menyimpan sumberdaya kobalt dalam cebakan nikel-kobalt laterit berpotensi menjadi salah satu pemasok di masa depan jika tersedia fasilitas pengolahan bijih kobalt. Cebakan nikel-kobalt laterit merupakan produk pelapukan batuan ultrabasa dari kompleks ofiolit yang tersebar di Indonesia bagian timur. Pelapukan kimia batuan ultrabasa menghasilkan perlapisan profil laterit yang terdiri dari batuan dasar, saprolit, dan limonit. Ketebalan lapisan saprolit dan limonit dipengaruhi laju pengangkatan tektonik dan ketinggian muka air tanah, dimana seiring waktu pelapukan, laju pengangkatan tektonik rendah dan muka air tanah relatif tinggi akan menghasilkan lapisan saprolit yang relatif tebal. Berdasarkan evaluasi di Sulawesi, Halmahera, dan Papua Barat, konsentrasi tertinggi kobalt berada pada bagian bawah lapisan limonit antara 0,1-0,3%. Keberadaan kobalt pada zona ini berasosiasi dengan mineral-mineral Mn-oksida dengan jumlah sumberdaya keseluruhan mencapai 2,9 miliar ton. Hingga saat ini fasilitas pengolahan kobalt belum tersedia dan sebagian besar hanya mengekstraksi bijih nikel dari lapisan saprolite. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi untuk menyelamatkan bijih kobalt demi keberlangsungan industri pertambangan dan turunannya di masa depan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.perhapi.or.id/index.php/impj/article/download/35/40

IDENTIFIKASI ZONA KAYA KOBALT PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DI INDONESIA

IDENTIFIKASI ZONA KAYA KOBALT PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DI INDONESIA Nur Anbiyak1)* dan Tyas Cahyaningrum1) 1)Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Artikel masuk : 26-03-2021, Artikel diterima : 31-03-2021 _______________________________________________________ Kata kunci: kobalt, laterit, nikel Keywords: cobalt, laterite, nickel ABSTRAK Kebutuhan kobalt dunia meningkat secara signifikan dan diproyeksikan tahun 2030 akan mencapai 430 ribu ton seiring dengan peningkatan permintaan industri mobil listrik dan penerbangan. Saat ini, lebih dari 60% kebutuhan kobalt berasal dari tambang tembaga-kobalt di Afrika Tengah. Indonesia menyimpan sumberdaya kobalt dalam cebakan nikel-kobalt laterit berpotensi menjadi salah satu pemasok di masa depan jika tersedia fasilitas pengolahan bijih kobalt. Cebakan nikel-kobalt laterit merupakan produk pelapukan batuan ultrabasa dari kompleks ofiolit yang tersebar di Indonesia bagian timur. Pelapukan kimia batuan ultrabasa menghasilkan perlapisan profil laterit yang terdiri dari batuan dasar, saprolit, dan limonit. Ketebalan lapisan saprolit dan limonit dipengaruhi laju pengangkatan tektonik dan ketinggian muka air tanah, dimana seiring waktu pelapukan, laju pengangkatan tektonik rendah dan muka air tanah relatif tinggi akan menghasilkan lapisan saprolit yang relatif tebal. Berdasarkan evaluasi di Sulawesi, Halmahera, dan Papua Barat, konsentrasi tertinggi kobalt berada pada bagian bawah lapisan limonit antara 0,1-0,3%. Keberadaan kobalt pada zona ini berasosiasi dengan mineral-mineral Mn-oksida dengan jumlah sumberdaya keseluruhan mencapai 2,9 miliar ton. Hingga saat ini fasilitas pengolahan kobalt belum tersedia dan sebagian besar hanya mengekstraksi bijih nikel dari lapisan saprolite. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi untuk menyelamatkan bijih kobalt demi keberlangsungan industri pertambangan dan turunannya di masa depan. ______________________________________________________________________________________________________ Corresponding author: Doi : https://doi.org/10.36986/impj.v2i2.38 103 Indonesian Mining Professionals Journal Volume 2, Nomor 2, November 2020 : 103 - 110 ABSTRACT ton pada tahun 2030 (Alves Dias, Blagoeva, Pavel, & Arvanitidis, 2018). The world's cobalt demand will increase significantly and it is projected that by 2030 it will reach 430 thousand tons in line with the increasing demand for the electric car and aviation industry. Currently, more than 60% of cobalt demand comes from copper-cobalt mines in Central Africa. Indonesia stores cobalt resources in laterite nickel-cobalt deposits which have the potential to become a supplier in the future if a cobalt ore processing facility is available. Laterite nickel-cobalt deposits are weathering products of ultramafic rocks from ophiolite complexes that are scattered in eastern Indonesia. Chemical weathering of ultramafic rocks results in a laterite profile layer consisting of bedrock, saprolite and limonite. The thickness of the saprolite and limonite layers is influenced by the rate of tectonic uplift and the height of the groundwater level, where over time, the low tectonic uplift rate and the relatively high groundwater level will result in a relatively thick saprolite layer. the highest level of cobalt is at the bottom of the limonite layer between 0.1-0.3%. The presence of cobalt in this zone is associated with Mn-oxide minerals with a total resource of up to 2.9 billion tonnes. Until now, cobalt processing facilities are not available and most of them only extract nickel ore from saprolite layers. Therefore, conservation efforts are needed to save cobalt ore for the sustainability of the mining industry and its derivatives in the future. PENDAHULUAN Kobalt merupakan unsur logam utama yang diperlukan pembuatan baterai litium-ion pada industri mobil listrik. Seiring dengan tren dunia yang mengarah ke industri yang lebih ramah lingkungan, kebutuhan kobalt secara global juga meningkat secara signifikan dengan tingkat pertumbuhan sebesar 7-13 % per tahun hingga mencapai 390 ribu Saat ini, sebagian besar kobalt diproduksi dari cebakan tembaga-kobalt stratiform di bagian tengah Benua Afrika (Alves Dias et al., 2018). Selain tipe cebakan ini, kobalt juga ditemukan berasosiasi dengan cebakan nikel laterit tetapi umumnya dengan kadar yang lebih rendah. Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi nikel-kobalt laterit terbesar di dunia, dengan jumlah sumber daya mencapai 2,9 miliar ton bijih atau setara dengan 4 juta ton logam kobalt (Badan Geologi, 2019). Tetapi hingga saat ini, sumberdaya kobalt belum dapat dimanfaatkan dengan optimal dikarenakan belum tersedianya fasilitas pengolahan dan pemurnian yang dapat memproduksi kobalt di dalam negeri (Prasetiyo, 2015). Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi terhadap sebaran kobalt pada cebakan nikel laterit sehingga dapat dilakukan upaya konservasi mineral secara optimal. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdeskriptif dan mengambil data-data sekunder yang bersumber dari laporan perusahaan pertambangan, laporan lembaga pemerintah, dan jurnal akademik. Untuk merepresentasikan karakteristik cebakan nikel laterit di Indonesia, tiga lokasi tambang nikel yang berada di Pulau Sulawesi, Pulau Halmahera, dan Papua Barat dipilih sebagai wilayah studi. Pemilihan wilayah studi didasarkan pada sebaran geografi, kondisi geologi, dan skala ukuran cebakan sehingga diasumsikan mewakili profil utama cebakan nikel laterit di Indonesia. Tinjauan Pustaka Pemilihan Studi Kasus Pengumpulan Data Analisis Kesimpulan Gambar 1. Diagram alir metode penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Cebakan nikel laterit merupakan produk pelapukan batuan basa-ultrabasa dan mengandung kadar nikel yang ekonomis untuk dieksploitasi. Batuan dasar nikel laterit, secara umum terdiri dari kelompok peridotit-dunit kompleks ofiolit dan/atau batuan basaultrabasa hasil intrusi komatiit dengan kadar nikel berkisar antara 0,2-0,4% Ni (Elias, 2002; Golightly & Paul, 1981). Secara umum, profil penampang nikel 104 laterit dapat dibagi menjadi tiga zona utama, yaitu batuan dasar yang berada di bagian bawah dan tersusun dari batuan basa-ultrabasa segar. Zona saprolit berkembang di atas batuan dasar dan tersusun dari fragmen-fragmen batuan dasar serta mineral Mg silikat yang kaya akan nikel. Selanjutnya, terbentuk lapisan limonit yang didominasi oleh mineral oksida besi dan manga, seperti goetit dan asbolan (Brand, 1998; Freyssinet, Butt, Morris, & Piantone, 2005). Indonesian Mining Professionals Journal Volume 2, Nomor 2, November 2020 : 103 - 110 Brand (1998), membagi cebakan nikel laterit menjadi tiga tipe, yaitu: • cebakan oksida yang dicirikan oleh kehadiran mineral goetit yang dominan dan memiliki kdar nikel bervariasi antara 1,0 – 1,6% Ni; • cebakan Mg silikat hidrat, dicirikan oleh dominasi mineral Mg-Ni hidrat seperti garnierit • dan sepiolit serta mengandung kadar nikel rat (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.perhapi.or.id/index.php/impj/article/download/35/40
Article home page: https://jurnal.perhapi.or.id/index.php/impj/article/view/35/40

Nur Anbiyak, Tyas Cahyaningrum. IDENTIFIKASI ZONA KAYA KOBALT PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DI INDONESIA, INDONESIAN MINING PROFESSIONALS JOURNAL, 2021, pp. 103-110,