IDENTIFIKASI ZONA KAYA KOBALT PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DI INDONESIA
IDENTIFIKASI ZONA KAYA KOBALT
PADA CEBAKAN NIKEL LATERIT DI INDONESIA
Nur Anbiyak1)* dan Tyas Cahyaningrum1)
1)Direktorat
Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM,
Artikel masuk : 26-03-2021, Artikel diterima : 31-03-2021
_______________________________________________________
Kata kunci:
kobalt, laterit, nikel
Keywords:
cobalt, laterite, nickel
ABSTRAK
Kebutuhan kobalt dunia meningkat secara signifikan dan diproyeksikan tahun 2030
akan mencapai 430 ribu ton seiring dengan peningkatan permintaan industri mobil
listrik dan penerbangan. Saat ini, lebih dari 60% kebutuhan kobalt berasal dari
tambang tembaga-kobalt di Afrika Tengah. Indonesia menyimpan sumberdaya kobalt
dalam cebakan nikel-kobalt laterit berpotensi menjadi salah satu pemasok di masa
depan jika tersedia fasilitas pengolahan bijih kobalt. Cebakan nikel-kobalt laterit
merupakan produk pelapukan batuan ultrabasa dari kompleks ofiolit yang tersebar di
Indonesia bagian timur. Pelapukan kimia batuan ultrabasa menghasilkan perlapisan
profil laterit yang terdiri dari batuan dasar, saprolit, dan limonit. Ketebalan lapisan
saprolit dan limonit dipengaruhi laju pengangkatan tektonik dan ketinggian muka air
tanah, dimana seiring waktu pelapukan, laju pengangkatan tektonik rendah dan
muka air tanah relatif tinggi akan menghasilkan lapisan saprolit yang relatif tebal.
Berdasarkan evaluasi di Sulawesi, Halmahera, dan Papua Barat, konsentrasi
tertinggi kobalt berada pada bagian bawah lapisan limonit antara 0,1-0,3%.
Keberadaan kobalt pada zona ini berasosiasi dengan mineral-mineral Mn-oksida
dengan jumlah sumberdaya keseluruhan mencapai 2,9 miliar ton. Hingga saat ini
fasilitas pengolahan kobalt belum tersedia dan sebagian besar hanya mengekstraksi
bijih nikel dari lapisan saprolite. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi untuk
menyelamatkan bijih kobalt demi keberlangsungan industri pertambangan dan
turunannya di masa depan.
______________________________________________________________________________________________________
Corresponding author:
Doi : https://doi.org/10.36986/impj.v2i2.38
103
Indonesian Mining Professionals Journal Volume 2, Nomor 2, November 2020 : 103 - 110
ABSTRACT
ton pada tahun 2030 (Alves Dias, Blagoeva, Pavel, &
Arvanitidis, 2018).
The world's cobalt demand will increase significantly and it
is projected that by 2030 it will reach 430 thousand tons in
line with the increasing demand for the electric car and
aviation industry. Currently, more than 60% of cobalt
demand comes from copper-cobalt mines in Central Africa.
Indonesia stores cobalt resources in laterite nickel-cobalt
deposits which have the potential to become a supplier in
the future if a cobalt ore processing facility is available.
Laterite nickel-cobalt deposits are weathering products of
ultramafic rocks from ophiolite complexes that are
scattered in eastern Indonesia. Chemical weathering of
ultramafic rocks results in a laterite profile layer consisting
of bedrock, saprolite and limonite. The thickness of the
saprolite and limonite layers is influenced by the rate of
tectonic uplift and the height of the groundwater level,
where over time, the low tectonic uplift rate and the
relatively high groundwater level will result in a relatively
thick saprolite layer. the highest level of cobalt is at the
bottom of the limonite layer between 0.1-0.3%. The
presence of cobalt in this zone is associated with Mn-oxide
minerals with a total resource of up to 2.9 billion tonnes.
Until now, cobalt processing facilities are not available and
most of them only extract nickel ore from saprolite layers.
Therefore, conservation efforts are needed to save cobalt
ore for the sustainability of the mining industry and its
derivatives in the future.
PENDAHULUAN
Kobalt merupakan unsur logam utama yang
diperlukan pembuatan baterai litium-ion pada industri
mobil listrik. Seiring dengan tren dunia yang
mengarah ke industri yang lebih ramah lingkungan,
kebutuhan kobalt secara global juga meningkat
secara signifikan dengan tingkat pertumbuhan
sebesar 7-13 % per tahun hingga mencapai 390 ribu
Saat ini, sebagian besar kobalt diproduksi dari
cebakan tembaga-kobalt stratiform di bagian tengah
Benua Afrika (Alves Dias et al., 2018). Selain tipe
cebakan ini, kobalt juga ditemukan berasosiasi
dengan cebakan nikel laterit tetapi umumnya dengan
kadar yang lebih rendah. Indonesia merupakan salah
satu negara dengan potensi nikel-kobalt laterit
terbesar di dunia, dengan jumlah sumber daya
mencapai 2,9 miliar ton bijih atau setara dengan 4
juta ton logam kobalt (Badan Geologi, 2019). Tetapi
hingga saat ini, sumberdaya kobalt belum dapat
dimanfaatkan dengan optimal dikarenakan belum
tersedianya fasilitas pengolahan dan pemurnian
yang dapat memproduksi kobalt di dalam negeri
(Prasetiyo, 2015). Oleh karena itu, perlu dilakukan
identifikasi terhadap sebaran kobalt pada cebakan
nikel laterit sehingga dapat dilakukan upaya
konservasi mineral secara optimal.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdeskriptif dan mengambil data-data sekunder yang
bersumber dari laporan perusahaan pertambangan,
laporan lembaga pemerintah, dan jurnal akademik.
Untuk merepresentasikan karakteristik cebakan nikel
laterit di Indonesia, tiga lokasi tambang nikel yang
berada di Pulau Sulawesi, Pulau Halmahera, dan
Papua Barat dipilih sebagai wilayah studi. Pemilihan
wilayah studi didasarkan pada sebaran geografi,
kondisi geologi, dan skala ukuran cebakan sehingga
diasumsikan mewakili profil utama cebakan nikel
laterit di Indonesia.
Tinjauan Pustaka
Pemilihan Studi Kasus
Pengumpulan Data
Analisis
Kesimpulan
Gambar 1. Diagram alir metode penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Cebakan nikel laterit merupakan produk pelapukan
batuan basa-ultrabasa dan mengandung kadar nikel
yang ekonomis untuk dieksploitasi. Batuan dasar
nikel laterit, secara umum terdiri dari kelompok
peridotit-dunit kompleks ofiolit dan/atau batuan basaultrabasa hasil intrusi komatiit dengan kadar nikel
berkisar antara 0,2-0,4% Ni (Elias, 2002; Golightly &
Paul, 1981). Secara umum, profil penampang nikel
104
laterit dapat dibagi menjadi tiga zona utama, yaitu
batuan dasar yang berada di bagian bawah dan
tersusun dari batuan basa-ultrabasa segar. Zona
saprolit berkembang di atas batuan dasar dan
tersusun dari fragmen-fragmen batuan dasar serta
mineral Mg silikat yang kaya akan nikel. Selanjutnya,
terbentuk lapisan limonit yang didominasi oleh
mineral oksida besi dan manga, seperti goetit dan
asbolan (Brand, 1998; Freyssinet, Butt, Morris, &
Piantone, 2005).
Indonesian Mining Professionals Journal Volume 2, Nomor 2, November 2020 : 103 - 110
Brand (1998), membagi cebakan nikel laterit menjadi
tiga tipe, yaitu:
•
cebakan oksida yang dicirikan oleh kehadiran
mineral goetit yang dominan dan memiliki kdar
nikel bervariasi antara 1,0 – 1,6% Ni;
•
cebakan Mg silikat hidrat, dicirikan oleh
dominasi mineral Mg-Ni hidrat seperti garnierit
•
dan sepiolit serta mengandung kadar nikel
rat (...truncated)