Studi Empiris tentang Dampak Ketidakamanan Pekerjaan terhadap Niat Pindah Kerja di Kalangan Akuntan Pendidik di Perguruan Tinggi Indonesia
Vol. 1, No. 1 (Des, 2023)
Page 39-47
DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.10703148
Studi Empiris tentang Dampak Ketidakamanan Pekerjaan
terhadap Niat Pindah Kerja di Kalangan Akuntan Pendidik di
Perguruan Tinggi Indonesia
Roni Agus
Universitas Sriwijaya, Palembang
*Email :
ARTICLE INFO :
Keywords :
Turnover; Turnover Intentions;
Job Insecurity; Antecedent Job
Insecurity; Role Conflict; Role
Ambiguity; Locus Of Control;
Organizational Change
--------------------------Article History :
Received :2023-10-05
Revised : 2023-11-17
Accepted :2023-12-29
Online :2023-12-31
ABSTRACT
The purpose of this study was to re-examine the effect of the
antecedent job insecurity variable on turnover intentions, using
Ashford's (1989) research model approach and Ameen et al.'s (1995)
questionnaire instrument. The data were collected from 247 (24.7%)
academic accountants from universities in Indonesia through mail
questionnaires. The data was analyzed using the multivariate
technique of Structural Equation Model (SEM) with the programs
AMOS and SPSS. The study's results supported the hypothesis that role
conflict, locus of control, and organizational change had an effect on
job insecurity. However, role ambiguity failed to show a significant
effect on job insecurity. The study also found a direct effect of job
insecurity on turnover intentions. The study found that an individual's
perception and personality can lead to negative effects on job
insecurity and turnover intentions simultaneously. It also suggests that
academic accountants who feel insecure about their profession have a
great chance to explore alternative job opportunities..
PENDAHULUAN
Sumber daya manusia (SDM) merupakan aspek penting dalam sebuah organisasi. Seiring dengan
semakin meningkatnya perekonomian maka manusia dianggap sebagai modal (human capital) atau human
asset bagi perusahaan, berdasarkan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman. Akibat mahalnya
pengembangan human capital maka dibutuhkan nilai investasi yang signifikan oleh organisasi yang
mempekerjakannya (Gilbert 1970; Weiss. 1972).
Akibat nilai ekonomis yang tinggi pada manusia maka setiap organisasi akan berusaha untuk
mempertahankan sumber daya manusia (karyawan) miliknya yang potensial agar tidak terjadi perpindahan
(employee movement). Keluarnya karyawan (turnover) merupakan salah satu bentuk dari perpindahan,
perpindahan tersebut akibat reaksi yang terjadi karena perbedaan persepsi masing-masing individu.
Menurut Lee dan Mowday. (1987) turnover dapat terjadi karena keinginan karyawan itu sendiri atau
akibat lain seperti pemutusan hubungan kerja. Keinginan berpindah (turnover intentions) adalah salah satu
bentuk reaksi penyebab timbulnya turnover dan dapat mengarah langsung pada turnover nyata, orang akan
keluar dari pekerjaannya, meskipun belum mempunyai alternatif pekerjaan lain, dengan alasan reward,
keadilan (equity) dan rasa aman dari konflik-konflik yang terjadi di dalam organisasi.
Penelitian Arnold dan Fieldman (1982) menemukan bahwa masa kerja, kepuasan kerja, persepsi
keamanan kerja (job security), dan keinginan seseorang untuk mencari alternatif pekerjaan baru, memiliki
hubungan signifikan dengan turnover. Selanjutnya Carrel et. al., (1995) dalam Harif Amali (2001), menemukan
persepsi keamanan kerja (job security) yang rendah adalah salah satu penyebab turnover karyawan.
39
This is an open access article under the CC BY- SA license.
Corresponding Author : Roni Agus
Vol. 1, No. 1 (Des, 2023)
Page 39-47
DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.10703148
Beberapa penelitian terdahulu yang menguji faktor-faktor penyebab turnover telah dilakukan di
berbagai lingkungan, seperti akuntan pendidik (Ameen et al., 1995), akuntan publik (Poznanski dan Bline 1997;
Pasewark dan Strawser. 1996), internal auditor (Kalbers dan Fogarty 1995; Wayan. 2000), karyawan industri
kesehatan, perawat, dan staf keuangan non akuntan (Ashford et. al., 1989; Rasch dan Harrell. 1989).
Judge.(1993) menyatakan bahwa salah satu penyebab timbulnya keinginan berpindah (turnover
intentions) pada karyawan adalah pengaruh buruk dari pemikiran dysfunctional. Pengaruh tersebut timbul
karena terjadi konflik, perasaan tidak senang dan tidak puas terhadap lingkungan kerja yang dapat memicu
rasa tidak aman pada pekerjaan (job insecurity). Teori hirarki kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham
Maslow (1943b) dalam Miner (1979), menyatakan kebutuhan akan rasa aman (safety and security) merupakan
kebutuhan dasar bagi setiap individu. Setiap individu akan berusaha memenuhi kebutuhan itu sesuai menurut
persepsinya. Penelitian Greenhalgh dan Rosenblatt. (1984) berhasil merumuskan secara teoritis variabel job
insecurity sebagai variabel yang menggambarkan kebutuhan akan rasa aman pada lingkungan kerja.
Hasil penelitian Ashford et al. (1989) menunjukkan bahwa job insecurity berpengaruh langsung positif
terhadap turnover intention. Temuan tersebut secara konsisten di dukung oleh temuan penelitian Ameen et
al., (1995) di lingkungan akuntan pendidik Penelitian Pasewark dan Strawser.(1996) mencoba mengembangkan
penelitian Ashford et al., (1989) di lingkungan akuntan publik. Penelitian itu menemukan pengaruh tidak
langsung job insecurity terhadap turnover intentions melalui variabel outcomesnya. Di Indonesia hasil
penelitian yang dilakukan Suwandi dan Indriantoro (1999); Wayan. (2000) pada lingkungan staf akuntan publik
dan internal auditor, mendukung hasil temuan penelitian Ashford. et al., (1989).
Ashford et. al., (1989), mengidentifikasi bahwa terbentuknya job insecurity disebabkan antara lain
karena perbedaan persepsi dan kepribadian masing- masing individu, persepsi dan kepribadian merupakan
teori dasar konstruk bagi variabel pemicu (antecedent) job insecurity, variabel tersebut adalah role conflict,
role ambiquity, locus of control dan organizational changes.
Penelitian Ameen et al., (1995) dengan memodifikasi model Ashford menunjukkan variabel antecedent
job insecurity yaitu role conflict dan role ambiquity mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap turnover
intentions. Hasil penelitian tersebut menunjukkan implikasi, bahwa job insecurity dapat dieliminir dengan
mengurangi pengaruh negatif antecedent job insecurity.
Salah satu keterbatasan penelitian terdahulu adalah masih inkonsistennya hasil-hasil penelitian
mengenai pengaruh antecedent job insecurity terhadap job insecurity. Penelitian Ameen et al (1995),
Pasewark dan Strawser (1996), menunjukkan pengaruh positif role conflict terhadap job insecurity. Penelitian
Ashford et. al., (1989) dan Ameen et al., (1995) menunjukkan bahwa role ambiquity berpengaruh positif
terhadap job insecurity, sedangkan penelitian Pasewark dan Strawser. (1996), menolak hasil kedua penelitian
tersebut. Hasil penelitian Ashford et al.,(1989) menunjukan bahwa locus of control berpengaruh negatif
terhadap job insecurity.. Selanjutnya penelitian Ashford et al.,(1989) organizational changes berengaruh positif
terhadap job insecurity.
Penelitian ini bermaksud menguji ulan (...truncated)