Abnormal Audit Fee pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2022 dan Faktor yang Mempengaruhinya

Jurnal Rumpun Ilmu Ekonomi, Mar 2024

Abnormal audit fees are very relevant in Indonesia, because the amount of audit fees in Indonesia is still based on deliberations between the auditor and the client. Audit fees that deviate from what they should be either in a higher or lower amount are called abnormal audit fees. In previous research, abnormal audit fees influence economic uncertainty, corporate risk taking and managerial overconfidence. In this research, we will analyze these elements regarding abnormal audit fees in Indonesia by focusing on manufacturing companies listed on the IDX as the research object. By using a purposive sampling technique, 60 manufacturing companies were obtained on the Indonesia Stock Exchange (BEI) for the 2021-2022 period. Panel data regression is used in this research. The results of this research are that economic uncertainty and managerial overconfidence influence abnormal audit fees. Meanwhile, management risk taking does not affect abnormal audit fees.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://basecampecopubmed.com/index.php/jrie/article/download/12/12

Abnormal Audit Fee pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2022 dan Faktor yang Mempengaruhinya

Vol. 2, No. 1 (Mar, 2024) Page 48-65 DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.10797170 Abnormal Audit Fee pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2022 dan Faktor yang mempengaruhinya Miftha Huljannah Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru, Indonesia Email : Nasrullah Djamil Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru, Indonesia *Email : ARTICLE INFO : Keywords : Economic Uncertainty; Corporate Risk-Taking; Managerial Overconfidence; Abnormal Audit Fee --------------------------Article History : Received :2024-01-12 Revised : 2024-02-17 Accepted :2024-02-28 Online :2024-03-08 ABSTRACT Abnormal audit fees are very relevant in Indonesia, because the amount of audit fees in Indonesia is still based on deliberations between the auditor and the client. Audit fees that deviate from what they should be either in a higher or lower amount are called abnormal audit fees. In previous research, abnormal audit fees influence economic uncertainty, corporate risk taking and managerial overconfidence. In this research, we will analyze these elements regarding abnormal audit fees in Indonesia by focusing on manufacturing companies listed on the IDX as the research object. By using a purposive sampling technique, 60 manufacturing companies were obtained on the Indonesia Stock Exchange (BEI) for the 20212022 period. Panel data regression is used in this research. The results of this research are that economic uncertainty and managerial overconfidence influence abnormal audit fees. Meanwhile, management risk taking does not affect abnormal audit fees. PENDAHULUAN Ketidakpastiaan ekonomi akan selalu terjadi karena merupakan bagian alami dari system ekonomi dan bisnis. Adanya pandemic Covid-19 pada tahun 2019 silam merupakan salah satu dari bentuk ketidakpastiaan ekonomi yang menguncang Indonesia maupun dunia. Pasar keuangan global tentunya sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi, baik dilihat dari sudut pandang ekonomi ataupun statistikk(Smales, 2020). Menurut (Pástor & Veronesi, 2013) pertimbangan dari pengaruh ketidakpastiaan ekonomi terhadap biaya audit ialah ketidakpastiaan ekonomi menambahkan risiko pada perusahaan sehingga berdampak bagi biaya audit. Teori ekonomi klasik memberikn pandangan pengusaha bersedia mengambil risiki dan terus menerus mengejar keuntungan karena factor ketidakpastiaan eksternal. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Boubakri dkk yaitu kemauan perusahaan membayar harga yang lebih untuk mengejar keuntungan tergambar dalam tingkat pengambilan risiko. Lebih lanjut lagi terdapat peran manager dalam menggambil keputusan didalamnya. Berdasarkan Echelons, karakteristik manager (dalam hal ini berdasarkan pada kategori seperti riwayat pendidikan, jenis kelamin, latar belakang dan lain sebagainya) dapat mempengaruhi keputusan perusahaan yang secara langsung juga dampaknya pada kinerja perusahaan(Faccio et al., 2016). Studi lain juga memberi hasil bahwa 48 This is an open access article under the CC BY- SA license. Corresponding Author : Nasrullah Djamil Vol. 2, No. 1 (Mar, 2024) Page 48-65 DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.10797170 dampak dari kepercayaan manager yang berlebihan pada pemegang kepentingan eksternal adalah penetapan harga auditor terutama biaya audit tidak normal. Menurut dwiandra (2020) abnormal audit fee merupakan perbedaan antara biaya audit yang sesungguhnya yang dikeluarkan untuk membayar auditor dengan biaya audit normal yang diinginkan yang harus dibebankan untuk keterlibatan audit. Abnormal audit fee ini sangat relevan terjadi di Indoesia karena besaran fee audit di Indonesia masih berdasarkan pada musyawarah antara auditor dengan pihak klien (Gultom et al., 2021). Biaya abnormal audit positif adalah kondisi yang menggambarkan perhatian dan masukan tambahan dari auditor dalam melaksanakan audit, dan mungkin ini adalah kompensasi untuk biaya risiko yang lebih tinggi yang dibebankan oleh auditor. Sedangkan biaya abnormal negative adalah efek dari penawaran rendah sehingga bias menghemat biaya(Wang & Zhu, 2022) Pedoman Pengurus Nomor 2 Tahun 2016 telah mengurus terkait fee jasa audit laporan keuangan. Namun pedoman itu hanyalah menjadu panduan dalam penentuan imbalan jasa. Sehingga banyaknya audit fee yang dibebankan ke clien didasarkan pada negosiasi antara KAP dan perusahaan. Berdasarkan pengamatan Ftrian S (22023) mengenai berbagai biaya audit beberapa perusahaan manufaktur di BEI, terdapat beberapa perbedaan. Misalnya PT. Industrindo Tbk (ALKA) mengalami penurunan pada audit fee nya tahun 2021 sebesar 42,82 % dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, pada periode 2017-2021 PT. Steel Pipe Industry of Indonesia (ISSP) membayar biaya audit dengan jumlah yang sama sebanyak Rp 600.000.000. Dilihat dari fenomena variasi biaya audit di atas, tidak bias langsung disimpulkan bahwa hal tersebut merupakan biaya audit yang tidak normal karena biaya audit merupakan kesepakatan antara klien dan auditor. PT Tiga Pillar kembali gagal membayarkan bunga obligasi yang jatuh tempo per tanggal 19 Juli 2018 silam. Bunga tersebut adalah pembayaran ketujuh atas fee ijarah Sukuk Ijarah TPS Food II Tahun 2016. Utang yang jatuh tempo tersebut adalah senilai Rp 63,3 miliar dan per tanggal 16 Juli 2018 posisi kas dan setara kas perusahaan belum memadai untuk pembayarannya. (Septiadi,2018) Dilihat dari laporan keuangan pt tiga pilar fee audit yang dibayarkan pada tahun 2018 naik drastis yaitu sebesar Rp 1.350.000.000 dibandingkan tahun 2017 sebesar Rp 800.000.000. Kondisi ini tidak relevan dengan laporan International Federation of Accountants (2020) yang menyebutkan bahwa Klien yang menghadapi tekanan finansial tidak mampu untuk membayar biaya audit atau mengurangi biaya audit. Dengan demikian, secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa biaya audit yang dibayarkan oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk pada tahun 2018 merupakan abnormal audit fee. Djamil (2023) kasus lain adalah terbongkarnya manipulasi laporan keuangan yang di lakukan oleh PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Indikasi manipulasi laporan keuangan Waskita Karya dan Wijaya Karya tercium setelah bank curiga ada ketidaksesuaian tagihan pada saat restrukturisasi kredit dua perusahaan konstruksi pelat merah itu. Terungkapnya kasus ini yang terjadi jauh setelah laporan keuangan dua perusahaan itu terpampang di bursa harus menjadi perhatian tersendiri. (Tempo, 2023) Taktik manipulasi yang digunakan Waskita dan WIKA relatif sederhana. Mereka mengakali pembukuan dengan menyembunyikan setumpuk tagihan dari vendor sejak 2016. Raibnya liabilitas tersebut membuat beban utang menciut dan kondisi keuangan mereka seolah-olah sehat meski keduanya tengah terbelit kesulitan finansial. Pada 2020, WIKA disebut meraup laba bersih Rp 322 miliar, lalu raihan itu turun menjadi Rp 214 miliar. Waskita mencatatkan penurunan rugi bersih dari Rp 9,28 triliun pada 2020 menjadi Rp 1,67 triliun pada 2022. Laporan keuangan se (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://basecampecopubmed.com/index.php/jrie/article/download/12/12
Article home page: https://basecampecopubmed.com/index.php/jrie/article/view/12/12

Miftha Huljannah, Djamil Nasrullah. Abnormal Audit Fee pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2021-2022 dan Faktor yang Mempengaruhinya, Jurnal Rumpun Ilmu Ekonomi, 2024, pp. 48-65,