Pertunjukan Pantomim ”diskriminasi bagai gelap” oleh Kelompok Gerkatin Cabang Makassar Analisis Representasi Sosial Teman Tuli
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
(JISHS) Vol. 2 No. 4 Juli - September 2024 Hal. 686-701
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Pertunjukan Pantomim ”diskriminasi bagai gelap” oleh Kelompok
Gerkatin Cabang Makassar Analisis Representasi Sosial Teman Tuli
Sulfiana Mansyur Putria. Fajrin Bb
Prodi Seni Teater, Fak Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Embrio Intstitut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Selawesi Selatan Jl. Sombabella, Kec. Pattallassang, Kabupaten Takalar,
Sulawesi Selatan 90615.
Email: ,
Abstrack
Staging Dark Discrimination represents the social life of deaf friends seen through the values of life practiced. The values
practiced are: social values, religious values, and moral values. Through the Dark Discrimination show, it will be described
in relation to the formulation of the problem: the dramatic structure of the Dark Discrimination show, as well as the deaf
friends' social representations presented in the Dark Discrimination show. The process of elucidating the problems of the
deaf friends' social lives is first described as a Dark Discrimination show. Next is Gustav Freytag's dramatic structural
theory for dissecting the dramatic structure of the Dark Discrimination show. The theory used to analyze social
representation is the theory of construction and cultural reproduction of Irwan Abdullah. This interpretive qualitative
research method will use qualitative data obtained from the video documentation of the Dark Discrimination Show, while
the data collection used is the study of documentation, literature, and interviews.
The Dark Discrimination Show is a social representation of deaf friends, and the figures presented by deaf friends represent
the image of the people in Makassar. The picture of the deaf friend's social life as outlined in Dark Discrimination through
forms of representation from the social, economic and religious aspects that we can see from the values of their daily
practices. Values that are practiced and expressed in the show are: Social values, religious values, and moral values. The
values which are each illustrated through the figure of the Deaf in Dark Discrimination. Starting from the sensitivity of deaf
friends to the community, triggering deaf friends in making the work of Dark Discrimination. The sensitivity of deaf friends
is reflected in the dramatic structure of the Dark Discrimination show that practiced values are closely related to deaf
friends' behavior.
Keywords: deaf friends, Dark Discrimination shows, pantomime, sosial representation.
Abstrak
Pementasan Diskriminasi Bagai Gelap merepresentasikan kehidupan sosial teman tuli yang dilihat melalui nilai-nilai
kehidupan yang dipraktikkan. Nilai-nilai yang dipraktikkan yakni: nilai sosial, nilai religius, dan nilai moral. Melalui
pertunjukan Diskriminasi Bagai Gelap, akan diuraikan terkait dengan rumusan masalah: struktur dramatik pertunjukan
Diskriminasi Bagai Gelap, serta representasi sosial teman tuli yang dihadirkan dalam pertunjukan Diskriminasi Bagai
Gelap. Proses menguraikan permasalah kehidupan sosial teman tuli, terlebih dahulu dideskripsikan pertunjukan
pertunjukan Diskriminasi Bagai Gelap. Selanjutnya teori struktur dramatik Gustav Freytag untuk membedah struktur
dramatik pertunjukan Diskriminasi Bagai Gelap. Teori yang digunakan untuk menganalisis representasi sosial yaitu
teori konstruksi dan reproduksi kebudayaan Irwan Abdullah. Metode penelitian kualitatif interpretatif ini akan
menggunakan data-data dari kualitatif yang diperoleh dari video dokumentasi pertunjukan Diskriminasi Bagai Gelap,
sedangkan pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumentasi, pustaka, dan wawancara.
Pertunjukan Diskriminasi Bagai Gelap merupakan representasi sosial teman tuli, dan tokoh-tokoh yang dihadirkan
teman tuli mewakili gambaran masyarakat di kota Makassar. Gambaran kehidupan sosial teman tuli yang dituangkan
dalam Diskriminasi Bagai Gelap melalui bentuk-bentuk representasi dari aspek sosial, ekonomi dan agama yang dapat
kita lihat dari nilai-nilai praktik keseharian mereka. Nilai-nilai yang dipraktikkan dan tertuang dalam pertunjukan
yakni: Nilai sosial, Nilai religious, dan Nilai moral. Nilai-nilai Yang masing-masing tergambarkan melalui sosok tokoh
tuli dalam Diskriminasi Bagai Gelap.Berawal dari kepekaan teman tuli terhadap masyarakat, memicu teman tuli dalam
membuat karya Diskriminasi Bagai Gelap. Kepekaan teman tuli tercermin dalam struktur dramatik pertunjukan
Diskriminasi Bagai Gelap bahwa nilai-nilai yang dipraktikkan erat kaitannya dengan perilaku teman tuli.
Kata kunci: teman tuli, pertunjukan Diskriminasi Bagai Gelap, pantomim, representasi sosial
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International
license
Jurnal Ilmu Sosial,Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.02 No. 04 Juli -September 2024
686
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
(JISHS) Vol. 2 No. 4 Juli - September 2024 Hal. 686-701
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
PENDAHULUAN
Pantomim sebagai seni pertunjukan yang diungkapkan melalui ciri-ciri dasarnya, yakni ketika orang
melakukan gerak isyarat atau secara umum bahasa bisu seperti yang terlihat dalam pertunjukan Diskriminasi
Bagai Gelap. Bahasa gerak sang pantomimer adalah universal; menjalankan ekspresi emosi yang serupa
diantara berbagai ras umat manusia. Pantomim merupakan pertunjukan teatrikal dalam sebuah permainan
dengan bahasa gerak (Aubert, 1970:3). Dengan demikian pantomim merupakan seni pertunjukan yang lebih
mengutamakan gerak tubuh, wajah ekspresi melalui bahasa isyarat. Sehingga pantomim teman tuli dalam
Diskriminasi Bagai Gelap merupakan seni pertunjukan tanpa media kata (verbal) bahkan tanpa suara apapun.
Pantomim merupakan suatu seni pertunjukan yang cenderung bisu dengan kekuatannya bukan pada
kata-kata tetapi bahasa dengan tubuh yang penuh maknawiyah. Bakdi soemanto dalam buku wajah pantomim
Indonesia menegaskan bahwa Pertunjukan pantomim adalah sebuah pertunjukan yang tidak menggunakan
bahasa verbal, yang artinya pertunjukan bisu (Iswantara, 2007:1). Pertunjukan pantomim mengoptimalkan
ekspresi dan tubuh sebagai media utama dalam menyampaikan pesan dan perasaan. Nur iswantara
mengamati pertunjukan pantomim Marceau melalui karakter BIP yang identik dengan wajah putih,
membatasi karyanya sebagai seni untuk mengekspresikan perasaan melalui bahasa tubuh (Iswantara, 2007:3).
Sejalan dengan pernyataan tersebut maka ditemukan persamaan antar seni pantomim dan teknik komunikasi
teman tuli yaitu menggunakan bahasa isyarat dalam menyampaikan pesan.
Pantomim menggunakan tubuh dan ekspresi dalam mengoptimalkan penyampaian pesan kepada
penonton. Sejalan dengan hal itu teman tuli dalam berkomonikasi menggukanan komunikasi nonverbal untuk
menjembatani proses komunikasi mereka, meliputi cara berkomunikasi dengan menggukanakan bahasa
tubuh, gestur, mimik, dan isyarat baik itu baku maupun ilmiah (Wasita, 2014:33). Teman tuli beru (...truncated)