Analisis Perbandingan Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap pada Lingkungan PT. RAPP
Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material
Darmawan, Rahmaniar & Wibowo, Vol. 8, No. 2, November 2024, Hal: 161-174
e-ISSN: 2579-7433
Analisis Perbandingan Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan
Pembangkit Listrik Tenaga Uap pada Lingkungan PT. RAPP
1)
*Satria Darmawan, 2)Rahmaniar, 3)Pristisal Wibowo
1,2,3)
Program Studi Teknik Elektro, Universitas Pembangunan Panca Budi, Jl. Jend. Gatot Subroto
Km. 4,5 Sei Sikambing 20122, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia
*Email: *, ,
Diterima: 29.09.2024, Disetujui: 20.10.2024, Diterbitkan: 25.10.2024
ABSTRACT
This study compares the performance of Solar Power Plants (PLTS) and Steam Power Plants (PLTU)
at PT. RAPP. The methods used include daily energy production data collection, environmental
observation, and statistical analysis to assess the efficiency and performance of both systems. The
analysis reveals that PLTS has high efficiency in converting solar energy into electricity but experiences
reduced efficiency due to module PV and inverter malfunctions in Phase 3. Meanwhile, the Dual Fuel
Line 2 PLTU achieves a thermal efficiency of 43.24%, with biomass as the primary fuel, which reduces
carbon emissions but still requires natural gas for stability. PLTS excels in environmental sustainability
and lower operational costs, whereas PLTU offers more stable and substantial production capacity.
Recommendations include repairing the PLTS system, expanding the project, investing in technology,
and managing PLTU emissions for a more efficient and sustainable energy solution at PT. RAPP.
Keywords: Solar Power Plant, Steam Power Plant, Conversion, Electricity, Energy
ABSTRAK
Penelitian ini membandingkan kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik
Tenaga Uap (PLTU) di PT. RAPP. Metode yang digunakan mencakup pengumpulan data produksi
energi harian, pengamatan lingkungan, dan analisis statistik untuk menilai efisiensi dan kinerja kedua
sistem. Hasil analisis menunjukkan bahwa PLTS memiliki efisiensi tinggi dalam mengonversi energi
matahari menjadi listrik, namun mengalami penurunan efisiensi akibat kerusakan modul PV dan inverter
pada Fase 3. Sementara itu, PLTU Dual Fuel Line 2 mencapai efisiensi termal 43,24% dengan biomassa
sebagai bahan bakar utama, mengurangi emisi karbon tetapi masih memerlukan gas alam untuk
stabilitas. PLTS unggul dalam keberlanjutan lingkungan dan biaya operasional, sedangkan PLTU
menawarkan kapasitas produksi yang lebih stabil. Rekomendasi mencakup perbaikan sistem PLTS,
ekspansi proyek, investasi teknologi, dan pengelolaan emisi PLTU untuk solusi energi yang lebih efisien
dan berkelanjutan di PT. RAPP.
Kata Kunci: PLTS, PLTU, Konversi, Listrik, Energi
I.
Joule/tahun yang setara dengan 10.000 kali
penggunaan energi di seluruh dunia (Rahmaniar
et al., 2023). Indonesia merupakan negara
tropis yang memiliki tingkat radiasi matahari
harian yang cukup tinggi rata-rata yaitu 4,5
kWh. Ketersediaan ini dapat dimanfaatkan
sebagai modal utama pembangkitan Listrik
(Harahap et al., 2024). Panel surya biasanya
dipasang di atap bangunan atau di lahan terbuka
dengan paparan sinar matahari yang optimal
(Hidayatullah & Styawati, 2024). Pada
Pembangkit listrik tenaga surya timbul setelah
melalui proses konversi energi matahari dengan
beberapa tahap yang pertama adalah adanya
Pendahuluan
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah
sistem pembangkit listrik yang menghasilkan
listrik dengan menggunakan energi terbarukan
matahari (Rajagukguk et al., 2023) dan paling
mudah untuk ditemukan (Tarigan et al., 2022) .
PLTS memanfaatkan teknologi panel surya
yang terdiri dari sel surya fotovoltaik (PV)
untuk menangkap energi matahari dan
mengubahnya menjadi listrik yang dapat
digunakan (Lestari et al., 2021). Sumber energi
dengan potensi tertinggi terletak pada energi
matahari, dengan pasokan sebesar 3 x 10²⁴
-161-
Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material
Darmawan, Rahmaniar & Wibowo, Vol. 8, No. 2, November 2024, Hal: 161-174
Panel surya menangkap sinar matahari yang
jatuh ke permukaannya. Setiap sel surya di
dalam panel surya mengandung bahan
semikonduktor yang menghasilkan arus listrik
saat terkena sinar matahari (Panulisan et al.,
2023). Kedua, Energi cahaya matahari diubah
menjadi energi listrik melalui efek fotovoltaik
di dalam sel surya.
e-ISSN: 2579-7433
Peningkatan
kesadaran
akan
masalah
lingkungan dan perubahan iklim telah
mendorong banyak negara dan daerah,
termasuk Riau, untuk mengambil tindakan
untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Proses ini melibatkan perpindahan elektron di
dalam bahan semikonduktor, menghasilkan
arus listrik sepanjang sikuit terhubung.
Selanjutnya, Arus yang muncul bisa digunakan
untuk kebutuhan listrik saat itu atau disimpan
dalam baterai untuk digunakan pada saat
dibutuhkan. Beberapa sistem PLTS juga
terhubung dengan jaringan listrik umum
(Hasibuan et al., 2023), di mana listrik yang
tidak digunakan dapat disalurkan ke grid untuk
digunakan oleh orang lain dan bisa
mendapatkan kompensasi dari penyedia listrik.
Wilayah Riau, di mana PT. RAPP beroperasi,
mungkin memiliki potensi sinar matahari yang
melimpah sepanjang tahun, membuatnya
menjadi lingkungan yang cocok untuk
pengembangan PLTS. Analisis kinerja PLTS
dapat membantu perusahaan memahami potensi
dan tantangan dari investasi ini. Kemajuan
dalam teknologi PLTS dan penurunan biaya
panel surya mungkin telah membuat opsi ini
lebih menarik bagi PT. RAPP. Analisis kinerja
PLTS dapat membantu perusahaan memahami
potensi dan keterbatasan dari teknologi terkini
dalam konteks operasional mereka.
Gambar 2. Energi Baru Terbarukan (EBT)
2020
Penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT)
yang terus meningkat setiap tahun merupakan
indikasi positif dalam pergeseran menuju
sumber energi yang lebih berkelanjutan dan
ramah lingkungan. Dengan terus berkembang
jaman dari tahun ke tahun membuat energi terus
ikut berkembang dan terus diperbaharui demi
menjaga lingkungan yang aman dan asri.
Teknologi untuk pembangkit listrik dari sumber
EBT semakin berkembang dan menjadi lebih
efisien dari waktu ke waktu. Inovasi dalam
penyimpanan energi, konversi, dan distribusi
memungkinkan pemanfaatan EBT menjadi
lebih praktis dan terjangkau. Kesadaran
bersama akan bakar fosil yang sudah mulai
habis dan sulit untuk digapai sehingga
mendorong permintaan akan sumber energi
yang bersih dan berkelanjutan seperti energi
surya, angin, dan hidro. Dengan berbagai faktor
ini bekerja sama, penggunaan EBT terus
meningkat setiap tahun, membantu mengurangi
ketergantungan pada bahan bakar fosil dan
mempercepat transisi menuju sistem energi
yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Gambar 1. Sign Smart Kemen LHK RI
-162-
Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material
Darmawan, Rahmaniar & Wibowo, Vol. 8, No. 2, November 2024, Hal: 161-174
e-ISSN: 2579-7433
analisis statistik untuk mengevaluasi efisiensi
konversi energi surya menjadi listrik dan
menentukan sejauh mana PLTS memenuhi
kebutuhan energi PT. RAPP. Penelitian ini juga
menca (...truncated)