Strategi Tata Kelola Kolaboratif Dalam Meningkatkan Motivasi Pelayanan Publik: Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional Dan Kualitas Relasional.
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 12– Nomor 2, November 2024, (Hlm 154-174)
DOI 10.34010/agregasi.v12i2.14017
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
Strategi Tata Kelola Kolaboratif Dalam Meningkatkan Motivasi Pelayanan
Publik: Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional Dan Kualitas
Relasional.
Neni Nurhayati 1) *, Hadri Kusuma 2) , Arief Rahman 3)
1,2,3 Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Jalan Pawirokuat Ring Road
Utara Condongcatur, Depok Sleman Yogyakarta 55283.
* Korespondensi Penulis. E-mail: , Telp: +6281221661190
Abstrak
Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis model teoritis untuk mengembangkan
model penelitian empiris tentang faktor-faktor yang memengaruhi tata kelola kolaboratif dan
motivasi pelayanan publik. Metode analisis menggunakan SEM PLS dengan jumlah responden 367
orang. Semua pertanyaan yang menyangkut data penelitian telah teruji validitas dan reabilitasnya
serta telah memenuhi pengujian common method bias dan nonresponse bias. Analisis yang
disajikan terdiri dari tiga bagian, yaitu analisis responden penelitian, analisis deskriptif data
penelitian dan analisis PLS. Hasil menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan
kualitas relasional berpengaruh signifikan pada tata kelola kolaboratif. Tata kelola kolaboratif
juga memengaruhi motivasi pelayanan publik, dengan gaya kepemimpinan transformasional dan
kualitas relasional berperan penting. Implikasi praktis penelitian ini pada penekanan tata kelola
kolaboratif sektor publik dengan pentingnya gaya kepemimpinan dan kualitas relasional yang
kuat sehingga motivasi pelayanan publik dapat berjalan maksimal melalui tata kelola kolaboratif
yang berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kata kunci: tatakelola kolaboratif, motivasi pelayanan publik, kepemimpinan transformasional,
kualitas relasional
COLLABORATIVE GOVERNANCE STRATEGY IN IMPROVING PUBLIC SERVICE MOTIVATION:
THE ROLE OF TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP STYLE AND RELATIONAL QUALITY
Abstract
The main objective of this study is to analyze theoretical models to develop empirical
research models on factors that influence collaborative governance and public service motivation.
The analysis method uses SEM PLS with 367 respondents. All questions related to research data have
been tested for validity and reliability and have met the common method bias and nonresponse bias
tests. The analysis presented consists of three parts, namely analysis of research respondents,
descriptive analysis of research data and PLS analysis. The results show that transformational
leadership style and relational quality have a significant effect on collaborative governance.
Collaborative governance also affects public service motivation, with transformational leadership
style and relational quality playing an important role. The practical implications of this study are
the emphasis on collaborative governance in the public sector with the importance of strong
leadership style and relational quality so that public service motivation can run optimally through
effective and sustainable collaborative governance.
Keywords: collaborative governance, public service motivation, transformational leadership,
relational quality
Copyright © 2024, Jurnal Agregasi, ISSN: 2337-5299 (Print), ISSN: 2579-3047 (Online)| 154
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 12– Nomor 2, November 2024, (Hlm 154-174)
DOI 10.34010/agregasi.v12i2.14017
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
PENDAHULUAN
Tuntutan masyarakat saat ini
menuntut layanan publik yang cepat,
mudah, dan terjangkau. Pemerintah harus
beradaptasi untuk memberikan layanan
yang cepat, transparan, dan disesuaikan
dengan masyarakat yang dinamis (Syah,
2024). Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2009 mendefinisikan layanan publik
sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan
layanan warga negara dan penduduk
terhadap barang, jasa, dan bantuan
administratif sebagaimana diamanatkan
oleh peraturan perundang-undangan.
Undang-Undang ini bertujuan untuk
menjaga
kualitas
layanan
publik,
menjembatani hubungan masyarakatpemerintah (Nurmandi dkk., 2023), dan
meningkatkan transparansi, keadilan,
partisipasi masyarakat, penanganan
pengaduan, dan akuntabilitas pemerintah
(Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009).
Kualitas layanan publik di Indonesia
masih tergolong rendah. Ombudsman
Jawa Barat mencatat peningkatan laporan
maladministrasi pada 2021, seperti
keterlambatan (38,67%), penolakan
layanan (18,67%), dan penyimpangan
(12%) (Budianto, 2022). Ketidakpuasan
publik terlihat dari penurunan skor Survei
Kepuasan Masyarakat pada 2022
dibanding tahun sebelumnya. Penelitian
menunjukkan
rendahnya
kepuasan
layanan publik di berbagai kota, buruknya
koordinasi dalam kasus kesehatan, dan
indikasi korupsi (Jamaluddin, 2016;
Yusriadi & Tinggi, 2017). Masalah lain
mencakup perizinan lambat, diskriminasi,
dan kompleksitas birokrasi (Dwimawanti,
2024; Wakhid, 2017).
Sejumlah penelitian menyoroti
solusi untuk meningkatkan kualitas
pelayanan
publik.
Penelitian
menunjukkan bahwa reformasi birokrasi
diperlukan untuk memperbaiki kualitas
layanan publik (Yusriadi & Tinggi, 2017),
serta
peningkatan
komitmen,
pengawasan, sumber daya, dan EGovernment (Anam & Anwar, 2020;
Heriyanto, 2022; Wakhid, 2017). Perubahan
sikap dan perilaku aparatur pemerintah
juga dibutuhkan (Dwimawanti, 2024).
Sebagian besar solusi berfokus pada
perbaikan struktur birokrasi, proses, dan
pengembangan SDM, namun kurang
memperhatikan
motivasi
pelayanan
publik.
Laporan World Bank (2017)
menyoroti rendahnya motivasi pelayanan
publik sebagai tantangan utama dalam
meningkatkan kualitas layanan publik dan
menekankan pentingnya mendorong
motivasi pelayanan publik yang tinggi.
Penelitian lain oleh Nofal et al., (2022)
juga menunjukkan bahwa rendahnya
motivasi pelayanan publik menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan kurang
optimalnya layanan publik. Dalam upaya
meningkatkan kualitas layanan publik di
Indonesia, motivasi pelayanan publik
harus
menjadi
prioritas
utama
dibandingkan
solusi
lain
seperti
peningkatan infrastruktur atau teknologi
saja (Rillia, 2023).
Motivasi
pelayanan
publik
didefinisikan sebagai dorongan yang
Copyright © 2024, Jurnal Agregasi, ISSN: 2337-5299 (Print), ISSN: 2579-3047 (Online)| 155
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 12– Nomor 2, November 2020, (Hlm 154-174)
DOI 10.34010/agregasi.v12i2.14017
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
mendorong pekerja atau pegawai untuk
memberikan pelayanan terbaik kepada
publik (Perry & Recascino, 1990). Konsep
yang diusung oleh Perry (1996) mengenai
motivasi pelayanan publik mencakup
empat dimensi esensial yang membentuk
Public
Service
Motivation
(PSM):
ketertarikan pada kebijakan publik,
komitmen pada kepentingan publik,
empati/kasih
sayang,
dan
sikap
pengorbanan diri. Keempat dimensi ini
menjadi landasan bagi motivasi individu
yang terlibat dalam (...truncated)