Collaborative Governance: Model Kolaborasi Tata Kelola Pariwisata Bahari Meko Di Desa Peldo Kabupaten Flores Timur
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 12– Nomor 2, November 2024, (Hlm 175-191)
DOI 10.34010/agregasi.v12i2.13285
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
Collaborative Governance: Model Kolaborasi Tata Kelola Pariwisata Bahari
Meko Di Desa Peldo Kabupaten Flores Timur
Mikael Thomas Susu1, Frans Bapa Tokan2, Yosef Dionisius Lamawuran3*
Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik
Widya Mandira
3 Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik
Widya Mandira
Jln. Jend. Ahmad Yani 50-52, Kota Kupang, NTT, 85225, Indonesia
* Korespondensi Penulis. E-mail: , Telp: +62082141705392
1,2Program
Abstrak
Kawasan perairan Meko berpeluang menjadi objek wisata unggulan di Kabupaten Flores
Timur. Namun ketersediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung dinilai belum optimal karena
sistem pengelolaan masih mengandalkan peran pemerintah Desa Pledo. Partisipasi kelompok
kepentingan lain seperti pemerintah Kabupaten dan pihak swasta belum diorganisir secara
maksimal. Tulisan ini bertujuan untuk menelisik faktor penghambat kolaborasi para pemangku
kepentingan sekaligus menawarkan model kolaborasi ideal dalam tata kelola pariwisata Meko.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data
dikumpulkan melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis
melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Masalah yang ditemukan dikaji
menggunakan konsep Collaborative Governance dari Ansell dan Gash yang mencakup dialog tatap
muka, membangun kepercayaan, pengembangan komitmen dan pemahaman bersama. Hasil
penelitian menemukan bahwa Collaborative Governance menjadi model kolaborasi ideal bagi
para pemangku kepentingan untuk mengurai permasalahan tata kelola sekaligus memberi
signifikasi terhadap transformasi wilayah perairan Meko sebagai destinasi wisata unggulan.
Kata Kunci: Collaborative Governance; Tata Kelola; Pariwisata; Meko.
Collaborative Governance: A Model Of Collaboration In The Governance Of
Tourism In Peldo Village In East Flores District
Meko Maritime
Abstract
Meko water area has the opportunity to become a leading tourist attraction in East Flores
Regency. However, the availability of infrastructure and supporting facilities is considered not
optimal because the management system still relies on the role of the Pledo Village government. The
participation of other interest groups such as the district government and the private sector has not
been organized optimally. This paper aims to examine the factors inhibiting stakeholder
collaboration while offering an ideal collaboration model in Meko tourism governance. This
research uses a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected
through interview, observation and documentation techniques, then analyzed through data
reduction, data presentation and conclusion drawing. The problems found were studied using the
concept of Collaborative Governance from Ansell and Gash which includes face-to-face dialog,
building trust, developing commitment and shared understanding. The results found that
Collaborative Governance is an ideal collaboration model for stakeholders to unravel governance
problems while giving significance to the transformation of the Meko water area as a leading tourist
destination.
Keywords: Collaborative Governance; Governance; Tourism; Meko.
Copyright © 2024, Jurnal Agregasi, ISSN: 2337-5299 (Print), ISSN: 2579-3047 (Online) | 175
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 12– Nomor 2, November 2024, (Hlm 175-191)
DOI 10.34010/agregasi.v12i2.13285
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
PENDAHULUAN
Pariwisata menjadi sektor paling
efektif meningkatkan devisa Indonesia
(Rahma,
2020).
Data
terbaru
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif menunjukkan pendapatan devisa
dari sektor pariwisata mencapai US$4,26
miliar pada 2022 (Widi, 2022). Selain
menjadi sektor industri prospektif bagi
pendapatan negara, pariwisata juga
menjadi trigger bagi peningkatan
pendapatan asli daerah (PAD) yang
serius mengerjakan industri pariwisata
(Molan et al, 2022).
Pemerintah Kabupaten Flores Timur
(Flotim) merupakan salah satu daerah di
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
yang menetapkan sektor pariwisata
sebagai prioritas pembangunan selain
bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam
dimensi pengelolaan, pembangunan
kepariwisataan Flores Timur lebih
diarahkan pada pariwisata berbasis
masyarakat yang berkelanjutan (tourism
based community sustainable), dengan
menempatkan
masyarakat
sebagai
subyek atau pelaku pariwisata bukan
sebagai
objek
dalam
konteks
keberlanjutan. Landasan pengelolaan
kepariwisataan diatur dalam Peraturan
Daerah (PERDA) Nomor 2 tahun 2013
tentang Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan (RIPKKA) Daerah Tahun
2013-2023. Pada regulasi dimaksud,
pemerintah
setempat
menetapkan
wilayah-wilayah yang dijadikan sebagai
Kawasan Strategis Pariwisata (KSP),
yakni KSP Waiklibang, Larantuka, Sagu,
Menanga dan Ritaebang (Disbudpar
Flotim, 2013).
Kawasan pariwisata Meko di Desa
Pledo Kecamatan Witihama yang
merupakan bagian dari KSP Sagu,
menjadi salah satu potensi wisata yang
sedang serius dikerjakan pemerintah
desa Pledo sejak tahun 2018. Hal ini
didasari oleh karakteristik dan potensi
wisata kawasan pariwisata Meko serta
berpedoman pada hasil riset World Wide
Fund for Nature-Indonesia (WWFIndonesia, 2017) yang menegaskan
bahwa
perairan
Mekko
dapat
dimanfaatkan sebagai zona pariwisata
unggulan karena memiliki potensi wisata
dan keterwakilan sumber daya penting
seperti
pasir
timbul,
ekosistem
mangrove, keterwakilan ekosistem
terumbu karang tepi (fringing reef) serta
habitat penting bagi dua jenis ikan hiu
seperti hiu sirip hitam atau blacktip reef
shark dan hiu sirip putih atau whitetip
reef shark (WWF, 2017). Selain itu,
momentum yang perlu dijaga oleh
pemerintah
setempat
adalah
keberhasilan atraksi pasir timbul Meko
menjadi juara ke-2 destinasi wisata air
terpopuler di ajang Anugerah Pesona
Indonesia (API) tahun 2020.
Meski memiliki potensi wisata
unggulan, namun pengelolaan kawasan
perairan Meko dihadapkan pada
sejumlah persoalan. Riset WWFIndonesia menjelaskan bahwa tingkat
kesadaran dan pengetahuan penduduk
lokal dalam melestarikan biofisik
lingkungan pesisir (karang, stok ikan,
pencemaran dan erosi pantai) masih
terbilang rendah dan masih minimnya
pemberdayaan ekonomi, lemahnya
pengawasan, pembinaan dan penegakan
hukum yang menyebabkan eksploitasi
ekosistem pesisir dan laut serta tindakan
destruktif marak terjadi.
Atraksi wisata bahari Meko juga
belum didukung dengan infrastruktur
dan fasilitas pendukung seperti air
Copyright © 2024, Jurnal Agregasi, ISSN: 2337-5299 (Print), ISSN: 2579-3047 (Online) | 176
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 12– Nomor 2, November 2024, (Hlm 175-191)
DOI 10. (...truncated)