Tradisi Bu’a Oring: Alternatif Penanganan Stunting Berbasis Kearifan Lokal Di Kabupaten Flores Timur
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 11– Nomor 2, November 2023, (Hlm 112-128)
DOI 10.34010/agregasi.v11i2.11228
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
Tradisi Bu’a Oring: Alternatif Penanganan Stunting Berbasis Kearifan Lokal
Di Kabupaten Flores Timur
Yosef Dionisius Lamawuran1)*, Frans Bapa Tokan2), Paulus A.K.L Ratumakin3)
Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik
Widya Mandira
2 Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik
Widya Mandira Jln. Jend. Ahmad Yani 50-52, Kota Kupang, NTT, 85225, Indonesia
* Korespondensi Penulis. E-mail: , Telp: +62082141705392
1,3Program
Abstrak
Artikel ini membahas penanganan stunting berbasis kearifan lokal di Kabupaten Flores
Timur. Tujuannya untuk mengeksplorasi dan menemukan nilai-nilai kearifan dari tradisi Bu’a
Oring pada masyarakat adat Lamaholot dalam mendukung upaya penanganan stunting
berkelanjutan di Kabupaten Flores Timur. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan
dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa upaya pemerintah menekan tingkat prevalensi
stunting melalui program PMT terfokus Gerobak Cinta dihadapkan pada tantangan serius terkait
aspek keberlanjutan. Karena itu tradisi Bu’a Oring dapat menjadi alternatif dalam penanganan
stunting berkelanjutan. Nilai gotong royong, kebersamaan, komitmen dan musyawarah dapat
diinternalisasikan untuk mendukung keberlanjutan penanganan stunting secara mandiri oleh
masyarakat meski tanpa adanya intervensi pemerintah. Karena tradisi Bu’a Oring merupakan
bagian dari budaya dan kearifan lokal yang telah melekat dalam cara hidup masyarakat lokal
dan masih dijalankan hingga sekarang.
Kata Kunci: Bu’a Oring, Stunting; Kearifan Lokal; Keberlanjutan; Alternatif.
The Tradition Of Bu’a Oring: An Alternative For Stunting Treatment Based On Local Wisdom
In East Flores Regency
Abstract
This article talks about local wisdom in dealing with stunting in East Flores Regency. The
goal is to explore and discover wisdom and values of local Bu’a Oring tradition of Lamaholot
indigenous community in supporting sustainable efforts when dealing with stunting in East Flores
Regency. The study applied qualitative method with descriptive approach. Data collection
techniques were through interviews, observation and documentation. Collected data were analyzed
through series process of data reducing, data presenting and conclusion drawing. The research
founded that government’s effort in reducing stunting prevalence through focused PMT program
called Gerobak Cinta faced serious challenges related to sustainability aspect. Therefore, the Bu’a
Oring tradition can act as an alternative in sustainably stunting management. The values of
mutual cooperation, togetherness, commitment and deliberation of Bu’a Oring tradition should be
internalized to support the continuation of independent stunting handling by the community, even
without government intervention. Since the tradition itself is a part of the local culture and wisdom
which has been embedded in local community’s way of life and still carried out up until now.
Key words: Bu’a Oring; Stunting; Local Wisdom; Sustainability; Alternativ
Copyright © 2023, Jurnal Agregasi, ISSN: 2337-5299 (Print), ISSN: 2579-3047 (Online) | 112
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 11– Nomor 2, November 2023, (Hlm 112-128)
DOI 10.34010/agregasi.v11i2.11228
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
PENDAHULUAN
Stunting menjadi isu global yang
menarik perhatian banyak peneliti
karena
berdampak
terhadap
pertumbuhan fisik, resiko morbiditas
dan moralitas serta berkonsekuensi
buruk bagi perkembangan intelektual
anak dalam jangka panjang (Black et al.,
2013; Aryeetey et al., 2022).
Laporan
WHO
menunjukkan
bahwa negara-negara berkembang di
kawasan Afrika dan Asia Tenggara
menjadi penyumbang stunting terbesar
di dunia (Apriluana & Fikawati, 2018).
Fakta ini menjadi pemicu mengapa
negara-negara pada kedua kawasan
berupaya mendesain model kebijakan
penanganan stunting yang efisien dan
efektif untuk menghindari resiko jangka
panjang stunting. Penelitian di Ghana
menjelaskan
bahwa
kebijakan
pemerintah untuk memperbaiki gizi
bayi melalui peningkatan ekonomi
keluarga
dan
program
layanan
antenatal selama hamil, mampu
menurunkan prevalensi stunting dari
28% di tahun 2008 menjadi 18% pada
tahun 2018 (Aryeetey et al., 2022). Di
Vietnam, hasil penelitian menjelaskan
bahwa upaya pemerintah dalam
merancang pencegahan stunting dengan
intervensi kolektif berbasis masyarakat
berhasil menurunkan angka stunting
pada anak laki-laki dari 8,2% menjadi
3,4% dan 9,5% pada anak perempuan
menjadi 3,5% selama rentang tahun
2013-2016 (Do et al., 2018).
Di ASEAN, Indonesia menjadi
negara kedua dengan prevalensi
stunting tertinggi (31,8%) setelah Timor
Leste dengan angka 48.0% (Romadhona
et al., 2023). Tingginya prevalensi
stunting di Indonesia tidak lepas dari
fakta bahwa sebelum tahun 2014,
pemerintah belum menjadikan masalah
stunting sebagai agenda spesifik dalam
paket kebijakan nasional (Sugiyanto,
2021). Stunting mulai serius ditangani
sejak
tahun
2015
sebagaimana
keputusan untuk menjadikan stunting
sebagai salah satu target utama
kesehatan dalam RPJMN 2015-2019.
Secara khusus masalah stunting
ditetapkan dalam Perpres Nomor 72
tahun
2021 tentang Percepatan
Penurunan Stunting menggantikan
Perpres Nomor 42 tahun 2013 yang
dinilai tidak efektif menekan angka
stunting. Regulasi ini memuat upaya
penanganan stunting dalam kerangka
intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif,
di mana pelaksanaannya melalui
koordinasi, sinergi dan sinkronisasi
antara pemerintah pusat, pemerintah
daerah
dan
pemerintah
desa
(Oktavianty et al., 2022). Upaya
konvergensi
pemerintah
berhasil
menurunkan prevalensi stunting pada
skala nasional, sebagaimana hasil
Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) yang
menjelaskan hingga tahun 2022
prevalensi stunting Indonesia mencapai
21,6%, turun 2,8% dari tahun
sebelumnya (Kemenkes, 2023).
Kabupaten
Flores
Timur
merupakan salah satu daerah di
Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan
prevalensi stunting yang fluktuatif
dalam tiga tahun terakhir. Data Dinas
Kesehatan Kabupaten Flores Timur
menunjukkan presentase stunting usia
0-59 bulan di tahun 2022 mencapai
18,7%, turun 2,2% dari tahun 2021 dan
4% dari tahun 2020, kemudian naik
menjadi 18,7% di tahun 2023.
Penurunan prevalensi stunting tidak
Copyright © 2023, Jurnal Agregasi, ISSN: 2337-5299 (Print), ISSN: 2579-3047 (Online) | 113
Jurnal Agregasi : Jurnal Aksi Reformasi Government Dalam Demokrasi
Volume 11– Nomor 2, November 2023, (Hlm 112-128)
DOI 10.34010/agregasi.v11i2.11228
Available online at: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/agregasi
lepas dari kebijakan penang (...truncated)