Pengaruh Media Sosial Terhadap Pembentukan Identitas Remaja Awal
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Volume 2, Nomor 2, Januari 2025, pp 107-114
E-ISSN: 3030-9972
Open Access: https://journal.pipuswina.com/index.php/jippsi/about
Pengaruh Media Sosial Terhadap Pembentukan Identitas Remaja Awal
1,2
Marwela R. Seo1*, Hendrik A. E. Lao2
Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Kristen, Institut Agama Kristen Negeri
Kupang, Indonesia
*Corresponding Author. E-mail:
Submitted: 08-01-2025
Accepted: 14-01-2025
Published: 14-01-2025
Abstrak
Media sosial berperan sebagai ruang interaksi dan ekspresi diri bagi remaja dalam
membangun hubungan sosial, mengekspresikan minat mereka dan juga membantu
mereka mendapatkan pengakuan dan validasi dari dunia digital. Metode Penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, Sampel penelitian ini terdiri
dari 30 responden remaja awal yang dipilih secara purposive sampling. Teknik
penggumpulan data menggunakan angket dan observasi sedangkan analisis data
dianalisis data menggunakan analisis Linear sederhana menggunakan SPSS 20. Hasil
penelitian menunjukkan nilai F-statistic sebesar 0.523 dengan tingkat signifikansi (Sig)
sebesar 0.476. Karena nilai Sig > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh media
sosial terhadap pembentukan identitas remaja awal tidak signifikan. Dengan demikian,
hipotesis nol (H₀) diterima, yang berarti media sosial tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pembentukan identitas remaja awal.
Kata kunci: Media sosial, Identitas, Remaja awal
Abstract
Social media acts as a space for interaction and self-expression for teenagers in building
social relationships, expressing their interests and also helping them gain recognition
and validation from the digital world. The research method used in this research is
quantitative research. The research sample consists of 30 early adolescent respondents
who were selected using purposive sampling. Data collection techniques used
questionnaires and observations, while data analysis was analyzed using simple linear
analysis using SPSS 20. The research results showed an F-statistic value of 0.523 with
a significance level (Sig) of 0.476. Because the Sig value is > 0.05, it can be concluded
that the influence of social media on the formation of early adolescent identity is not
significant. Thus, the null hypothesis (H₀) is accepted, which means that social media
does not have a significant influence on early adolescent identity formation.
Keywords: Social Media, Identity, Early Teens
1. PENDAHULUAN
Te$knologi informasi dan komunikasi se$makin be$rke$mbang dan me$njadikan
te$knologi se$bagai salah satu bagian pe$nting bagi ke$hidupan manusia di e$ra yang se$rba
mode$rn ini. De$ngan ke$majuan te$knologi saat ini, inovas ibaru me$ngubah be$rbagai aspe$k
107
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Vol. 2, No. 2, 2025
ke$hidupan manusia. salah satui novasi yang muncul dari pe$rke$mbangan te$knologi
informasi dan komunikasi saat ini adalah me$dia sosial. me$dia sosial me$mbe$rikan
be$rbagai ke$mudahan pada pe$nggunanya untuk be$rkomunikasi, be$rbagi informasi be$rupa
audio maupun visual de$ngan ce$pat dan e$fisie$n de$ngan me$nggunakan te$le$pon ge$nggam
atau Handphone$. Dari Handphone$Pe$ngguna me$dia sosial dapat me$nggunakan jaringan
inte$rne$t me$re$ka untuk me$ndapatkan se$jumlah be$sar data atau hal lain. Hal inilah yang
me$mbauat arus informasi me$nge$nai apa saja de$ngan mudah me$nye$bar ke$se$tiap
pe$ngguna me$dia sosial tanpa batas ruang dan waktu, ke$mudia yang dibe$rikan me$dia
sosial inilah me$njadikannya se$bagai suatu ke$butuhan yang tidak te$rpisahkan dalam
ke$hidupan manusia.
Be$rdasarkan data statistik yang di je$laskan ole$h Asosiasi Pe$nye$le$nggara Jasa
Inte$rne$t Indone$sia (APJII), jumlah pe$ngguna inte$rne$t di Indone$sia me$ncapai
221.563.479 jiwa pada tahun 2024, dari jumlah pe$nduduk Indone$sia se$be$sar
278.696.200 jiwa pada tahun 2023. Be$rdasarkan hasil surve$i pe$ne$trasi inte$re$t indone$sia
me$ningkat se$be$sar 79,5%. Di Indone$sia je$nis me$dia sosial yang banyak di gunakan pada
tahun 2024 dikutip dari kompasiana.com adalah whatsaap (90.9%), instagram (85.3%),
Face$book (81.6%), Tiktok (73.5%), Te$le$gram (61.3%) dan X Twitte$r (57.5%).
Jumlah pe$ngguna aktif me$dia sosial di Indone$sia te$lah me$ncapai 167 juta jiwa,
de$ngan se$bagian be$sar pe$nggunanya be$rasal dari ke$lompok usia re$maja dan de$wasa
muda(We Are Social Meltwater, 2023). Angka ini me$mbuktikan be$tapa dominannya
pe$ran me$dia sosial dalam ke$hidupan ge$ne$rasi muda saat ini. Me$dia sosial se$pe$rti
Instagram, TikTok, Face$book, dan Twitte$r me$mbe$rikan ke$be$basan bagi re$maja untuk
me$nge$kspre$sikan diri, be$rinte$raksi de$ngan te$man se$baya, dan me$mbe$ntuk pe$rse$psi
te$ntang siapa diri me$re$ka. Pe$ne$litian te$rdahulu me$nunjukan bahwa pe$nggunaan me$dia
sosial yang inte$ns dapat me$mpe$ngaruhi pe$rke$mbangan ide$ntitas re$maja, baik se$cara
positif maupun ne$gatif. Di sisi positif, me$dia sosial me$mungkinkan re$maja untuk
me$nge$ksplorasi minat, bakat, dan jati diri me$re$ka me$lalui komunitas daring. Namun, di
sisi ne$gatif, me$dia sosial se$ring kali me$nye$babkan pe$rbandingan sosial yang be$rle$bihan,
ke$ce$masan, se$rta ke$bingungan dalam me$mbe$ntuk ide$ntitas diri te$rkhususnya dalam
karakte$r re$maja kare$na dapat me$mbuat anak de$wasa se$be$lum waktunya (Sidaruruk,
2023).
Masa re$maja awal yang be$rada pada usia 12–15 tahun, me$rupakan pe$riode $kritis
dalam pe$rke$mbangan ide$ntitas se$se$orang. Me$nurut te$ori pe$rke$mbangan E$rik E$rikson
(1968), re$maja be$rada pada tahap krisis ide$ntitas (Ide$ntity vs. Role$ Confusion), di mana
me$re$ka me$ncari jati diri dan pe$ransosialnya di masyarakat. Dalam konte$ks ini, me$dia
sosial me$njadi salah satu ruang yang digunakan ole$h re$maja untuk me$nge$ksplorasi
ide$ntitas me$re$ka me$lalui inte$raksisosial, pe$ncitraan diri, dan e$ksposur te$rhadap be$rbagai
konte$n. Fe$nome$na ini se$makin re$le$van di te$ngah tingginya konsumsi me$dia sosial ole$h
re$maja di Indone$sia. Me$dia sosial tidak me$miliki batasan usia, dan pe$nggunanya le$bih
banyak me$ngkonsumsi konte$n yang tidak se$suai de$ngan ke$pribadian me$re$ka yang
se$dang me$ncari jati diri dan baru me$nge$nal dunia luar.
Re$maja me$rupakan salah satu pe$ngguna inte$rne$t te$rbanyak (Fae$lita, n.d.).
Paparankonte$n di me$dia sosial yang be$rsifat konstruktif maupun de$struktif dapat
me$mpe$ngaruhi bagaimana re$maja me$mandang dirime$re$ka se$ndiri, me$mbe$ntuk
konse$pdiri, dan be$radaptasi de$ngan lingkungan sosial. Ke$hadiran me$dia sosial di te$ngah
ke$hidupan re$maja, me$nye$babkan privasi me$re$ka le$bih mudah di ke$tahui di masyarakat
lua. Te$rjadi pe$rgge$se$ran gaya hidup di kalangan re$maja, para re$maja me$ng-upload
ke$giatan pribadinya untuk di bagikan ke$padate$man- te$man me$dia sosial me$lalui akun
108
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Vol. 2, No. 2, 2025
yang me$re$ka miliki. De$ngan kata lain, bagi re$maja be$rinte$raksi dan be$rkomunikasi di
me$dia sosial dianggap wada (...truncated)