Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume 4, Nomor 1, Tahun 2025
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal. 01-13
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v4i1.1696
Available Online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Pendidikan Anak Nelayan di Desa Eretan Wetan: Pendekatan Berbasis
Komunitas untuk Mengatasi Tantangan dan Mendorong Pemberdayaan
Masyarakat
Ahmad Ro’i Alfaza1*, Atikah Syamsi2, Tamsik Udin3
1,2,3
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia
E-mail:
[email protected], .id2, .id3
Alamat: Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Korespondensi penulis:
Abstract. This study examines the educational challenges of fishermen's children in Eretan Wetan Village,
focusing on economic factors, accessibility, and cultural views that influence their participation in formal
education. The purpose of the study was to identify the barriers faced by fishermen's children in accessing
education, and to develop recommendations to improve the quality of education in coastal areas. The method
used was qualitative research with a case study approach, where data were collected through in-depth interviews
and direct observation of the lives of fishing communities. The results showed that poor socio-economic conditions
of families, limited access to education due to the distance of schools, and cultural views that prioritize work as
fishermen over formal education, were the main obstacles. Therefore, community-based interventions are needed
to overcome these barriers, as well as government policies that support the development of educational
infrastructure and increase awareness of the importance of education to empower coastal communities and break
the cycle of poverty.
Keywords: Education, Fishermen's Children, Economic Factors, Community Empowerment.
Abstrak. Penelitian ini mengkaji tantangan pendidikan anak-anak nelayan di Desa Eretan Wetan, dengan fokus
pada faktor-faktor ekonomi, aksesibilitas, dan pandangan budaya yang mempengaruhi partisipasi mereka dalam
pendidikan formal. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi oleh
anak-anak nelayan dalam mengakses pendidikan, serta untuk mengembangkan rekomendasi guna meningkatkan
kualitas pendidikan di daerah pesisir. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus, di mana data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap kehidupan
masyarakat nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial-ekonomi keluarga yang miskin, akses
pendidikan yang terbatas karena jarak sekolah yang jauh, dan pandangan budaya yang lebih memprioritaskan
pekerjaan sebagai nelayan daripada pendidikan formal, menjadi kendala utama. Untuk itu, diperlukan intervensi
berbasis komunitas yang dapat mengatasi hambatan tersebut, serta kebijakan pemerintah yang mendukung
pembangunan infrastruktur pendidikan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk
memberdayakan masyarakat pesisir dan memutus siklus kemiskinan.
Kata Kunci: Pendidikan, Anak Nelayan, Faktor Ekonomi, Pemberdayaan Masyarakat.
1. LATAR BELAKANG
Pendidikan bukan hanya alat untuk meningkatkan literasi, tetapi juga sarana untuk
transformasi sosial, ekonomi, dan budaya yang dapat memengaruhi pembangunan masyarakat.
Di wilayah pesisir seperti Desa Eretan Wetan, dengan karakteristik sosial-ekonomi dan
geografi yang khas, pendidikan tidak hanya menjadi hak dasar, tetapi juga instrumen penting
untuk meningkatkan kualitas hidup dan kapasitas masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan
pembangunan berkelanjutan yang menempatkan pendidikan sebagai pilar utama dalam
Received Desember 02, 2024; Revised Desember 15, 2024; Accepted Januari 04, 2025; Online
Available Januari 07, 2025
Pendidikan Anak Nelayan di Desa Eretan Wetan: Pendekatan Berbasis Komunitas untuk Mengatasi Tantangan
dan Mendorong Pemberdayaan Masyarakat
memberantas kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan mendukung pembangunan berbasis
komunitas.
Desa Eretan Wetan, yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan
tradisional, menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anakanak mereka. Karakteristik wilayah pesisir yang rentan terhadap kemiskinan, perubahan iklim,
dan keterbatasan infrastruktur menjadi faktor yang memengaruhi akses pendidikan. Penelitian
menunjukkan bahwa masyarakat pesisir cenderung memiliki tingkat partisipasi pendidikan
yang lebih rendah dibandingkan masyarakat di wilayah lain akibat faktor ekonomi dan sosial
yang kompleks (Rahayu et al., 2014).
Anak-anak di wilayah ini sering kali terpaksa memilih antara melanjutkan pendidikan
atau membantu keluarga dalam pekerjaan ekonomi seperti menangkap ikan atau menjadi buruh
harian. Fenomena ini juga terjadi di wilayah pesisir lainnya, seperti Kecamatan Ujung Tanah
di Sulawesi Selatan, di mana pendidikan informal dalam keluarga menjadi alternatif akibat
minimnya akses terhadap pendidikan formal. Akibatnya, peran anak lebih banyak sebagai
tenaga pendukung ekonomi keluarga daripada sebagai pelajar aktif dalam sistem pendidikan
formal (Munirah, 2019).
Selain faktor ekonomi, tantangan infrastruktur juga menjadi kendala utama. Kurangnya
fasilitas pendidikan seperti sekolah, guru berkualitas, dan sumber daya belajar membatasi
kemampuan anak-anak di Desa Eretan Wetan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Penelitian menunjukkan bahwa wilayah pedesaan dan terpencil cenderung memiliki
kesenjangan pendidikan yang signifikan dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Hal ini
diperparah oleh kurangnya dukungan kebijakan yang terfokus pada pembangunan pendidikan
di daerah terpencil (Temple, 2009).
Sebagai solusi, pendidikan berbasis komunitas telah terbukti menjadi pendekatan
efektif dalam mengatasi tantangan ini. Misalnya, program literasi komunitas di Desa Tambak
Mulyo, Semarang, berhasil meningkatkan tingkat literasi masyarakat serta menciptakan rasa
tanggung jawab kolektif untuk memperkuat pendidikan lokal. Program ini menekankan pada
pelibatan masyarakat dalam mengelola pendidikan berbasis kebutuhan lokal (Azzahra, 2011).
Tidak hanya itu, pendekatan yang terintegrasi dengan pelestarian lingkungan juga telah
menunjukkan hasil positif. Program pendidikan lingkungan di Aceh Barat dan Green Bay,
Wisconsin, misalnya, berhasil menggabungkan pendidikan berbasis komunitas dengan
pelestarian ekosistem lokal, sehingga menciptakan keseimbangan antara kearifan lokal dan
strategi pembangunan global (Behr et al., 1995)(Fithria et al., 2017).
2
CONCEPT - VOLUME 4, NOMOR 1, TAHUN 2025
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal. 01-13
Pendidikan yang berbasis lokal juga menjadi alat untuk menjembatani kesenjangan
antara tradisi dan modernitas. Studi di Kanada menunjukkan bahwa pendidikan yang
mengintegrasikan aspek budaya lokal dapat membantu masyarakat pesisir untuk beradaptasi
dengan tuntutan globalisasi tanpa kehilangan identitas budaya mereka. Pendidikan semacam
ini memperkuat (...truncated)