Responden Peserta Didik dan Guru terhadap Kemampuan Berpikir Kritis SMA Negeri 3 Pekanbaru
Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume 3 Nomor 4, Tahun 2024
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal 266-278
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v3i4.1699
Available Online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Responden Peserta Didik dan Guru terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
SMA Negeri 3 Pekanbaru
Fira Herlini1*, Sepita Ferazona2, Nurkhairo Hidayati3
1,2,3 Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Riau,
Pekanbaru, Riau, Indonesia
Alamat Kampus: Jl. Kaharudin Nasution No.113, Pekanbaru, Riau, Indonesia
Korespondensi penulis: *
Abstract. This study aims to analyze teachers' and students' responses to critical thinking skills in biology learning
at SMA Negeri 3 Pekanbaru. The research employed a descriptive qualitative method using observation,
interviews, and documentation. The subjects were 11th-grade students and biology teachers. The results indicate
that the evaluation process conducted by teachers was inconsistent. Essay-based evaluations were deemed
effective in measuring critical thinking skills, although not always based on specific indicators. Most students
assessed critical thinking questions as moderately difficult, with their evaluation results categorized as high.
However, a gap in students' understanding was identified, requiring further attention. This study recommends the
systematic use of critical thinking indicators to better support the development of students' critical thinking skills.
Keywords: Critical thinking, biology learning, educational evaluation.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tanggapan guru dan siswa terhadap kemampuan berpikir
kritis dalam pembelajaran biologi di SMA Negeri 3 Pekanbaru. Penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif
dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI dan guru biologi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran yang dilakukan guru belum konsisten. Soal evaluasi
berbentuk esai dianggap cukup efektif untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, meskipun tidak selalu
didasarkan pada indikator yang spesifik. Mayoritas siswa menilai soal berpikir kritis memiliki tingkat kesulitan
sedang dan hasil evaluasi mereka berada pada kategori tinggi. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan
dalam pemahaman siswa yang membutuhkan perhatian lebih. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan
indikator berpikir kritis yang lebih sistematis untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa.
Kata kunci: Berpikir kritis, pembelajaran biologi, evaluasi pendidikan
1. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah fasilitas atau penghubung bagi manusia agar dapat mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang diperoleh. Seperti yang kita ketahui, UUD 1945
pasal 31 Ayat 1 menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan
pendidikan. Jadi, penting bahwa setiap orang memiliki hak atas pendidikan. Dengan
pendidikan yang baik, diharapkan generasi mendatang dapat menjadi orang yang pintar dan
berkualitas, yaitu orang yang dapat memanfaatkan perkembangan dengan baik. Pendidikan
juga merupakan hal penting bagi sebuah negara agar dapat berkembang dengan cepat. Negaranegara maju umumnya mengutamakan pendidikan bagi penduduknya. Dengan harapan bahwa
melalui pendidikan, kesejahteraan warga negara akan terjamin (Purwanto, 2021). Dalam
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk menciptakan
lingkungan
belajar
dan
proses
pembelajaran
yang
memungkinkan
Received: November 28, 2024; Revised: Desember 12, 2024; Accepted: December 29, 2024;
Published : December 31, 2024
peserta
RESPONDEN PESERTA DIDIK DAN GURU TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SMA
NEGERI 3 PEKANBARU
didik mengembangkan potensi diri secara aktif (Muhammad, 2019). Pengembangan potensi
diri secara aktif dapat dilakukan dalam pembelajaran biologi.
Pembelajaran biologi adalah bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA). Pada
prinsipnya, biologi bukanlah ilmu yang rumit untuk dipelajari. Memahami biologi berarti
memahami tentang diri sendiri dan juga lingkungan sekitar. Biologi juga terkait dengan cara
sistematis untuk mengetahui dan memahami alam. Oleh karena itu, biologi tidak hanya tentang
menguasai dan mengumpulkan pengetahuan dalam bentuk fakta, konsep, dan prinsip, tetapi
juga sebagai proses penemuan (Harefa et al., 2022). Pembelajaran biologi merangsang peserta
didik untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah, seperti polusi lingkungan, ledakan
populasi penyakit bulu, atau keracunan makanan. Masalah-masalah ini menarik minat belajar
peserta didik dan memerlukan pemecahan yang baik (Agnesa & Rahmadana, 2022). Oleh
karena itu, di dalam pembelajaran biologi diharapakan kepada peserta didik untuk memiliki
kemampuan berpikir kritis.
Dengan perkembangan zaman yang semakin maju, setiap peserta didik harus bisa
berpikir kritis menghadapi perubahan. Berfikir kritis bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan dasar yang diperlukan dalam latihan dan aktivitas pembelajaran awal yang
menarik. Ini diajarkan dengan berbagai metode pembelajaran, tergantung pada situasi
pendidikan yang sedang berlangsung dan tahap perkembangan berfikir kritis (Marudut et al.,
2020). Berpikir kritis memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi peserta didik,
menyelesaikan tugas, menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi, dan menarik
kesimpulan dari pelajaran yang diberikan selama proses belajar. peserta didik yang mampu
berpikir kritis akan mahir dalam menyelesaikan masalah dengan efisien (Suriati et al., 2021).
Kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat dipengaruhi oleh gender di dalam (Cahya,
2023) menurut (Miswari, 2020:115) disebutkan bahwa peserta didik perempuan memiliki
kemampuan berpikir kritis lebih tinggi daripada peserta didik laki-laki. Dalam lingkungan
pendidikan di sekolah, terdapat korelasi antara gender dan kemampuan berpikir kritis. Anak
laki-laki lebih banyak menunjukkan masalah daripada anak perempuan, sedangkan anak
perempuan lebih baik dalam melakukan tugas lisan di tahun-tahun awal dan dapat
dipertahankan.
Penelitian ini dilakukan mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan (Agnafia, 2019)
yang berjudul “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran Biologi”
dapat disimpulkan berdasarkan analisis data diperoleh kemampuan berpikir kritis rata-rata skor
penjelasan 72% kategori tinggi, interpretasi 63% kategori tinggi, analisis 31% kategori rendah,
regulasi diri 51% kategori cukup, evaluasi 46% kategori cukup dan inferensi 62% kategori
267
CONCEPT - VOLUME 3 NOMOR 4, TAHUN 2024
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal 266-278
tinggi. Hasil atau penelitian menunjukkan bahwa hampir semua peserta didik kritis kategori
kemampuan berpikir cukup.
Berdasarkan uraian di atas, yang menunjukkan bahwa tingkat keterampilan berpikir
kritis dalam pembelajaran biologi m (...truncated)