Eksistensi Etika Profesi Keguruan Dalam Menghadapi Krisis Pendidikan Era Society 5.0
Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume 3 Nomor 4, Tahun 2024
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal 212-220
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v3i4.1646
Available Online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Eksistensi Etika Profesi Keguruan Dalam Menghadapi Krisis Pendidikan Era
Society 5.0
Wagiman Manik1, Khadijah Nadhirah Siregar2, Zayyan Salsabila3, Yuni Maysarah4,
Annisa Zahrah 5, Siti Aminah Nasution6
1-6Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
STAI As-Sunnah Deli Serdang
,
Abstract: The Society 5.0 era brings significant changes in the world of education, with the integration of technologies
such as artificial intelligence and big data. Amidst this progress, challenges such as the dehumanization of learning
interactions, inequality in access to technology, and weak implementation of ethical values are issues that must be
addressed. This study highlights the existence of professional ethics in teaching as a foundation for dealing with the
educational crisis in the Society 5.0 era. Barriers such as lack of understanding of technology and administrative
pressure are identified, along with strategies to strengthen professional ethics, such as continuous training and
integration of moral values in learning. As a result, this study emphasizes the importance of the role of teachers in
creating technology-based education that remains humanistic and ethical.
Keywords: Professional Ethics of Teachers, Society 5.0 Era, Educational Technology, Educational Crisis, Moral
Values
Abstrak: Era Society 5.0 membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, dengan integrasi teknologi seperti
kecerdasan buatan dan big data. Di tengah kemajuan ini, tantangan seperti dehumanisasi interaksi pembelajaran,
ketimpangan akses teknologi, dan lemahnya penerapan nilai etika menjadi isu yang harus diatasi. Penelitian ini
menyoroti eksistensi etika profesi keguruan sebagai fondasi untuk menghadapi krisis pendidikan di era Society 5.0.
Hambatan seperti kurangnya pemahaman teknologi dan tekanan administrasi diidentifikasi, bersama dengan strategi
untuk memperkuat etika profesional, seperti pelatihan berkelanjutan dan integrasi nilai moral dalam pembelajaran.
Hasilnya, penelitian ini menekankan pentingnya peran guru dalam menciptakan pendidikan berbasis teknologi yang
tetap humanis dan etis.
Kata kunci: Etika Profesi Guru, Era Society 5.0, Teknologi Pendidikan, Krisis Pendidikan, Nilai Moral
PENDAHULUAN
Era Society 5.0 ditandai dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, mengintegrasikan
kecerdasan buatan (AI), big data, dan Internet of Things (IoT) ke dalam berbagai aspek kehidupan,
termasuk pendidikan. Transformasi ini menciptakan peluang besar untuk meningkatkan kualitas
pendidikan, seperti pembelajaran yang lebih personal, akses luas terhadap sumber belajar, dan
efisiensi administrasi. Namun, era ini juga memunculkan tantangan signifikan, seperti
dehumanisasi dalam interaksi pembelajaran, ketimpangan akses teknologi, serta penurunan nilainilai etis dan moral di lingkungan pendidikan. Krisis pendidikan di era Society 5.0 terlihat dari
masalah seperti penyalahgunaan teknologi oleh pendidik dan peserta didik, kurangnya kepekaan
terhadap etika digital, dan lemahnya implementasi nilai-nilai moral dalam proses pendidikan.
Received: Oktober 13, 2024; Revised: November 19, 2024; Accepted: Desember 11, 2024; Published: Desember 13, 2024
e-ISSN: 2963-5527; p-ISSN: 2963-5071, Hal 212-220
Dalam konteks ini, etika profesi keguruan menjadi fondasi penting untuk memastikan pendidik
tetap menjalankan tugas mereka sebagai pembentuk karakter, bukan sekadar penyampai materi.
Guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan
dan perkembangan potensi peserta didik, baik potensi kognitif, maupun psikomotorik (Wiyani,
2015, hlm. 27). Guru adalah aparatur negara dalam bidang pendidikan (Mariyana, 2010), dengan
tujuh tugas pokok sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 14 Tahun 2005, yakni; (1) mendidik,
menciptakan kondisi kelas yang nyaman, (2) mengajar, merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi, (3) membimbing, (4) mengarahkan, (5) melatih, (6) menilai, dan (7) mengevaluasi
(Saprin, komunikasi pribadi, 15 April 2018). Tugas-tugas pokok tersebut dalam era society 5.0
telah berevolusi menjadi tantangan nyata dan syarat kepekaan teknologi. Proses implementasi
tugas pokok tersebut memerlukan tanggung jawab besar dalam prosesnya. Mengingat
problematika seputar pembelajaran yang semakin kompleks (Nurhasanah & Irfan, 2022).
Guru harus sadar kehadiran era society membuat integrasi antar dimensi semakin jelas.
Hadirnya Internet of Things (IOT) dan Artificial Intellegence (AI) menjadikan guru dapat hidup
dalam dua dunia sekaligus, dunia nyata dan dunia virtual (Idris, 2022, hlm. 64). Tantangan ini
bukan sekedar menyentuh wilayah koognitif, etika profesi guru benar-benar dituntut memenuhi
standar profesinya (Parwati & Pramartha, 2021, hlm. 150). Guru dalam pandangan Imam alNawawi dituntut memiliki kepribadian yang mantap, stabil dan dewasa (Maliki, 2017).
Profesionalitas guru benar-benar diuji dalam berbagai sudut, termasuk penggunaan metode
pembelajaran yang lebih integratif dalam konsep Merdeka belajar (Junaidin, 2023).
Setidaknya ada lima Standar dalam Permendiknas RI No. 16 tahun 20172017 yang harus
dimiliki oleh guru, yakni ; 1) menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan,
2)menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar, 3) kreatif dalam mengembangkan materi
pembelajaran, 4) mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan dengan tindakan reflektif, 5)
memanfaatkan teknologi dan informasi untuk peningkatan diri (Permendiknas, 2017). Profesi guru
tidak statis, melainkan akan terus berkembang seiring perkembangan waktu dan kecanggihan
teknologi. Kondisi yang sulit di prediksi ini telah membentuk hukum survival of the fittest
(Fathoni, 2014), yang unggul akan bertahan. Tulisan ini hadir melengkapi penelitian tersebut untuk
menonjolkan etika seorang guru dalam menghadapi era 5.0. Selain itu, tujuan dari tulisan ini untuk
menjelaskan eksistensi etika profesi keguruan dalam menjawab tantangan krisis pendidikan di era
Society 5.0, hambatan yang dihadapi guru dalam mengimplementasikan etika profesi keguruan di
tengah perubahan teknologi dan budaya digital serta strategi apa yang dapat diterapkan untuk
memperkuat implementasi etika profesi keguruan guna menghadapi tantangan pendidikan di
era Society 5.0.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka dan mengacu pada sumber- sumber
ilmiah seperti buku, jurnal, ensiklopedia dan artikel terbaru. Dengan menggunakan metodologi
yang kuat dan sumber-sumber yang sah, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pandangan
yang mendalam tentang etika seorang guru dalam menghadapi era 5.0 serta memberikan arahan
bagi praktisi pendidikan untuk meningkatkan praktik mereka sesuai dengan prinsip-prinsip etika
yang lebih objektif. Hasil analisis akan dig (...truncated)