Analisa Peran Keluarga Harmonis Dalam Meningkatkan Perilaku Anti Perudungan Di Sekolah Dasar Deliserdang

Jurnal Generasi Ceria Indonesia, Mar 2025

Latar belakang: Meningkatnya jumlah kasus perudungan khususnya di jenjangan Sekolah Dasar mengalami pelonjakan angka yang cukup signifikan. Beberapa kasus yang dilaporkan bahwasanya korban perudungan bahkan sampai meninggal dunia dikarenakan telah menjadi korban perudungan fisik dan mental oleh teman-teman sebayanya. Beberapa penelitian menunjukan latar belakang keluarga menjadi pusat bagaimana perilaku seorang anak terbentuk. Keluarga yang tidak harmonis membentuk seorang anak yang menyimpan rasa kecewa kepada orang dewasa dengan melakukan beragam tindak intimidasi yang serupa terjadi dalam keluarganya. Metode penelitian:Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pengolahan data secara triangulasi. Subjek penelitian adalah 2 anak pelaku perudungan di sebuah Sekolah Dasar di Deliserdang Sumatera Utara yang duduk di kelas V. Hasil penelitian: Keharmonisan sebuah keluarga berdampak kepada pertumbuhan karakter seorang anak Keluarga yang kurang tidak harmonis membentuk seorang anak yang berperilaku sosial menyimpang di lingkungan sekolah pada khususnya, diantaranya dengan melakukan tindakan perudungan. Kesimpulan: Perilaku merudung terbentuk akibat kondisi keluarga di rumah, anak mencontoh apa yang dilihat dalam keluarga semasa tumbuh kembangnya, implementasi kekecewaan terhadap keluarga yang membesarkannya berupa perudungan yang ia lakukan di lingkungan sekitarnya termasuk lingkungan sekolah. Pendekatan secara emosi dan tindakan tegas sedikit banyak membantu memperbaiki perilaku negatif anak

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.itscience.org/index.php/geci/article/download/5587/4384

Analisa Peran Keluarga Harmonis Dalam Meningkatkan Perilaku Anti Perudungan Di Sekolah Dasar Deliserdang

Volume: 2 | Nomor: 2 | Nopember 2024 | E-ISSN: 2987-9264| DOI: 10.47709/geci. V 2i2.5587 Analisa Peran Keluarga Harmonis Dalam Meningkatkan Perilaku Anti Perudungan Di Sekolah Dasar Deliserdang Author: Cindi Safitra Saragih Afiliation: SDN 101964 Jaharun A Corresponding email Histori Naskah: Submit: 21-02-2025 Accepted: 27-02-2025 Published: 27-02-2025 How To cite: This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License Abstrak: Latar belakang: Meningkatnya jumlah kasus perudungan khususnya di jenjangan Sekolah Dasar mengalami pelonjakan angka yang cukup signifikan. Beberapa kasus yang dilaporkan bahwasanya korban perudungan bahkan sampai meninggal dunia dikarenakan telah menjadi korban perudungan fisik dan mental oleh teman-teman sebayanya. Beberapa penelitian menunjukan latar belakang keluarga menjadi pusat bagaimana perilaku seorang anak terbentuk. Keluarga yang tidak harmonis membentuk seorang anak yang menyimpan rasa kecewa kepada orang dewasa dengan melakukan beragam tindak intimidasi yang serupa terjadi dalam keluarganya. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pengolahan data secara triangulasi. Subjek penelitian adalah 2 anak pelaku perudungan di sebuah Sekolah Dasar di Deliserdang Sumatera Utara yang duduk di kelas V. Hasil penelitian: Keharmonisan sebuah keluarga berdampak kepada pertumbuhan karakter seorang anak Keluarga yang kurang tidak harmonis membentuk seorang anak yang berperilaku sosial menyimpang di lingkungan sekolah pada khususnya, diantaranya dengan melakukan tindakan perudungan. Kesimpulan: Perilaku merudung terbentuk akibat kondisi keluarga di rumah, anak mencontoh apa yang dilihat dalam keluarga semasa tumbuh kembangnya, implementasi kekecewaan terhadap keluarga yang membesarkannya berupa perudungan yang ia lakukan di lingkungan sekitarnya termasuk lingkungan sekolah. Pendekatan secara emosi dan tindakan tegas sedikit banyak membantu memperbaiki perilaku negatif anak. Kata kunci: Perudungan, keharmonisan keluarga, Sekolah Dasar Pendahuluan Keluarga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Setiap anggota keluarga saling mempengaruhi bagaimana setiap individu dalam keluarga tersebut akan bertumbuh. Bagaimana pola asuh keluarga terhadap anak-anaknya sangat berdampak krusial bagi pembentukan karakter setiap anak dalam anggota keluarga tersebut (Rahmalia & Laeli, 2024), termasuk bagaimana seorang anak akan beradaptasi pada lingkungan di luar keluarganya kelak (Nurholishoh, 2022). Perilaku sosial seorang anak dimulai dari bagaimana keluarga memberi contoh serta mendidiknya dalam bersosialisasi (Setiardi, 2017), mulai dari menanamkan tatakrama yang baik, perilaku santun, berbahasa sopan dalam bertutur terhadap sesama anggota keluarga hingga kepada lingkungan terdekatnya, yaitu lingkungan rumah yang terus berkembang hingga menjaga kepribadian yang santun di lingkungan sekolah. 207 Volume: 2 | Nomor: 2 | Nopember 2024 | E-ISSN: 2987-9264| DOI: 10.47709/geci. V 2i2.5587 Keharmonisan sebuah keluarga sangat mempengaruhi karakteristik tumbuh kembang sosial seorang anak (Mukliha & Annova, 2025), bagaimana peran seorang ayah dalam mencari nafkah namun tetap mampu hadir membersamai tumbuh kembang anak secara logika, sehingga dapat mengawal tumbuh kembang kognitifnya dengan baik, serta peranan ibu yang kuat dalam pengasuhan sehingga anak tumbuh sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang. Keberhasilan peran tersebut akan menjadi cerminan perilaku seorang anak di kehidupan sosialnya. Penelitian ini membuktikan tentang besarnya dampak keharmonisan sebuah keluarga terhadap perilaku sosial seorang anak, terkait dengan perilaku perudungan yang marak terjadi bahkan dilakukan oleh murid-murid jenjangan Sekolah Dasar. Studi Literatur Harmoni memiliki makna kerukunan dalam suatu hubungan, lingkaran kekerabatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan dari kata harmoni adalah serasi yang selaras. Di dalam keluarga yang harmonis terbangun kedisiplinan, perilaku saling menghargai, penuh maaf dan tolong menolong, kebajikan, mencintai ilmu pengetahuan serta banyak hal lain yang berdampak besar terhadap karakteristik setiap individu keluarga didalamnya (Masri, 2024), terutama kepada anak yang sedang bertumbuh kembang. Sedangkan keluarga memiliki arti masyarakat terkecil yang menjadi lembaga pendidikan pertama atas seorang individu. Keluarga akan menjadi contoh pertama yang membentuk karakter seorang manusia (Saputra, Sinthia, Pangat, & Chalidaziah, 2023). Perudungan memiliki arti kekerasan fisik dan psikologis yang terus menerus dilakukan seseorang atau sekelompok orang, yang mengakibatkan gangguan secara fisik dan mental yang bisa mengakibatkan kematian. Merudung merupakan hasrat untuk menyakiti atau melukai (Damayanti, Zaki, & Hidayani, 2024). Terdapat empat bentuk tindak perudungan, yaitu: 1. Perudungan Verbal Merupakan tindak perudungan dalam bentuk kata-kata yang menyudutkan, menjatuhkan berupa ancaman, ejekan, dan sebagainya secara berulang-ulang. Akibat perundungan verbal terhadap korbannya berupa gangguan psikologis, seperti korban merasa rendah diri, terhina dan sebagainya. 2. Perudungan Fisik Tindakan perudungan berupa kekerasan kontak fisik seperti pemukulan, mencubit, mencakar, menendang, menjegal yang mengakibatkan korban bukan hanya terluka secara fisik namun juga secara mental. 3. Perudungan Relasional (hubungan) Berbeda dengan perudungan verbal dan fisik, tindak perudungan relasional lebih mengarah memanipulasi perilaku sosial korban dengan pelaku, pelaku mengajak beberapa orang untuk menjauhi, mengucilkan, korban dengan memanipulasi situasi. 4. Perudungan secara cyber cyberbullying Tindak perudungan yang dilakukan melalui media media digital. Pelaku melakukan perudungan secara anonim dan menyebarkannya secara cepat menggunakan media cyber. Meskipun dilakukan secara maya melalui media sosial, dampak cyberbullying mengganggu perkembangan jiwa dan raga seorang anak (Waluyati, Irmansyah, & Syaifullah, 2024) Sepanjang tahun 2023 telah terdapat kasus perudungan sedikitnya 2.335, dengan korban perudungan terbanyak berada pada jenjangan satuan Sekolah Dasar sebanyak 26 % (https://sekolahrelawan.org/, 2024). Berbeda dengan KPAI mencatat sedikitnya terjadi 3.800 kasus perudungan yang separuhnya berada pada satuan pendidikan (Elaine, 2024). Harian Detik.com menyampaikan banyaknya kasus perudungan pada jenjangan Sekolah Dasar yang hingga memakan korban tewas (News, 2024). Pola asuh keluarga yang keliru menjadi dasar-dasar perilaku perudungan, adanya tindak intimidasi dalam keluarga menjadi salah satu dalang terbentuknya karakteristik yang mengintimidasi. Keluarga yang lengkap namun mencontohkan perilaku menyimpang seperti meremehkan perbedaan ekonomi, status sosial dan sebagainya, menjadi karakter yang ditiru anak dalam bersosialisasi saat menemui kesenjangan di lingkungannya. Termasuk perasaan yang timbul karena rasa cemburu ya (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.itscience.org/index.php/geci/article/download/5587/4384
Article home page: https://jurnal.itscience.org/index.php/geci/article/view/5587/4384

Saragih Cindi Safitra. Analisa Peran Keluarga Harmonis Dalam Meningkatkan Perilaku Anti Perudungan Di Sekolah Dasar Deliserdang, Jurnal Generasi Ceria Indonesia, 2025, pp. 207-211,