Analisa Peran Keluarga Harmonis Dalam Meningkatkan Perilaku Anti Perudungan Di Sekolah Dasar Deliserdang
Volume: 2 | Nomor: 2 | Nopember 2024 | E-ISSN: 2987-9264| DOI: 10.47709/geci. V 2i2.5587
Analisa Peran Keluarga Harmonis Dalam Meningkatkan
Perilaku Anti Perudungan Di Sekolah Dasar Deliserdang
Author:
Cindi Safitra Saragih
Afiliation:
SDN 101964 Jaharun A
Corresponding email
Histori Naskah:
Submit: 21-02-2025
Accepted: 27-02-2025
Published: 27-02-2025
How To cite:
This is an Creative Commons License This
work is licensed under a Creative Commons
Attribution-NonCommercial 4.0 International
License
Abstrak:
Latar belakang: Meningkatnya jumlah kasus perudungan
khususnya di jenjangan Sekolah Dasar mengalami pelonjakan
angka yang cukup signifikan. Beberapa kasus yang dilaporkan
bahwasanya korban perudungan bahkan sampai meninggal dunia
dikarenakan telah menjadi korban perudungan fisik dan mental
oleh teman-teman sebayanya. Beberapa penelitian menunjukan
latar belakang keluarga menjadi pusat bagaimana perilaku
seorang anak terbentuk. Keluarga yang tidak harmonis
membentuk seorang anak yang menyimpan rasa kecewa kepada
orang dewasa dengan melakukan beragam tindak intimidasi yang
serupa terjadi dalam keluarganya.
Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian studi
kasus dengan pengolahan data secara triangulasi. Subjek
penelitian adalah 2 anak pelaku perudungan di sebuah Sekolah
Dasar di Deliserdang Sumatera Utara yang duduk di kelas V.
Hasil penelitian: Keharmonisan sebuah keluarga berdampak
kepada pertumbuhan karakter seorang anak Keluarga yang
kurang tidak harmonis membentuk seorang anak yang
berperilaku sosial menyimpang di lingkungan sekolah pada
khususnya, diantaranya dengan melakukan tindakan perudungan.
Kesimpulan: Perilaku merudung terbentuk akibat kondisi
keluarga di rumah, anak mencontoh apa yang dilihat dalam
keluarga semasa tumbuh kembangnya, implementasi
kekecewaan terhadap keluarga yang membesarkannya berupa
perudungan yang ia lakukan di lingkungan sekitarnya termasuk
lingkungan sekolah. Pendekatan secara emosi dan tindakan tegas
sedikit banyak membantu memperbaiki perilaku negatif anak.
Kata kunci: Perudungan, keharmonisan keluarga, Sekolah Dasar
Pendahuluan
Keluarga merupakan madrasah pertama bagi seorang anak. Setiap anggota keluarga saling
mempengaruhi bagaimana setiap individu dalam keluarga tersebut akan bertumbuh. Bagaimana pola asuh
keluarga terhadap anak-anaknya sangat berdampak krusial bagi pembentukan karakter setiap anak dalam
anggota keluarga tersebut (Rahmalia & Laeli, 2024), termasuk bagaimana seorang anak akan beradaptasi
pada lingkungan di luar keluarganya kelak (Nurholishoh, 2022).
Perilaku sosial seorang anak dimulai dari bagaimana keluarga memberi contoh serta mendidiknya
dalam bersosialisasi (Setiardi, 2017), mulai dari menanamkan tatakrama yang baik, perilaku santun,
berbahasa sopan dalam bertutur terhadap sesama anggota keluarga hingga kepada lingkungan terdekatnya,
yaitu lingkungan rumah yang terus berkembang hingga menjaga kepribadian yang santun di lingkungan
sekolah.
207
Volume: 2 | Nomor: 2 | Nopember 2024 | E-ISSN: 2987-9264| DOI: 10.47709/geci. V 2i2.5587
Keharmonisan sebuah keluarga sangat mempengaruhi karakteristik tumbuh kembang sosial
seorang anak (Mukliha & Annova, 2025), bagaimana peran seorang ayah dalam mencari nafkah namun
tetap mampu hadir membersamai tumbuh kembang anak secara logika, sehingga dapat mengawal tumbuh
kembang kognitifnya dengan baik, serta peranan ibu yang kuat dalam pengasuhan sehingga anak tumbuh
sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang. Keberhasilan peran tersebut akan menjadi cerminan
perilaku seorang anak di kehidupan sosialnya. Penelitian ini membuktikan tentang besarnya dampak
keharmonisan sebuah keluarga terhadap perilaku sosial seorang anak, terkait dengan perilaku perudungan
yang marak terjadi bahkan dilakukan oleh murid-murid jenjangan Sekolah Dasar.
Studi Literatur
Harmoni memiliki makna kerukunan dalam suatu hubungan, lingkaran kekerabatan. Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan dari kata harmoni adalah serasi yang selaras. Di dalam keluarga
yang harmonis terbangun kedisiplinan, perilaku saling menghargai, penuh maaf dan tolong menolong,
kebajikan, mencintai ilmu pengetahuan serta banyak hal lain yang berdampak besar terhadap karakteristik
setiap individu keluarga didalamnya (Masri, 2024), terutama kepada anak yang sedang bertumbuh
kembang. Sedangkan keluarga memiliki arti masyarakat terkecil yang menjadi lembaga pendidikan pertama
atas seorang individu. Keluarga akan menjadi contoh pertama yang membentuk karakter seorang manusia
(Saputra, Sinthia, Pangat, & Chalidaziah, 2023).
Perudungan memiliki arti kekerasan fisik dan psikologis yang terus menerus dilakukan seseorang
atau sekelompok orang, yang mengakibatkan gangguan secara fisik dan mental yang bisa mengakibatkan
kematian. Merudung merupakan hasrat untuk menyakiti atau melukai (Damayanti, Zaki, & Hidayani,
2024).
Terdapat empat bentuk tindak perudungan, yaitu:
1. Perudungan Verbal
Merupakan tindak perudungan dalam bentuk kata-kata yang menyudutkan, menjatuhkan berupa ancaman,
ejekan, dan sebagainya secara berulang-ulang. Akibat perundungan verbal terhadap korbannya berupa
gangguan psikologis, seperti korban merasa rendah diri, terhina dan sebagainya.
2. Perudungan Fisik
Tindakan perudungan berupa kekerasan kontak fisik seperti pemukulan, mencubit, mencakar, menendang,
menjegal yang mengakibatkan korban bukan hanya terluka secara fisik namun juga secara mental.
3. Perudungan Relasional (hubungan)
Berbeda dengan perudungan verbal dan fisik, tindak perudungan relasional lebih mengarah memanipulasi
perilaku sosial korban dengan pelaku, pelaku mengajak beberapa orang untuk menjauhi, mengucilkan,
korban dengan memanipulasi situasi.
4. Perudungan secara cyber cyberbullying
Tindak perudungan yang dilakukan melalui media media digital. Pelaku melakukan perudungan secara
anonim dan menyebarkannya secara cepat menggunakan media cyber. Meskipun dilakukan secara maya
melalui media sosial, dampak cyberbullying mengganggu perkembangan jiwa dan raga seorang anak
(Waluyati, Irmansyah, & Syaifullah, 2024)
Sepanjang tahun 2023 telah terdapat kasus perudungan sedikitnya 2.335, dengan korban
perudungan terbanyak berada pada jenjangan satuan Sekolah Dasar sebanyak 26 %
(https://sekolahrelawan.org/, 2024). Berbeda dengan KPAI mencatat sedikitnya terjadi 3.800 kasus
perudungan yang separuhnya berada pada satuan pendidikan (Elaine, 2024). Harian Detik.com
menyampaikan banyaknya kasus perudungan pada jenjangan Sekolah Dasar yang hingga memakan korban
tewas (News, 2024).
Pola asuh keluarga yang keliru menjadi dasar-dasar perilaku perudungan, adanya tindak intimidasi
dalam keluarga menjadi salah satu dalang terbentuknya karakteristik yang mengintimidasi. Keluarga yang
lengkap namun mencontohkan perilaku menyimpang seperti meremehkan perbedaan ekonomi, status sosial
dan sebagainya, menjadi karakter yang ditiru anak dalam bersosialisasi saat menemui kesenjangan di
lingkungannya. Termasuk perasaan yang timbul karena rasa cemburu ya (...truncated)