Pengaruh Gaya Bahasa Gen Alpha Terhadap Kedudukan Bahasa Indonesia
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 5 Maret – April 2025 Hal. 966-969
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Pengaruh Gaya Bahasa Gen Alpha Terhadap Kedudukan Bahasa
Indonesia
Arisman Nasution1, Angleika Tantri Siburian2, Tamara Saragih3, Hertorida Aritonang4
Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Medan
Jl. willem iskandar pasar v medan 20221 sumatera utara
e-mail:, ,
,
ABSTRAK
Generasi Alpha, yang lahir setelah tahun 2010, hidup dalam era digital yang berkembang pesat dan sangat
dipengaruhi oleh teknologi. Gaya bahasa yang digunakan oleh generasi ini menunjukkan karakteristik yang khas, terutama
dalam penggunaan bahasa gaul, serapan asing, serta komunikasi berbasis digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
bagaimana gaya bahasa Generasi Alpha mempengaruhi kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan resmi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa meskipun penggunaan bahasa nonformal meningkat, hal ini tidak serta merta melemahkan kedudukan
Bahasa Indonesia. Justru, bahasa berkembang mengikuti zaman, dan terdapat peluang untuk memperkaya kosakata serta
meningkatkan daya adaptasi Bahasa Indonesia terhadap perkembangan teknologi.
Kata kunci: Generasi Alpha, gaya bahasa, kedudukan Bahasa Indonesia, digitalisasi bahasa.
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
Pendahuluan
Generasi Alpha merupakan kelompok individu yang lahir di tengah perkembangan pesat teknologi
digital. Dalam keseharian mereka, komunikasi banyak dilakukan melalui media sosial, aplikasi chatting, dan
platform berbasis internet lainnya. Hal ini berdampak pada cara mereka berkomunikasi yang cenderung lebih
singkat, informal, dan banyak menyerap istilah dari bahasa asing. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang
bagaimana gaya bahasa mereka mempengaruhi kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan resmi.
Perubahan pola komunikasi ini dapat diamati dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan,
interaksi sosial, dan dunia kerja. Anak-anak Generasi Alpha tumbuh dengan kemudahan akses ke informasi dalam
berbagai bahasa, terutama bahasa Inggris yang mendominasi dunia digital. Mereka lebih terbiasa dengan bentuk
komunikasi yang efisien, menggunakan akronim, singkatan, serta emoji sebagai bagian dari ekspresi bahasa
mereka. Hal ini berpotensi mempengaruhi kebiasaan berbahasa di kalangan masyarakat luas dan menimbulkan
tantangan dalam menjaga keberlanjutan Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.
Di sisi lain, kemajuan teknologi juga memberikan peluang bagi Bahasa Indonesia untuk beradaptasi dan
berkembang. Inovasi dalam bidang linguistik, seperti pengayaan kosakata dan digitalisasi bahasa, dapat menjadi
alat yang mendukung eksistensi Bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi. Oleh karena itu, penting untuk
memahami bagaimana gaya bahasa Generasi Alpha memengaruhi penggunaan Bahasa Indonesia dan langkahlangkah yang dapat dilakukan untuk menyeimbangkan perkembangan bahasa dengan pelestarian bahasa nasional.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan
melalui beberapa teknik berikut:
1. Studi Literatur
Menganalisis berbagai sumber akademik, jurnal, dan penelitian terdahulu terkait perkembangan gaya
bahasa Generasi Alpha dan pengaruhnya terhadap Bahasa Indonesia.
2. Observasi Media Sosial
Memantau penggunaan bahasa di berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, Twitter, dan aplikasi
perpesanan guna mengidentifikasi pola penggunaan bahasa yang khas di kalangan Generasi Alpha.
Dengan kombinasi metode ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam
mengenai bagaimana Generasi Alpha menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana
dinamika tersebut berimplikasi terhadap kedudukan Bahasa Indonesia.
Hasil dan Pembahasan
A. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang khas dan berbeda dari penggunaan sehari-hari untuk
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.03 No. 05 Maret – April 2025
966
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 5 Maret – April 2025 Hal. 966-969
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
mencapai efek artistik atau persuasif tertentu. Gaya bahasa digunakan untuk membuat tulisan atau ucapan
menjadi lebih menarik, hidup, dan berkesan bagi pembaca atau pendengar. Beberapa jenis gaya bahasa yang
umum meliputi gaya bahasa perbandingan (simile, metafora), gaya bahasa pertentangan (paradoks,
kontradiksi), gaya bahasa sindiran (ironi, sarkasme), gaya bahasa penegasan (pleonasme, repetisi), gaya
bahasa hiperbola, gaya bahasa litotes, gaya bahasa personifikasi, dan gaya bahasa simbolik. Gaya bahasa
memiliki beberapa fungsi, antara lain menarik perhatian, menimbulkan kesan, memperjelas makna,
membangkitkan emosi, dan menciptakan keindahan dalam tulisan atau ucapan.
B. Gen Alpha
Generasi Alpha, atau Gen Alpha, adalah kelompok demografi setelah Generasi Z yang lahir antara
tahun 2010 dan 2025. Mereka dikenal sebagai "digital natives" karena tumbuh dalam lingkungan yang
didominasi oleh teknologi digital dan akrab dengan internet, media sosial, dan perangkat pintar sejak usia
dini. Generasi Alpha cenderung kreatif, mandiri, memiliki kemampuan belajar yang cepat, berpikir global,
terampil dalam multitasking, dan lebih menyukai konten visual. Mereka memiliki pengaruh besar dalam
pendidikan, konsumerisme, media dan hiburan, serta dunia kerja di masa depan. Namun, mereka juga
menghadapi tantangan seperti kecanduan teknologi, kurangnya interaksi sosial, informasi yang salah, serta
privasi dan keamanan di era digital. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk
memahami karakteristik dan tantangan Generasi Alpha agar dapat membantu mereka tumbuh dan
berkembang menjadi individu yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab di era digital.
Generasi Alpha cenderung kreatif, mandiri, memiliki kemampuan belajar yang cepat, berpikir
global, terampil dalam multitasking, dan lebih menyukai konten visual. Mereka memiliki pengaruh besar
dalam pendidikan, konsumerisme, media dan hiburan, serta dunia kerja di masa depan.
Dalam dunia pendidikan, Generasi Alpha menunjukkan preferensi terhadap pembelajaran yang
dipersonalisasi dan interaktif. Mereka lebih tertarik pada konten yang relevan dengan minat mereka dan
disampaikan melalui media yang menarik. Oleh karena itu, para pendidik perlu menyesuaikan metode
pengajaran mereka untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi unik Generasi Alpha. Pemanfaatan teknologi
dalam pendidikan juga menjadi kunci untuk menarik perhatian dan memotivasi mereka dalam belajar.
Dalam hal konsumerisme, Generasi Alpha memiliki daya beli yang signifikan dan menjadi target
pasar yang menarik bagi banyak perusahaan. Mereka cenderung lebih kritis dan selektif dalam memilih
prod (...truncated)