Hubungan Antara Gaya Kelekatan dengan Interaksi Parasosial pada Penggemar K-POP
Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume. 4, Nomor. 1, Maret 2025
e-ISSN : 2963-5527; dan p-ISSN : 2963-5527; Hal. 100-113
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v4i1.1821
Available online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Hubungan Antara Gaya Kelekatan dengan Interaksi Parasosial pada
Penggemar K-POP
Pipit Nopiyanti1*, Anniez Rachmawati Musslifah2, Faqih Purnomosidi3
1-3
Universitas Sahid Surakarta, Indoensia
Alamat: Jl. Adi Sucipto No.154, Jajar, Kec. Laweyan, Kota Surakarta
Korespondensi penulis:
Abstract. This study examines the relationship between attachment styles and parasocial interaction among Kpop fans, where fans may develop an emotional bond with their idols despite the lack of real reciprocity.
Attachment styles influence the level of attachment, with individuals with an anxious attachment style tending to
be more emotionally involved and dependent on their idols, while those with an avoidant attachment style
maintain more emotional distance. The role of social media in reinforcing the illusion of closeness is also a key
focus of this study. The research aims to identify the relationship between attachment styles and parasocial
interaction using a quantitative method with a correlation analysis approach. The findings indicate that fans with
an anxious attachment style tend to have a more intense emotional bond, actively participate in fandom activities,
and are more prone to anxiety when they lack updates about their idols. In contrast, those with an avoidant
attachment style still consume idol-related content but with lower emotional involvement. The theoretical
implication of this study supports the theories of attachment styles and parasocial interaction, explaining how
emotional relationships form between fans and idols. Practically, this study can be used to develop digital literacy
programs for K-pop fans to help them manage parasocial relationships in a healthier way, especially for
individuals who are more vulnerable to excessive emotional attachment.
Keywords: attachment styles, k-pop fans, parasocial interaction
Abstrak. Penelitian ini membahas hubungan antara gaya kelekatan dan interaksi parasosial pada penggemar Kpop, di mana penggemar dapat merasakan ikatan emosional dengan idola meskipun tanpa timbal balik nyata. Gaya
kelekatan memengaruhi tingkat keterikatan ini, dengan individu berkelekatan cemas cenderung lebih terlibat
secara emosional dan bergantung pada idola, sementara mereka dengan kelekatan menghindar lebih menjaga
jarak. Peran media sosial dalam memperkuat ilusi kedekatan juga menjadi perhatian dalam penelitian ini. Tujuan
penelitian adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara gaya kelekatan dan interaksi parasosial menggunakan
metode kuantitatif dengan pendekatan analisis korelasi. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
penggemar dengan gaya kelekatan cemas memiliki keterikatan emosional lebih intens, aktif dalam aktivitas
fandom, dan rentan terhadap kecemasan ketika jauh dari informasi tentang idola. Sebaliknya, mereka dengan gaya
kelekatan menghindar tetap mengonsumsi konten idola tetapi dengan keterlibatan emosional lebih rendah.
Implikasi penelitian ini secara teoritis, penelitian ini mendukung teori gaya kelekatan dan interaksi parasosial
yang menjelaskan bagaimana hubungan emosional terbentuk antara penggemar dan idola. Dan secara praktis,
penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan literasi digital bagi penggemar K-pop agar dapat mengelola
hubungan parasosial secara lebih sehat, terutama bagi individu yang lebih rentan terhadap keterikatan emosional
berlebihan.
Kata kunci: gaya kelekatan, penggemar k-pop, interaksi parasosial
1. LATAR BELAKANG
Budaya populer Korea Selatan, yang dikenal sebagai K-Pop, telah berkembang
secara global dan membentuk basis penggemar yang kuat di berbagai negara, termasuk
Indonesia. K-Pop menampilkan kombinasi musik pop, hip-hop, dan koreografi yang
menarik, yang membuatnya begitu diminati, terutama di kalangan anak muda. Para idola
K-Pop sering menggunakan media sosial dan melakukan live streaming untuk membangun
hubungan yang lebih dekat dengan penggemar mereka. Interaksi ini memungkinkan
Received: Februari 24, 2025; Revise:d Maret 08, 2025; Accepted: Maret 22, 2025; Published: Maret 24, 2025
HUBUNGAN ANTARA GAYA KELEKATAN DENGAN INTERAKSI PARASOSIAL PADA PENGGEMAR
K-POP
penggemar merasa lebih terhubung dengan idola, terutama ketika mereka memberikan
dukungan emosional di saat sang idola menghadapi masa sulit.
Banyak penggemar K-Pop, atau K-Popers, mengalami keterikatan emosional yang
mendalam terhadap idola mereka. Fenomena ini sering dikaitkan dengan perasaan
kesepian, keterasingan, atau kebosanan yang dialami penggemar dalam kehidupan nyata.
Dengan akses internet yang luas, mereka dapat dengan mudah memperoleh informasi
mengenai idola mereka, sehingga memperkuat perasaan mengenal sang idola secara
pribadi. Keterikatan ini menciptakan hubungan semu di mana penggemar merasa memiliki
koneksi yang dekat meskipun tidak ada interaksi langsung antara mereka dan idola.
Fenomena ini dikenal sebagai interaksi parasosial, yaitu hubungan satu arah di
mana seseorang merasa mengenal figur publik seolah-olah memiliki hubungan pribadi
dengannya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Horton dan Wohl (1956), yang
menjelaskan bahwa selebriti sering berkomunikasi dengan penggemar seolah-olah mereka
memiliki kedekatan nyata. Dalam konteks K-Pop, penggemar menunjukkan keterlibatan
tinggi melalui komentar di media sosial, partisipasi dalam fan meeting daring, serta
konsumsi konten eksklusif yang semakin memperkuat ilusi hubungan pribadi dengan idola
mereka.
Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kekuatan interaksi parasosial adalah
gaya kelekatan (attachment style). Teori kelekatan yang dikembangkan oleh John Bowlby
dan Mary Ainsworth menjelaskan bahwa pola kelekatan yang terbentuk sejak kecil
berpengaruh pada cara individu menjalin hubungan sosial di masa dewasa. Bartholomew
(1994) membagi gaya kelekatan menjadi secure, fearful, preoccupied, dan dismissing, yang
masing-masing memengaruhi bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain,
termasuk dalam interaksi parasosial. Individu dengan gaya kelekatan preoccupied
cenderung mengalami keterikatan emosional yang lebih kuat dengan idola dibandingkan
mereka yang memiliki gaya kelekatan secure.
Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan peneliti pada 5 K-popers pada tanggal
6 November 2024, diperoleh hasil wawancara bahwa interaksi parasosial dan gaya
kelekatan saling berpengaruh. Berdasarkan keempat aspek gaya kelakatan, yaitu secure,
fearful, preoccupied, dan dismissing dapat disimpulkan bahwa keempat orang kpopers
tersebut merasa dekat dengan idola yang mereka sukai, dan satu diantara keempatnya tidak
merasa dekat karena beralasan belum pernah bertemu langsung atau ikut fan meeting.
Mereka juga aktif berinteraksi dengan idola kesukaan mereka, terlebih saat sang idola
melakukan live streami (...truncated)