Teori Filter Bubble dan Echo Chamber: Dampak Transformasi Digital Terhadap Pendidikan Islam
Concept: Journal of Social Humanities and Education
Volume. 4, Nomor. 1, Maret 2025
e-ISSN : 2963-5527; dan p-ISSN : 2963-5527; Hal. 122-130
DOI: https://doi.org/10.55606/concept.v4i1.1824
Available online at: https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept
Teori Filter Bubble dan Echo Chamber: Dampak Transformasi Digital
Terhadap Pendidikan Islam
Salman Shiddiq1*, Misra2
1-2
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Indonesia
Korespondensi penulis: *
Abstract.Digital transformation has brought significant changes to education, revolutionizing the way knowledge
is accessed, shared, and disseminated. It has provided a wealth of opportunities for innovation, convenience, and
accessibility in learning. However, the rapid shift to digital platforms presents several challenges that may hinder
the development of students’ critical thinking and exacerbate educational inequalities. Among these challenges
are the digital divide, filter bubbles, and echo chambers, which can negatively impact students’ perspectives and
deepen the educational gap between urban and rural areas. This research aims to analyze the effects of digital
transformation on education, with a particular focus on Islamic education. It also explores the role of filter
bubbles and echo chambers in shaping students' insights and understanding of various issues. The research
method used is library research, involving the collection and analysis of literature from various scholarly sources
such as Sinta, ResearchGate, and Google Scholar. The findings of the study highlight that digital transformation
has facilitated the learning process through platforms like Google Classroom and Zoom, making education more
accessible. However, it also introduces challenges, such as the spread of misinformation and hoaxes, which are
amplified by filter bubbles and echo chambers. From an Islamic educational perspective, digital transformation
aligns with the principles of seeking knowledge and justice. However, the digital divide contradicts the Islamic
value of equal access to education for all. In conclusion, it is necessary to improve digital literacy, provide
equitable infrastructure, and promote cross-perspective collaboration to create a more inclusive and equitable
learning environment. The findings aim to guide policymakers and educators in shaping better educational
strategies.
Keywords: Digital Technology, Inclusive Education, Learning Media
Abstrak.Transformasi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, merevolusi cara
pengetahuan diakses, dibagikan, dan disebarluaskan. Transformasi ini telah menyediakan berbagai peluang untuk
inovasi, kenyamanan, dan aksesibilitas dalam proses pembelajaran. Namun, pergeseran cepat menuju platform
digital menghadirkan beberapa tantangan yang dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis siswa dan
memperburuk ketimpangan pendidikan. Di antara tantangan tersebut adalah kesenjangan digital, filter bubble, dan
echo chamber, yang dapat berdampak negatif pada perspektif siswa dan memperdalam kesenjangan pendidikan
antara daerah perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak transformasi digital
dalam pendidikan, dengan fokus khusus pada pendidikan Islam. Penelitian ini juga mengeksplorasi peran filter
bubble dan echo chamber dalam membentuk wawasan dan pemahaman siswa terhadap berbagai isu. Metode
penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka, dengan mengumpulkan dan menganalisis literatur dari
berbagai sumber ilmiah seperti Sinta, ResearchGate, dan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
transformasi digital mempermudah proses pembelajaran melalui platform seperti Google Classroom dan Zoom,
yang membuat pendidikan lebih mudah diakses. Namun, transformasi ini juga membawa tantangan, seperti
penyebaran disinformasi dan hoaks yang diperburuk oleh filter bubble dan echo chamber. Dari perspektif
pendidikan Islam, transformasi digital sejalan dengan prinsip mencari ilmu dan keadilan. Namun, kesenjangan
digital bertentangan dengan nilai Islam yang menekankan akses pendidikan yang setara bagi semua orang.
Kesimpulannya, diperlukan upaya untuk meningkatkan literasi digital, menyediakan infrastruktur yang merata,
dan mendorong kolaborasi lintas perspektif untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan
adil. Temuan ini bertujuan untuk memberikan panduan bagi pembuat kebijakan dan pendidik dalam merumuskan
strategi pendidikan yang lebih baik.
Kata Kunci : Echo Chamber, Filter Bubble, Kesenjangan Digital,Pendidikan Islam, Transformasi Digital
Received: Februari 14, 2025; Revised: Februari 28, 2025; Accepted: Maret 23, 2025; Published: Maret 25, 2025
Teori Filter Bubble dan Echo Chamber: Dampak Transformasi
Digital Terhadap Pendidikan Islam
1. LATAR BELAKANG
Dewasa ini, perkembangan teknologi terjadi begitu cepat. Musnaini (2020) didalam
bukunya mengatakan era society 5.0 membuat batas antara dunia digital dan dunia nyata
menjadi transparan dalam kehidupan. Era ini menjadi gudang informasi bagi semua orang
untuk menggali segala hal secara cepat dan instan. Disamping itu, arus perubahan global
membawa dampak baru bagi kehidupan, salah satunya penggunaan media sosial yang masif di
kalangan pelajar, terkhusus pelajar Indonesia.
Menyikapi hal ini, Junawan dan Laugu dalam jurnalnya (2020) menyatakan bahwa di
Indonesia terjadi peningkatan pengguna media sosial. Menurut Asosiasi Penyelenggaran Jasa
Internet Indonesia (APJII) (Haryanto, 2024) bahwa pada tahun 2024 menunjukkan bahwa
penggunaan internet di Indonesia semakin meningkat. Dari total populasi Indonesia yang
mencapai 278.696.200 jiwa pada tahun 2023, sekitar 221.563.479 jiwa merupakan pengguna
internet aktif di tahun 2024. Berdasarkan survei terbaru, tingkat penetrasi internet di Indonesia
mengalami peningkatan sebesar 1,4% pada tahun 2024, mencapai 79,5% dari total populasi.
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan akses di kalangan generasi milenial dan
Gen Z.
Didukung dari data wearesocial.com (diakses pada 17 Maret 2025, pukul 20:05)
menunjukkan bahwa kecenderungan gen z sebagai pengguna aktif media sosial sangat jelas,
terutama terlihat dari waktu yang mereka habiskan di platform-platform tersebut. Sebagai
contoh, mereka menghabiskan sekitar 38 jam per minggu hanya untuk menjelajahi TikTok. Ini
menunjukkan betapa besar pengaruh media sosial dalam kehidupan mereka, tidak hanya
sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai sumber hiburan dan informasi yang utama.
Penggunaan media sosial yang berlebihan membawa pengaruh negatif dalam
pendidikan. Pasalnya didalam penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati dkk (2023) dampak
negatifnya meliputi melalaikan waktu belajar, menganggu konsentrasi belajar, menganggu
kesehatan, pemicu masalah, postingan tidak pantas, dan sumber informasi palsu. Didukung
dengan penelitian yang dilakukan Siti dan Zubaidah (2022) sebuah penelitian yang melibatkan
250 siswa SMA di Indonesia mengungkapkan bahwa pengguna (...truncated)