Dampak Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji Bagi Kehidupan Masyarakat Kecamatan Tiga Dihaji Kabupaten Oku Selatan
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 4 Januari - Februari 2026 Hal. 503-510
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Dampak Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji Bagi Kehidupan Masyarakat
Kecamatan Tiga Dihaji Kabupaten Oku Selatan
Aldi Wiranataa, Ryllian Chandra Eka Vianab, Najmi Muhammad Fadlic
abc
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Politik, UIN Raden Fatah Palembang
Email:
Abstrak
Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji yang berlokasi di Kecamatan Tiga Dihaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang bertujuan mendukung penyediaan air irigasi dan air baku, pengendalian
banjir, serta pengembangan potensi ekonomi daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak pembangunan Bendungan Tiga
Dihaji terhadap kehidupan masyarakat serta mengidentifikasi peluang dan manfaat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
terdampak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan,
wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan bendungan memberikan dampak
positif berupa terciptanya lapangan kerja baru dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, juga menimbulkan dampak
negatif berupa hilangnya lahan produktif, kerusakan lingkungan, penurunan debit dan kualitas air Sungai Selabung, serta
terganggunya keseimbangan ekosistem dan tatanan sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan Teori Politik Agraria Urip
Santoso sebagai kerangka analisis untuk memahami relasi kuasa antara negara dan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur.
Diperlukan kebijakan pengelolaan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan serta pendampingan ekonomi dan kompensasi
yang berkeadilan agar tujuan pembangunan dapat tercapai secara optimal tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kata kunci: pembangunan bendungan, dampak sosial ekonomi, dampak lingkungan, masyarakat terdampak, Bendungan Tiga Dihaji,
politik agraria
Abstract
The construction of the Tiga Dihaji Dam, located in Tiga Dihaji District, South Ogan Komering Ulu Regency, is part of a
National Strategic Project aimed at supporting irrigation and raw water provision, flood control, and regional economic
development. This study aims to analyze the impact of the Tiga Dihaji Dam construction on community life and identify opportunities
and benefits that can be utilized by affected communities. This research employed a descriptive qualitative approach, with data
collection through field observations, in-depth interviews, and documentation. The results indicate that dam construction has
positive impacts in the form of new job creation and increased community economic activity. However, it also has negative impacts,
including loss of productive land, environmental damage, decreased discharge and quality of the Selabung River, and disruption to
ecosystem balance and social order. This study uses Urip Santoso's Agrarian Politics Theory as an analytical framework to
understand power relations between the state and society in infrastructure development. Sustainable social and environmental
impact management policies, along with economic assistance and equitable compensation, are needed to optimally achieve
development goals without sacrificing local community welfare.
Keywords: dam construction, socioeconomic impacts, environmental impacts, affected communities, Tiga Dihaji Dam, agrarian
politics
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
1. PENDAHULUAN
Pembangunan infrastruktur bendungan merupakan bagian integral dari agenda pembangunan nasional yang
berperan strategis dalam memperkuat ketahanan pangan, meminimalkan risiko bencana banjir, serta menjamin
ketersediaan air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam kerangka Proyek Strategis Nasional (PSN),
pembangunan bendungan dipandang sebagai instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan sosial. Namun, di balik tujuan tersebut, pembangunan infrastruktur berskala besar kerap menimbulkan
dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang berada di sekitar wilayah
pembangunan (Saputro et al., 2025).
Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional menjadi instrumen kebijakan negara yang memperluas kewenangan
pemerintah pusat hingga ke wilayah daerah melalui proyek infrastruktur berskala besar. Kebijakan PSN di tingkat
provinsi tidak hanya berfungsi sebagai sarana percepatan pembangunan, tetapi juga menunjukkan bagaimana
kekuasaan negara dioperasionalkan dalam pengaturan ruang, pengadaan tanah, dan pengelolaan dampak pembangunan
yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat lokal (Sujadi, 2018).
Salah satu implementasi kebijakan Proyek Strategis Nasional di Provinsi Sumatera Selatan adalah
pembangunan Bendungan Tiga Dihaji yang berlokasi di Kecamatan Tiga Dihaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 04 Januari - Februari 2026
503
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 4 Januari - Februari 2026 Hal. 503-510
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Selatan. Bendungan ini dirancang untuk mendukung sistem irigasi pertanian, pengendalian banjir, serta penyediaan air
baku bagi masyarakat dan sektor produktif di wilayah sekitarnya. Sebagai proyek infrastruktur berskala besar,
pembangunan Bendungan Tiga Dihaji membawa perubahan yang berdampak terhadap kondisi ruang, aktivitas
ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat lokal yang berada di sekitar area pembangunan (Mangore et al., 2021).
Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui irigasi,
pengendalian banjir, dan penguatan ekonomi lokal. Namun, pada tahap konstruksi, masyarakat sekitar justru
menghadapi berbagai persoalan seperti pembebasan lahan, perubahan mata pencaharian, serta gangguan lingkungan
dan infrastruktur. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ideal pembangunan dan realitas yang
dialami masyarakat di lapangan (Ihsan, 2021).
Di satu sisi, pembangunan bendungan membuka peluang ekonomi baru dan menyediakan lapangan kerja
jangka pendek bagi masyarakat sekitar. Namun, di sisi lain proyek ini juga memicu gangguan ekologis yang nyata,
seperti menurunnya kualitas air Sungai Selabung akibat aktivitas konstruksi di wilayah hulu. Selain itu, peningkatan
debu dan lalu lintas kendaraan proyek turut menimbulkan polusi udara yang mengganggu kesehatan serta kenyamanan
warga di sepanjang jalur logistik.
Lebih mendalam lagi, pembangunan ini mengubah fungsi sosial tanah dan pola nafkah masyarakat secara
fundamental. Alih fungsi lahan perkebunan produktif menjadi area genangan dan infrastruktur bendungan memaksa
warga beradaptasi dengan pola kehidupan baru. Meskipun kompensasi ganti rugi telah dijalankan, ketimpangan relasi
kuasa masih tampak jelas, di mana masyarakat cenderung berada pada posisi reaktif da (...truncated)