Internalisasi Karakter Santri Melalui Pembelajaran Tari Zapin Berbasis Community Based Learning di Grup Zapinestars Pondok Pesantren Cipasung Kabupaten Tasikmalaya

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Jan 2026

This study aims to describe the learning process of Zapin Dance based on the community and to identify the character values of students that are internalized through this learning practice. Art activities in pesantren are generally positioned as the development of interests and talents, so the learning experiences and social experiences within them have not been fully understood as part of the character education process. The research uses a descriptive qualitative approach with observation, interview, and documentation techniques. Community Based Learning (CBL) is used as an analytical framework to study learning practices that naturally occur within the Zapinestars community. The results of the study indicate that learning takes place in a non-formal, gradual, and participatory manner through social interaction, habitual practice, cooperation, and collective responsibility. Character values such as discipline, responsibility, cooperation, social care, and manners are evident through the behavior and habits of the students during the training process. These findings confirm that Zapin Dance functions not only as an art activity but also as a social learning space that allows the internalization of character to take place through real experiences within the community.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/4420/3564

Internalisasi Karakter Santri Melalui Pembelajaran Tari Zapin Berbasis Community Based Learning di Grup Zapinestars Pondok Pesantren Cipasung Kabupaten Tasikmalaya

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 4 Januari-Februari 2026 Hal. 487-491 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs.4420 ISSN : 2963-5802 Internalisasi Karakter Santri Melalui Pembelajaran Tari Zapin Berbasis Community Based Learning di Grup Zapinestars Pondok Pesantren Cipasung Kabupaten Tasikmalaya Tania Rahmawati Hidayata, Asti Tri Lestarib , Wan Ridwan Husenc a Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, b Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, c Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Submitted: 30-01-2026, Reviewed: 01-02-2026, Accepted: 02-02-2026 Abstract This study aims to describe the learning process of Zapin Dance based on the community and to identify the character values of students that are internalized through this learning practice. Art activities in pesantren are generally positioned as the development of interests and talents, so the learning experiences and social experiences within them have not been fully understood as part of the character education process. The research uses a descriptive qualitative approach with observation, interview, and documentation techniques. Community Based Learning (CBL) is used as an analytical framework to study learning practices that naturally occur within the Zapinestars community. The results of the study indicate that learning takes place in a non-formal, gradual, and participatory manner through social interaction, habitual practice, cooperation, and collective responsibility. Character values such as discipline, responsibility, cooperation, social care, and manners are evident through the behavior and habits of the students during the training process. These findings confirm that Zapin Dance functions not only as an art activity but also as a social learning space that allows the internalization of character to take place through real experiences within the community. Keywords: Community-Based Learning, character education, Zapin dance, Islamic boarding school Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran Tari Zapin berbasis komunitas dan mengidentifikasi nilai-nilai karakter siswa yang diinternalisasi melalui praktik pembelajaran ini. Aktivitas seni di pesantren umumnya diposisikan sebagai pengembangan minat dan bakat, sehingga pengalaman belajar dan pengalaman sosial di dalamnya belum sepenuhnya dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pembelajaran Berbasis Komunitas (CBL) digunakan sebagai kerangka analitis untuk mempelajari praktik pembelajaran yang terjadi secara alami di dalam komunitas Zapinestars. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung secara non-formal, bertahap, dan partisipatif melalui interaksi sosial, praktik kebiasaan, kerja sama, dan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepedulian sosial, dan tata krama terlihat melalui perilaku dan kebiasaan siswa selama proses pelatihan. Temuan ini menegaskan bahwa Tari Zapin berfungsi tidak hanya sebagai aktivitas seni tetapi juga sebagai ruang belajar sosial yang memungkinkan internalisasi karakter terjadi melalui pengalaman nyata di dalam komunitas. Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Komunitas, pendidikan karakter, tari Zapin, sekolah berasrama Islam This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license PENDAHULUAN Komunitas merupakan ruang sosial tempat individu berinteraksi secara berkelanjutan dan membangun makna melalui praktik yang dilakukan secara bersama. Dalam konteks ini pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui transmisi pengetahuan formal, melainkan tumbuh dari keterlibatan langsung dalam aktivitas Bersama, pengamatan, serta partisipasi sosial. Wenger menegaskan bahwa anggota komunitas terikat secara informal oleh apa yang mereka lakukan bersama dan apa yang mereka pelajari melalui keterlibatan bersama tersebut (Wenger, 1998). Pandangan ini menempatkan komunitas sebagai lingkungan belajar yang partisipatif, kontekstual, dan berbasis pengalaman, sehingga berpotensi menjadi ruang berlangsungnya internalisasi nilai melalui praktik sosial yang berulang. Namun demikian, keberadaan komunitas tidak secara otomatis menjamin terjadinya proses internalisasi nilai. Keterlibatan sosial dapat berhenti pada rutinitas kolektif apabila tidak disertai orientasi pedagogis dan refleksi yang memadai. Eyler dan Giles menekankan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman memerlukan pendampingan serta refleksi agar pengalaman sosial memiliki makna pendidikan yang mendalam (Eyler & Giles, 1999). Tanpa kerangka tersebut, aktivitas komunitas berisiko menjadi kegiatan sosial semata tanpa menghasilkan perubahan sikap dan pemaknaan nilai secara berkelanjutan. Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 04 Januari-Februari 2026 487 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 4 Januari-Februari 2026 Hal. 487-491 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs.4420 ISSN : 2963-5802 Pendekatan Community Based Learning (CBL) menawarkan kerangka pedagogis untuk mengaktifkan potensi komunitas sebagai ruang belajar. CBL memadukan keterlibatan langsung peserta didik dalam praktik komunitas dengan proses refleksi, sehingga pengalaman sosial dapat dimaknai sebagai pengalaman belajar. Nchaga menyatakan bahwa Community Based Learning mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan keterlibatan komunitas untuk menghasilkan pengalaman belajar nyata sekaligus menumbuhkan tanggung jawab sosial (Nchaga, 2025). Sejalan dengan itu, Owens menegaskan bahwa CBL berlangsung melalui tahapan perencanaan, keterlibatan dalam aktivitas komunitas, dan refleksi, di mana kejelasan perencanaan berpengaruh langsung terhadap kedalaman pengalaman belajar peserta didik (Owens & Wang, 1996). Dengan demikian, komunitas dipahami bukan sekadar latar sosial, melainkan medium pedagogis yang memungkinkan nilai dialami secara langsung. Urgensi pendekatan tersebut semakin relevan dalam konteks pendidikan karakter generasi muda. Berbagai kajian menunjukkan adanya kecenderungan melemahnya disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial akibat perubahan pola interaksi dan meningkatnya individualisme. Di lingkungan pesantren, yang secara historis dikenal sebagai institusi pembinaan akhlak, tantangan serupa tetap dijumpai. Penelitian Laeliah menunjukkan adanya penurunan kedisiplinan santri yang ditandai dengan keterlambatan mengikuti kegiatan pesantren serta ketidakkonsistenan dalam menjalankan kewajiban (Laeliah, 2024). Kondisi ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup disampaikan secara normatif, tetapi perlu dihadirkan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sosial santri. Zubaedi menyatakan bahwa (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/4420/3564
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/4420/3564

Tania Rahmawati Hidayat, Asti Tri Lestari, Wan Ridwan Husen. Internalisasi Karakter Santri Melalui Pembelajaran Tari Zapin Berbasis Community Based Learning di Grup Zapinestars Pondok Pesantren Cipasung Kabupaten Tasikmalaya, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2026, pp. 487-491,