Implementasi Kesenian Ronggeng Amen Berbasis Proyek Sebagai Pengenalan Budaya Lokal Dalam Ekstrakulikuler Seni Tari Di SMA Negeri 1 Mangunjaya Kabupaten
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 4 Januari-Februari 2026 Hal. 492-496
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs.4422
ISSN : 2963-5802
Implementasi Kesenian Ronggeng Amen Berbasis Proyek Sebagai
Pengenalan Budaya Lokal Dalam Ekstrakulikuler Seni Tari Di SMA
Negeri 1 Mangunjaya Kabupaten
Rany Ismaya Agustina, Asti Tri Lestarib, Budi Dharmac
a
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
b
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
c
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
Submitted: 31-01-2026, Reviewed: 01-02-2026, Accepted: 02-02-2026
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil implementasi kesenian Ronggeng Amen berbasis Project
Based Learning dalam kegiatan ekstrakurikuler seni tari di SMA Negeri 1 Mangunjaya sebagai strategi pengenalan budaya
lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler seni tari serta pihak
terkait dalam pelaksanaan kegiatan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang
meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi melalui triangulasi.Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan Project Based Learning dalam kegiatan ekstrakurikuler seni tari mampu memfasilitasi siswa
untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran kesenian Ronggeng Amen. Pembelajaran berbasis proyek mendorong siswa
memahami kesenian Ronggeng Amen tidak hanya sebagai rangkaian gerak tari, tetapi juga sebagai warisan budaya yang
memiliki nilai simbolik dan fungsi sosial. Selain itu, implementasi ini berdampak pada peningkatan pemahaman budaya
lokal, sikap apresiatif, keterlibatan aktif, serta pengembangan keterampilan kerja sama dan tanggung jawab siswa. Dengan
demikian, Project Based Learning dinilai relevan dan efektif sebagai strategi pengenalan dan pelestarian budaya lokal
melalui kegiatan ekstrakurikuler seni tari.
Kata Kunci: Ronggeng Amen, Project Based Learning, Ekstrakulikuler
Abstract
This study aims to describe the process and outcomes of implementing Ronggeng Amen traditional dance through Project
Based Learning in extracurricular dance activities at SMA Negeri 1 Mangunjaya as a strategy for introducing local culture.
This research employed a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, interviews, and
documentation. The research subjects included students participating in dance extracurricular activities and related parties
involved in the program. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman, consisting of
data reduction, data display, and conclusion drawing with verification through triangulation. The findings indicate that the
implementation of Project Based Learning in extracurricular dance activities effectively facilitates active student
involvement in learning Ronggeng Amen. The project-based approach encourages students to understand Ronggeng Amen
not merely as a sequence of dance movements, but as a cultural heritage with symbolic meanings and social functions.
Furthermore, the implementation contributes to the improvement of students’ understanding of local culture, appreciative
attitudes, active participation, as well as the development of collaboration and responsibility skills. Therefore, Project Based
Learning is considered a relevant and effective strategy for introducing and preserving local culture through dance
extracurricular activities.
Keywords: Ronggeng Amen, Project Based Learning, Ekstracurricular
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Seni merupakan sarana ekspresi batin manusia yang tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan
kebutuhan estetis, tetapi juga sebagai media komunikasi psikologis, edukatif, dan kultural. Miharja (2019)
menyatakan bahwa seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksikan realitas melalui bentuk dan isi karya
yang mampu membangkitkan pengalaman batin penerimanya. Pandangan tersebut diperkuat oleh Munro (1991)
yang menegaskan bahwa seni merupakan alat buatan manusia untuk menimbulkan efek psikologis berupa
pengamatan, pengenalan, dan imajinasi, baik secara rasional maupun emosional. Dengan demikian, seni tidak
hanya dipahami sebagai produk indrawi, melainkan sebagai peristiwa spiritual dan psikologis yang menuntut
keterlibatan penuh dari pencipta maupun penikmatnya (Soedarso, 2000).
Dalam konteks kebudayaan, seni tradisional merupakan manifestasi nilai, norma, dan identitas
masyarakat pendukungnya. Indonesia sebagai negara multikultural memiliki keanekaragaman seni tradisional
yang menjadi bagian dari kekayaan sosiokultural bangsa dan perlu dijaga serta dilestarikan (Kasman, 2011).
Salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Pangandaran adalah Ronggeng Amen, yang
merupakan hasil transformasi dari Ronggeng Gunung. Menurut Carolin (2019), Ronggeng Gunung merupakan
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 04 Januari-Februari 2026
492
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 4 Januari-Februari 2026 Hal. 492-496
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs.4422
ISSN : 2963-5802
bentuk awal dari Ronggeng Amen yang berasal dari wilayah pegunungan Pangandaran dan mengalami
pergeseran fungsi dari ritual sakral menjadi hiburan rakyat. Transformasi ini dipengaruhi oleh perubahan sosial,
ekonomi, serta masuknya nilai-nilai modern dalam kehidupan masyarakat (Puspito, 2017).
Ronggeng Amen memiliki ciri khas berupa interaksi sosial antara penari dan penonton melalui praktik
ngibing, penggunaan musik yang lebih adaptif seperti dangdut dan pop Sunda, serta struktur pertunjukan yang
diawali dengan tarian pembuka tari lulugu sebagai bentuk penghormatan (Lubis & Darsa, 2015; Suherti, 2018).
Meskipun demikian, minat generasi muda terhadap kesenian ini cenderung menurun, sehingga keberadaannya
menghadapi tantangan dalam pewarisan budaya (Julianti Anugrah et al., 2023). Kondisi tersebut menunjukkan
urgensi keterlibatan lembaga pendidikan sebagai ruang strategis dalam pelestarian seni tradisional.
Sekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler seni tari, memiliki peran penting dalam mengembangkan
minat dan bakat peserta didik sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal (Ummah, 2019). Namun,
pembelajaran seni yang bersifat konvensional sering kali belum mampu memberikan pengalaman belajar yang
kontekstual dan bermakna. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa
sebagai subjek aktif, salah satunya melalui Project Based Learning (PjBL). PjBL menekankan pembelajaran
berbasis proyek yang melibatkan siswa dalam proses perencanaan, eksplorasi, pelaksanaan, dan evaluasi
kegiatan secara kolaboratif (Lestari, 2020).
Dalam konteks pembelajaran (...truncated)