Endangering Child Rearing and The Quality of Family Communication: Socio-Psychological Impact of Women Migrant Workers Overseas
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 5 Maret-April 2026 Hal. 566-577
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/4453
ISSN : 2963-5802
Endangering Child Rearing and The Quality of Family Communication:
Socio-Psychological Impact of Women Migrant Workers Overseas
Tiara Kusuma Wardhania, Safira Amandab, Khanna Maulidya Dika Bintaric, Putri Regina
Januarizkad, Naufal Azfa Setiyantoe, Tiara Putri Valentinaf, Maritza Alifah Zamirg, Muhammad Bayu
Sulthanh, Ganesh Zernikeridzki Gunawani, Agus Joko Pitoyoj
a,b,c,d,e,f,g,h,i,j
Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada,
Submitted: 07-02-2026, Reviewed: 08-02-2026, Accepted: 09-02-2026
Abstract
The migration of female Indonesian migrant workers (PMI) is a growing phenomenon in rural areas in response to limited
employment opportunities and economic pressures on households, including in Sendang Subdistrict, Tulungagung Regency.
This study aims to analyze the impact of female PMI departure on the socio-psychological conditions of households,
particularly changes in domestic roles, child-rearing patterns, and the quality of family communication. The study uses a
quantitative descriptive approach through structured interviews, observation, and documentation. The results of the study
show a shift in gender roles within households, marked by the takeover of domestic and childcare tasks by husbands or other
family members. In addition, the intensity and quality of long-distance communication has a significant effect on emotional
attachment and family relationship stability. These findings confirm that female PMI migration not only has an impact on
economic aspects, but also on the social and psychological well-being of households.
Keywords: female migrant workers, households, Sendang Subdistrict, socio-psychological conditions
Abstrak
Migrasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) perempuan merupakan fenomena yang meningkat di wilayah pedesaan sebagai
respons terhadap keterbatasan lapangan kerja dan tekanan ekonomi rumah tangga, termasuk di Kecamatan Sendang,
Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak keberangkatan PMI perempuan terhadap kondisi
sosial-psikologis rumah tangga, khususnya perubahan peran domestik, pola pengasuhan anak, dan kualitas komunikasi
keluarga. Penilitan ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui wawancara tersturktur, observasi, dan
dokumentasi Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran peran gender dalam rumah tangga, ditandai dengan
pengambilalihan tugas domestik dan pengasuhan oleh suami atau anggota keluarga lainnya. Selain itu, intensitas dan kualitas
komunikasi jarak jauh berpengaruh penting terhadap kelekatan emosional dan stabilitas hubungan keluarga. Temuan ini
menegaskan bahwa migrasi PMI perempuan tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada kesejahteraan
sosial dan psikologis rumah tangga.
Kata Kunci: Kecamatan Sendang, kondisi sosial-psikologis, pekerja migran perempuan, rumah tangga
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Seiring dengan ketimpangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, migrasi tenaga kerja menjadi fenomena
yang semakin meningkat di berbagai daerah. Banyak masyarakat cenderung mencari peluang kerja di luar negeri
karena tekanan ekonomi rumah tangga, keterbatasan lapangan kerja domestik, dan tingkat upah yang rendah.
Hal itu dilakukan untuk mempertahankan perekonomian keluarga serta dapat berkontribusi meningkatkan
penerimaan devisa negara melalui remitansi. Pemerintah berusaha mengurangi angka pengangguran negara
melalui pemanfaatan program tenaga kerja yang bekerja ke luar negeri (Cahyono, 2015). Migrasi tenaga kerja
tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga pekerja perempuan, terutama yang bekerja di sektor rumah
tangga.
Indonesia adalah salah satu negara dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagian besar perempuan yang
bekerja di sektor informal, di mana mereka sangat rentan terhadap eksploitasi, ketidakpastian hukum, dan
ancaman sosial lainnya. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki PMI tertinggi, yaitu Kabupaten
Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Tulungagung dikenal sebagai daerah yang mengirimkan banyak
tenaga kerja ke luar negeri dengan ribuan warganya bekerja sebagai PMI di berbagai negara, terutama di sektor
domestik dan konstruksi (Ridlwan dan Susgaleni, 2023). Berdasarkan Data Penempatan dan Perlindungan PMI
Periode September 2023, Kabupaten Tulungagung menempati urutan ke-12 dengan total 5.524 penempatan
pekerja migran (Fidyawati dan Ardi, 2024). Kecamatan Sendang merupakan salah satu dari beberapa kecamatan
yang memiliki tingkat migrasi tenaga kerja yang relatif tinggi dan mayoritas pekerja migran perempuan.
Perempuan di Kecamatan Sendang yang bekerja ke luar negeri didorong oleh beberapa faktor, seperti
keadaan geografis pedesaan cukup ekstrem yang menyebabkan kurangnya lapangan pekerjaan, rendahnya
pendapatan rumah tangga, selain itu juga didukung oleh adanya jaringan sosial migrasi yang kuat. Penduduk
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 05 Maret-April 2026
566
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 5 Maret-April 2026 Hal. 566-577
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/4453
ISSN : 2963-5802
perempuan yang bermigrasi umumnya bertindak sebagai pencari nafkah dan penopang keuangan keluarga untuk
menggantikan atau melengkapi peran finansial suami mereka. Adanya tuntutan ekonomi dan pemenuhan
kebutuhan keluarga menyebabkan sebagian keluarga menghadapi kesulitan untuk mempertahankan
kesejahteraan keluarga mereka hanya dari satu pendapatan atau pemasukan. Oleh karena itu, diharapkan
kontribusi ekonomi perempuan yang dapat membantu keluarga mengatasi masalah keuangan dan mengelola
sumber daya yang mereka miliki sehingga terwujud kesejahteraan keluarga (Rosiana dkk., 2023).
Keberangkatan ibu atau istri untuk menjadi migran menyebabkan peristiwa ekonomi dan sosial yang
berdampak besar pada kehidupan keluarga. Perubahan struktur peran dalam rumah tangga sering kali
memengaruhi hubungan suami-istri, pembagian kerja domestik, pola pengasuhan anak, dan kualitas komunikasi
keluarga. Anak-anak yang ditinggalkan mungkin mengalami perubahan pola asuh karena adanya pergantian
pengasuhan oleh ayah, kakek-nenek, atau kerabat lainnya sehingga dapat memengaruhi perkembangan
emosional dan sosial mereka. Selain itu, kesehatan mental anak-anak dan pasangan yang ditinggalkan dapat
terpengaruh oleh kepergian ibu atau istri yang lama. Keluarga PMI perempuan seringkali mengalami masalah
seperti kesepian, tekanan peran ganda pada ayah, konflik rumah tangga, dan risiko kehilangan hubungan
pasangan. Meskipun remitansi dapat meningkatkan kesejahteraan material keluarga, tetapi kesejahteraan sosial
dan psikologis keluarga tidak selalu tumbuh secara positif bersamaan.
Saat ini, fokus penelitian tentang migrasi pekerja perempuan masih pada faktor ekonomi dan (...truncated)