Karya Musik Dialog Sonic: Kolaborasi Saxophone, Gitar, Kecapi, Dan Tabla

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Aug 2025

This artistic practice-based research aims to create a collaborative musical work as a sonic dialogue between Western and Eastern music. The instruments utilized include saxophone and guitar, representing Western idioms, and kacapi (Sundanese) and tabla (Indian), representing Eastern traditions. The creation process involved three main stages: idiom exploration, improvisational experimentation, and final composition arrangement. The findings demonstrate the feasibility of integrating rhythmic structures (tala) and traditional melodic patterns (pelog/salendro) with modern jazz harmony and improvisation. The collaborative process fostered active dialogue among musicians from diverse cultural backgrounds, inherently cultivating cross-traditional understanding. Analysis of the work confirms that idiomatic synthesis is achievable without compromising each instrument's musical identity, provided there is aesthetic, technical, and cultural awareness throughout the creation stages. This work not only yields new musical forms but also underscores the significance of an intercultural approach in contemporary art. Furthermore, the creative process serves as a reflective vehicle for re-evaluating the relationship between individual expression, cultural identity, and the potential for equality in cross-traditional collaboration

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/3531/2561

Karya Musik Dialog Sonic: Kolaborasi Saxophone, Gitar, Kecapi, Dan Tabla

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 Juli-Agustus 2025 Hal. 144-153 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/3531 ISSN : 2963-5802 Karya Musik Dialog Sonic: Kolaborasi Saxophone, Gitar, Kecapi dan Tabla Raden Irfansyah Ramadan Program Studi Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Abstract This artistic practice-based research aims to create a collaborative musical work as a sonic dialogue between Western and Eastern music. The instruments utilized include saxophone and guitar, representing Western idioms, and kacapi (Sundanese) and tabla (Indian), representing Eastern traditions. The creation process involved three main stages: idiom exploration, improvisational experimentation, and final composition arrangement. The findings demonstrate the feasibility of integrating rhythmic structures (tala) and traditional melodic patterns (pelog/salendro) with modern jazz harmony and improvisation. The collaborative process fostered active dialogue among musicians from diverse cultural backgrounds, inherently cultivating cross-traditional understanding. Analysis of the work confirms that idiomatic synthesis is achievable without compromising each instrument's musical identity, provided there is aesthetic, technical, and cultural awareness throughout the creation stages. This work not only yields new musical forms but also underscores the significance of an intercultural approach in contemporary art. Furthermore, the creative process serves as a reflective vehicle for reevaluating the relationship between individual expression, cultural identity, and the potential for equality in crosstraditional collaboration Keywords:Music creation, Sonic Dialogue, Cross-Cultural Collaboration, Practice-Based Research, Intercultural Instruments Abstrak Penelitian berbasis praktik artistik ini bertujuan untuk menciptakan karya musik kolaboratif sebagai dialog sonik antara musik Barat dan Timur. Instrumen yang digunakan meliputi saksofon dan gitar, yang mewakili idiom Barat, serta kacapi (Sunda) dan tabla (India), yang mewakili tradisi Timur. Proses penciptaan melibatkan tiga tahap utama: eksplorasi idiom, eksperimen improvisasi, dan aransemen komposisi akhir. Temuan ini menunjukkan kelayakan mengintegrasikan struktur ritmis (tala) dan pola melodi tradisional (pelog/salendro) dengan harmoni dan improvisasi jazz modern. Proses kolaboratif ini mendorong dialog aktif di antara para musisi dari beragam latar belakang budaya, yang pada dasarnya memupuk pemahaman lintas-tradisional. Analisis karya ini menegaskan bahwa sintesis idiomatik dapat dicapai tanpa mengorbankan identitas musik masing-masing instrumen, asalkan terdapat kesadaran estetika, teknis, dan budaya di seluruh tahap penciptaan. Karya ini tidak hanya menghasilkan bentuk-bentuk musik baru tetapi juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan antarbudaya dalam seni kontemporer. Selain itu, proses kreatif berfungsi sebagai wahana refleksi untuk mengevaluasi kembali hubungan antara ekspresi individu, identitas budaya, dan potensi kesetaraan dalam kolaborasi lintas-tradisional. Kata Kunci:Kata Kunci: penciptaan musik, dialog sonik, kolaborasi lintas budaya, penelitian berbasis praktik, instrumen antarbudaya This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license PENDAHULUAN Musik, sebagai produk budaya dan ekspresi artistik, memiliki fungsi yang melampaui sekadar hiburan. Ia merupakan konstruksi sosial yang kompleks, mencerminkan nilai, struktur, dan dinamika masyarakat tempat ia berkembang. Dalam konteks modern, peran musik berkembang menjadi lebih transformatif, yakni sebagai ruang perjumpaan budaya dan medan negosiasi identitas lintas batas. Dalam realitas global saat ini, dikotomi antara “Barat” dan “Timur” dalam seni musik bukan lagi sekadar persoalan geografis, tetapi menyentuh dimensi epistemologis, estetika, dan bahkan ideologis. Musik Barat identik dengan sistem tonal, harmoni progresif, struktur formal yang mapan, serta notasi yang terstandarisasi. Sebaliknya, musik Timur cenderung berbasis oral-tradisional, improvisatif, dan memiliki pendekatan estetika yang lebih intuitif dan spiritual. Masing-masing tradisi membawa warisan pemikiran dan pengalaman musikal yang khas. Di satu sisi, perbedaan tersebut menjadi sumber kekayaan; namun di sisi lain, ia juga menyimpan potensi tensi, baik secara konseptual maupun teknis, dalam praktik kolaboratif lintas budaya. Dalam konteks ini, penciptaan karya musik lintas budaya tidak dapat direduksi menjadi sekadar “percampuran bunyi.” Ia merupakan praktik artistik sekaligus wacana kritis yang mempertanyakan bagaimana Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No.01 Juli-Agustus 2025 144 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 Juli-Agustus 2025 Hal. 144-153 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/3531 ISSN : 2963-5802 dua sistem musikal yang berakar pada nilai-nilai berbeda dapat berinteraksi tanpa mengorbankan integritas masing-masing. Di sinilah pentingnya pendekatan dialogis, bukan dominatif, dalam proses kolaborasi musikal antara budaya Barat dan Timur. Konsep "dialog sonik" dipahami sebagai pertukaran musikal yang memungkinkan tradisi Barat dan Timur saling berbicara melalui suara, menciptakan wilayah estetika baru di mana perbedaan tidak dihapus, melainkan dikontekstualisasi ulang (Feld, 2000; Stokes, 2004). Dialog antarbudaya yang sejati dalam musik tidak berasal dari penggabungan, tetapi dari ketegangan dan penghormatan antara perbedaan musikal (Born & Hesmondhalgh, 2000). Studi kasus yang diangkat dalam karya ini adalah kolaborasi empat instrumen: saxophone, gitar, kacapi, dan tabla, yang masing-masing merepresentasikan karakteristik khas dari dua ranah budaya musikal. Saxophone dan gitar sebagai representasi dari modernitas Barat membawa ekspresi individualistik, artikulasi ekspresif, dan pendekatan struktural yang kuat. Sementara itu, kacapi (instrumen petik tradisional Sunda) dan tabla (instrumen perkusi klasik India) membawa serta warisan musikal Timur yang melodius, repetitif, dan spiritual. Pertemuan keempat instrumen ini bukan saja menghadirkan perbedaan karakter timbral dan tekstural, tetapi juga mempertemukan sistem musikal yang berbeda secara fundamental. Sebagai contoh, sistem tangga nada pentatonik pada kacapi sangat berbeda dengan sistem tonal Barat yang digunakan dalam progresi akor gitar; pola tala dalam tabla jauh lebih fleksibel dan siklik dibandingkan struktur metrum Barat yang terukur secara matematis; sementara teknik improvisasi dalam jazz saxophone mengandalkan perubahan harmoni yang berlapis, berbeda dari improvisasi berbasis raga dan rasa dalam musik Timur. Penciptaan karya lintas budaya ini mengandung tantangan artistik sekaligus politis. Di satu sisi, terdapat potensi eksploitasi atau reduksi budaya, di mana unsur musik tradisi Timur hanya dijadikan "eksotika bunyi" oleh struktur dominan Barat. Di (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/3531/2561
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/3531/2561

Raden Irfansyah Ramadan. Karya Musik Dialog Sonic: Kolaborasi Saxophone, Gitar, Kecapi, Dan Tabla, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2025, pp. 144-153,