Karya Musik Dialog Sonic: Kolaborasi Saxophone, Gitar, Kecapi, Dan Tabla
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 Juli-Agustus 2025 Hal. 144-153
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/3531
ISSN : 2963-5802
Karya Musik Dialog Sonic: Kolaborasi Saxophone, Gitar,
Kecapi dan Tabla
Raden Irfansyah Ramadan
Program Studi Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
Abstract
This artistic practice-based research aims to create a collaborative musical work as a sonic dialogue between Western
and Eastern music. The instruments utilized include saxophone and guitar, representing Western idioms, and kacapi
(Sundanese) and tabla (Indian), representing Eastern traditions. The creation process involved three main stages: idiom
exploration, improvisational experimentation, and final composition arrangement. The findings demonstrate the feasibility
of integrating rhythmic structures (tala) and traditional melodic patterns (pelog/salendro) with modern jazz harmony and
improvisation. The collaborative process fostered active dialogue among musicians from diverse cultural backgrounds,
inherently cultivating cross-traditional understanding. Analysis of the work confirms that idiomatic synthesis is achievable
without compromising each instrument's musical identity, provided there is aesthetic, technical, and cultural awareness
throughout the creation stages. This work not only yields new musical forms but also underscores the significance of an
intercultural approach in contemporary art. Furthermore, the creative process serves as a reflective vehicle for reevaluating the relationship between individual expression, cultural identity, and the potential for equality in crosstraditional collaboration
Keywords:Music creation, Sonic Dialogue, Cross-Cultural Collaboration, Practice-Based Research, Intercultural
Instruments
Abstrak
Penelitian berbasis praktik artistik ini bertujuan untuk menciptakan karya musik kolaboratif sebagai dialog sonik antara
musik Barat dan Timur. Instrumen yang digunakan meliputi saksofon dan gitar, yang mewakili idiom Barat, serta kacapi
(Sunda) dan tabla (India), yang mewakili tradisi Timur. Proses penciptaan melibatkan tiga tahap utama: eksplorasi idiom,
eksperimen improvisasi, dan aransemen komposisi akhir. Temuan ini menunjukkan kelayakan mengintegrasikan struktur
ritmis (tala) dan pola melodi tradisional (pelog/salendro) dengan harmoni dan improvisasi jazz modern. Proses kolaboratif
ini mendorong dialog aktif di antara para musisi dari beragam latar belakang budaya, yang pada dasarnya memupuk
pemahaman lintas-tradisional. Analisis karya ini menegaskan bahwa sintesis idiomatik dapat dicapai tanpa mengorbankan
identitas musik masing-masing instrumen, asalkan terdapat kesadaran estetika, teknis, dan budaya di seluruh tahap
penciptaan. Karya ini tidak hanya menghasilkan bentuk-bentuk musik baru tetapi juga menggarisbawahi pentingnya
pendekatan antarbudaya dalam seni kontemporer. Selain itu, proses kreatif berfungsi sebagai wahana refleksi untuk
mengevaluasi kembali hubungan antara ekspresi individu, identitas budaya, dan potensi kesetaraan dalam kolaborasi
lintas-tradisional.
Kata Kunci:Kata Kunci: penciptaan musik, dialog sonik, kolaborasi lintas budaya, penelitian berbasis praktik, instrumen
antarbudaya
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Musik, sebagai produk budaya dan ekspresi artistik, memiliki fungsi yang melampaui sekadar hiburan. Ia
merupakan konstruksi sosial yang kompleks, mencerminkan nilai, struktur, dan dinamika masyarakat tempat
ia berkembang. Dalam konteks modern, peran musik berkembang menjadi lebih transformatif, yakni sebagai
ruang perjumpaan budaya dan medan negosiasi identitas lintas batas. Dalam realitas global saat ini, dikotomi
antara “Barat” dan “Timur” dalam seni musik bukan lagi sekadar persoalan geografis, tetapi menyentuh
dimensi epistemologis, estetika, dan bahkan ideologis. Musik Barat identik dengan sistem tonal, harmoni
progresif, struktur formal yang mapan, serta notasi yang terstandarisasi. Sebaliknya, musik Timur cenderung
berbasis oral-tradisional, improvisatif, dan memiliki pendekatan estetika yang lebih intuitif dan spiritual.
Masing-masing tradisi membawa warisan pemikiran dan pengalaman musikal yang khas. Di satu sisi,
perbedaan tersebut menjadi sumber kekayaan; namun di sisi lain, ia juga menyimpan potensi tensi, baik secara
konseptual maupun teknis, dalam praktik kolaboratif lintas budaya.
Dalam konteks ini, penciptaan karya musik lintas budaya tidak dapat direduksi menjadi sekadar
“percampuran bunyi.” Ia merupakan praktik artistik sekaligus wacana kritis yang mempertanyakan bagaimana
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No.01 Juli-Agustus 2025
144
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 Juli-Agustus 2025 Hal. 144-153
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/3531
ISSN : 2963-5802
dua sistem musikal yang berakar pada nilai-nilai berbeda dapat berinteraksi tanpa mengorbankan integritas
masing-masing. Di sinilah pentingnya pendekatan dialogis, bukan dominatif, dalam proses kolaborasi musikal
antara budaya Barat dan Timur. Konsep "dialog sonik" dipahami sebagai pertukaran musikal yang
memungkinkan tradisi Barat dan Timur saling berbicara melalui suara, menciptakan wilayah estetika baru di
mana perbedaan tidak dihapus, melainkan dikontekstualisasi ulang (Feld, 2000; Stokes, 2004). Dialog
antarbudaya yang sejati dalam musik tidak berasal dari penggabungan, tetapi dari ketegangan dan
penghormatan antara perbedaan musikal (Born & Hesmondhalgh, 2000).
Studi kasus yang diangkat dalam karya ini adalah kolaborasi empat instrumen: saxophone, gitar, kacapi,
dan tabla, yang masing-masing merepresentasikan karakteristik khas dari dua ranah budaya musikal.
Saxophone dan gitar sebagai representasi dari modernitas Barat membawa ekspresi individualistik, artikulasi
ekspresif, dan pendekatan struktural yang kuat. Sementara itu, kacapi (instrumen petik tradisional Sunda) dan
tabla (instrumen perkusi klasik India) membawa serta warisan musikal Timur yang melodius, repetitif, dan
spiritual. Pertemuan keempat instrumen ini bukan saja menghadirkan perbedaan karakter timbral dan tekstural,
tetapi juga mempertemukan sistem musikal yang berbeda secara fundamental. Sebagai contoh, sistem tangga
nada pentatonik pada kacapi sangat berbeda dengan sistem tonal Barat yang digunakan dalam progresi akor
gitar; pola tala dalam tabla jauh lebih fleksibel dan siklik dibandingkan struktur metrum Barat yang terukur
secara matematis; sementara teknik improvisasi dalam jazz saxophone mengandalkan perubahan harmoni
yang berlapis, berbeda dari improvisasi berbasis raga dan rasa dalam musik Timur.
Penciptaan karya lintas budaya ini mengandung tantangan artistik sekaligus politis. Di satu sisi, terdapat
potensi eksploitasi atau reduksi budaya, di mana unsur musik tradisi Timur hanya dijadikan "eksotika bunyi"
oleh struktur dominan Barat. Di (...truncated)