Strategi Public Relations Pt Paragon Technology And Innovation Dalam Mempertahankan Brand Loyalty Di Pasar Kosmetik Surabaya
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 4 Januari-Februari 2026 Hal. 525-537
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs.4509
ISSN : 2963-5802
Strategi Public Relations Pt Paragon Technology And Innovation Dalam
Mempertahankan Brand Loyalty Di Pasar Kosmetik Surabaya
Hananda Dyan Ekawatiea, Muhammad Fadelib, Ratna Setyarahajoec
a
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bhayangkara Surabaya,
b
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bhayangkara Surabaya,
c
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bhayangkara Surabaya,
Submitted: 25-02-2026, Reviewed: 26-02-2026, Accepted: 27-02-2026
Abstract
The cosmetics industry in Surabaya is currently facing intense competition and challenges related to illegal products.
However, PT Paragon Technology and Innovation has managed to maintain consumer loyalty by implementing a
comprehensive Public Relations strategy through community engagement, digital PR, and the creation of brand experiences.
This Public Relations strategy serves as a key element that functions not only as a promotional tool but also to build long
term trust with consumers. This study aims to analyze Paragon's Public Relations strategy in maintaining brand loyalty
within the Surabaya cosmetics market using a descriptive qualitative research method, with data collection techniques
including in depth interviews with the promoter team and consumers, participant observation at various brand activations,
and documentation. The most compelling aspect of this research is the use of interactive tactics such as Personal Color
Analysis services and creative DIY product making workshops, as well as strategic collaborations with communities and
influencers who share the same brand values. This strategy is proven effective in building four relationship dimensions trust,
commitment, satisfaction, and mutual interest which are capable of transforming impulsive buying behavior into strong
loyalty. It is suggested that further research explore the influence of this strategy on broader market segments.
Keywords: Public Relations Strategy, Relationship Management Theory, Brand Loyalty, PT Paragon Technology and
Innovation.
Abstrak
Industri kosmetik di Surabaya saat ini menghadapi persaingan yang ketat serta tantangan terkait isu produk ilegal, namun
PT Paragon Technology and Innovation mampu mempertahankan loyalitas konsumennya dengan menerapkan strategi
Public Relations yang komprehensif melalui keterlibatan komunitas, humas digital, dan penciptaan pengalaman merek
(brand experience). Strategi Public Relations menjadi elemen kunci yang tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi, tetapi
juga untuk membangun kepercayaan jangka panjang dengan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi
Public Relations Paragon dalam mempertahankan brand loyalty di pasar kosmetik Surabaya. Metode penelitian yang
digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dengan tim promotor
dan konsumen, observasi partisipatif pada berbagai aktivasi merek, serta dokumentasi. Hal yang paling menarik dalam
penelitian ini adalah taktik interaktif seperti layanan Personal Color Analysis dan workshop kreatif pembuatan produk
secara mandiri (DIY), hingga kolaborasi strategis dengan komunitas dan influencer yang memiliki kesamaan nilai merek.
Strategi ini terbukti efektif membangun empat dimensi hubungan yaitu kepercayaan, komitmen, kepuasan, dan kepentingan
bersama yang mampu mengubah perilaku belanja impulsif menjadi loyalitas yang kuat. Disarankan agar penelitian
selanjutnya dapat menelusuri lebih dalam mengenai pengaruh strategi ini terhadap segmen pasar yang lebih luas.
Kata Kunci: Strategi Public Relations, Relationship Management Theory, Loyalitas Merek, PT Paragon Technology and
Innovation.
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Industri kosmetik Indonesia saat ini menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dinamis dengan nilai
pasar diperkirakan mencapai 146 triliun rupiah pada tahun 2024 (Kementerian Perindustrian, 2024).
Pertumbuhan ini merefleksikan pergeseran bahwa kosmetik kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan
modern (Santoso, 2025). Laju pertumbuhan industri kosmetik yang pesat tersebut didorong oleh maraknya
bermunculan merek baru, termasuk yang diluncurkan oleh para selebritas dan influencer (Yabes Abi et al.,
2024). Fenomena inilah yang kemudian mengubah wajah industri kecantikan di Indonesia. Setidaknya terdapat
21 artis yang telah meluncurkan merek kecantikan milik mereka sendiri, antara lain Luna Maya dengan NAMA
Beauty, Tasya Farasya dengan Mother of Pearl, Felicya Angelista dengan Scarlett Whitening, serta Gisella
Anastasia dengan Madame Gie (Cantika.com, 2025). Hadirnya puluhan merek kecantikan milik figur publik
tersebut mencerminkan potensi ekonomi yang terus berkembang sekaligus pergeseran preferensi konsumen
yang semakin menyukai produk lokal dengan nilai personalitas tinggi.
Perkembangan teknologi digital dan luasnya jangkauan media sosial turut mengambil peran penting
dalam dinamika pasar ini. Di Indonesia, tercatat terdapat 139 juta pengguna media sosial pada tahun 2024.
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 04 Januari-Februari 2026
525
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 4 Januari-Februari 2026 Hal. 525-537
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs.4509
ISSN : 2963-5802
Hadirnya berbagai platform digital mengharuskan perusahaan mengadopsi strategi komunikasi yang inovatif,
mengubah paradigma tradisional komunikasi searah menjadi model dialogis yang melibatkan konsumen secara
aktif dalam membangun nilai merek (Santoso, 2025). Media sosial kini telah menjadi saluran utama penyebaran
informasi dan promosi yang didukung oleh kekuatan influencer (Ratna Setyarahajoe, 2025). Kondisi ini
kemudian menciptakan tekanan sosial untuk tampil sempurna, yang pada akhirnya memicu fenomena Fear of
Missing Out (FOMO), di mana konsumen membeli suatu produk tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tetapi
cenderung dilandasi rasa impulsif karena idola mereka menggunakan produk tersebut (Liu, 2025).
Di tengah pesatnya pertumbuhan pasar kosmetik dan kemudahan akses informasi, keamanan produk
tetap menjadi tantangan serius dan kekhawatiran utama, baik bagi pelaku usaha maupun konsumen. Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara konsisten menemukan pelanggaran, di mana produk kosmetik
ilegal dan berbahaya mendominasi pasar. Data BPOM periode November 2023 hingga Oktober 2024
menunjukkan adanya 55 temuan produk kosmetik mengandung bahan dilarang dan/atau berbahaya, seperti
merkuri, hidrokinon, dan pewarna karsinogenik (Pom.go.id, 2025). Kandungan bahan berbahaya dalam produkproduk tersebut sangat berisiko fatal bagi kesehatan konsumen, mulai dari iritasi hingga kerusakan organ vital (...truncated)