Perilaku Masyarakat Jakarta Dalam Mengadopsi Sistem E-Government: Penggunaan Mobile Jaminan Kesehatan Nasional
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 6 Mei – Juni 2025 Hal. 1023-1029
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Perilaku Masyarakat Jakarta Dalam Mengadopsi Sistem E-Government:
Penggunaan Mobile Jaminan Kesehatan Nasional
Dhafin Faza Razaqa 1) , Bunga Indriani Azzahra 2) , Caritas Nadya Anisti 3) , Raissa Kevin Ivansyach 4) ,
Fatkhuri 5)
Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UPN “Veteran” Jakarta
1), 2), 3),
4) , 5)
Abstract
This study examines public behavior in adopting e-government services through the Mobile JKN application in the Jakarta
area as a form of digitalization of public services in the health sector. The adoption of this application reflects the dynamics
of the relationship between the state and citizens in the context of bureaucratic modernization, as well as the extent to which
the public is willing and able to accept digital innovations offered by the government. This study aims to analyze the factors
that influence the use of Mobile JKN and identify the obstacles faced by the community. A qualitative approach with a
literature study method was used to collect data from relevant secondary sources, then analyzed descriptively. The results
of the study indicate that the level of digital literacy, quality of application services, and social and cultural factors are the
main determinants of adoption behavior. Obstacles such as lack of socialization, limited access to technology, and negative
perceptions of government digital services also hamper the process of digitalization of services. This study contributes to
the development of political science, especially in understanding the relationship between the state and society in digital
public policy and the importance of a participatory approach in the transformation of public services.
Keywords: E-government, Mobile JKN, Digital Public Services, Digital Literacy, Public Policy.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji perilaku masyarakat dalam mengadopsi layanan e-government melalui aplikasi Mobile JKN di
wilayah Jakarta sebagai bentuk digitalisasi pelayanan publik di sektor kesehatan. Adopsi aplikasi ini mencerminkan
dinamika hubungan antara negara dan warga dalam konteks modernisasi birokrasi, serta sejauh mana masyarakat bersedia
dan mampu menerima inovasi digital yang ditawarkan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi penggunaan Mobile JKN serta mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi masyarakat.
Pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber sekunder yang
relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi digital, kualitas layanan
aplikasi, serta faktor sosial dan budaya menjadi determinan utama dalam perilaku adopsi. Kendala seperti kurangnya
sosialisasi, keterbatasan akses teknologi, dan persepsi negatif terhadap layanan digital pemerintah turut menghambat proses
digitalisasi pelayanan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu politik, khususnya dalam
memahami relasi negara-masyarakat dalam kebijakan publik digital dan pentingnya pendekatan partisipatif dalam
transformasi pelayanan publik.
Kata Kunci: E-government, Mobile JKN, Pelayanan Publik digital, Literasi digital, Kebijakan Publik
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Dalam era transformasi digital yang berkembang pesat, e-government menjadi alat penting untuk
modernisasi tata kelola pemerintahan, terutama dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.
E-government sendiri berarti penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh pemerintah untuk
menyediakan layanan yang lebih transparan, responsif, dan terlibat kepada masyarakat, bisnis, dan lembaga
pemerintah lainnya (Indrajit, 2004). Reformasi birokrasi di Indonesia mencakup penerapan e-government,
dengan tujuan utama memperpendek rantai pelayanan, meningkatkan transparansi, dan memberdayakan
masyarakat melalui akses informasi yang lebih mudah dan cepat. Aplikasi Mobile JKN yang dikembangkan oleh
BPJS Kesehatan merupakan salah satu contoh nyata dari penerapan e-government dalam sektor kesehatan.
Mobil JKN adalah inovasi digital yang memungkinkan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
untuk mengakses berbagai layanan secara mandiri, seperti cek status keanggotaan, pembayaran iuran,
pendaftaran antrian online di fasilitas kesehatan, pengaduan layanan, dan konsultasi kesehatan virtual. Aplikasi
ini dibuat untuk memenuhi permintaan masyarakat untuk layanan yang lebih efisien dan berbasis teknologi.
Dengan statusnya sebagai ibu kota negara dan pusat digitalisasi nasional, Jakarta berfungsi sebagai barometer
penting untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan aplikasi ini. Jakarta diharapkan dapat menjadi kota
percontohan dalam penggunaan aplikasi pelayanan publik berbasis digital karena tingkat urbanisasi yang tinggi,
populasi yang sangat melek teknologi, dan infrastruktur TIK yang cukup maju.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Jakarta tidak menggunakan
aplikasi ini secara optimal. Menurut beberapa penelitian, masih ada perbedaan antara ketersediaan teknologi dan
tingkat adopsi pengguna akhir. Ada sejumlah masalah yang dihadapi, termasuk kurangnya literasi digital di
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.03 No. 06 Mei – Juni 2025
1023
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 3 No. 6 Mei – Juni 2025 Hal. 1023-1029
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
kelompok masyarakat tertentu, kurangnya sosialisasi penyedia layanan, dan kurangnya kepercayaan terhadap
sistem digital pemerintah (Rahayu, 2020). Fenomena ini menarik untuk dipelajari karena penerapan egovernment sangat bergantung pada penerimaan masyarakat dan penggunaan aktifnya. Dua faktor utama yang
mempengaruhi adopsi teknologi, menurut Teori Technology Acceptance Model (TAM), adalah rasa kemudahan
penggunaan (dianggap mudah digunakan) dan manfaat yang dirasakan (dianggap bermanfaat). Masyarakat
cenderung tidak menggunakan aplikasi yang dianggap sulit digunakan atau tidak memberikan nilai tambahan.
Selain itu, elemen sosial dan budaya yang ada di kota-kota seperti Jakarta mempengaruhi kesulitan
adopsi. Sebagian orang masih lebih suka menggunakan metode lama untuk mendapatkan layanan BPJS
Kesehatan, seperti mengunjungi kantor cabang langsung atau bergantung pada bantuan petugas. Hal ini
menunjukkan bahwa adopsi teknologi terkait dengan preferensi, kepercayaan, dan pengalaman pengguna selain
ketersediaan aplikasi. Menurut Dwiyanto (2015), banyak proyek e-government di Indonesia gagal karena
berfokus pada teknologi dan mengabaikan perilaku masyarakat.
Penelitian ini penting karena dapat memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana orang-orang
di Jakarta, sebuah kota metropolitan di Indonesia, merespons inovasi layanan pub (...truncated)