ANALISIS PENGARUH MOTIVASI DAN PELATIHAN TERHADAP EFEKTIVITAS RELAWAN DALAM KEGIATAN MITIGASI BENCANA DI KOTA MALANG
Jurnal GeoCivic
Vol. 8, No. 2, Oktober 2025
E-ISSN. 2722-3698
P-ISSN. 2301-4334
ANALISIS PENGARUH MOTIVASI DAN PELATIHAN
TERHADAP EFEKTIVITAS RELAWAN DALAM KEGIATAN
MITIGASI BENCANA DI KOTA MALANG
Susilowati1, Yuli Ifana Sari2
1,2
Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Pendidikan,
Universitas PGRI Kanjuruhan Malang
*E-mail Korespondensi:
Abstract
Disaster volunteers play an important role in disaster mitigation in Malang City, which
has a high risk level, so the effectiveness of volunteers is a key factor in the success of
emergency respon se. This study aims to analyze the effect of motivation and training on
volunteer effectiveness using a quantitative approach and explanatory survey method on
207 volunteers, and analyzed using multiple linear regression. The results show that
motivation and training have a significant effect, both partially and simultaneously, on
volunteer effectiveness, with an R² value of 0.328, where training is the most dominant
factor in improving technical skills, while motivation strengthens psychological
readiness. These findings confirm that disaster mitigation effectiveness is determined by
the synergy between technical competence and psychological factors, and contribute to
the development of disaster management science through an empirical basis in the design
of training programs and strategies to increase volunteer motivation.
Keywords: motivation, training, volunteer effectiveness, disaster mitigation.
67
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana alam tertinggi
di dunia. Posisi geografisnya yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar IndoAustralia, Eurasia, dan Pasifik menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap gempa bumi dan
aktivitas vulkanik. Di sisi lain, kondisi iklim tropis dengan curah hujan tinggi memicu bencana
hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa lebih dari 80% kejadian bencana di
Indonesia selama tahun 2023 merupakan bencana hidrometeorologi, sehingga berdampak
signifikan terhadap aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan masyarakat. Kerentanan ini
menunjukkan betapa pentingnya upaya pengurangan risiko bencana (PRB) yang dilakukan secara
sistematis, terkoordinasi, dan berkelanjutan.
Malang, salah satu kota besar di Jawa Timur, juga menghadapi masalah serupa. Laporan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang tahun 2023 menunjukkan bahwa
ratusan kejadian bencana, terutama banjir, angin kencang, dan tanah longsor, terjadi setiap tahun.
Kondisi hidrologi yang berubah-ubah, alih fungsi lahan, dan kepadatan penduduk meningkatkan
risiko dan dampak bencana di daerah ini. Bencana yang terjadi hampir setiap tahun tidak hanya
mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik, termasuk
relawan kebencanaan yang berpengalaman dan siap menghadapi berbagai keadaan.
Relawan adalah bagian penting dari penanggulangan bencana dan terlibat langsung dalam
proses mitigasi, tanggap darurat, dan pemulihan pascabencana. Karena mereka bekerja di tingkat
akar rumput dan memberikan respons awal terhadap berbagai bencana, mereka menjadi
penghubung antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga kemanusiaan. BPBD Kota Malang
(2023) menegaskan bahwa peran relawan sangat menentukan efektivitas kegiatan penanganan
bencana, terutama dalam kondisi yang menuntut respon cepat dan keputusan tepat di lapangan.
Namun demikian, efektivitas kinerja relawan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya
motivasi dan pelatihan kebencanaan.
Motivasi menjadi faktor psikologis yang berperan dalam ketekunan dan komitmen
relawan. Menurut (Gustiamtomo & Firdaus, 2025), motivasi relawan dipengaruhi oleh faktor
internal seperti kebutuhan aktualisasi diri, rasa kepedulian, dan dorongan altruistik; serta faktor
eksternal seperti dukungan organisasi, lingkungan sosial, dan insentif. Relawan yang memiliki
motivasi tinggi cenderung lebih tahan terhadap tekanan, mampu bekerja sama, serta menunjukkan
konsistensi dalam menjalankan tugas-tugas kebencanaan. Sebaliknya, pelatihan kebencanaan
sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan teknis, keterampilan kedaruratan, dan
kemampuan koordinasi relawan dalam kondisi lapangan yang kompleks. Pelatihan mencakup
keterampilan nonteknis seperti komunikasi, pengelolaan emosi, kerja tim, dan kepemimpinan.
68
Meskipun demikian, masih terdapat berbagai permasalahan dalam praktik pengelolaan
relawan di Kota Malang. Menurut laporan BPBD, pelatihan kebencanaan telah dilakukan secara
berkala, tetapi belum ada evaluasi sistematis yang menilai seberapa efektif pelatihan terhadap
kinerja relawan. Relawan yang telah mengikuti pelatihan juga tidak selalu menunjukkan
peningkatan kinerja yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang baik saja tidak
cukup jika tidak ada keinginan yang kuat untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Sebaliknya, motivasi tinggi tanpa keterampilan teknis juga tidak menjamin bahwa relawan di
lapangan bekerja dengan baik. Dengan kata lain, kedua komponen tersebut harus dianggap
bekerja sama untuk membentuk relawan yang efektif.
Beberapa penelitian sebelumnya telah menyoroti pentingnya pelatihan dan motivasi dalam
meningkatkan kapasitas relawan kebencanaan. Penelitian Liska et al., (2025) menunjukkan bahwa
pelatihan kebencanaan mampu meningkatkan pengetahuan serta kesiapsiagaan relawan dalam
menghadapi bencana. Arin Proborini et al., (2024) juga menegaskan bahwa pelatihan
meningkatkan kemampuan relawan dalam pencegahan dan mitigasi, meskipun penelitian tersebut
lebih menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan, bukan pada efektivitas operasional di
lapangan. Sementara itu, penelitian Gustiamtomo & Firdaus (2025) membuktikan bahwa
kombinasi pelatihan dan motivasi berpengaruh terhadap kinerja relawan dengan loyalitas sebagai
variabel intervening. Namun, penelitian mereka dilakukan pada organisasi sosial umum (MRI
Sidoarjo), bukan dalam konteks relawan kebencanaan yang secara langsung menangani situasi
darurat.
Dari keterbatasan penelitian sebelumnya, dapat dilihat bahwa tinjauan literatur tentang
efektivitas relawan kebencanaan masih berfokus pada aspek pengetahuan dan kesiapsiagaan
daripada aspek efektivitas operasional seperti kemampuan koordinasi, kecepatan respons, dan
kualitas tindakan mitigatif. Selain itu, ada sedikit penelitian yang dilakukan tentang hubungan
antara pelatihan dan motivasi dalam meningkatkan efektivitas relawan. Sebagian besar penelitian
menganggap motivasi atau pelatihan sebagai faktor yang berbeda, sehingga mereka tidak
menjelaskan bagaimana keduanya bekerja sama untuk meningkatkan efisiensi kerja relawan di
lapangan. Oleh karena itu, ada kelangkaan penelitian yang penting untuk dipenuhi mengenai
bagaimana kombinasi motivasi dan pelatihan memengaruhi efektivitas relawan kebencanaan
dalam lingkungan operasional yang sebenarnya.
Dalam kerangka teoretis, kebutuhan akan motivasi relawan dapat (...truncated)